Posts tagged ‘nama allah’

MENGAPA HARUS BERTAHAN DENGAN KATA:ALLAH?

Oleh: Dr. Adian Husaini

Pada bagian sebelumnya telah dibahas sekilas persoalan nama Tuhan dalam agama Kristen. Kaum Kristen memang sudah beratus-ratus tahun lalu menggunakan kata ”Allah” di negeri-negeri Arab dan juga di wilayah Melayu-Indonesia. Tetapi, ada peraturan di Malaysia yang sejak tahun 1980-an sudah melarang kaum Kristen menggunakan kata Allah dan sejumlah istilah Islam lain. Selama itu sudah ada sejumlah tokoh Kristen yang protes tetapi tidak sampai membawa kasusnya ke pengadilan. Kasus ini semakin merebak dan menyedot perhatian masyarakat internasional, setelah kaum Katolik membawa kasus ini ke Pengadilan.

Ketersinggungan dalam soal penggunaan istilah dan simbol-simbol agama bukan hal baru di kalangan umat beragama. Kaum Muslim di Malaysia memandang, kata Allah sudah menjadi bagian yang sah dari istilah dan simbol agama Islam. Saya pernah mendengar cerita dari seorang tokoh Hindu, bahwa kaum Hindu Bali pernah memprotes kaum Kristen yang mendirikan lembaga Pendidikan dengan menggunakan nama Om Swastiastu. Begitu juga kaum Hindu berkeberatan dengan sebutan ”Sang Hyang Widhi Yesus”.

Bayangkan, bagaimana perasaan kaum Muslim, jika kaum Kristen di Indonesia dan Malaysia membangun gereja dengan nama ”Gereja At-Taqwa”, ”Gereja Muhammad”, ”Gereja Imam Syafii”, ”Gereja Hamba Allah” atau ”Gereja Nahdhatul-Ummah”? Atau, bagaimana jika ada orang Kristen membangun Gereja dengan simbol ”Allah” dalam tulisan Arab di atas atapnya? Bukankah dalam Bibel berbahasa Arab saat ini juga digunakan kata Allah, persis seperti dalam al-Quran? Meskipun secara juridis formal, masalah-masalah semacam ini belum diatur, tetapi ada masalah sensitivitas yang harus diperhatikan dalam hubungan antar umat beragama.

Berbeda dengan kaum Kristen yang sering mengakomodasi unsur-unsur budaya dan lokalitas dalam simbol dan ritual keagamaan, umat Islam memiliki tradisi penggunaan istilah yang ketat. Sulit dibayangkan, ada kaum Muslim di Indonesia atau di Malaysia akan mendirikan Masjid dengan nama ”Masjid Haleluya” atau ”Masjid Israel”. Kita tidak dapat membayangkan — bahkan untuk orang Islam yang mengaku liberal atau Pluralis sekalipun – akan membangun masjid dengan nama ”Masjid Hamba Yahweh”.

Lepas dari persoalan sensitivitas penggunaan istilah-istilah dan simbol-simbol keagamaan, soal penggonaan kata ”Allah”, ada perbedaan menarik antara di Malaysia dan di Indonesia. Berbeda dengan di Malaysia, di Indonesia gugatan penggunaan kata ”Allah” oleh kaum Kristen, justru muncul dari kalangan Kristen sendiri. Kontroversi soal penggunaan kata ”Allah” belakangan semakin merebak ke permukaan menyusul merebaknya kelompok-kelompok Kristen yang menolak penggunaan nama Allah dan menggantinya dengan Yahweh.

Tahun 1999, muncul kelompok Kristen yang menamakan dirinya Iman Taqwa Kepada Shirathal Mustaqim (ITKSM) yang melakukan kampanye agar kaum Kristen menghentikan penggunaan lafaz Allah. Kelompok ini kemudian mengganti nama menjadi Bet Yesua Hamasiah (BYH). Kelompok ini mengatakan: “Allah adalah nama Dewa Bangsa Arab yang mengairi bumi. Allah adalah nama Dewa yang disembah penduduk Mekah.’ Kelompok ini juga menerbitkan Bibel sendiri dengan nama Kitab Suci Torat dan Injil yang pada halaman dalamnya ditulis Kitab Suci 2000. Kitab Bibel versi BYH ini mengganti kata “Allah” menjadi “Eloim”, kata “TUHAN” diganti menjadi “YAHWE”; kata “Yesus” diganti dengan “Yesua”, dan “Yesus Kristus” diubah menjadi “Yesua Hamasiah”. Berikutnya, muncul lagi kelompok Kristen yang menamakan dirinya “Jaringan Gereja-gereja Pengagung Nama Yahweh” yang menerbitkan Bibel sendiri dengan nama “Kitab Suci Umat Perjanjian Tuhan ini”. Kelompok ini menegaskan, “Akhirnya nama “Allah” tidak dapat dipertahankan lagi.”

Kelompok BYH mengedarkan brosur berjudul ”Siapakah Yang Bernama Allah Itu?” yang isinya mengecam penggunaan kata Allah dalam Kristen. Mereka menyebut penggunaan kata ”Allah” dalam Kristen sebagai satu bentuk penghujatan kepada Tuhan. Kaum Kristen mereka seru dengan sungguh-sungguh untuk meninggalkan penggunaan kata ”Allah”:

”Stop! Stop! Stu-u-op! Jangan diteruskan hujatan Anda. Kalau Anda semula tidak tahu, pasti akan diampuni, tetapi sekarang melalui pembacaan traktat pelayanan ini, Anda menjadi tahu. Maka jangan diterus-teruskan! … Maka, janganlah terlibat di dalam penghujatan Dia. (Hentikan hujatan Anda sekarang juga).” (dikutip dari buku Herlianto, Siapakah yang Bernama Allah Itu?), hal. 4).

