Posts tagged ‘fitnah’

Fitnah pertama yang melanda ummat Islam

Pada kesempatan kali ini saya menyajikan pengantar kepada pembahasan fitnah pertama yang mengenai ummat islam….Fitnah pertama muncul di masa Usman bin Affan soal kebijakan dan  pembunuhan pada nya.juga fitnah bergolak karena menuntut darah Usman hingga terjadi perang Jamal dan Shiffin.lalu fitnah Khawarij,di lanjut fitnah yang di lakukan oleh Yazid bin Abu Sufyan.pengantar ini sebagai gambaran dan kronologi tentang fitnah pertama yang melanda ummat islam untuk jalan ke pembahasan-pembahasan selanjut nya mengenai topik ini.walau pun pengantar ini tidak lengkap dan masih berantakan dari segi kronologi.

MUAWIYAH MENJADI PENGUASA WILAYAH SYAM MASA UMAR

Pada masa ini Muawiyah melakukan perang membuka Caisarea,membuka pesisir syam melawan pasukan Romawi.Pada 17 H muawaiyah di angkat Umar menjadi gubernur Yordania.Saudara Muawiyah, Yazid bin Abu Sufyan, meninggal karena wabah Tha’un pada 18 H.Untuk mengisi kekosongan, Umar bin Khattab menugaskan Muawiyah untuk menggantikan posisi saudaranya memimpin Damaskus, Ba’labak (Ballbek, Yordania), dan Balqa (Yordania)

Pada masa di syam Muawiyah membangung angkatan laut.tetapi tidak di izin kan umar,baru di izin kan masa Usman untuk membuka Cyprus.

TERPILIH NYA USMAN BIN AFFAN MENJADI KHALIFAH

Sementara Usman menjadi Khalifah di Madinah.

Utsman bin Affan, khalifah ketiga, dipilih oleh pertemuan majelis di Madinah, di Arab barat laut, pada tahun 23 H (643/644).

Khalifah sebelumnya, Umar bin Khattab, ditikam oleh seorang budak Persia bernama Abu Lulu’ah (Fairuz). Mengingat keributan yang terjadi setelah kematian Nabi Muhammad, di ujung ajalnya Umar menunjuk sebuah kelompok yang terdiri dari enam orang, untuk memilih pemimpin baru.

Dia berharap musyawarah ini, atau syura, dapat menghadapi kritik yang ketat. Keenam orang itu ialah:

Keinginan Umar sepertinya ialah kelompok tersebut harus memilih salah satu di antara mereka yang akan diterima oleh semua umat.Thalhah bin Ubaidillah tidak hadir dan tidak mencapai Madinah sampai setelah keputusan telah dibuat. Pilihan penguasa baru untuk kekhalifahan Islam jatuh kepada lima orang.

Sejarawan Muslim awal Ath-Thabari memberi versi yang lebih rinci dari perkataan kira-kira Umar dalam menyiapkan musyawarah:

Wahai kelompok Muhajirin! Sesungguhnya Rasulullah telah wafat, dan dia menyukai kalian semua. Oleh karena itu, saya telah memutuskan untuk memjadikannya (pemilihan khalifah) dalam musyawarah di antara kalian, sehingga kalian dapat memilih salah satu dari kalian sebagai khalifah. Jika lima dari kalian menyetujui satu orang, dan ada satu yang menentangnya, maka bunuhlah orang itu. Jika empat orang berada di salah satu sisi dan dua orang di sisi lain, maka bunuhlah yang dua orang itu. Dan jika ada tiga orang di satu sisi dan tiga orang di sisi lain, maka Abdurrahman bin Auf akan memiliki hak suara, dan khalifah akan dipilih olehnya. Dalam hal ini, bunuhlah tiga orang di sisi yang berlawanan. Jika kalian mau, kalian mungkin mengundang beberapa orang petinggi Anshar sebagai pengamat, tetapi khalifah harus salah satu dari Muhajirin, dan tidak salah satu dari mereka (Anshar). Mereka tidak mendapat bagian dalam khilafat itu. Dan pemilihan khalifah baru harus dilakukan dalam waktu tiga hari

Tentu cara pemilihan dengan membunuh yang bersebrangan hanya Ijtihad Umar yang tak boleh kita amal kan saat ini.mungkin maksud Umar tidak setuju di bunuh jika melakukan pemberontakan,dan itu masih masuk akal.Majelis Syura jika ada pembunuhan oposisi tentu menjadi Majelis yang anarkis

Imam Malik pernah berkata:

“Tidak ada seorang pun setelah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, kecuali dari perkataannya itu ada yang diambil dan yang ditinggalkan, kecuali Nabi Shallallahu alaihi wa sallam.”

Dari enam anggota, Zubair menarik pencalonan demi mendukung Ali. Sa’ad bin Abi Waqas menarik diri dan mendukung Utsman. Dari tiga calon yang tersisa, Abdurrahman bin Auf memutuskan untuk mengundurkan diri, hingga tersisa Utsman dan Ali. Abdurrahman bin Auf diangkat sebagai arbitrator untuk memilih antara dua kandidat yang tersisa. Menghubungi dua kandidat secara terpisah, dia memberi mereka pertanyaan apakah mereka akan mengikuti jejak dari para khalifah sebelumnya. Ali mengatakan bahwa ia akan mengikuti Quran dan Sunnah Muhammad. Utsman menjawab pertanyaan secara afirmatif tanpa syarat apapun. Akhirnya, Abdurrahman bin Auf memberi keputusan yang mendukung pemilihan Utsman…dan tidak ada yang terbunuh pada peristiwa ini.

KEBIJAKAN USMAN BIN AFFAN

Kebijakan Usman bin Affan yang memicu kontroversi adalah penempatan jabatan masih keluarga dekat..hal ini yang menjadi kontroversial bagi diri nya.kelemah lembutan dan kedermawanan Usman membuat keluarga nya dari Bani Umayyah memperalat nya untuk mendapat kan uang.

Ketika Utsman mengangkat Marwan bin Hakam, sepupu khalifah yang dituduh sebagai orang yang mementingkan diri sendiri dan suka intrik menjadi sekertaris utama, segeralah timbul mosi tidak percaya dari rakyat. Begitu pula penempatan Muawiyah, Walid bin Uqbah dan Abdullah bin Sa’ad masing-masing menjadi gubernur Suriah, Irak dan Mesir, sangat tidak disukai oleh masyarakat umum di tambah lagi tuduhan-tuduhan bahwa kerabat khalifah mendapat harta pribadi dengan mengorbankan harta umum dan tanah negara. Hakam, ayah Marwan mendapatkan tanah Fadah, Marwan sendiri menyalah gunakan harta baitul mal, Muawiyah mengambil alih tanah Negara Suriah dan khalifah mengizinkan Abdullah untuk mengambil seperlima dari harta rampasan perang.

Situasi politik semakin mencekam bahkan berbagai usaha yang bertujuan baik dan mempunyai alasan yang kuat untuk kemaslahatan umat disalah pahami dan melahirkan perlawanan dari masyarakat.

MUAWIYAH MENJADI GUBERNUR PENUH SYAM

Sebagaimana Umar, Utsman bin Affan tidak memakzulkan Muawiyah. Bahkan, Utsman terus memberi Muawiyah kekuasaan sehingga Muawiyah menjadi Gubernur daerah mayoritas Syam. Ia menguasai daerah yang sangat luas dan telah menjadi gubernur Utsman yang paling berpengaruh. Di awal pemerintahan Utsman, di Syam ada beberapa gubernur, yakni Muawiyah bin Abu Sufyan, Umair bin Saad al-Anshari (Himsh), dan Alqamah bin Khalid bin Walid (Palestina). Namun, karena Umair sering sakit-sakitan, ia mengundurkan diri dari jabatannya. Utsman pun memberikan Himsh kepada Muawiyah. Setelah itu Alqamah wafat, Utsman pun memberikan Palestina kepada Muawiyah. Hal ini membuat Muawiyah menjadi gubernur Syam seluruhnya. Sampai akhir hayat Utsman, Muawiyah mengontrol daerah Syam. Pada zaman modern, Syam meliputi Palestina, Yordania, Lebanon, dan Syria

FITNAH MUNCUL

Rasa tidak puas terhadap Khalifah Utsman semakin besar dan menyeluruh. Di Kufah dan Basrah, yang dikuasai oleh Thalhah dan Zubair, rakyat bangkit menentang gubernur yang di angkat oleh khalifah. Hasutan yang lebih keras terjadi di mesir, selain ketidaksetiaan rakyat terhadap Abdullah bin Sa’ad, saudara angkat khalifah, sebagai pengganti gubernur ‘Amr bin Ash juga karena konflik sosial pembagian ghanimah. Pemberontak berhasil mengusir gubernur yang diangkat khalifah, mereka yang terdiri dari 600 orang mesir itu menuju ke madinah. Para pemberontak dari Kufa dan Basrah bertemu dan bergabung dengan kelompok mesir. Wakil-wakil mereka menuntut khalifah untuk mendengarkan keluhan mereka. Khalifah menuruti kemauan mereka dengan mengangkat  Muhammad bin Abu Bakar menjadi gubernur di Mesir.

Pada suatu hari pada tahun 33 H, ada sekelompok orang yang mencari ribut di Kufah sampai hampir menyulut pertempuran. Utsman yang mendengar itu menyuruh Said bin Al-Ash, Gubernur Kufah, mengirim mereka ke Syam untuk bertemu Muawiyah. Utsman memerintahkan Muawiyah untuk “memperingati mereka dengan tegas, membuat nyali mereka ciut, menakut-nakuti mereka, dan mendidik mereka” agar tidak membuat kerusuhan lagi. Muawiyah pun berkali-kali mendebat mereka dan berkali-kali pula menang. Di akhir debat mereka kalah dan marah, lalu merenggut jenggot Muawiyah. Muawiyah pun mengancam mereka agar jangan macam-macam terhadap dirinya. Ancaman itu membuat mereka mundur.

Muawiyah mengirim surat kepada Utsman dan mengatakan bahwa mereka “berbicara dengan lidah setan”. Utsman mengirim mereka ke Kufah kembali. Namun, karena mereka macam-macam kembali, Utsman kemudian mengirim mereka ke Abdurrahman bin Khalid bin al-Walid, gubernur Himsh. Di sini mereka baru tidak berani macam-macam karena Abdurrahman adalah anak Khalid bin al-Walid dan dia adalah seorang laki-laki yang berkarakter sangat keras seperti ayahnya

Bukti Kedermawanan Utsman bin Affan kepada Kerabatnya Sebagai Jawaban Tuduhan Nepotisme Terhadapnya. Terlepas dari tuduhan nepotisme terhadap Khalifah Utsman bin Affan pada pemerintahannya.

Yang mana ia mengangkat kerabat dekatnya sebagai pejabat, ia sangat dikenal dengan sikapnnya yang pemalu dan dermawan, sering berderma, bersedekah kepada kerabatnya dan selaj kerabatnya sendiri dengan hartanya sendiri.

Utsman bin Affan melakukannya karena tahu bahwa Islam mengajarkan agar kita perlu memberikan perhatian lebih pada kerabat. Firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.”(QS. Al Israa: 26)

Dalam buku Dalam buku Kepemimpinan dan Keteladanan Utsman bin Affan yang ditulis oleh Fariq Gasim Anuz disebutkan beberapa sikap kedermawanan seorang Utsman bin Affan terhadap kerabatnya sendiri.

Pertama, Utsman memberikan pamannya Abbas bin Abdul Muththalib harta yang didapat dari negeri Bahrain.

Kedua, Utsman memberikan seperlima dari seperlima harta rampasan perang kepada kerabatnya yaitu Abdulah bin Said bin Abi Sarh. Tetapi ada kelompok yang tidak menyetujuinya dan menuduh Utsman bin Affan yang tidak-tidak. Karena tidak ingin ada masalah dan perpecahan terjadi, Utsman memerintahkan Abdullah bin Said bin Abi Sarh untuk mengembalikannya. Dan Abdullah dengan lapang dada ia melakukannya, karena sebenarnya tujuan utamanya berperang adalah untuk meninggikan kalimat Allah dan mencari ridha-Nya. Dan hubungan Utsman dan Abdullah tetap baik.

Ketiga, Utsman memberikan seratus ribu dirham kepada Harits dan Marwan bin Hakim. Sebelumnya Utsman diisukan telah menyerahkan masing-masing 100.000 dirham dari Baitul Mal kepada Hartis dan Marwah bin Hakam. Tetapi yang sebenarya adalah Utsman bin Afffan menikahkan seorang puteranya dengan puteri Harits bi Hakam dengan menyerahkan 100.000 dirham yang berasal dari hartanya sendiri sebagai bantuan. Dan menikahkan puterinya dengan putera Marwan bin Hakam disertai bantuan dari hartanya sendiri sejumlah 100.000 dirham.

Berdasarkan penjelasan di atas telah membuktikan bahwa tuduhan nepotisme terhadap Utsman bin Affan adalah tidak benar. Utsman bin Affan memberikan perhatian lebih kepada kerabatnya karena semua adalah perintaah Allah subhanhau wa ta’ala.Bantahan isu Nepotisme usman di bahas panjang lebar di sini .

PEMBUNUHAN USMAN

Tetapi ditengah perjalanan mereka menemukan surat yang dibawa oleh utusan khusus yang menerangkan bahwa para wakil itu harus dibunuh setelah sampai di Mesir. Menurut mereka surat tersebut ditulis oleh Marwan bin Hakam, sekertaris khalifah. Sedangkan Ali bin Abi Thalib ingin menyelesaikan persoalan tersebut dengan jalan damai, tetapi mereka tidak dapat menerimanya. Mereka mengepung rumah khalifah, dan membunuhnya ketika Khalifah Utsman sedang membaca Al-Qur’an, pada tahun 35 H/17 juni 656 M. menurut Lewis, pusat oposisi sebenarnya adalah di Madinah sendiri. Di Madinah Thalhah, Zubair dan ‘Amr membuat perlawanan rahasia melawan khalifah, dengan memanfaatkan para pemberontak yang datang ke Madinah untuk melampiaskan rasa dendamnya yang meluap-luap itu.

Kerusuhan yang makin parah menyebabkan Utsman mengundang para gubernur dan sahabat Nabi untuk berunding tentang apa yang harus dilakukannya terhadap para pemberontak ini. Di forum ini, Muawiyah mengusulkan untuk segera mengirim pasukan ke mereka dan dia sendiri akan mengatasi pemberontakan di Syam. Namun, Utsman lebih tertarik dengan perdamaian dan tidak menerima usul Muawiyah.

Sebelum pulang kembali ke Syam, Muawiyah memperingatkan Utsman bahwa ia kemungkinan akan segera dibunuh oleh pemberontak dan Muawiyah menawarkan pasukan Syam untuk melindungi Utsman. Utsman mengatakan ia sudah tahu hal itu, tetapi ia menolak perlindungan dari Muawiyah karena ia tidak mau merepotkan orang-orang Madinah atas kedatangan pasukan Syam.

Para perusuh yang mencapai 500 orang sudah mencapai rumah Utsman. Para sahabat Nabi mengirimkan anak-anak mereka untuk melindungi Utsman tetapi mereka kalah jumlah. Utsman dibunuh dan para sahabat yang melindunginya terluka. Dan tidak ada satu orang sahabat Nabi Muhammad yang terlibat dan menyetujui pembunuhan itu. Ummu Habibah binti Abu Sufyan mengirimkan baju Utsman yang berlumuran darah ke tangan Muawiyah. Saat mendengar berita pembunuhan itu, Muawiyah berpidato di depan penduduk Syam, bersumpah akan menuntut balas kematiannya. Penduduk Syam sendiri bersumpah akan membantu Muawiyah dengan mengorbankan nyawa mereka

Sekelompok orang yang berasal dari Basrah, Kufah, dan Mesir yang terhasut. Mereka berangkat menuju Madinah pada 35 H, seolah-olah pergi untuk menunaikan ibadah haji. Mereka merahasiakan tujuan sebenarny untuk memberontak terhadap Utsman radhiallahu ‘anhu. Jumlah mereka diperselisihkan. Ada yang mengatakan 2.000 orang dari Basrah, 2.000 orang dari Kufah, dan 2.000 orang dari Mesir. Adapula yang mengatakan bahwa seluruhnya berjumlah 2.000 orang.

Mereka memasuki Madinah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mengepung rumah Utsman radhiallahu ‘anhu pada akhir Dzulqa’dah dan memerintahkan agar Utsman radhiallahu ‘anhu lengser dari jabatan khalifah. Pengepungan tersebut dimulai dari akhir Dzulqa’dah hingga hari Jum’at 18 Dzulhijjah yang merupakan hari terbunuhnya Utsman.

Sebagian ahli sejarah menyebutkan bahwa pengepungan itu berlangsung selama empat puluh hari, sementara Utsman radhiallahu ‘anhu hanya berada di rumahnya, bahkan dilarang untuk mengambil air. Sementara itu, yang memimpin shalat jamaah adalah seseorang yang terlibat dalam fitnah.

Ubaidullah bin Adi bin al-Khiyar kemudian mendatangi Utsman radhiallahu ‘anhu dan bertanya, “Yang memimpin shalat kami adalah seorang imam fitnah. Apa yang engkau perintahkan kepada kami?”

Utsman radhiallahu ‘anhu menjawab, “Shalat adalah amalan terbaik yang diamalkan oleh manusia. Jika manusia berbuat baik, berbuat baiklah bersama mereka. Jika mereka berbuat keburukan, jauhilah kejelekan mereka.”

Sebagian sahabat  mengutarakan keinginan mereka kepada Utsman radhiallahu ‘anhu untuk membela beliau. Di antara mereka adalah Abu Hurairah, al-Hasan bin Ali, al-Husain bin Ali, Abdullah bin Umar, Zaid bin Tsabit, dan Abdullah bin Zubair,

Namun, Utsman radhiallahu ‘anhu memerintah mereka agar tidak melakukan perlawanan yang dapat menyebabkan terjadinya pertumpahan darah. Sebab lainnya, beliau bermimpi yang menunjukkan telah dekatnya ajal beliau. Beliau radhiallahu ‘anhu berserah diri menerima keputusan Allah ‘azza wa jalla.

Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu mendatangi Utsman radhiallahu ‘anhu dan berkata, “Para penolongmu telah ada di dekat pintu ini. Mereka berkata, ‘Jika engkau mau, kami akan menjadi ansharullah sebagaimana kami bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kami akan melakukan perlawanan bersamamu’.”

Utsman radhiallahu ‘anhu menjawab, “Jika (yang dimaksud -pen.) peperangan, tidak.”

Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma mendatangi Utsman radhiallahu ‘anhu. Lalu Utsman radhiallahu ‘anhu berkata, “Wahai Ibnu Umar, perhatikanlah apa yang mereka ucapkan. Mereka berkata, ‘Tinggalkan kekuasaan itu dan jangan engkau membunuh dirimu’.”

Ibnu Umar berkata, “Jika engkau melepaskannya, apakah engkau akan dikekalkan hidup di dunia?”

Utsman menjawab, “Tidak.”

Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma berkata, “Aku sarankan agar engkau tidak melepaskan sebuah pakaian yang telah Allah ‘azza wa jalla pakaikan kepadamu sehingga nantinya akan menjadi contoh. Setiap kali ada kaum yang membenci khalifah atau imamnya, mereka segera mencopot penguasanya dari jabatannya.”

Setelah sekian lama mengepung rumah Utsman radhiallahu ‘anhu, mereka masuk dan membunuh Utsman radhiallahu ‘anhu dalam keadaan beliau meletakkan mushaf di hadapannya. Tetesan darah Utsman radhiallahu ‘anhu tepat mengenai firman Allah ‘azza wa jalla,

“Jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan . Maka dari itu, Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 137)

Mereka yang diketahui sebagai tokoh pergerakan yang menyebabkan terbunuhnya Utsman radhiallahu ‘anhu adalah Ruman al-Yamani, Kinanah bin Bisyr, Sudan bin Hamran, dan Malik bin al-Asytar an-Nakha’i. Adapun yang terlibat langsung dalam pembunuhan Utsman radhiallahu ‘anhu adalah seseorang yang berasal dari Mesir yang bernama Jabalah.

Pembunuhan Usman sudah di Nubuat kan Rasul:

Dijelaskan dalam hadits Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu anhu, ia berkata:

خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَـى حَائِطٍ مِنْ حَوَائِطِ الْمَدِينَةِ… فَجَاءَ عُثْمَـانُ، فَقُلْتُ: كَمَا أَنْتَ؛ حَتَّى أَسْتَأْذِنَ لَكَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ائْذَنْ لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ مَعَهَا بَلاَءٌ يُصِيبُهُ.

“Pada suatu hari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke sebuah kebun dari kebun-kebun Madinah… lalu datang ‘Utsman, aku berkata, ‘Tunggu dulu! Sehingga aku memohon izin (kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) untukmu,’ kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Izinkanlah ia, berilah kabar kepadanya dengan Surga, bersamanya ada musibah yang menimpanya.’

SOSOK ABDULLAH BIN SABA

Menurut Ahmad Al-Usairy dalam bukunya yang berjudul Sejarah Islam, salah satu faktor yang menyebabkan pemberontakan dan pembangkangan adalah berkobarnya fitnah besar di tengah kaum muslimin yang di kobarkan oleh Abdullah bin Saba’, seorang yahudi asal yaman yang berpura-pura masuk islam. Orang ini telah berkeliling ke berbagai kota kemudian menetap di Mesir. Kemudian dia menaburkan keraguan di tengah manusia tentang akidah mereka dan mengecam Utsman dan para gubernurnya. Dia dengan gencar mengajak semua orang untuk menurunkan Utsman dan para gubernurnya. Dengan gencarnya dia mengajak semua orang untuk menurunkan Utsman dan menggantinya dengan Ali sebagai usaha menaburkan fitnah dan perpecahan.

Mulailah pecah fitnah di Kufah pada tahun 34 H/ 654 M. mereka mulai menuntut kepada khalifah untuk menggati gubernur kufah. Akhirnya Utsman menggantinya untuk memenuhu tuntutan mereka dan sebagai uapya untuk meredam fitnahyang lebih besar. Setelah itu ada sejumlah besar manusia yang datang dari kufah, basrah, dan mesir untuk mendebat khalifah. Ali mencegah mereka dan menerangkan apa yang mereka lakukan adalah kesalahan besar. Dan khalifah melakukan pembelaan yang masuk akal. Maka pulanglah mereka dengan tangan hampa.

Sosok ini di anggap kontroversi oleh orang seperti Thaha Husein.tetapi sumber2 syiah meng komfirmasi orang ini nyata

BAIAT KEPADA ALI

Setelah Utsman terbunuh, kaum mus limin mendatangi Ali untuk mem bai’at nya. Ali menolak bai’at tersebut dan menghindar ke rumah milik Bani Amru bin Mabdzul, seorang Anshar. Beliau menutup pintu rumah. Kaum Muslimin kemudian membawa serta Thalhah dan Zubair. Mereka ber kata,”Sesungguhnya daulah ini tidak akan bertahan tanpa amir.” Mereka te rus mendesak hingga akhirnya Ali bersedia menerimanya. Sebuah riwayat menyebut orang yang pertama membai’atnya adalah Thalhah dengan tangan kanannya yang cacat sewaktu melindungi Rasulullah SAW pada peperangan Uhud. Ali kemudian keluar menuju masjid lalu naik ke atas mimbar dengan menge nakan kain sarung dan sorban sambil menenteng sandal dan bertelekan pada busur. Kemudian, segenap Muslimin yang hadir membai’at beliau. Riwayat lain dari Al- Waqidi menye butkan “Orang-orang di Ma dinah mem bai’at Ali. Namun tujuh orang menarik diri dan tidak ikut berbai’at. Mereka adalah Abdullah bin Umar, Sa’ad bin Abi Waq qash, Shuheib, Zaid bin Tsabit, Mu ham mad bin Maslamah, Salamah bin Salaamah bin Waqsy dan Usamah bin Zaid. Dan tidak ada seorang sahabat Ansharpun yang tertinggal, mereka semua ikut berbai’at sejauh penge tahuan kami.”

Riwayat lain dari Saif bin Umar men ceritakan dari sejumlah gurunya bahwa mereka berkata, “Selama lima hari se telah terbunuhnya Utsman kota Ma dinah dipimpin sementara oleh al-Ghafiqi bin Harb, mereka mencari orang yang ber sedia memimpin. Pen duduk Mesir [yang semula datang ke Madinah untuk me ngepung Utsman] mendesak Ali, sedang beliau meng hindar dari mereka ke se buah rumah. Penduduk Kufah mencari az-Zubair tapi mereka tidak mene mu kannya. Pendu duk Bashrah meminta Thalhah, tapi ia tidak bersedia. Maka me rekapun ber kata, ‘Kami tidak akan meng angkat salah satu dari tiga orang ini.’ Mereka menemui Sa’ad bin Abi Waq qash . Me reka berkata, ‘Sesungguh nya eng kau termasuk salah seorang anggota Ma jelis Syura’. Namun Sa’ad tidak me me nuhi permintaan mereka. Kemudian me reka menemui Abdullah bin Umar, tapi beliaupun menolak tawaran me reka. Merekapun bingung, lantas me reka berkata, ‘Jika kita pulang ke dae rah ma sing-masing dengan mem ba wa kabar ter bunuhnya Utsman tanpa ada yang menggantikan posisinya, manusia akan berselisih tentang uru san ini dan kita tidak akan selamat. Me reka kem bali menemui Ali dan me maksanya di bai’at.

Al-Asytar an-Nak ha’i meraih tangan Ali dan mem bai’atnya kemudian orangorangpun ikut membai’at beliau. Pen duduk Kufah mengatakan bah wasa nya yang perta ma kali membai’at Ali adalah al-Asytar an-Nakha’i. Peris tiwa itu terjadi pada hari Kamis 24 Dzul hijjah. Itu terjadi se telah orang-orang terus men desak beliau. Mereka semua berkata, “Tidak ada yang pantas meme gang nya kecuali Ali.” Keesokan harinya pada hari Jum’at, Ali naik ke atas mim bar. Orangorang yang belum mem bai’at beliau kemarin berbon dong-bondong mem bai’at be liau. Orang pertama yang mem bai’at beliau saat itu adalah Thal hah ke mudian az-Zubair. Bai’at ini terjadi pada hari Jum’at 25 Dzhulhijjah tahun 35 H.

Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Muhammad bin al-Hanafiyah, ia berkata, “Aku bersama Ali saat Utsman dikepung, lalu da tanglah seorang lelaki dan berkata, ‘Sesungguhnya Amirul Mukminin telah terbunuh.’ Kemudian datang lagi lelaki lain dan berkata, ‘Sesungguhnya Ami rul Mukminin baru saja terbunuh.’ Ali segera bangkit namun aku cepat menengahinya karena khawatir akan keselamatan beliau. Beliau berkata, ‘Ce laka kamu ini!’ Ali segera menuju kediaman Utsman dan ternyata beliau telah terbunuh. Beliau pulang ke ru mah lalu mengunci pintu. Orang-orang mendatangi beliau sambil menggedorgedor pintu lalu menerobos masuk menemui beliau. Mereka berkata, ‘Lelaki ini (Utsman) telah terbunuh.