Gara-gara mencuatnya gugatan penggunaan kata ”Allah” oleh kaum Kristen, di Indonesia, banyak diterbitkan buku yang membahas tentang kontroversi penggunaan ”nama Allah” dalam Kristen, seperti buku: I.J. Satyabudi, Kontroversi Nama Allah, (Jakarta: Wacana Press, 2004); Bambang Noorsena, The History of Allah, (Yogya: PBMR Andi, 2005); Herlianto, Siapakah Yang Bernama Allah Itu? (Jakarta: BPK, 2005, cetakan ke-3), dan Pdt. A.H. Parhusip, Waspadalah terhadap Sekte Baru, Sekte Pengagung Yahweh, (2003); juga Herlianto, Gerakan Nama Suci, Nama Allah yang Dipermasalahkan, (Jakarta: BPK, 2009); Samin Sitohang, Siapakah Nama Sang Pencipta? Menjawab Kontroversi Sekutar Pemakaian Nama Allah dalam Alkitab, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2003).

Karena merebaknya kontroversi tentang nama Tuhan tersebut, dan juga tentang boleh tidaknya penggunaan kata ”Allah” dalam Bibel edisi bahasa Indonesia, Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) — sebagai lembaga resmi penerjemah Bibel edisi bahasa Indonesia – membuat penjelasan:

”el, elohim, aloah adalah nama pencipta alam semesta dalam bahasa Ibrani, bahasa asli Alkitab Perjanjian Lama. Dalam bahasa Arab, allah (bentuk ringkas dari al ilah) merupakan istilah yang seasal (cognate) dengan kata Ibrani el, elohim, aloah. Jauh sebelum kehadiran agama Islam, orang Arab yang beragama Kristen sudah menggunakan (baca: menyebut) allah ketika mereka berdoa kepada el, elohim, aloah. Bahkan tulisan-tulisan kristiani dalam bahasa Arab pada masa itu sudah menggunakan allah sebagai padan kata untuk el, elohim, aloah…. Dari dahulu sampai sekarang, orang Kristen di Mesir, Libanon, Iraq, Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura dan berbagai negara di Afrika yang dipengaruhi oleh bahasa Arab, terus menggunakan (baca: menyebut) kata allah – jika ditulis biasanya menggunakan huruf kapital ”Allah” untuk menyebut Pencipta Alam Semesta dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, baik dalam ibadah maupun dalam tulisan-tulisan. Dalam terjemahan-terjemahan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia, kata ”Allah” sudah digunakan terus menerus sejak terbitan Injil Matius dalam bahasa Melayu yang pertama (terjemahan Albert Cornelis Ruyl, 1692), begitu juga dalam Alkitab Melayu yang kedua (terjemahan Hillebrandus Cornelius Klinkert, 1879 sampai saat ini.”

Penjelasan LAI, tertanggal 21 Januari 1999, ditandantangani oleh Sekretaris Umumnya, Supardan. Surat LAI ini dikutip dari buku Waspadalah terhadap Sekte Baru, Sekte Pengagung Yahweh, karya Pdt. A.H. Parhusip. Sekte Pengagung Yahweh yang disebut di sini memang membuat geram berbagai kalangan dalam Kristen, sampai-sampai Pdt. Parhusip menulis ungkapan yang sangat keras: ”Saya tahu kebusukan dan kejahatan Pengagung YAHWEH, yakni: Hanya untuk menghilangkan sebutan ”Allah” dari Alkitab, maka dibuatlah ’Kitab Suci’ yaitu Alkitab palsu yang di dalamnya sebutan ”Tuhan YAHWEH” (=Tuhan TUHAN) begitu mubazir. Bodoh! Untuk itulah saya serukan: Kalau mau bodoh, bodohlah; tetapi jangan terlalu bodohlah kawan!”

Meskipun LAI sudah mengeluarkan edaran resmi, para penggugat nama Allah dalam Kristen terus bermunculan. Mereka juga terus menerbitkan buku-buku, panflet, bahkan Bibel sendiri yang menggugat penggunaan kata Allah untuk nama Tuhan mereka. Sebuah buku yang berjudul “Allah” dalam Kekristenan, Apakah Salah, karya Rev. Yakub Sulistyo, S.Th., M.A., (2009), menguraikan kekeliruan kaum Kristen di Indonesia yang menggunakan nama Allah untuk memanggil Tuhan mereka. Buku ini menulis imbauan kaum Kristen Indonesia untuk tidak lagi menggunakan kata Allah:

“Kamus Theologia Kristen sendiri sudah sangat jelas menulis bahwa: Allah itu berasal dari Arab yang artinya Keberadaan Tertinggi dalam agama Islam, jadi kalau Anda sebagai orang Kristen atau Katolik (Nasrani) yang baik, Anda seharusnya menghormati iman orang lain (umat Islam), dengan tidak mencampur-adukkan dengan iman Nasrani, sehingga menjadi Sinkretisme… Sebagai umat Nashrani, carilah KESELAMATAN sesuai kitab sucinya sendiri dengan tidak takut menghadapi institusi duniawi seperti Sinode, Pimpinan gereja yang tidak memahami Firman Tuhan, merk Gereja dan lain-lain. Jangan takut dipecat demi kebenaran hakiki. Tuhan Yahweh di dalam Nama Yeshua HaMashiakh memberkati Anda.” (Yakub Sulistyo, “Allah” dalam Kekristenan, Apakah Salah, (2009), hal. 43. Buku ini tidak mencantumkan nama penerbit).

Bahkan, kaum Kristen penolak nama ”Allah” ini juga kemudian lagi-lagi menerbitkan Bibel versi mereka sendiri, yang membuang semua kata Allah di dalamnya. (Lihat: Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru – Indonesian Literal Translation (ILT), terbitan Yayasan Lentera Bangsa, Jakarta, 2008). Sebagai contoh, pada Matius 4: 10, versi Kitab Suci ILT, tertulis: “Kemudian YESUS berkata kepadanya, “Enyahlah hai Satan! Sebab telah tertulis: Engkau harus menyembah YAHWEH, Elohimmu, dan kepada-Nya sajalah engkau harus beribadah.” Sedangkan dalam Alkitab versi LAI (2007) tertulis: “Maka berkatalah Yesus kepadanya: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti.” Contoh lain, dalam Alkitab ILT Kitab Ulangan 10:17, tertulis: “Sebab YAHWEH, Elohimmu, Dialah Elohim atas segala ilah dan Tuhan atas segala tuan, Elohim yang besar yang perkasa dan yang ditakuti, yang tidak memandang muka, juga tidak menerima suap.” Sedangkan dalam versi LAI (2007), ayat itu ditulis: “Sebab TUHAN, Allahmulah Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan, Allah yang besar, kuat dan dahsyat, yang tidak memandang bulu atau pun menerima suap.”