Sedang orang-orang harus punya khalifah. Dan kami tidak tahu ada orang yang lebih berhak daripada dirimu.’ Ali berkata, ‘Tidak, kalian tidak meng hendaki diriku, menjadi wazir bagi kalian lebih aku sukai daripada menjadi amir.’ Mereka tetap berkata, ‘Tidak, demi Allah kami tidak tahu ada orang lain yang lebih berhak daripada dirimu.’ Ali berkata, ‘Jika kalian tetap ber sike ras, maka bai’atku bukanlah bai’at yang rahasia. Akan tetapi aku akan pergi ke masjid, barangsiapa ingin mem-bai’at ku maka silakan ia membai’atku.’ Ali pun pergi ke masjid dan orang-orang pun membai’at beliau.”

Nash-nash yang dinukil oleh al-Imam Ibnu Katsir dari ath-Thabari dan seja rawan lainnya menegaskan ke ab sah an bai’at khalifah rasyid yang ke-empat Ali bin Abi Thalib ra . Pembai’atan beliau berlangsung atas dasar per se tujuan anggota ahlul halli wal aqdi di Madinah. Kemu dian wilayahwilayah Islam lain nya turut Membai’at be liau kecuali penduduk Syam (yang gubernurnya saat itu Muawiyah), yang menahan bai’at hingga dilakukannya qishash terhadap pembunuh Utsman.

PERANG JAMAL

Pertempuran Basra (juga dikenal sebagai perang unta atau perang jamal) adalah perang yang terjadi di Basra, Irak pada tahun 656 masehi, antara pasukan yg berpihak pada Ali bin Abi Talib (Sepupu dan menantu dari nabi Muhammad S.A.W) dan pasukan yang berpihak kepada Aisyah, janda dari nabi Muhammad S.A.W, yang menginginkan keadilan atas terbunuhnya khalifah terdahulu yaitu Utsman bin Affan.

Setelah berbaiat atas kekhilafahan Ali bin Abi Talib, Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam pergi ke Mekkah dan bertemu dengan Aisyah untuk meminta pertanggung jawaban kematian Utsman bin Affan. Kemudian Ya’la bin Munyah dari Basra dan Abdullah bin Amir dari Kufah turut bergabung. Akhirnya mereka sepakat untuk berangkat ke Basra beserta 700 orang lainnya untuk mencari pembunuh Utsman bin Affan.

Sesampainya di Basra mereka menemui Gubernur Basra yaitu Utsman bin Hunaif dan menahan pergerakan pasukan ini berharap mereka mau menunggu kedatangan Ali dari Madinah. Tetapi karena provokasi salah seorang khawarij yang bernama Jalabah, peperangan antara Utsman bin Hunaif dan pasukan Aisyah tidak terbendung. Yang mengakibatkan terbunuhnya Utsman bin Hunaif. Ali pun baru mendengar kematian gubernurnya saat di Kufah. Disini dia mengumpulkan pasukan hingga berjumlah 10.000 pasukan

PERANG SHIFFIN

Peristiwa terbunuhnya Utsman ini merupakan fitnah pertama bagi kaum Muslimin, sebab membuat terjadinya perang saudara yang tragis di antara para sahabat Nabi, seperti Perang Unta dan Pe rang Shiffin ketika Ali ter paksa mengerahkan pasukan ke Syam untuk menundukkan Muawiyah. Dalam Perang Shiffin, sebuah wilayah antara Kufah dan Syam, pasukan Ali hampir saja mengalahkan pasukan Muawiyah, namun kemudian pasukan Muawiyah mengangkat mushaf Al- Qur’an di atas lembing, dan mengajak untuk bertahkim. Pasukan Ali pun terpecah melihat tawaran ini, sebagian menerima, sebagian menolak. Akhir nya tahkim diterima.

Pada peristiwa tahkim di Daumatul Jan dal, berlangsung diplomasi yang di menangkan kubu Muawiyah yang diwakili Amr bin Ash. Sebab, utusan Ali, yaitu Abu Musa al-Asy’ari, mengaku telah berse pakat bersama Amr bi Ash untuk me mecat Ali maupu Muawiyah sebagai kha lifah, untuk kemudian me nye rahkan kepa da umat untuk memilih khalifah yang ba ru. Tapi, Amr bin Ash kemudian me nyatakan mene rima pe mecatan Ali seperti yang di katakan Abu Musa, lalu mene tapkan Mu’awiyah meng gantikan Ali se bagai khalifah. Proses tahkim yang pada awal nya se mata untuk urusan pem bu nuhan Usman, kemudian menjadi proses politik pengambilalihan kekuasaan.

Ali saat itu pulang ke Kufah, dan me ngatakan jika dia menyerahkan kepe mimpinan kepada rivalnya di Daumatul Jandal, maka mereka akan memper lakukan kaum Muslimin sebagaimana Heraclius (Kaisar Romawi) dan Kisra. Dan, Ali pun berpidato untuk mem bangkitkan semangat rakyat untuk menyerang Syam, namun saat itu tidak mendapat sambutan, dan terjadi fitnah Khawarij yang membuat situasi kian sulit, hingga berujung wafatnya Ali.

Perang Shiffin (Arab: وقعة صفين ) (Mei-Juli 657 Masehi) terjadi semasa zaman fitnah besar atau perang saudara pertama orang Islam dengan pertempuran utama terjadi dari tanggal 26-28 Juli. Pertempuran ini terjadi di antara dua kubu yaitu, Muawiyah bin Abu Sufyan dan Ali bin Abi Talib di tebing Sungai Furat yang kini terletak di Syria (Syam) pada 1 Shafar tahun 37 Hijriah.

Setelah terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan, Ali bin Abi Talib diangkat sebagai khalifah, tetapi penerimaan dari seluruh kekhalifahan islam sangatlah sulit didapat. Ali bin Abi Thalib RA berkata tentang dirinya yang diangkat umat Islam sebagai khalifah itu merasa agak kurang senang. Sebab, di antaranya ada yang membunuhi Utsman bin Affan, sekarang mereka berada di sisi pendukungnya agar bisa membaiatnya. Muawiyah, Gubernur dari Suriah yang merupakan kerabat dari khalifah yang terbunuh, sangat menginginkan pembunuh dari sang Khalifah diadili dimuka hukum. Seperti yang diterangkan oleh tabiin terkenal, Abu Muslim Al-Khaulani. Dia datang bersama teman-temannya menanyai Muawiyah RA, dan berkata mereka padanya, “Kamu menentang Ali dalam masalah khilafah atau kamu seperti dia?” Muawiyah menjawab, “Tidak. Aku tahu benar bahwa dia lebih baik dariku; tapi kalian ‘kan tahu, Utsman terbunuh dengan keji, sedang saya anak pamannya, dan juga keluarganya yang menuntut qisas kepada orang yang terlibat dalam pembunuhan itu. Maka kalian temuilah Ali dan katakan, ‘[Agar] segera menyerahi para pembunuh Utsman’.” Maka mereka datangi Ali dan menyampaikan hal itu kepadanya, dan Ali menjawab, “Ia harus masuk baiat dan kemudian mereka tuntut hal ini kepadaku.”

Muawwiyah berpendapat Ali bin Abi Talib tidak berniat untuk melakukan hal ini, sehingga Muawwiyah memberontak terhadap Ali bin Abi Talib dan membuat Ali bin Abi Talib berniat memadamkan pemberontakan Muawwiyah. Tapi walau demikian, yang benar menurut ulama adalah Ali hendak melihat kasus ini dari perspektif mashlahah (keuntungan) dan mafsadah (kerusakan). Sehingga, dia berpendapat, perlu menahan dulu kasus ini. Agar supaya umat Islam bersatu dulu, baru melakukan qisas. Apalagi pembunuhnya hanya 2-3 orang saja, dan salah satunya seorang budak yang diketahui dari Mesir. Diketahui di belakang pembunuh-pembunuh yang sedikit itu, kalau sampai qisas ditegakkan pada hari itu jua, maka kabilah-kabilah pembela pembunuh itu akan segera melakukan kehancuran yang lebih besar. Al-Juaniy, Imam al-Haramain berpendapat bahwa Muawiyah memang memerangi Ali bin Abi Thalib, tapi tidak mengingkari kepemimpinannya, dan tidak bermaksud merebutnya untuk dirinya sendiri. Akan tetapi, dia hanya menuntut agar terlaksananya qisas bagi para pembunuh Utsman, dengan asumsi dia benar, tapi dia salah dalam hal ini.

Hasil dari keadaan ini adalah pertempuran di Shiffin antara kedua belah pihak.

Peperangan ini berlangsung imbang sehingga kemudian kedua belah pihak setuju untuk berunding dengan ditengahi seorang juru runding. Pertempuran dan perundingan membuat posisi Ali bin Abi Talib melemah tetapi tidak membuat ketegangan yang melanda kekhalifahan mereda. Oleh penganut aliran Syiah, Ali bin Abi Talib dianggap sebagai Imam pertama. Oleh penganut aliran Suni, Ali bin Abi Talib adalah khulafaur rasyidin yang ke empat dan Muawiyah adalah khalifah pertama dari Dinasti Ummayyah. Kejadian kejadian disekitar pertempuran Shiffin sangatlah kontroversial untuk Suni dan Syiah dan menjadi salah satu penyebab perpecahan di antara keduanya.

Awalnya, Setelah pasukan Syam dan Kufah sampai di wilayah Shiffin, kedua pihak mengambil posisi masing-masing. Utusan keduanya sibuk melakukan perundingan, dengan mengharap pertempuran bisa terhindar.

Diriwayat yang lain juga disebutkan, bahwa Abu Darda’ dan Abu Umamah mendatangi Muawiyah, dengan isi percakapan yang hampir sama dengan riwayat sebelumnya. Setelah itu keduanya kembali kepada Ali bin Abi Thalib, dan dia mengatakan, ”Mereka adalah orang-orang yang kalian maksudkan.” Maka keluarlah banyak orang, dan mengatakan, ”Kami semua yang telah membunuh Utsman, siapa yang berkehendak maka silahkan dia melemparkan kami.”

Dalam “Minhaj As Sunnah” (4/384) juga dinukil bagaimana sikap para pendukung Muawiyah, mangapa mereka tidak membaiat Ali. ”Kami jika membaiat Ali, maka pasukannya akan mendhalimi kami, sabagaimana mereka mendhalimi Utsman, sedangkan Ali tidak mampu melakukan pembelaan terhadap kami.”

Dari periwayatan di atas semakin jelas, bahwa memang kedua belah pihak, baik Ali dan Muawiyah tidak berselisih mengenai jabatan kekhalifahan, dan keduanya memang tidak bermaksud menyerang satu sama lain.

Berbagai upaya menghentikan peperangan dilakukan kedua belah pihak.

Para utusan terus melakukan perundingan, dan pasukan kedua belah pihak sama-sama menahan diri untuk melakukan serangan, hingga berakhirnya bulan-bulan haram pada tahun itu (37 H). Pasukan Kufah menyeru kepada pasukan Syam, ”Amir Al Mukminin telah menyeru kepada kalian, aku telah memberi tenggang waktu untuk kalian, agar kembali kepada al haq, dan saya telah menegakkan atas kalian hujah, akan tetapi kalian tidak menjawab…”

Pasukan Syam menjambut seruan itu, dengan mempersiapkan diri di shafnya masing-masing. Pada hari Rabu, tanggal 7 pada bulan Safar, pertempuran berlangsung pada hari Rabu, Kamis, Jumat serta malam Sabtu. Dalam “Al Aqdu Al Farid” (4/3140) disebutkan bahwa kdua pihak bersepakat bahwa mereka yang terluka harus dibiarkan, begitu pula mereka yang melarikan diri tidak boleh dikejar, mereka yang meletakkan senjata akan aman, tidak boleh mengambil benda milik mereka yang meninggal, serta mereka mendoakan dan menshalati jenazah yang berada di antara kedua belah pihak.

Mayoritas sahabat tidak ikut serta dalam pertempuran ini. Pada saat itu jumlah mereka sekitar 10 ribu, akan tetapi yang ikut serta tidak lebih dari 30 sahabat saja, sebagaimana riwayat yang disebutkan dalam “Minhaj As Sunnah” (6/237).

Riwayat mengenai jumlah pasukan yang terbunuh di kedua belah pihak berbeda satu sama lain, akan tetapi Ibnu Katsir menyebutkan dalam “Al Bidayah wa An Nihayah” (7/288) bahwa pasukan Kufah berjumlah 120 ribu orang, terbunuh 40 ribu, sedangkan pasukan Syam berjumlah 60 ribu, dan yang terbunuh dari mereka 20 ribu orang,Namun menurut buku Sejarah Daulat Khulafaur Rasyidin Karangan Joesoef Sou’yb pasukan Ali bin Abi Thalib berjumlah 95.000 Prajurit dan yang terbunuh 35.000,sedangkan dari Pasukan Syam berjumlah 85.000 dan yang terbunuh berjumlah 45.000 Prajurit.

Peristiwa terbunuhnya sahabat Amar bin Yasir dalam pertempuran Shiffin memberi pengaruh amat besar bagi kedua belah pihak, dimana sebelumnya rasulullah S.A.W telah berkata kepada Amar, bahwa ia tidak meninggal, kecuali terbunuh di antara dua kelompok orang-orang mukmin, sebagaimana disebutkan Al Bukhari dalam “Tarikh As Saghir” (1/104).

Sedangkan Amru bin Ash, sahabat yang bergabung dalam barisan Muawiyah pernah mendengar bahwa rasulullah S.A.W bersabda mengenai Amar bin Yasir, sebagaimana termaktub dalam “Al Majma’ Az Zawaid” (7/244). ”Sesungguhnya orang yang membunuh dan mengambil hartanya (sebagai ghanimah) akan masuk neraka.” Lalu ada yang mengatakan kepadanya, ”Sesungguhnya engkau yang memeranginya!” Amru bin Ash menjawab, ”Sesungguhnya yang disabdakan adalah pembunuh dan perampas hartanya.”

Hadits di atas menunjukkan bahwa memang kedua belah pihak mengetahui keutamaan masing-masing dan tidak ada kesengajaan untuk berniat saling membunuh.

Bisa dikatakan bahwa peristiwa penting dalam perang Shiffin adalah pangangkatan tinggi-tinggi mushaf Al Qur`an, hingga pertempuran itu berakhir. Disebutkan dalam beberapa periwayatan bahwa ketika pertempuran berlangsung amat sengit banyak sahabat yang menyeru, dengan mengangkat Al Quran tinggi-tinggi, ”Jika kita tidak berhenti (bertempur) maka Arab akan sirna, dan hilanglah kehormatan…”

Muawiyah yang juga mendengar khutbah itu membenarkan, ”Benar, demi Rabb Ka’bah, jika kita masih berperang esok, maka Romawi akan mengincar para wanita dan keturunan kita. Sedangkan Persia akan mengincar para wanita dan keturunan Iraq. Ikatlah mushaf-mushaf di ujung tombak kalian.”

Maka saat itu, pasukan Syam menyeru, ”Wahai pasukan Iraq di antara kami dan kalian adalah Kitabullah!” Muawiyah memerintahkan seorang utusan untuk menghadap kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib, ”Iya, di antara kami dan kalian adalah Kitabullah, dan kami telah mendahulukan hal itu.” Jawab dia.

Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Al Mushannaf (8/336) bahwa kaum Khawarij mendatangi Ali bin Abi Thalib, dengan pedang di atas pundak mereka, ”Wahai Amir Al Mukminin, tidakkah sebaiknya kita menyongsong mereka, hingga Allah memberi keputusan antara kita dan mereka.” Usulan ini ditentang keras oleh sahabat Sahl bin Hunaif Al Anshari. ”Tuduhlah diri kalian! Kami telah bersama rasulullah S.A.W saat peristiwa Hudaibiyah. Kalau sendainya kami berpendapat akan berperang, maka kami perangi (tapi kenyataannya mereka tidak berperang)”

Sahl juga menjelaskan bahwa setelah perjanjian damai dengan kaum musyrikin itu turunlah surat Al Fath kepada rasulullah S.A.W. Ali bin Abi Thalib pun menyambut pendapat Sahl, ”Wahai manusia, ini adalah fath (hari pembebasan).” Seru Ali bin Abi Thalib, akhirnya pertempuran itu pun berakhir.

MUNCUL NYA KHAWARIJ

Khawārij (Arab: خوارج baca Khowaarij, secara harfiah berarti “Mereka yang Keluar”) ialah istilah umum yang mencakup sejumlah aliran dalam Islam yang awalnya mengakui kekuasaan Ali bin Abi Thalib, lalu menolaknya. Disebut Khowarij disebabkan karena keluarnya mereka dari dinul Islam dan pemimpin kaum muslimin.

Awal keluarnya mereka dari pemimpin kaum muslimin yaitu pada zaman khalifah Ali bin Abi Thalib ketika terjadi (musyawarah) dua utusan. Mereka berkumpul disuatu tempat yang disebut Khouro (satu tempat di daerah Kufah). Oleh sebab itulah mereka juga disebut Al Khoruriyyah. Dalam mengajak umat mengikuti garis pemikiran mereka, kaum Khawarij sering menggunakan kekerasan dan pertumpahan darah. Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam menjuluki kaum ini dengan julukan “anjing neraka”.

Kata Khawarij dalam terminologi ilmu kalam adalah suatu sekte/kelompok/aliran pengikut Ali bin Abi Thalib yang kemudian keluar dan meninggalkan barisan karena ketidaksepakatan terhadap keputusan Ali yang menerima arbitrase (tahkim), dalam perang Shiffin pada tahun 37/648 Masehi dengan kelompok Muawiyah bin Abu Sufyan perihal persengketaan khalifah.

Sumber pemikiran, sifat dan karakter Khawarij awalnya dari seseorang yang bernama Dzul Khuwaishirah dari Bani Tamim.Awalnya dia telah menuduh Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam tidak adil dalam pembagian harta rampasan perang, ucapannya membuat Umar bin Khattab atau Khalid bin Walidhendak memenggal lehernya, akan tetapi dicegah oleh Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam. Ciri khas Khawarij lainnya adalah mengkafirkan pemerintah kaum muslimin dan orang-orang yang bersama pemerintah tersebut (karena melakukan dosa-dosa besar), memberontak kepada pemerintahan muslimin, menghalalkan darah dan harta kaum muslimin. Dalam riwayat lain disebutkan, “Sesungguhnya akan lahir dari orang ini suatu kaum yang membaca Al-Qur’an tetapi tidak sampai melewati kerongkongannya, mereka membunuh orang Islam dan membiarkan para penyembah berhala. Mereka terlepas dari Islam sebagaimana anak panah yang terlepas dari busurnya. Kalau aku menjumpai mereka sungguh akan aku perangi mereka sebagaimana memerangi kaum ‘Ad

Setelah Utsman bin Affan dibunuh oleh orang-orang yang membencinya, kaum muslimin mengangkat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, setelah beberapa hari kaum muslimin hidup tanpa seorang khalifah. Kabar kematian ‘Ustman kemudian terdengar oleh Mu’awiyyah, yang mana dia masih memiliki hubungan kekerabatan dengan ‘Ustman bin Affan.

Sesuai dengan syariat Islam, Mu’awiyyah berhak menuntut balas atas kematian ‘Ustman. Mendengar berita ini, orang-orang Khawarij pun ketakutan, kemudian menyusup ke pasukan Ali bin Abi Thalib. Mu’awiyyah berpendapat bahwa semua orang yang terlibat dalam pembunuhan ‘Ustman harus dibunuh, sedangkan Ali berpendapat yang dibunuh hanya yang membunuh ‘Ustman saja karena tidak semua yang terlibat pembunuhan diketahui identitasnya. Akhirnya terjadilah perang shiffin karena perbedaan dua pendapat tadi. Kemudian masing-masing pihak mengirim utusan untuk berunding, dan terjadilah perdamaian antara kedua belah pihak. Melihat hal ini, orang-orang khawarijpun menunjukkan jati dirinya dengan keluar dari pasukan Ali bin abi Thalib. Mereka (Khawarij) merencanakan untuk membunuh Mu’awiyyah bin Abi Sufyan dan Ali bin Abi Thalib, tetapi yang berhasil mereka bunuh hanya Ali bin Abi Thalib.

TERBUNUH NYA ALI

Pada tanggal 19 Ramadan 40 Hijriyah, atau 27 Januari 661 Masehi, saat sholat di Masjid Agung Kufah, Ali diserang oleh seorang Khawarij bernama Abdurrahman bin Muljam. Dia terluka oleh pedang yang diracuni oleh Abdurrahman bin Muljam saat ia sedang bersujud ketika sholat subuh. Ali memerintahkan anak-anaknya untuk tidak menyerang orang Khawarij tersebut, Ali malah berkata bahwa jika dia selamat, Abdurrahman bin Muljam akan diampuni sedangkan jika dia meninggal, Abdurrahman bin Muljam hanya diberi satu pukulan yang sama (terlepas apakah dia akan meninggal karena pukulan itu atau tidak). Ali meninggal dua hari kemudian pada tanggal 29 Januari 661 (21 Ramadan 40 Hijriyah). Hasan bin Ali memenuhi Qisas dan memberikan hukuman yang sama kepada Abdurrahman bin Muljam atas kematian Ali

BAIAT KEPADA HASAN BIN ALI DAN PENYERAHAN KHALIFAH PADA MUAWIYAH

Pergantian khalifah seperti model pertama sebab Ali yang menjelang wafat —setelah ditikam oleh Ibnu Muljam— enggam membuat wasiat untuk memilihpenggantinya seperti yang dilaku kan Abubakar, maupun membuat panitia seperti halnya Umar. Berikut prosesnya:

Ketika Ali sedang terbaring menjelang ajal, ada yang meminta Ali membuat wasiat orang yang akan meng ganti kannya, namun Ali berkata, “Tidak! Aku akan membiarkan kalian sebagaimana Rasulullah SAW meninggalkan kalian. Apabila Allah SWT menghendaki ke baikan atas kalian maka Allah SWT. akan menyatukan kalian di bawah kepemimpinan orang yang terbaik dari kalian sebagaimana Dia telah menya tukan kalian dibawah kepemimpinan orang yang terbaik dari kalian sepeninggal Rasulullah SAW

Selanjutnya, kaum Muslimin membai’at Hasan. Yang pertama membai’atnya adalah Qais bin Sa’ad. Qais berkata kepadanya, “Ulurkanlah tanganmu, aku akan membai’atmu atas dasar Kita bullah dan Sunnah nabiNya.” Hasan hanya diam. Qais membai’atnya lalu diikuti oleh orang banyak sesudahnya. Peristiwa itu terjadi pada hari wafatnya Ali bin Abi Thalib ra. Qais yang saat itu merupakan amir Azerbaijan mem bawahi 40 ribu tentara, dan mendorong Hasan memerangi Syam yang menolak tunduk pada khalifah.

Hasan sempat mengerahkan pasukan dalam jumlah besar menuju Syam, namun pasukannya kemudian tercerai berai, dan Hasan sempat hampir ter bunuh. Kemudian, Hasan menulis surat kapada Muawiyah –yang saat itu sudah berangkat dengan pasukan dari Syam— untuk berdamai. Selanjutnya, agar tidak lagi terjadi perang saudara antarsesama Muslim, Hasan menye rahkan kekha lifah an kepada Muawiyah dengan sejum lah syarat yang kemudian dipenuhi. Saat itu, tahun 41 Hijriyah, kemudian dina makan sebagai Tahun Jamaah, karena suara kaum Muslimin akhirnya bulat untuk Muawiyah dan dia pun menjadi khalifah berkedudukan di Damaskus

YAZID MENJADI KHALIFAH

Menjelang akhir hayatnya, Muawiyah berkeliling ke Irak, Syam, dan berbagai kawasan lainnya mengumpulkan bai’at untuk puteranya, Yazid, sebagai khalifah penggantinya. Mu’awiyah juga men datangi Madinah dan Makkah, tempat di mana para sahabat Nabi. Di Madinah, Muawiyah mendapat tanggapan dingin, kemudian dia menuju Makkah.

Di Makkah, menanggapi permintaan Muawiyah, Abdullah bin Zubair menyo dorkan tiga pilihan. Pertama, Muawiyah tidak perlu menunjuk pengganti seperti yang dilakukan Nabi, sehingga kemu dian akan dipilih khalifah sebagaimana Abubakar. Kedua, meniru cara Abu bakar dengan membuat wasiat menun juk kha lifah yang bukan dari kerabat nya. Ketiga, meniru Umar dengan mem bentuk pani tia enam untuk me musyawarahkan siapa yang akan men jadi khalifah.

Saat Muawiyah menanyakan kepada para sahabat lainnya, mereka semua sepakat dengan yang dikatakan Ab dullah bin Zubair. Namun, Muawiyah ke mu dian justru menyandera mereka, lalu me masuki masjid dan meng umum kan bahwa dalam musyawarah dengan para pemuka kaum Muslimin, mereka telah rela membai’at Yazid. Dan, karena tak ada ruang bagi protes, maka saat itu berlangsunglah bai’at atas Yazid. Bai’at yang dilakukan tanpa kebebasan ber bicara dan kebebasan memilih itu kemudian mengakhiri sistem khilafah rasyidah, berganti de ngan kerajaan turun temurun (di nasti), meskpun tetap sistem kekuasannya tetap mereka namakan sebagai khilafah.

Ayah Yazid, Muawiyah, telah menandatangani perjanjian dengan Hasan bin Ali , di mana Muawiyah berjanji bahwa, di antara kondisi lain, Muawiyah akan memberikan kekhalifahan kembali ke Hasan ketika Muawiyah meninggal; dan jika Hasan meninggal sebelum Muawiyah, maka khalifah akan pergi ke saudara laki-laki Hasan, Hussein ibn Ali , setelah kematian Muawiyah. Namun, Muawiyah melanggar janji ini (serta semua janji lainnya yang dia buat dalam perjanjian), dan memberikan kekhalifahan kepada Yazid pada saat kematiannya.

Ulama Sunni Sheikh Abdallah Saleh Farsy menulis dalam bukunya Maisha ya Sayyidnal Husain bahwa “suksesi Yazid didirikan dengan kekuatan dan bertentangan dengan keinginan rakyat.

Setelah suksesi, Yazid meminta gubernur dari semua provinsi untuk mengambil sumpah kesetiaan kepadanya. Sumpah yang diperlukan dijamin dari semua bagian negara. Hussain ibn Ali dan Abdullah ibn Zubayr menolak untuk menyatakan kesetiaan. Yazid mengirim Marwan , seorang prajurit di pasukannya, untuk membantu tugas ini.