Jika kaum Kristen di Indonesia merujuk kepada Bibel versi Arab, maka persoalan nama dan penyebutan Tuhan juga menjadi rumit sebab huruf Arab – sebagaimana huruf Ibrani tidak mengenal huruf kapital atau huruf kecil. Sebagai contoh, sebuah Bibel versi Arab-Inggris terbitan International Bible Society (1999), menulis Kitab Ulangan 10:17 sebagai berikut: “Li-anna al-rabba ilahukum huwa ilahu al-Aalihati wa rabbu al-arbaabi, al-ilahu al-‘adhiimu, al-jabbaaru al-mahiibu, al-ladziy laa yuhaabiy wajha ahadin, wa laa yastarsyiy. (Dalam sebuah Bibel bahasa Arab terbitan London tahun 1866, ayat itu ditulis sebagai berikut: Min ajli anna al-rabba ilaahukum huwa ilaahu al-Aalihati wa rabbu al-arbaabi ilaahun ‘adhiimun… ). Dalam teks bahasa Inggris (versi New International Version) ayat itu ditulis sebagai berikut: “For the LORD your God is God of gods and Lords of lords, the great God, mighty and awesome, who shows no partiality.”

Menyimak perdebatan seputar penggunaan nama Allah dalam Kristen, tampaknya, nama ”Allah” memang merupakan nama Tuhan yang sudah digunakan oleh kaum-kaum sebelum Islam, di kawasan Arab. Karena misteri penyebutan nama Tuhan dalam Perjanjian Lama (YHWH) tidak terpecahkan, maka kaum Kristen di Arab – tampaknya — juga menyesuaikan diri dengan tradisi di situ dalam menyebut Tuhan, yaitu dengan menggunakan kata Allah. Tetapi, kaum Kristen tetap memberikan catatan, bahwa kata “Allah” bukanlah sebuah nama diri, melainkan hanya sebutan untuk Tuhan di daerah Arab. Begitu juga dengan konsepnya, Allah adalah Tuhan Tritunggal.

Pandangan Kristen terhadap “Allah” semacam itu jelas berbeda dengan pandangan Islam terhadap Allah. Sebab, dalam Islam, Allah adalah nama Tuhan, dan konsepnya pun bukan Tritunggal, tetapi Allah yang SATU, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia. Dalam pandangan Islam, sesuai wahyu yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw, nama “Allah” inilah yang dipilih oleh Allah untuk memperkenalkan diri-Nya kepada manusia, melalui utusan-Nya yang terakhir, yakni Nabi Muhammad saw. Melalui Nabi Muhammad saw juga, dikabarkan bahwa Isa a.s. adalah seorang Nabi, dan bukan Tuhan atau anak Tuhan. Nabi Isa a.s. juga ditegaskan tidak mati di tiang salib untuk menebus dosa manusia.

Jadi, meskipun nama ”Allah” sudah digunakan oleh kaum musyrik Arab sebelum kedatangan Islam, tetapi al-Quran tetap menggunakan nama ini. Hanya saja, nama Allah yang digunakan oleh al-Quran sudah dibersihkan konsepnya dari unsur-unsur syirik, seperti dipahami oleh kaum Kristen dan kaum musyrik Arab. Dengan kata lain, nama Allah itu sudah di-Islam-kan konsepnya. Nama bisa saja sama, tetapi konsepnya berbeda. Dan satu-satunya jalan untuk memahami kemurnian lafaz dan makna Allah tersebut, haruslah dilakukan melalui pemahaman terhadap wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi terakhir, yakni Muhammad saw. Karena itu, menurut pandangan Islam, bisa dipahami, untuk mengenal Allah secara murni (tauhid), maka tidak bisa tidak harus mengakui kenabian Muhammad saw. Sebab, Nabi Muhammad saw adalah utusan Allah terakhir, yang bertugas menjelaskan siapa Allah, nama dan sifat-sifat-Nya, dan cara untuk beribadah kepada-Nya.

Itu konsepsi Islam tentang nama Tuhan, yang memang berbeda dengan konsepsi Kristen tentang nama Tuhan. Dalam pandangan Islam, setelah diutusnya Nabi Muhammad saw kepada seluruh manusia, maka sebenarnya kaum Kristen mengakui dan mengimani kenabian Muhammad saw, sebagaimana dipesankan Nabi Isa a.s. (yang artinya): ”Dan ingatlah ketika Isa ibn Maryam berkata, wahai anak keturunan Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua, membenarkan apa yang telah ada pada kita, yaitu Taurat dan memberikan kabar gembira (akan datangnya) seorang Rasul yang bernama Ahmad.” (QS 61:6).

Jadi, dalam pandangan Islam, Isa a.s. adalah Nabi, utusan Allah, sebagaimana para nabi sebelumnya. Karena itulah, ketika kaum Kristen mengangkat Isa a.s. sebagai Tuhan, maka Allah murka (QS 19:88-91). Sebaliknya, bagi kaum Kristen, Yesus dipandang sebagai juru selamat, dan satu-satunya jalan keselamatan menuju Tuhan. Karena itu, semua manusia harus diusahakan untuk mengenal Yesus dan dibaptis.

Kaum Kristen juga memiliki pandangan yang berbeda dengan Islam tentang nama Tuhan. Sebagian mereka memandang, bahwa nama Tuhan diserahkan kepada budaya setempat. Maka, di Barat, kaum Kristen memanggil God atau Lord, di Arab lain lagi, dan di Indonesia juga berbeda. Konsepsi ini yang digugat sejumlah kelompok Kristen lain, seperti ”Jaringan Gereja Pengagung Nama Yahweh”, yang menyatakan, bahwa nama Tuhan sudah disebutkan dalam Bibel, yaitu Yahweh.