Yazid telah mengutus saudara sepupu Umayyadnya, Marwan bin al-Hakam (yang melayani sebagai wazir untuk Muawiyah dan sekarang ke Yazid), ke Waleed bin Utbah bin Abu Sufyan dengan pesan berikut yang ditulis di perkamen

Merebut Husain (Cucu Muhammad), Abdullah ibn Umar (Anak Umar), dan Abdullah ibn Zubayr (Cucu Abu Bakar) untuk memberikan sumpah kesetiaan. Bertindaklah sedemikian keras sehingga mereka tidak memiliki kesempatan untuk melakukan apa pun sebelum memberikan sumpah kesetiaan. Kedamaian selalu bersamamu

Ketika dipanggil oleh gubernur Madinah, Waleed bin Utbah, Husain bin Ali menjawab panggilan tersebut. Namun, Abdullah ibn Zubayr tidak. Ketika Husain bin Ali bertemu dengan Waleed dan Marwan (yang hadir) dalam pertemuan semi-privat di malam hari, dia diberi tahu tentang meninggalnya Almarhum Muawiyah dan aksesi Yazid ke kekhalifahan. Ketika dimintai ikrar kesetiaannya kepada Yazid, Husain menanggapi bahwa memberikan kesetiaannya secara pribadi tidak akan cukup, hal seperti itu harus diberikan di depan umum. Waleed setuju dengan ini, tetapi Marwan menginterupsi menuntut Waleed memenjarakan Husain dan tidak membiarkannya pergi sampai dia memberikan janji kesetiaan kepada Yazid.

Adapun Abdullah ibn Zubayr, ia telah meninggalkan Medina pada malam hari menuju ke Mekah. Pada pagi hari, Waleed mengirim orang-orang mengikutinya,  yang terdiri atas delapan puluh penunggang kuda di bawah komando punggawa Banu Umayyah. Mereka mengejar Ibn al-Zubayr tetapi tidak berhasil menyusulnya, sehingga mereka kembali. Adapun Husain bin Ali, Tabari mencatat bahwa ia juga pergi ke Mekah tak lama setelah itu, tanpa bersumpah setia kepada Yazid.

WAFAT NYA HASAN BIN ALI

Setelah kematian Hasan, Muawiyah memerintahkan rakyat Suriah untuk menerima Yazid sebagai penggantinya. Setelah itu, ia memerintahkan Marwan bin Hakam , lalu gubernur Madinah, untuk memaksa orang-orang Madinah menerima Yazid sebagai pengganti Muawiya. Marwan tidak setuju dengan pilihan Muawiya; Setelah membiarkan Muawiya tahu bagaimana perasaannya, Muawiya menyingkirkan Marwan dari jabatannya sebagai gubernur. Marwan pergi ke Suriah dan mengancam akan melakukan kudeta terhadap Muawiya; Muawiya menghibur Marwan dengan “kata-kata yang menenangkan,” memberinya sejumlah besar uang, dan menunjuk uang pensiun untuknya dan kerabatnya. Marwan kembali ke Madinah dan melaksanakan perintah Muawiyah untuk memaksa orang-orang Madinah menerima Yazid.

PERTEMPURAN KARBALA

Pertempuran Karbala terjadi pada tanggal 10 Muharram, tahun ke-61 dari kalender Islam (9 atau 10 Oktober 680) di Karbala, yang sekarang terletak di Irak. Pertempuran terjadi antara pendukung dan keluarga dari cucu Muhammad, Husain bin Ali dengan pasukan militer yang dikirim oleh Yazid bin Muawiyah, Khalifah Bani Umayyah pada saat itu.

Pihak Husain terdiri dari anggota-anggota terhormat keluarga dekat Muhammad, sekitar 128 orang. Husain dan beberapa anggota juga diikuti oleh beberapa wanita dan anak-anak dari keluarganya. Di pihak lain, pasukan bersenjata Yazid I yang dipimpin oleh Umar bin Sa’ad berjumlah 4.000-10.000.

Pertempuran ini kemudian diperingati setiap tahunnya selama 10 hari yang dilakukan pada bulan Muharram oleh Syi’ah seperti halnya segolongan Sunni, di mana puncaknya pada hari kesepuluh, Hari Asyura

Hussain-ibn-Ali, cucu Muhammad, bersama dengan banyak Muslim terkemuka lainnya, tidak hanya tidak menyetujui nominasi Yazid untuk khalifah tetapi juga menyatakan hal itu bertentangan dengan semangat Islam

Kufa , sebuah kota garnisun di Irak , telah menjadi ibu kota Ali , dan banyak pendukungnya tinggal di sana. Hussain ibn Ali menerima surat dari Kufah yang mengungkapkan tawaran dukungannya jika dia mengklaim khalifah. Saat ia mempersiapkan perjalanan ke Kufah, Abdullah ibn Umar, Abdullah ibn Zubayr dan Abdullah ibn Abbas menentang rencananya, dan jika ia bertekad untuk melanjutkan ke Kufah, memintanya untuk meninggalkan wanita dan anak-anak di Mekkah, tetapi Hussein menolak saran mereka . Dalam perjalanan ke Kufah, ia menerima laporan kematian Muslim ibn Aqeel di tangan orang-orang Yazid

Ubayd-Allah bin Ziyad , gubernur Basrah , mengeksekusi salah satu utusan dan memperingatkan warga untuk menghindari pemberontakan. Dia mengirim pesan kepada Hussein, atas instruksi Yazid, menyatakan, “Anda tidak bisa pergi ke Kufah atau kembali ke Mekah, tetapi Anda dapat pergi ke tempat lain yang Anda inginkan.” Meskipun peringatan itu, dia terus menuju Kufah dan selama perjalanan, dia dan banyak anggota keluarganya tewas atau ditangkap di Pertempuran Karbala

Ketika gubernur Kufah, Ibn Ziyad, mengirim kepala Hussain ke Yazid, hamba Muawiyah dilaporkan telah mengatakan: “Ketika Yazid datang dengan kepala Hussein dan meletakkannya di tangannya, aku melihat Yazid menangis

Tradisi Muslim menganggap Khalifah Yazid I sebagai seorang tiran yang bertanggung jawab atas tiga tindakan utama selama Fitna Kedua yang dianggap kekejaman: kematian Husain bin Ali dan para pengikutnya di Pertempuran Karbala , dianggap sebagai pembantaian; setelah Perang al-Harrah , di mana pasukan jenderal Yazid, Muslim bin Uqbah al-Marri, menjarah kota Madinah ; dan pembakaran Ka’bah selama pengepungan Mekah , yang disalahkan pada komandan Yazid Husain bin Numayr

Imam Zahabi berkata:

Dia kuat, berani, penuh pertimbangan, penuh tekad, ketajaman, dan kefasihan. Dia menyusun puisi yang bagus. Dia juga seorang Nasibi yang keras, kasar, dan kasar. Dia minum dan merupakan seorang reprobat(bajingan). Dia meresmikan Dawla-nya dengan pembunuhan syahid al-Husain dan menutupnya dengan malapetaka al-Harrah. Oleh karena itu orang-orang membencinya, dia tidak diberkati dalam hidupnya, dan banyak yang mengangkat senjata melawan dia setelah al-Husayn seperti orang-orang Madinah – mereka bangkit demi Allah –

Ibn Kathir menulis dalam bukunya Al-Bidayah wan-Nihayah bahwa “pada tahun 56 H Muawiyah memanggil orang-orang termasuk orang-orang di wilayah terpencil untuk bersumpah setia kepada putranya, Yazid, untuk menjadi pewaris kekhalifahan setelah dia. Hampir semua subyek menawarkan kesetiaan mereka, dengan pengecualian Abdur Rahman bin Abu Bakar (putra Abu Bakar), Abdullah bin Umar (putra Umar), al-Husain bin Ali (putra Ali), Abdullah bin Az- Zubair (cucu Abu Bakar) dan Abdullah ibn Abbas (sepupu Ali) Karena ini Muawiyah melewati al-Madinah dalam perjalanan kembali dari Mekah setelah selesainya Ziarah Umrahnya di mana ia memanggil masing-masing dari lima orang yang disebutkan di atas dan mengancam. Pembicara yang membahas Muawiyah secara tajam dengan keteguhan terbesar di antara mereka adalah Abdurrahman bin Abu Bakar as-Siddeeq, sementara Abdullah bin Umar bin al-Khattab adalah yang paling lunak di antara mereka. [75]

Salah satu warisan Muawiyah yang paling kontroversial dan abadi adalah keputusannya untuk menunjuk putranya Yazid sebagai penggantinya.

Abdur Rahman bin Abu Bakar dan Abdullah ibn Umar adalah komandan Muslim tingkat menengah di Pertempuran Yarmouk yang merebut Suriah. Saudari Abdur Rahman bin Abu Bakar, Asmā ‘bint Abu Bakar juga bertempur dalam Pertempuran Yarmouk dan menentang Yazid.

Muawiyah kemudian menyampaikan sebuah khotbah, setelah berdiri lima orang ini di bawah mimbar dalam pandangan penuh orang-orang setelah orang-orang bersumpah setia kepada Yazid ketika mereka berdiri dalam keheningan tanpa menunjukkan ketidaksetujuan atau pertentangan mereka karena takut dipermalukan. Saeed bin Utsman bin Affan, putra Utsman juga mengkritik Muawiyah karena mengedepankan Yazid. ”  Mereka mentolerir Muawiyah tetapi tidak menyukai Yazid.

Tahun berikutnya Muawiyah menyingkirkan Marwan bin al Hakam dari posisi gubernur di Madinah dan mengangkat al-Waleed bin Utbah bin Abi Sufyan

Muawiyah memperingatkan putranya Yazid bahwa Husain, adik laki-laki Hasan bin Ali, berpotensi menjadi masalah bagi dinasti. Namun, menurut beberapa sumber, Muawiyah menyarankan putranya untuk bertindak terhadap Husain “dengan lembut”. Menurut klaim oleh sumber sunni, Muawiyah memperingatkan Yazid terhadap penganiayaan Husain ibn Ali.  Peringatan terakhirnya kepada Yazid adalah: “Untuk Husain, apa yang bisa saya katakan tentang dia? Berhati-hatilah untuk tidak menghadapinya kecuali dengan cara yang baik. , dan biarkan dia berkeliaran di bumi seperti yang dia inginkan. Jangan mencelakakan dia, namun tunjukkan padanya guntur dan kilat [kemarahanmu]. Jangan hadapi dia dengan senjata perang melainkan berikan kepadanya hadiah murah hati. Beri dia tempat terhormat di dekat Anda dan perlakukan dia dengan hormat. Berhati-hatilah dengan putraku, agar kamu tidak bertemu dengan Tuhan dengan darahnya, jangan sampai kamu termasuk orang-orang yang akan binasa

YAZID DAN ABDULLAH BIN ZUBEIR

Yazid ditentang Abdullah bin Zubair yang menyatakan menjadi khalifah sesungguhnya. Saat orang-orang Hejaz mulai memberikan kesetiaan pada Abdullah, Yazid mengirim pasukan untuk mengamankan daerah itu, dan Makkah diserbu. Selama penyerbuan, Ka’bah rusak, namun pengepungan berakhir dengan kematian mendadak Yazid pada 683.

Banyak Sahabat , yang paling menonjol adalah Abdullah ibn Zubayr, menolak memberikan sumpah kesetiaan mereka kepada Yazid, karena mereka melihatnya sebagai perampasan kekuasaan dan bukan cara yang tepat untuk memilih khalifah oleh Syura

Ketika Husain dibunuh di Karbala, Abdullah ibn al-Zubayr memulai pemberontakan di Hijaz (Mekkah dan Madinah) dan Tihamah . Setelah mendengar ini, Yazid membuat rantai perak dan mengirimnya ke Mekah dengan maksud agar Walid ibn Utbah menangkap Ibn al-Zubayr dengannya.  Pasukan Umayyah berusaha mengakhiri pemberontakan dengan menyerang Hijaz pada tahun 683. Madinah diambil setelah Pertempuran al-Harrah , Tihamah diserbu dan pengepungan  di Mekkah . Kematian mendadak Yazid pada 683, bagaimanapun, mengakhiri kampanye dan melemparkan kekhalifahan ke dalam kekacauan dan perang sipil.

Setelah pembunuhan Hussein, Abdullah ibn Zubayr  , memutuskan untuk melawan Yazid I.  Dia menolak untuk bersumpah setia kepada Yazid. Abdullah bin Zubayr kemudian melancarkan pemberontakan di wilayah Hejaz , jantung Islam , tempat Makkah dan Madinah berada.

Orang-orang Madinah dengan cepat bergabung dengan pemberontakan Abdullah ibn Zubayr.

Yazid mengirim 10.000 tentara dari Suriah ke Madinah pada 683 di bawah Jenderal Muslim bin Uqbah al-Marri.  Al-Hajjaj bin Yusuf , kemudian seorang tentara muda dan yang kemudian memainkan peran politik penting dalam kekhalifahan Umayyah, juga merupakan bagian dari tentara ini.

Abu Sa’id al-Khudri , seorang Sahabat Medinah, juga berperang melawan tentara Umayyah dalam pertempuran ini.Setelah kemenangan mereka, tentara Suriah menjarah kota selama tiga hari berturut-turut. Sejumlah besar penghuninya terbunuh.​​Muslim Uqbah al-Marri mulai dikenal sebagai Musrif yang berarti orang yang melampaui batas kesopanan .  Madinah direbut kembali dan Mekkah juga dikepung.