Demi Misi Kristen

Memang, pertanyaanya, mengapa kaum Kristen di wilayah Melayu-Indonesia menggunakan kata ”Allah” untuk menyebut nama Tuhan mereka? Padahal, Kristen yang datang ke Indonesia sesungguhnya berasal dari Barat, yang tidak mengenal kata Allah. Salah satu alasannya, seperti disebutkan oleh Samin Sitohang dalam bukunya, Siapakah Nama Sang Pencipta? Menjawab Kontroversi Sekitar Pemakaian Nama Allah dalam Alkitab, adalah “pertimbangan misiologis”. Jadi, karena penduduk di wilayah Melayu-Nusantara ini sudah terbiasa menyebut nama Tuhan dengan Allah, karena mayoritasnya Muslim, maka dipakailah kata Allah untuk menyebut Tuhan Kristen tersebut. Samin Sitohang menulis tentang hal ini:

“Jadi, jika Alkitab bahasa Indonesia menggunakan Allah untuk nama Sang Pencipta, itu berarti Roh Allah sedang menyiapkan umat-Nya yang berasal dari golongan lain untuk menerima Injil karena mereka tidak perlu harus membuang Allah untuk mendapatkan nama Sang Pencipta yang baru. Sebaliknya, jika Alkitab Indonesia memakai Elohim, nama ini akan sukar diterima. Memang secara teologis dan moral, nama itu tidak keberatan untuk dipakai. Tetapi dari sudut pandang misiologis, penggunaan nama itu akan menjadi sia-sia. Lebih jauh, jika Alkitab Indonesia menggunakan Elohim, maka dari sudut kesaksian Kristiani, nama itu akan merusak citra Injil. Sebab, semua orang sudah tahu bahwa nama Sang Pencipta bagi umat Kristen Indonesia adalah Allah, bahkan nama ini sudah dipakai umat Kristen di Arab zaman pra-Islam. Lalu jika berganti menjadi Elohim, orang luar akan berkata bahwa nama Allah umat Kristen tidak konsisten. Jika demikian halnya, bagaimana jadinya nilai Injil di mata orang asing, khususnya umat Islam? Mereka akan berkata, “Dahulu nama Allah kalian Allah, sekarang Elohim, dan besok siapa lagi? Bukankah hal ini akan menyesatkan pemikiran mereka dengan keyakinan bahwa ternyata tidak ada kepastian di dalam “agama” Kristen? Disamping itu, umat Kristen sendiri pun akan dan memang sudah banyak kebingungan atas sikap Kelompok Penggagas yang memaksakan penggunaan Elohim menggantikan Allah.” (Samin Sitohang, Siapakah Nama Sang Pencipta? Menjawab Kontroversi Sekutar Pemakaian Nama Allah dalam Alkitab, hal. 100-101).

Menurut Samin Sitohang, meskipun nama Allah digunakan oleh penganut agama yang berbeda, maka akan memiliki akibat yang berbeda. Jika kaum Kristen yang menggunakan nama Allah, maka roh Kristus sendiri yang datang, sesuai dengan 1 Korintus 8:5,6, tidak ada lagi allah selain Allah yang dikenal dalam Yesus Kristus. “Tetapi, jika orang bukan Kristen memanggil nama itu, tentu Ia tidak ada di situ, alias kosong. Jika demikian halnya, ketika orang bukan Kristen memanggil Allah, bukan mustahil justru roh antikristus akan datang menyusup, seolah-olah doa mereka dijawab oleh Sang Pencipta, padahal Ia tidak mendengar doa-doa mereka. Lalu bukan mustahil kesempatan itu dimanfaatkan oleh Iblis, karena Iblis pun bisa berpura-pura baik untuk menyamar sebagai malaikat terang (2 Kor. 11:13-15),” demikian tulis Samin Sitohang, seorang pendeta Gereja Metodis Injili dan dosen Institut Alkitab Tiranus.

Samin Sitohang juga berpendapat, bahwa “siapa pun nama yang diberikan oleh masyarakat budaya tertentu kepada Sang Pencipta, asalkan nama itu mencerminkan karakter-Nya sebagai Sang Pencipta, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Suci, dan Yang Mahabaik, dapat dipahami sebagai bagian dari rencana Sang Pencipta untuk meraih segala suku bangsa agar percaya kepada-Nya.”

Konsep Kristen tentang nama Tuhan ini sangat berbeda dengan Islam, yang mensyaratkan, nama Tuhan haruslah berdasarkan wahyu, bukan berdasarkan tradisi atau kesepakatan suatu masyarakat. Nama Tuhan dalam Islam adalah masalah penting dan mendasar. Dalam ajaran Islam, dikenal nama-nama Tuhan yang semuanya berasal dari wahyu, sehingga umat Islam seluruh dunia dan sepanjang zaman, memanggil nama Tuhan dengan ungkapan yang sama, sebagaimana diajarkan dalam al-Quran, seperti “Ya Allah”, “Ya-Rahman”, “Ya-Rahim”, “Ya Ghafur”, dan dengan nama-nama lain yang dikenal sebagai Asmaul Husna. Karena itu, nama Tuhan dalam Islam bukanlah hal yang spekulatif, tetapi merupakan satu kepastian berdasarkan wahyu.

Sebaliknya, nama YAHWEH yang diajukan oleh kelompok-kelompok Kristen penolak kata ”Allah”, juga tak kurang kontroversialnya. I.J. Satyabudi, seorang penulis Kristen, mengritik keras sejumlah kelompok Kristen yang mengklaim bahwa nama Tuhan orang Kristen adalah Yahweh. Ia menulis: ”Orang-orang Yahudi di seluruh dunia tertawa terbahak-bahak ketika menyaksikan orang-orang Kristen mengklaim dirinya lebih mengetahui cara pengucapan nama YHWH dibandingkan umat Yahudi.” (hal. 92).

Jadi, bagaimana seharusnya kaum Kristen memanggil Tuhan mereka. Jawabnya, seperti dikatakan Pendeta Parhusip:

”Lalu mungkin ada yang bertanya: Siapakah Pencipta itu dan bagaimanakah kalau kita mau memanggil Pencipta itu? Jawabnya: Terserah pada Anda! Mau panggil; Pencipta! Boleh! Mau panggil: Perkasa! Silahkan! Mau panggil: Debata! Boleh! Mau panggil: Allah! Boleh! Mau panggil: Elohim atau Theos atau God atau Lowalangi atau Tetemanis…! Silakan! Mau memanggil bagaimana saja boleh, asalkan tujuannya memanggil Sang Pencipta, yang menciptakan langit dan bumi… Ya, silakan menyebut dan memanggil Sang Pencipta itu menurut apa yang ditaruh oleh Pencipta itu di dalam hati Anda, di dalam hati kita masing-masing. Lihat Roma 2:14-15.”

Untuk kasus Malaysia, demi terciptanya kerukunan umat beragama, sebagai Muslim kita juga tentu boleh mengusulkan, agar kaum Kristen tidak lagi menggunakan kata ”Allah” untuk menyebut Tuhan mereka. Toh, memang tidak ada masalah bagi kaum Kristen untuk memanggil Tuhan dengan berbagai sebutan selain Allah. Jadi, mengapa harus bertahan dengan sebutan ”Allah”? [Depok, 23 Januari 2010/www.hidayatullah.com]

Penulis adalah Wakil Ketua Komisi Kerukunan Umat Beragama—Majelis Ulama Indonesia. Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama Radio Dakta dan http://www.hidayatullah.com

 

 

Iklan

NAMA ORISINIL TUHAN BUKAN YAHWEH,TAPI ALLAH.

Muslim menjawab.

Menjawab pertanyaan-pertanyaan dan/atau pernyataan-pernyataan teman-teman non-Muslim:
 

  • APAKAH BENAR ISLAM SIAP MENJAWAB SETIAP PERTANYAAN ?
  • Apakah Allah SWT tertulis di KItab2 sebelum quran? silakan berikan ayat2nya… makasih…
  • emang sudah dijelasin sich bahwa SWT itu TIDAK PERNAH diperkenalkan dalam KITAB2 SEBELUMNYA…
  • Islam NGOTOT bahwa quran adalah PENYEMPURNA Kitab2 sebelumnya.. tapi TIDAK SANGGUP Menunjukkan kesinambungan / benang merah tentang nama Allah SWT dan ajaran ttg Poligami dalam kitan2 tersebut.. atau ada yg MAMPU menunjukkannya di sini? no link, no copas, n no OOT/OON…. moggo
  • ada yg bisa jelaskan ttg SWT? no link, no copas, n no OOT…

dan pertanyaan-pertanyaan serta pernyataan-pernyataan yang senada.

Perhatian

Penggunaan ayat-ayat dalam PL dan PB, sebagai bukti-bukti dalil, dilakukan jika tidak bertentangan dengan Al Qur’an. Karena muslim meyakini bahwa hanya Al Qur’an yang tetap dijaga originalitasnya karena merupakan wahyu terakhir bagi nabiyullah yang terakhir hingga akhir jaman.

Ulasan

Bagian dari artikel ini adalah:

  1. “Allah” berbeda dari bahasa Ibrani “Yahweh”!
  2. Bagaimana bisa sebuah nama dimulai dengan “The” (Yang)? Padahal kata “Yahweh” sendiri artinya adalah “Yang Abadi” (“The Eternal”), “Sang Penguasa” (“The Lord)”, “Yang Disembah” (“The GOD”) yang berarti juga “As-Samad” dalam bahasa Arab. Itu adalah sebuah gelar sebutan atau panggilan!
  3. “Yahweh” bahkan bukan gelar pertama Tuhan dalam Alkitab!
  4. Lalu mengapa Alkitab berbahasa Arab menggunakan kata “Allah” dan “Yahweh” untuk Tuhan?
  5. Mengapa Yesus memilih untuk mengatakan “Eloi” (yang berbahasa Aram) kepada orang-orang yang berbicara bahasa Ibrani?
  6. Artikel ini menunjukkan dari sumber Ibrani bahwa Kejadian 1:1 mengatakan “Allah”. Ini terbukti dari sumber Ibrani dengan gambaran-gambaran bahwa Nama asli Suci Tuhan Yang Maha Kuasa memang “Allah”.
  7. Kata Ibrani “Allaah” adalah kata yang paling dekat dengan “Allah” dan itu berarti Allah.

“Allah” berbeda dari bahasa Ibrani “Yahweh”!

Satu hal yang banyak orang Yahudi dan Kristen yang berbahasa non-Ibrani sering melakukan kesalahan adalah tentang nama Tuhan Yang Maha Kuasa dalam Alkitab. “Yahweh” dalam bahasa Ibrani berarti “The Lord” (“SANG Penguasa”). atau “The Eternal” (YANG Abadi) atau “Yang Disembah” (“The GOD”). Dan gelar-gelar atau sebutan-sebutan ini bukanlah nama. Mari kita lihat kutipan berikut dari sumber-sumber Kristen dan Yahudi:

“Judaism teaches that while God’s name exists in written form, it is too holy to be pronounced.  The result has been that, over the last 2000 years, the correct pronunciation has been lost.”   (Mankind’s Search for GOD, p. 225).

“Yudaisme mengajarkan bahwa sementara nama Tuhan ada dalam bentuk tertulis, nama itu terlalu suci untuk diucapkan. Hasilnya adalah bahwa, selama 2000 tahun terakhir, pengucapan yang benar telah hilang” (Pencarian Manusia untuk Tuhan, hal 225).

Di sini kita jelas melihat bahwa pengucapan untuk nama asli Tuhan telah hilang, dan orang-orang Yahudi tidak tahu apa pengucapan yang tepat dari Kitab Suci dan sumber-sumber daya mereka.

“About 3,500 years ago, God spoke to Moses, saying: ‘Thus shall you speak to the Israelites: The LORD [Hebrew: YHWH], the God of your fathers, the God of Abraham, the God of Isaac, and the God of Jacob, has sent me to you: This shall be My name forever, this My appellation for all eternity.’   (Exodus 3:15; Psalm 135:13)”  (Mankind’s Search for GOD, p.225).