SIKAP TERHADAP MUAWIYAH BIN ABU SUFYAN

Abdullah bin Mubarak rahimahullah pernah ditanya tentang siapakah yang lebih utama, Mu’awiyah bin Abu Sufyan ataukah Umar bin Abdulaziz? Beliau menjawab, ‘Demi Allah, debu yang masuk di hidung Mu’awiyah saat bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam lebih utama seribu kali dibanding Umar (bin Abdulaziz). Mu’awiyah shalat di belakang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, lalu tatkala beliau membaca ‘Sami’allahu liman hamidah’ Mu’awiyah menjawab, ‘Rabbanaa wa lakal hamdu’ Apalagi kemuliaan sesudah itu?

(Lihat ‘Wafayatul A’yan, Ibnu Khalikan, 3/33)

Dari Jarah Al-Maushily, dia berkata, “Aku mendengar seseorang bertanya Al-Mu’afa bin Imran, dia berkata, ‘Wahai Abu Mas’ud, lebih utama mana Umar bin Abdulaziz dengan Mu’awiyah bin Abu Sufyan?’ Aku melihat beliau (Mu’afa) sangat marah dan berkata, ‘Para shahabat Muhammad shallallahu alaihi wa sallam tidak boleh dibandingkan dengan seorang pun (dengan yang bukan shahabat). Mu’awiyah radhiallahu anhu adalah penulis Alquran, shahabatnya, mertuanya dan orang kepercayaan Nabi atas wahya Allah Azza wa Jalla.” (Asy-Syari’ah Lil Aajiri, 5/2466-2467)

Dari A’masy, dia mendengar orang-orang menyebutkan keadilan Umar bin Abdulaziz. Maka dia berkata, ‘Apalagi kalau kalian mengetahui Mu’awiyah?’ Mereka berkata, ‘Wahai Abu Muhammad, maksud engkau dalam hal kecerdikannya?’ Dia menjawab, ‘Tidak, justeru dalam hal keadilannya.”

(As-Sunnah, Al-Khallal, 1/437)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Mu’awiyah pernah ditunjuk Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk menjadi pemimpin, sebagaimana beliau menunjuk yang lainnya, dia ikut berjihad bersamanya, orang yagn dipercaya menulis wahyu. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak meragukannya dalam menulis wahyu. Umar bin Khattab yang dikenal sebagai orang yang paling tahu tentang kualitas seseorang juga memberikan kepercayaan kepadanya, dan Umar juga dikenal sebagai orang yang diberikan kebenaran oleh Allah dalam lisan dan hatinya. Beliau tidak meragukannya dengan jabatannya. (Majmu Al-Fatawa, 4/472)

a. Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَقْتَتِلَ فِئَتَانِ دَعْوَاهُمَا وَاحِدَةٌ

“Tidaklah kiamat terjadi sebelum kedua kelompak saling berperang, tuntutan keduanya satu.” (HR. Bukhari, noi. 3413 dan Muslim, no. 157)

d.      Dari Abu Said Al-Khudry dia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

تَمْرُقُ مَارِقَةٌ عِنْدَ فُرْقَةٍ مِنْ الْمُسْلِمِينَ يَقْتُلُهَا أَوْلَى الطَّائِفَتَيْنِ بِالْحَقِّ

“Akan ada sebagian kaum muslimin yang keluar saat terjadi perpecahan, akan diperangi oleh kelompok yang lebih dekat dengan kebenaran di antara kedua kelompok tersebut.”

(HR. Muslim, no. 1064)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiah rahimahullah berkata,

Hadits shahih ini merupakan dalil bahwa kedua kelompok yang saling berperang tersebut; Ali dan kelompoknya dengan Mu’awiyah dan kelompoknya berada dalam kebenaran dan bahwa Ali serta kelompoknya lebih dekat kepada kebenaran dibanding Mu’awiyah dan kelompoknya. Sesungguhnya Ali bin Abi Thalib adalah yang membunuh mereka yang keluar dan mereka adalah kaum Khawarij yang awalnya mereka adalah dari kelompok Ali kemudian keluar darinya dan mengkafirkannya serta mengkafirkan orang-orang yang menjadi pengikutnya, lalu mereka umumkan permusuhan dan memeranginya dan orang-orang yang bersamanya.

Majmu Fatawa, 4/467

Ibnu Katsir berkata, “Hadits ini merupakan tanda-tanda kenabian, karena kejadiannya sesuai dengan apa yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu alaihi sa wallam. Didalamnya juga terdapat kesimpulannya bahwa kedua kelompok tersebut dihukumi sebagai Islam; Penduduk Syam dan penduduk Irak. Tidak seperti tuduhan kaum rafidhah (syiah) dan orang-orang bodoh yang mengkafirkan penduduk Syam. Didalamnya juga terdapat pelajaran bahwa di antara kedua kelompok tersebut, pengikut Ali lebih dekat kepada kebenaran. Ini merupakan pendapat Ahlussunnah wal Jamaah, yaitu bahwa yang benar adalah Ali, sedagkan Mu’awiyah berijtihad (dan keliru), maka dia tetap mendapat pahala insya Allah. Akan tetapi, Ali adalah pemimpin, baginya dua pahala. Sebagaimana terdapat riwayat shahih dari Imam Bukhari dari hadits Amr bin Ash, sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إذا اجتهد الحاكم فأصاب فله أجران وإذا اجتهد فأخطأ فله أجر

“Apabila seorang hakim berijtihad dan dia benar, maka dia mendapat dua pahala. Jika dia berijtihad lalu dia keliru, maka dia mendapat satu pahala.” (Al-Bidayah Wan Nihayah, 7/310)

4.      Mu’awiyah memerangi Ali bukan demi khilafah dan kerajaan. Tapi untuk menuntut agar pembunuh Utsman segera dihukum. Sedangkan Ali bin Thalib berpendapat bahwa hal itu belum dapat dilakukan kecuali jika pemerintahan telah kokoh.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiah berkata, “Mu’awiyah tidak menuntut kekuasaan dan dia dibai’at saat memerangi Ali dan dia tidak memeranginya dengan keyakinan bahwa dirinya adalah khalifah juga tidak meyakini bahwa dirinya berhak atas kekhalifahan. Hal itu diakui semua orang. Mu’awiyah pun menyatakan hal tersebut kepada siapa yang menanyakan hal itu. Bahkan Mu’awiyah tidak berkehendak memulai peperangan melawan Ali dan pengikutnya, dan nyatanya hal itu tidak mereka lakukan. Akan tetapi, ketika Ali radhiallahu anhu dan para pengikutnya berpandangan bahwa mereka wajib taat dan berbaiat kepadanya, karena tidak mungkin bagi seorang muslim kecuali memiliki satu khalifah dan bahwa mereka telah keluar dari ketaatan dari sisi ini dan mereka adalah penguasa, maka mereka berpandangan untuk memerangi Muawiyah dan pegikutnya untuk menunaikan kewajiban tersebut agar mereka tunduk dan jamaah terjaga.

Mereka berkata bahwa mereka tidak wajib bersikap demikian, dan jika mereka diperangi, maka mereka adalah pihak yang dizalimi. Mereka berkata, ‘Karena Utsman dibunuh dengan zalim berdasarkan kesepakatan kaum muslimin sedangkan pembunuhnya berada di antara pengikut Ali sedangkan mereka kini memiliki kekuasaan dan kekuatan. Jika kami tidak mnggugatnya, mereka akan menzalimi kami dan aniaya kepada kami sedangkan Ali tidak mungkin mencegah mereka sebagaimana dia tidak dapat membela Utsman. Kami hanya akan berbaiat kepada khalifah yang mampu bersikap adi kepada kita dan berupaya untuk adil.”

(Majmu Fatawa, 35/72,73)

Mu’awiyah tidak pernah mengumumkan permusuhan terhadap Ahlulbait, bahkan tidak juga menyimpan kebencian terhadap mereka. Sikapnya sebagaimana shahabat lainnya yang menghormati Ahlulbait dan menempatkan mereka pada tempat yang layak. Ibnu Katsir telah mengutip dalam kitabnya Al-Bidayah Wan Nihayah (8/133) dari Mughirah, dia berkata, “Saat datang berita kepada Mu’awiyah bahwa telah terjadi pembunuhan terhadap Ali, dia menangis dan berkata kepada isterinya, ‘Mengapa kamu menangisinya, bukankah engkau telah memeranginya?” Dia berkata, “Kamu tidak tahu, orang-orang kini telah kehilangan keutamaan, fiqih dan ilmu.”

Ibnu Hazm rahimahullah berkata, “Lalu Al-Hasan dibai’at, kemudian dia menyerahkan khilafah kepada Mu’awiyah, sementara ada para shahabat lainnya ada yang lebih mulia darinya, tanpa ada khilaf, ada yang mengeluarkan harta dan berperang sebelum fathu Mekah, namun semua mereka, dari awal hingga akhir, telah berbai’at kepada Mu’awiyah dan setuju dengan kepemimpinannya. Ini merupakan ijmak yang telah diyakini setelah ijmak tentang bolehnya kepemimpinan orang yang tidak lebih utama. Hal ini telah diyakini dan tidak ada keraguan padanya, hingga akhirnya terjadi, orang yang tidak ada nilainya di sisi Allah Ta’ala, mereka merusak ijmak dengan pandangan mereka yang rusak. Kita berlindung kepada Allah dari kehinaan.

Al-Fishal Fil Milal Wal Ahwa Wan-Nihal, 4/127

5.      Adapun ucapan anda, ‘Atas alasan apa dia menjadi raja selain Ahlulbait?” Telah kami sebutkan bahwa tidak diharuskan orang yang menerima tampuk pemerintahan khalifah sebagai orang yang paling baik. Bahkan boleh orang yang tidak lebih baik memegang kekuasaan walaupun ada yang lebih baik dari dia. Kemudian, Ahlulbait bukanlah orang yang paling mulia. Di sisi lain, perkara yang terjadi pada Mu’awiyah radhiallahu anhu berbeda, karena Al-Hasan bin Ali, dan dia adalah Ahlulbait, mengundurkan diri dan menyerahkan khalifah kepada Mu’awiyah radhiallahu anhu, lalu para shahabat semuanya berbaiat kepadanya, di antara mereka terdapat seluruh Ahlulbait. Maka dengan demikian terwujudlah ramalan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang memuji Al-Hasan bahwa dia adalah orang yang mendamaikan di antara dua kelompok kaum muslimin.

Dari Abu Bakrah radhiallahu anhu, suatu hari, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengajak Al-Hasan, lalu dia naik ke mimbar kemudian berkata:

ابْنِي هَذَا سَيِّدٌ وَلَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ )رواه البخاري ، رقم  3430 ، ورواه مطولاً ، رقم 2557 ) .

‘Anakku ini adalah pemimpin, Allah akan mendamaikan dengannya kedua kelompok kaum muslimin.” (HR. Bukhari, noi. 3430, dan dia riwayatkan panjang lebar, no. 2557)

Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Dalam kisah ini terdapat beberapa pelajaran; -Salah satu tanda-tanda kenabian, -Catatan kebaikan Hasan bin Ali, karena dia meninggalkan kekuasaan bukan karena miskin atau hina atau sakit, tapi karena keinginannya untuk mendapatkan ridha Allah demi mencegah terjadinya pertumpahan darah di kalangan kaum muslimin. Maka dia memelihara urusan agamanya dan kebaikan bagi umat.

Di dalamnya juga terdapat bantahan terhadap kalangan khawarij yang mengkafirkan Ali dan para pengikutnya serta Mu’awiyah dan para pengikutnya berdasarkan persaksian Nabi shallallahu alaihi wa sallam tentang kedua kelompok bahwa mereka adalah kaum muslimin.

Di dalamnya juga terdapat dalil dibenarkannya kepemimpinan orang yang tidak lebih utama untuk mendudukan kedudukan khalifah walaupun ada orang yang lebih utama darinya, karena ketika Al-Hasan dan Mu’awiyah memegang tampuk khalifah, Saad bin Abi Waqash dan Said bin Zaid masih hidup, sedangkan keduanya adalah orang yang ikut perang Badar. Demikian dikatakan oleh Ibnu An-Tin.

Di dalamnya juga terdapat dalil bahwa seorang khalifah boleh mencopot jabatannya sendiri jika dia pandang hal itu bermanfaat bagi kaum muslimin.

(Fathul Bari, 13/66-67)( ISLAMQA )

SIKAP AHLU SUNNAH WAL JAMAAH PADA YAZID BIN ABU SUFYAN

Mari kita menelaah Fatwa Syaikhul Islam terkait fitnah pembunuhan Husain ini! kita ketahui bahwasanya Yazid bin Muawiyah Bin Abu Sufyan merupakan khalifah yang berkuasa ketika Ubaidaullah bin ziyad membantai Husain dan keluarga.

Syaikhul Islam mengatakan:

Belum pernah sebelumnya seorangpun manusia membicarakan masalah Yazid bin Mu’awiyah  dan tidak pula membicarakannya termasuk masalah Dien.
Hingga terjadilah setelah itu beberapa perkara, sehingga manusia melaknat Yazid bin Mu’awiyah, bahkan bisa saja  laknat tersebut berujung kepada laknat terhadap orang lain  dengan menggunakan  kejadian-kejadian tersebut
Sedangkan kebanyakan Ahlus Sunnah tidak suka melaknat orang tertentu. Kemudian suatu kaum dari golongan yang ikut mendengar yang demikian meyakini bahwa Yazid termasuk pemuka orang  shalih dan imam yang mendapat petunjuk.