“Sekitar 3.500 tahun yang lalu, Tuhan berbicara kepada Musa, mengatakan: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN [bahasa Ibrani: YHWH], Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku untuk selamanya ‘. (Keluaran 3:15; Mazmur 135:13) “(Pencarian Manusia bagi Tuhan, p.225).

“….the four Hebrew consonants YHWH (Yahweh) that in their Latinized form have come to be known over the centuries in English as JEHOVAH.”   (Mankind’s Search for GOD, p.225).

“…. empat konsonan Ibrani YHWH (Yahweh) yang dalam bentuk Latinnya telah ada untuk diketahui selama berabad-abad dalam bahasa Inggris sebagai YEHUWA (JEHOVAH). “(Pencarian Manusia bagi ALLAH, p.225).

Jadi kata “YHWH” atau “Yahweh” atau “Yehuwa” (atau Jehovah dalam bahasa Inggris), BUKAN NAMA ASLI, namun gelar sebutan untuk Tuhan Yang Mahakuasa. Hal ini baik-baik saja, karena orang-orang Yahudi, Kristen dan Muslim memanggil kepada Tuhan sebagai “The Lord” atau “The God” (dalam bahasa Inggris), yang berarti “Yahweh” atau “Yehuwa” dalam bahasa Ibrani dan “Al-Rab” dalam bahasa Arab. “Al-Rab” dalam bahasa Arab dan “Yahweh” dalam bahasa Ibrani dan terjemahan-terjemahan lain dalam semua bahasa lain memanglah gelar sebutan Tuhan Yang Maha Kuasa. Tapi kesemuanya itu BUKAN Nama asli-Nya!

Mari kita lihat Keluaran 3:15 and Mazmur 135:13 Al Kitab New International Version (NIV):

“God also said to Moses, “Say to the Israelites, `The LORD [Notice that they didn’t write Jehovah.  “The LORD” in only a title], the God of your fathers–the God of Abraham, the God of Isaac and the God of Jacob–has sent me to you.’ This is my name forever, the name by which I am to be remembered from generation to generation.  (Keluaran 3:15 New International Version)”

“Tuhan juga berfirman kepada Musa,” Katakanlah kepada orang Israel: TUHAN [Perhatikan bahwa mereka tidak menulis Yahweh atau Jehovah. “TUHAN” adalah sebutan (title)], Allah nenek moyangmu – Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub – telah mengutus aku kepadamu ‘. Ini adalah nama-Ku selamanya, nama yang mana Aku diingat dari generasi ke generasi. (Dari Alkitab NIV, Keluaran 3:15) ”

“Your name, O LORD, endures forever, your renown, O LORD, through all generations.  (Mazmur 135:13 New International Version)”

“Nama Engkau, ya TUHAN, bahwasanya untuk selamanya, terkenal Anda, ya TUHAN, di semua generasi.” (Dari Alkitab NIV, Mazmur 135:13)

Jadi seperti yang kita jelas lihat dari Ayat-ayat di atas dari Alkitab NIV, nama asli Tuhan bukanlah “Yahweh”. Gelar “The LORD” atau “The GOD” adalah sebuah gelar sebutan dan nama panggilan (jika Anda berkenan) yang kita katakan kepada Tuhan. Tapi “Yahweh” jelas BUKAN NAMA ASLI Tuhan.

“Allah” di sisi lain adalah sebuah nama. Ini adalah nama Tuhan. Di bawah ini, Anda akan melihat bukti-bukti yang cukup dari bahasa Aram bahwa nama Tuhan Yang Maha Kuasa adalah “Allah”.

“Tuhan” dalam bahasa Arab dan bahasa Aram adalah sama, dan itu adalah “Allah”.

Yesus saw berbicara dalam bahasa Aram selama pelayanannya.

“Allah” adalah Nama Tuhan, “Elaw” berarti “Tuhan” dalam bahasa Aram: Bagaimana mereka bisa sama?
Saya membuktikan dengan jelas dari Noble Quran bahwa “Allah” berarti Tuhan Yang Maha Agung dalam bahasa Arab.

Bagaimana bisa gelar sebutan yang dimulai dengan “Sang” atau “Yang” (atau “The” dalam bahasa Inggris) menjadi sebuah nama?

Selain bukti-bukti yang jernih di atas tentang Yahweh atau Yehuwa (Jehovah dalam bahasa Inggris) yang adalah merupakan gelar sebutan (Keluaran 3:15) bagi Tuhan, bukan Nama Tuhan, saya ingin mengemukakan pertanyaan sederhana, dan menguji akal sehat secara sederhana:

Bagaimana bisa gelar sebutan yang dimulai dengan “Sang” atau “Yang” (atau “The” dalam bahasa Inggris) menjadi sebuah nama?

Jika saya sebut anda “si jenius” (“dalam bahasa Inggris the genius”, atau contoh lainnya adalah “the man”, “the hero” dan sejenisnya), apakah hal itu akan benar-benar membuat nama Anda adalah “si jenius” (atau nama anda menjadi “the hero” atau “the man”)?

Seorang Kristen baru-baru ini mengatakan bahwa dalam bahasa Ibrani, Yahweh tidak hanya berarti “Sang Penguasa” (“The LORD” dalam bahasa Inggris) atau “Yang Disembah” (“The GOD” dalam bahasa Inggris), tetapi juga berarti “Yang Abadi” (“The Eternal” dalam bahasa Inggris) menurut Kamus Baru Alkitab. Itu semua sempurna bagi saya.

Yang Abadi, Yahweh atau Jehovah, berarti “As-Samad” dalam bahasa Arab. Allah SWT sendiri menyebut diri-Nya “Al-Samad” dalam Al Qur’an (QS. 112:2). Dan saya bersedia untuk memanggil Allah Yang Maha Kuasa mulai dari sekarang dengan sebutan “As-Samad” (Yahweh dalam bahasa Ibrani) dan bukan dengan “Allah SWT” (Nama Kudus-Nya) jika itu akan membuat orang Kristen memahami Islam dan menerimanya!

Seberapa sulit untuk memahami bahwa sebuah gelar sebutan yang dimulai dengan “Yang” atau “Sang” (atau “The” dalam bahasa Inggris) bukanlah sebuah nama! Apalagi menjadi nama asli!

Silahkan kunjungi: “Allah” adalah Nama ALLAH, “Elaw” berarti “TUHAN” dalam bahasa Aram: Bagaimana bisa sama? Saya buktikan dengan jelas dari Al Quran bahwa “Allah” berarti Tuhan Yang Maha Agung dalam bahasa Arab.

“Yahweh” bukanlah hal pertama yang Tuhan tunjukkan mengenai diri-Nya dalam Alkitab!

Beberapa orang Kristen masih bersikeras bahwa Nama asli Suci Tuhan adalah Yahweh. Mereka mengandalkan Keluaran 3:15 untuk membuktikan omong kosong ini. Saya sudah membuktikan dengan jelas di bagian atas bahwa “Yahweh” dalam Keluaran 3:15 itu hanya gelar atau sebutan dan bukan nama, dan Yahweh artinya adalah “Sang Penguasa” (“The LORD”), “Tuhan Yang Disembah” (“The GOD”) dan “Yang Abadi” (“The Eternal”), menurut Kamus Baru Alkitab.

Sekarang, mari kita asumsikan untuk pendapat yang kedua yakni yang mengatakan bahwa “Yahweh” adalah nama, yang benar-benar konyol, karena terjemahan bahasa Inggris dari kata “Yahweh” dimulai dengan “the”. Karenanya hal ini tetap tidak membuktikan bahwa nama asli Tuhan  adalah Yahweh! Keluaran 3:15 bahwa orang Kristen begitu angkuh untuk menggunakan apa-apa yang diturunkan kepada Nabi Musa saw. Jadi berapa tahun rentang waktu yang ada antara Adam dan Musa as? Mungkin ribuan! Jika tidak bahkan mungkin jutaan!

Jadi menurut logika Kristen, Tuhan Yang Maha Kuasa itu tidak memiliki nama dari zaman Adam sampai zaman Musa di mana Dia, Yang Mahakuasa, konon akhirnya menemukan diri-Nya dan identitas-Nya. Benar? Salah! Itu semua omong kosong!

Nama asli Kudus Allah Maha Kuasa adalah jelas “Allah” atau “Elaw”! Seperti saya katakan di atas, ketika Yesus saw diletakkan di atas kayu salib, dia berseru kepada Tuhan dan berkata “Eloi”, yang berasal dari kata “Elaw” atau “Allah”. Yesus tidak mengatakan “Yahwahoi”!

Oleh karena itu, setiap orang Kristen yang memutuskan untuk bertindak keras kepala dan menolak fakta yang jelas yang mengatakan bahwasanya Nama asli Suci Tuhan Yang Maha Kuasa memang “Allah”, karena takut bahwa hal itu justru akan membuktikan Islam sebagai agama Kebenaran, maka mereka bersalah karena telah berbuat dosa terhadap TUHAN Yang Mahakuasa dengan membedakan-bedakan antara “Yahweh” dan “Allah”.

Lalu mengapa Alkitab berbahasa Arab menggunakan kata-kata “Allah” dan “Yahweh” sebagai pengganti kata “Tuhan”?

Seorang Kristen mengangkat pertanyaan ini: Mengapa Alkitab berbahasa Arab tetap menggunakan kata  “Yahweh” untuk Tuhan, jika “Yahweh” bukanlah Nama asli Tuhan Yang Maha Kuasa?

Yang pertama-tama untuk diklarifikasi adalah, Alkitab bahasa Arab menggunakan dua kata yakni “Allah” dan “Yahweh“. Silahkan kunjungi artikel ini untuk melihat gambar dari Alkitab bahasa Arab yang menunjukkan penggunaan kata “Allah” bagi Tuhan. Juga penting untuk mengetahui bahwa “Yahweh” bukanlah bahasa Arab. Sama seperti “The Lord” juga bukanlah Arab Arab. Terjemahan tepat untuk “Yahweh” dalam Alkitab bahasa Arab harusnya adalah “As-Samad” untuk “Yang Abadi” (“The Eternal”), atau “Al-Rab” untuk “Sang Penguasa” (“The Lord”), tergantung pada kata yang mereka ingin pilih, karena Yahweh berarti keduanya (“As-Samad” dan “Al-Rab”).

Jadi jika mereka memasukkan kata “Yahweh” dalam Alkitab bahasa Arab maka hal tersebut adalah suatu perbuatan bodoh yang berkontradiksi pada Al Kitab itu sendiri, karena jika Anda memilih untuk memanggil Tuhan dengan gelar sebutan “Yahweh” dalam Al Kitab berbahasa Arab (dan hal tersebut merupakan pemaksaan penggunaan kata Ibrani ke dalam bahasa Arab), maka Anda tidak bisa menyebut-Nya dengan “Allah” pada saat yang sama dalam Al Kitab yang sama! Sebaliknya,  memanggil Tuhan dengan kata-kata “As-Samad” atau “Al-Rab” (dalam Al Kitab berbahasa Arab tersebut) sebagai gelar sebutan bagi Yahweh (jika Yahweh dianggap sebagai nama Tuhan) adalah hal yang berbeda dan dapat diterima karena tidak ada kontradiksi dalam hal ini. Kontradiksi terjadi saat digunakannya baik kata Yahweh dan Allah dalam satu Al Kitab yang sama, karena hal tersebut berarti ada dua Tuhan dengan nama yang berbeda!

Jadi tanggapan saya adalah: para teolog Arab, yang berperan dalam penulisan Al Kitab dalam bahasa Arab, membutuhkan pelajaran dasar dalam bahasa Arab dan Ibrani!

Tambahan dari saudara Yusuf; semoga Allah SWT selalu meridhainya:

“Edisi terbaru oleh International Bible Society dimulai dengan “fi al-Bid’i khalaqa al-samawati ALLAH wal-ardha” Kata normal untuk Tuhan, apalagi, adalah “Allah”., Dalam dialek Kristen Arab serta dalam dialek Yahudi.