Maka golongan yang melampaui batas terhadap Yazid menjadi dua sisi yang berlawanan:

Sisi pertama, mereka yang mengucapkan bahwa dia kafir zindiq dan bahwasanya dia telah membunuh salah seorang anak perempuan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, membunuh sahabat-sahabat Anshar, dan anak-anak mereka pada kejadian Al-Hurrah (pembebasan Madinah) untuk menebus dendam keluarganya yang dibunuh dalam keadaan kafir seperti kakek ibunya ‘Utbah bin Rab’iah, pamannya Al-Walid dan selain keduanya. Mereka menyebutkan pula bahwa dia terkenal sebagai peminum khamr dan menampakkan maksiat-maksiatnya.

Pada sisi lain, ada yang meyakini bahwa dia (Yazid) adalah imam yang adil, mendapatkan petunjuk dan dapat memberi petunjuk. Dan dia dari kalangan sahabat atau pembesar shahabat serta salah seorang dari wali-wali Allah. Bahkan sebagian dari mereka meyakini bahwa dia dari kalangan para nabi. Mereka berkata : barangsiapa yang ragu terhadap Yazid maka Allah akan menghentikan dia dalam neraka Jahannam.

Mereka meriwayatkan dari Syaikh Hasan bin ‘Adi bahwa ia adalah wali yang seperti ini dan seperti itu. Barangsiapa yang ragu maka dia menetap dalam neraka karena ucapan mereka yang demikian terhadap Yazid.

Setelah zaman Syaikh Hasan bertambahlah perkara-perkara batil dalam bentuk syair atau prosa. Mereka ghuluw kepada Syaikh Hasan dan Yazid dengan perkara-perkara yang menyelisihi apa yang ada di atasnya Syaikh ‘Adi yang agung -semoga Allah mensucikan ruhnya-. Karena jalan beliau sebelumnya adalah baik, belum terdapat bid’ah-bid’ah yang seperti itu, kemudian mereka mendapatkan bencana dari pihak Rafidlah yang memusuhi mereka dan kemudian membunuh Syaikh Hasan bin ‘Adi sehingga terjadilah fitnah yang tidak disukai Allah dan Rasul-Nya.

Dua sisi ekstrim terhadap Yazid tersebut menyelishi apa yang disepakati oleh para ahli Ilmu dan orang beriman.
Yazid bin Mu’awiyah dilahirkan pada masa khalifah Utsman bin ‘Affan radliallahu ‘anhu dan tidak pernah bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta tidak pula termasuk sahabat dengan kesepakatan para ulama. Dia tidak pula terkenal dalam masalah Dien dan keshalihan.
Dia termasuk  pemuda muslim bukan kafir dan bukan pula zindiq. Dia memegang tampuk kekuasaan setelah ayahnya dengan tidak disukai oleh sebagian kaum muslimin namun diridlai oleh sebagian yang lain. Dia memiliki keberanian dan kedermawanan dan tidak pernah menampakkan kemaksiatan-kemaksiatan sebagaimana dikisahkan oleh musuh-musuhnya.

Namun pada masa pemerintahannya telah terjadi perkara-perkara besar
yaitu:

1. Terbunuhnya Al-Husein radhiyallahu ‘anhu padahal dia tidak memerintahkan untuk membunuhnya dan tidak pula menampakkan kegembiraan dengan pembunuhan Husein serta tidak memukul gigi taringnya dengan besi.
Dia juga tidak membawa kepala Husein ke Syam. Dia hanya memerintahkan untuk mencegah Husein dengan melarangnya dari urusan tertentu sekalipun dengan memeranginya. Tetapi para utusannya melebihi dari apa yang diperintahkannya karena Samardzi Al-Juyusy mendorong ‘Ubaidillah bin Ziyad untuk membunuhnya. Ibnu Ziyad pun menyakitinya dan ketika Al-Husein radhiyallahu ‘anhu meminta agar dia dibawa menghadap Yazid, atau diajak ke front untuk berjihad (memerangi orang-orang kafir bersama tentara Yazid -pent), atau kembali ke Mekkah, mereka menolaknya dan tetap menawannya. Atas perintah Umar bin Sa’d, maka mereka membunuh beliau dan sekelompok Ahlul Bait radhiyallahu ‘anhum dengan dzalim.

Terbunuhnya beliau -radhiyallahu ‘anhu- adalah musibah besar,  terbunuhnya Al-Husein dan Utsman Bin Affan sebelumnya merupakan penyebab fitnah terbesar pada umat ini. Pembunuh keduanya adalah makhluk yang paling jelek di sisi Allah.

Ketika keluarga beliau radhiyallahu ‘anhu mendatangi Yazid bin Mua’wiyah, Yazid memuliakan mereka dan mengantarkan mereka ke Madinah.

Diriwayatkan bahwa Yazid melaknat Ibnu Ziyad atas pembunuhan Husein dan berkata: “Aku sebenarnya meridlai ketaatan penduduk Irak tanpa pembunuhan Husein.” Tetapi dia tidak menampakkan pengingkaran terhadap pembunuhnya, tidak membela serta tidak pula membalasnya, padahal itu adalah wajib bagi dia. Maka akhirnya Ahlul Haq mencelanya karena meninggalkan kewajibannya, ditambah lagi dengan perkara-perkara lainnya dan musuh-musuhnya malah menambahkan beberapa kedustaan palsu atasnya.

2. Penduduk Madinah membatalkan bai’atnya kepada Yazid dan mereka mengeluarkan utusan-utusan dan penduduknya. Yazid pun mengirimkan tentara kepada mereka, memerintahkan mereka untuk taat dan jika mereka tidak mentaatinya setelah tiga hari mereka akan memasuki Madinah dengan pedang dan menghalalkan darah mereka. Setelah tiga hari, tentara Yazid memasuki Madinah an-Nabawiyah, membunuh mereka, merampas harta mereka, bahkan menodai kehormatan-kehormatan wanita yang suci, kemudian mengirimkan tentaranya ke Mekkah yang mulia dan mengepungnya. Yazid meninggal dunia pada saat pasukannya dalam keadaan mengepung Mekkah dan hal ini merupakan permusuhan dan kedzaliman yang dikerjakan atas perintahnya.

Oleh karena itu, keyakinan Ahlus Sunnah dan para imam-imam umat ini adalah mereka tidak melaknat dan tidak mencintainya.

Shalih bin Ahmad bin Hanbal berkata: Aku katakan kepada ayahku: “Sesungguhnya suatu kaum mengatakan bahwa mereka cinta kepada Yazid.” Maka beliau rahimahullah menjawab: “Wahai anakku, apakah akan mencintai Yazid seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir?” Aku bertanya: “Wahai ayahku, mengapa engkau tidak melaknatnya?” Beliau menjawab: “Wahai anakku, kapan engkau melihat ayahmu melaknat seseorang?” Diriwayatkan pula bahwa ditanyakan kepadanya: “Apakah engkau menulis hadits dari Yazid bin Mu’awiyyah?” Dia berkata: “Tidak, dan tidak ada kemulyaan, bukankah dia yang telah melakukan terhadap ahlul Madinah apa yang dia lakukan?”

Yazid menurut ulama dan Imam-imam kaum muslimin adalah  termasuk raja (Islam -pent). Mereka tidak mencintainya seperti mencintai orang-orang shalih dan wali-wali Allah namun tidak pula melaknatnya.
Karena sesungguhnya mereka tidak suka melaknat seorang muslim secara khusus (ta ‘yin), berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya dari Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu:
seseorang yang dipanggil dengan Hammar sering meminum khamr.
setiap dia dihadapkankan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ia dicambuk. Maka berkatalah seseorang: “Semoga Allah melaknatnya. Betapa sering dia dihadapkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jangan engkau melaknatnya, sesungguhnya dia mencintai Allah dan Rasul-Nya. ” (HR. Bukhari)

Walaupun demikian di kalangan Ahlus Sunnah juga ada yang membolehkan laknat terhadapnya karena mereka meyakini bahwa Yazid telah melakukan kedhaliman yang menyebabkan laknat bagi pelakunya.

Kelompok yang lain berpendapat untuk mencintainya karena dia seorang muslim yang memegang pemerintahan di zaman para shahabat dan dibai’at oleh mereka. Serta mereka berkata: “Tidak benar apa yang dinukil tentangnya padahal dia memiliki kebaikan-kebaikan, atau dia melakukannya dengan ijtihad.”

Pendapat yang benar adalah apa yang dikatakan oleh para imam (Ahlus Sunnah), bahwa mereka tidak mengkhususkan kecintaan kepadanya dan tidak pula melaknatnya. Di samping itu kalaupun dia sebagai orang yang fasiq atau dhalim, Allah masih mungkin mengampuni orang fasiq dan dhalim. Lebih-lebih lagi kalau dia memiliki kebaikan-kebaikan yang besar.

Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahihnya dari Ummu Harran binti Malhan radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Tentara pertama yang memerangi Konstantinopel akan diampuni. (HR.
Bukhari)

sedangkan tentara pertama yang memerangi konstantinopel adalah di bawah pimpinan Yazid bin Mu’awiyyah dan pada waktu itu Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu ‘anhu bersamanya.( SUMBER )

#s3gt_translate_tooltip_mini { display: none !important; }

Iklan

DAFTAR BUMBU-BUMBU CERITA DAN FAKTA BOHONG PERKOSAAN MEI 98

Peristiwa kerusuhan mei 98 telah lama lewat….tetapi perdebatan nya ada hingga kini….pihak-pihak Fundamentalis kristen kerap memakai rujukan cerita VIVIAN seorang gadis cina yang mengaku melihat perkosaan dan menulis kan nya di internet….tetapi sayang nya orang bernama VIVIAN ini tak pernah muncul hingga kini.di mana ia menulis hal yang sensitif dan menghina bahwa 5 pemerkosa meneriak kan Allahu akbar ketika memperkosa.namun cerita ini tinggal cerita tampa bukti dan klarifikasi dari penulis…..penulis yang misterius dari balik internet dan layar komputer.

PERHATIAN:TULISAN INI BUKAN BERMAKSUD MENYANGKAL ADA NYA PERKOSAAN MEI 98

Perkosaan mei 98 memang ada.tetapi perkosaan itu di dramatisir dengan cerita-cerita dan fakta palsu.antara lain dengan beredar nya cerita tampa bisa di selusuri validitas nya bahkan di ketahui siapa orang nya yakni CERITA VIVIAN,juga foto-foto palsu dari situs porno dll yang akan kita ungkap di bawah.tujuan nya entah apa,setidak nya untuk menambah buruk dan sadis perkosaan itu.

Para wartawan yang kredibel mengakui bahwa pada saat peristiwa Mei 1998, peristiwa perkosaan memang terjadi. Seorang wartawan FORUM mendapat pengakuan dari seorang
anggota Satgas PDI Perjuangan bernama M, bahwa dia dan teman-temannyalah yang menyerbu dan membakar pertokoan di Pasar Minggu. Ia juga mengaku melecehkan perempuan, bahkan beberapa kawannya memperkosa mereka. Tapi menurut dia,
korban tidak hanya dari kalangan Cina. “Siapa aja, ada Amoy, ada Melayu, ada Arab,” kata anggota Satgas PDIP itu.

Namun yang menjadi masalah sebagian orang sumber nya dari FPI dan BLOGSPOT….padahal keraguan itu keliru…seharus nya di teliti dulu fakta2 tulisan nya bantah dengan argumen,bukan hanya menghina sumber FPI dan Blogspot.dari  yang saya lihat tulisan itu cuma di copas FPI ke blog nya,padahal sumber berita dan INVESTIGASI berasal dari TABLOID DUA MINGGUAN SUARA ISLAM, EDISI 17, MINGGU III-IV MARET 2007…..

Dan alamat redaksi nya jelas:Jl. Utan Kayu Raya No. 88, Jakarta Timur
Telp: 021 8563313

Dan di tanggapi di bawah artikel..saya pribadi tidak melihat Blog FPI nya……karena saya tidak setuju bahwa Abu Bakar Baasyir di sebut sebagai Khalifah.namun FPI cuma copas saja

SEKILAS TUDUHAN SERIUS

Kisah Vivian dan Foto-Foto Perkosaan

Internet menjadi sarana paling hebat untuk menyebarluaskan kisah perkosaan massal itu. Yang paling kontroversial adalah kisah yang konon dialami oleh seorang gadis
keturunan Cina bernama ‘Vivian. Kisah itu muncul kira-kira pada pertengahan Juni 1998. Konon Vivian tinggal bersama orang tuanya di lantai 7 sebuah apartemen di kawasan Kapuk, Jakarta Utara ketika diserbu orang-orang tak dikenal saat kerusuhan Mei. Mereka lalu memperkosa Vivian, saudara, tante dan tetangga-tetangganya.

Kisah Vivian sangat deskriptif, detail dan menyentuh, sehingga mampu membangkitkan emosi. Majalah Jakarta-Jakarta sempat mengutip cerita perkosaan yang sangat vulgar itu mentah-mentah dalam sebuah edisinya. Dalam cerita itu, dengan sangat kurang ajar, ia menceritakan bahwa orang-orang yang bertampang seram itu memperkosa mereka
dengan berteriak “Allahu Akbar” sebelum melakukan perbuatan itu. Caci maki pun berhamburan kepada ummat Islam dan para Ulama.

Hampir bersamaan dengan munculnya kisah Vivian, muncul pula foto-foto yang konon berisi gambar para korban kerusuhan Mei di jaringan internet. Beberapa website memuat foto-foto yang luar biasa sadis dan mencekam. Siapapun pasti tersulut
amarahnya bila melihat foto-foto yang disebut-sebut sebagai foto kerusuhan Mei 1998 dan korban-korban perkosaan massal itu.