“(Saudara Yusuf menceritakan seorang Kristen) Siapa bilang bukan kita?” Kamu katakan bahwa “Allah” bukanlah kata untuk Tuhan dalam Alkitab. Dimulai tepat pada awal dan terus berlanjut selama. Dan kemudian Anda pilih satu ayat, mengabaikan ayat-ayat lainnya Alkitab, PL serta PB. Ayat yang Anda kutip juga diterjemahkan dalam bahasa Inggris sebagai Yahweh, bukan Tuhan; jadi apa maksud Anda? Kami berbicara tentang penunjukan normal untuk satu Tuhan Yang Benar?

Anda kembali mengabaikan fakta bahwa ini juga terjadi dalam dialek Kristen Arab dan Yahudi Arab. Hal ini juga terjadi dalam liturgi Kristen, seperti misalnya dalam liturgi Maronit. Apa lagi yang kau inginkan? Tuhan adalah Allah, Allah adalah Tuhan, dan Allah harus diterjemahkan, tidak hanya secara harfiah”.

Untuk lebih membuktikan poin saya, mari kita lihat Kejadian 2:4:

“This is the account of the heavens and the earth when they were created.  When the LORD God made the earth and the heavens-  (From the NIV Bible, Genesis 2:4)”

“Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan. Ketika TUHAN Allah menjadikan bumi dan langit,” (Keluaran 2:4 Injil New International Version)

Sehingga Anda dapat melihat dengan jelas, “Yahweh” jelas sebuah gelar sebutan yang berarti “TUHAN” dan bukan Nama Tuhan.

Mengapa Yesus memilih untuk mengatakan “Eloi” bahasa Aram kepada orang-orang yang berbicara bahasa Ibrani?

Mengapa Yesus mengesampingkan bahasa Ibrani dan berbicara “Eloi” (bahasa Aram) meskipun fakta bahwa orang-orang di sekelilingnya adalah Yahudi yang berbicara bahasa Ibrani? Karena Yesus saw tahu bahwa Nama Suci Tuhan Yang Maha Kuasa adalah Allah, dan Eloi (Tuhanku atau my God) adalah berasal dari kata Allah (Elaw dalam bahasa Aram). Ibrani “Yahweh” (“The Lord” atau “The God”) adalah gelar Tuhan yang diwajibkan bagi orang Yahudi saja. Seperti ditunjukkan dalam bagian pertama dari artikel, orang-orang Yahudi karena ketidakmampuan mereka untuk mengucapkan Nama Suci Allah Yang Maha Kuasa dengan benar, diperintahkan oleh Tuhan untuk memanggil-Nya sebagai “The Lord” (“Sang Penguasa”):

“Yudaisme mengajarkan bahwa sementara nama Allah ada dalam bentuk tertulis, itu terlalu suci untuk diucapkan. Hasilnya adalah bahwa, selama 2000 tahun terakhir, pengucapan yang benar telah hilang..” (Pencarian Manusia untuk Allah, hal 225).

Di sini kita jelas melihat bahwa pengucapan untuk nama asli Tuhan telah hilang, dan orang-orang Yahudi tidak tahu apa pengucapan yang tepat dari Kitab Suci dan sumber-sumber lain milik mereka.

Tapi alasan mengapa Yesus memanggil Tuhan dengan sebutan-Nya dalam bahasa Aram, terlepas dari fakta bahwa setiap orang saat itu berbicara bahasa Ibrani dan Hukum Yahudi ditulis dalam bahasa Ibrani adalah karena Yesus ingin memanggil Tuhan dalam bentuk Tertinggi dan Paling Sempurna: Nama-Nya!

Menyebut Tuhan sebagai “The LORD” atau yang berarti “Yahweh” tentunya hanya tepat untuk orang-orang yang berbicara bahasa Ibrani, orang-orang Yahudi, tetapi tidak untuk bangsa-bangsa dan semua orang non-Yahudi dan generasi setelah itu.

Kata bahasa Ibrani “Allaah” adalah kata yang paling dekat dengan kata bahasa Arab “Allah” dan itu berarti Allah

Berikut ini diberikan kepada saya oleh Denis; semoga Allah SWT membimbing dia ke Islam.

Kata Ibrani yang paling dekat dengan bahasa Arab Allaah (alif-lam-lam-ha) akan menjadi kata Allah dalam bahasa Ibrani (Alef-vovnik-vovnik-heh), yang mana digunakan oleh Muslim yang berbicara dengan bahasa Ibrani, dan telah digunakan oleh Yahudi Arab. Sebagai contoh, kata Bismillaah adalah Bshem Allah dalam bahasa Ibrani. Itu adalah kata Ibrani yang memiliki kemungkinan paling dekat dengan kata Allah dalam bahasa Arab. Ini adalah kata yang persis sama, dan telah menjadi bagian dari bahasa Ibrani setidaknya selama 15 abad (meskipun saya mengakui itu hampir pasti diadopsi dari bahasa Arab).

Wallahu ‘alam (and Allah knows best!)

sumber :ISLAM SIAP MENJAWAB PERTANYAAN ANDA

ANSWERING-FF.ORG

Timbangan Agama-agama lewat pemikiran,analisa dan tulisan

KRISTOLOG.COM

Kajian Ilmiah Kristologi

Lampu Islam

Timbangan Agama-agama lewat pemikiran,analisa dan tulisan

SERANGAN BALIK UNTUK INDONESIA.FAITHFREEDOM.ORG (serbuiff)

Siap membombardir habis gembong IFF dan spesies lainnya yang sejenis

Answering Misionaris

Menjawab Fitnah terhadap Islam

Kerajaan Agama

http://kerajaanagama.wordpress.com/ 2009 - 2011

MUSLIM MENJAWAB TANTANGAN

[3:190] Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,

---PENGINJIL---

KRISTEN ADALAH PENERUS AGAMA PAGAN

Edyprayitno's sang Mualaf

FORUM DIALOG LESEHAN DAN KAJIAN KRISTOLOGI

Kristenisasi - Pemurtadan - Kristologi

A. AHMAD HIZBULLAH MAG's Blog