Pemajangan foto-foto di media internet itu telah mengundang emosi luar biasa bagi etnis Cina di seluruh dunia. Mereka menganggap kerusuhan Mei 1998 adalah sebuah operasi yang sengaja ditujukan untuk mengenyahkan orang Cina, dan menyetarakan kasus perkosaan massal atas perempuan-perempuan itu dengan kasuk The Rape of Nanking,
saat pendudukan Jepang ke Cina tahun 1937.

MARI KITA BAHAS BEBERAPA KEBOHONGAN NYA

CERITA VIVIAN TENTANG 5 PEMERKOSA MENERIAK KAN ALLAHU AKBAR

Cerita VIVIAN di ceritakan dari balik internet…..sampai kini kita tak mengetahui siapa VIVIAN ini.Kisah itu muncul kira-kira pada pertengahan Juni 1998. Konon Vivian tinggal bersama orang tuanya di lantai 7 sebuah apartemen di kawasan Kapuk, Jakarta Utara ketika diserbu orang-orang tak dikenal saat kerusuhan Mei. Mereka lalu memperkosa Vivian, saudara, tante dan tetangga-tetangganya.

Kisah Vivian sangat deskriptif, detail dan menyentuh, sehingga mampu membangkitkan emosi. Majalah Jakarta-Jakarta sempat mengutip cerita perkosaan yang sangat vulgar itu mentah-mentah dalam sebuah edisinya. Dalam cerita itu, dengan sangat kurang ajar, ia menceritakan bahwa orang-orang yang bertampang seram itu memperkosa mereka
dengan berteriak “Allahu Akbar” sebelum melakukan perbuatan itu. Caci maki pun berhamburan kepada ummat Islam dan para Ulama.

Cerita paling kontroversia ia berkata sbb:

Paman Dodi mencoba untuk menawarkan uang tunai kepada mereka, tetapi tidak berguna, kemudian ada 5 orang memperkosa Fenny, Sebelum memperkosa masing masing orang meneriakkan : allahu Akbar”, yang biasanya digunakan oleh umat muslim saat berdoa, yang artinya “Tuhan yang maha kuasa”.( Kabarmalam.com )

Cerita di atas terkesan mengada-ada….apakah mungkin 5 orang memperkosa secara bergiliran kompak meneriak kan takbir Allahu Akbar secara kompak?apakah yang memperkosa mereka remaja masjid?perkosaan adalah kejahatan besar dalam islam,mana mungkin seorang muslim yang takwa memperkosa….lebih2 sebelum memperkosa mengucap kan Allahu Akbar?…..Laknat Allah atas orang yang berdusta.yangf jelas VIVIAN yang menceritakan ini tetap sosok misteri yang tak pernah berani meng klarifikasi cerita nya hingga kini,bahakn dari balik layar internet sekalipun.sudah 18 tahun sosok itu hilang misterius.jika ia merasa benar,setidak nya ia memakai internet untuk klarifikasi ulang cerita nya.

Sayang nya Cerita ini di pakai oleh para penghujat islam sebagai bahan cemoohan…..padahal cerita nya sendiri tak dapat di klarifikasi kebenaran nya.sebab penulis nya pun tak di ketahui siapa.

KETIKA APARTEMEN YANG DI AKUI VIVIAN SEBAGAI TEMPAT PERKOSAAN DI SELIDIKI,TERNYATA WARGA SEKITAR TAK PERNAH MENDENGAR ADA AMOY DI PERKOSA

Beberapa wartawan yang melacak lokasi yang di duga menjadi tempat tinggal Vivian dan keluarganya, juga tak menemukan apa-apa. Warga di sekitar apartemen menjawab tidak ada dan tidak pernah terdengar adanya Amoy yang diperkosa saat kerusuhan Mei 1998. Seorang anak nelayan yang pada dua hari jahanam itu menjarah apartemen tempat Vivian tinggal mengaku, jangankan memperkosa, ketemu penghuni juga tidak. Sebab, mereka sudah kabur ke luar negeri.

Jika benar begitu terbukti cerita mahluk misterius itu memang Hoax.dan memang tak pernah bisa di bukti kan kecuali penulis berani keluar mengklarifikasi perkataan nya di atas sumpah di atas kitab suci yang di imani nya.

KEBOHONGAN DAN BUMBU ADA NYA PERKOSAAN MASSAL

Para wartawan pun terus mencoba mengejar dan mewawancarai korban dengan semua petunjuk tentang para korban, tapi hasilnya nihil. Konon semua sudah pergi ke luar negeri dan tidak terlacak lagi. Hanya anak ekonom Christianto Wibisono yang terkonfirmasi sebagai korban perkosaan Mei 1998. Majalah Tempo, dalam edisi pertama setelah terbit lagi juga tak mampu menemukan korban, apalagi sampai berjumlah ratusan.

Soal jumlah korban perkosaan pun menjadi ajang perdebatan seru. Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Kasus Kerusuhan Mei 1998 pecah gara-gara bab yang membahas hal ini. Sebagian anggota ingin memasukkan semua laporan tentang adanya perkosaan, sementara yang lain meminta semua di klarifikasi dulu. “Terkesan ada yang ingin memanfaatkan isu ini untuk kepentingan tertentu.” kata anggota TGPF Roosita Noer.

Tengoklah data yang mereka kumpulkan. Dari 187 nama menurut daftar yang dibawa anggota TGPF Saparinah Sadli dan 168 dalam daftar Pastor Jesuit Sandyawan Sumardi, ternyata hanya 4 orang yang berhasil diklarifikasi, yang lain baru qaala wa qiila, alias kata orang. Sementara, 2 (dua) orang korban yang di datangkan anggota TGPF Nursyahbani Katjasungkana ternyata orang gila beneran yang di duga sudah lama. Lucunya, ketika data ini diminta, Ketua TGPF Marzuki Darusman tidak mau membagi data itu kepada anggota yang lain.

KEBOHONGAN DAN BUMBU CERITA FOTO-FOTO SADIS KORBAN PERKOSAAN

Hampir bersamaan dengan munculnya kisah Vivian, muncul pula foto-foto yang konon berisi gambar para korban kerusuhan Mei di jaringan internet. Beberapa website memuat foto-foto yang luar biasa sadis dan mencekam. Siapapun pasti tersulut
amarahnya bila melihat foto-foto yang disebut-sebut sebagai foto kerusuhan Mei 1998 dan korban-korban perkosaan massal itu.

Pemajangan foto-foto di media internet itu telah mengundang emosi luar biasa bagi etnis Cina di seluruh dunia. Mereka menganggap kerusuhan Mei 1998 adalah sebuah operasi yang sengaja ditujukan untuk mengenyahkan orang Cina, dan menyetarakan kasus perkosaan massal atas perempuan-perempuan itu dengan kasuk The Rape of Nanking,
saat pendudukan Jepang ke Cina tahun 1937.

Belakangan Soekarno Chenata, pengelola situs Web Indo Chaos, juga mengakui foto-foto yang bergentayangan di situsnya, sama sekali tidak otentik. Kepada detik.com, Soekarno mengaku pernah menerima foto sadis yang sempat di pajang di Indo Chaos. Namun ia segera mencabut foto itu dari situsnya karena ternyata foto itu adalah hasil montase dan diambil dari situs porno yang memang brutal.

Melalui jaringan internet foto-foto kasus perkosaan pertengahan Mei 1998 lalu di
Jakarta dan Solo telah menyebar ke seluruh dunia. Di Singapura foto itu bahkan digelar dalam sebuah pameran resmi. Akibatnya reaksi keras menghujat Indonesia kini bermunculan, baik di Jakarta, Hongkong, Beijing, Taipe, Singapura maupun di berbagai belahan dunia lainnya.

Ditengah reaksi atas foto yang tersebar di tataran internet dan menjadi konsumsi
masyarakat dunia itu, Harian Asian Wall Street Journal (AWSJ) edisi 20 Agustus
1998 mencurigai foto-foto itu palsu dan tidak berhubungan sama sekali dengan
kerusuhan pertengahan Mei lalu.

Dugaan foto tersebut sebagai palsu dan kebohongan juga muncul dari “Aware”
kelompok dari Singapura. Bersamaan dengan itu juga muncul reaksi kecurigaan serupa dari Dewan Reformasi Pemuda dan Mahasiswa Surabaya (Derap Masa) yang menganggap foto tersebut sebagai rekayasa dan kepalsuan untuk mendramatisir kerusuhan Mei 1998 di Jakarta dan Solo.

Kecurigaan itu cukup beralasan karena sesuai dengan pemberitaan Harian Asian Wall
Street Journal (AWSJ) antara lain disebutkan bahwa paling tidak 15 foto adalah
palsu dan sumbernya “Asian Pornography Website, East Timoresse Exite Homepage dan US Based Exhebition of gori photos”.

Sebagai contoh foto tentang seseorang dengan Uniform menyiksa seorang wanita
dengan tongkat, puntung rokok dan tali, ternyata berasal dari segepok foto milik
East Timoresse Exite Homepage yang sudah muncul sejak bulan November 1997, jauh sebelum kerusuhan di Jakarta terjadi. Data ini jelas merupakan kebohongan nyata dari para aktivis LSM yang sejak awal telah gencar mempersoalkan masalah ini.

Bahkan Romo Mangun Cs + Ita Nadia sewaktu di AS ada yang bertanya bahwa foto-foto dan poster-poster yang dibawa adalah palsu, mereka agak gugup karena
poster perkosaan yang diedarkan sudah beredar sejak 2 tahun yang lalu oleh CNRM
Ramos Horta di AS dan Eropa. Selain itu Ita Nadia juga mengeluarkan issu yang
sensitive bahwa diantara kelompok pemerkosa sebelum melakukan aksi perkosaan,
berteriak “Allahu Akbar”. Selesai kesaksian di Kongres AS, Romo Mangun Cs
berangkat juga ke Genewa untuk sidang PDPM dan juga membohongi publik
internasional bahwa 162 orang diperkosa sistematis dan 20 orang tewas.

PENGELOLA SITUS WHF,DEAN TSE MINTA KLARIFIKASI VIVIAN ATAS CERITA NYA…HASIL NYA……..

Setelah menerima banyak pertanyaan soal orisinilitas cerita Vivian, pengelola situs Web World Huaren Federation (WHF), Dean Tse, dalam pesannya tanggal 18 Agustus 1998,
minta agar pengirim cerita bisa memberi keterangan lebih lanjut. Namun hingga kini, permintaan Dean Tse belum ada jawaban. Dean Tse pun tidak bisa melacak alamat si pengirim cerita tersebut di jaringan internet.

PENGAKUAN PALSU DI PERKOSA DI DEPAN IMIGRASI AMERIKA

Upaya pembuktian telah dilakukan, namun upaya pengaburan dan disinformasi terus dilakukan. Misalnya, ketika fakta bahwa Vivian tidak pernah ada, para agitator itu berdalih, Vivian adalah nama dan alamat yang dipakai dan hanyalah nama samaran. Ketika para wartawan tidak menemukan korban, mereka berkilah soal keselamatan korban. Hingga akhirnya kebohongan itu terbongkar, justru dari AMERIKA SERIKAT,
tempat di mana para pembohong itu mengobral cerita untuk menyudutkan kaum Muslimin di Indonesia.

Semula, pemerintah Amerika Serikat dengan mudah memberikan suaka kepada imigran asal Indonesia yang mengaku dianiaya dan dirudung kekerasan seksual di negerinya dengan alasan etnik dan agama. Tapi gara-gara kesamaan pola cerita, kedekatan waktu pengajuan, kesamaan alamat dan asal pengaju, dan kesamaan kantor pengajuan, mereka mulai curiga.

Setelah menyelidiki selama dua tahun, pada Senin, 22 November 2004 satuan tugas rahasia pemerintah Amerika Serikat menggelar operasi bersandi Operation Jakarta.
Operasi penangkapan 26 anggota sindikat pemalsu dokumen suaka ini dilakukan serentak di lebih dari 10 negara bagian di Amerika Serikat. “Pemimpin sindikat ini adalah Hans Guow, WNI yang dikabulkan permohonan suakanya pada 1999,” kata Jaksa Penuntut Wilayah Virginia, Paul J McNulty yang menangani kasus ini.

Para tersangka dikenai tuduhan sama, yakni memalsukan dokumen suaka serta berkonspirasi dalam pemalsuan berbagai dokumen. Awalnya mereka hanya membantu menyediakan dokumen asli tapi palsu. Tapi setelah berhasil mengibuli pihak berwenang dengan memalsukan izin kerja dan nomor jaminan sosial, mereka mulai menyiapkan aplikasi suaka palsu.

Mereka juga menyiapkan skenario pengakuan bo’ong-bo’ongan seperti diperkosa atau dianiaya dalam kerusuhan Mei 1998. “Cerita tentang penyiksaan itu sangat seragam karena para pelamar menghafalkan kata demi kata secara persis seperti yang diajarkan,” kata Jaksa McNulty. Mereka pun mengajari kliennya untuk menangis dan memohon dengan emosional untuk mengundang simpati petugas.

Lucunya, mereka menceritakan kisah yang sama. Cerita diperkosa supir taksi misalnya meluncur dari mulut 14 perempuan yang mengajukan permohonan suaka sejak 31 Oktober
2000 hingga 6 Januari 2002. “Mereka mengaku diperkosa karena keturunan Cina,” kata Dean McDonald, agen spesial dari Biro Imigrasi dan Bea Cukai Kepabeanan Departemen
Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat di negara bagian Virginia.

VOICE OF AMERIKA MELAKUKAN INVESTIGASI KE INDONESIA TAPI TAK MENEMUKAN PERKOSAAN MASSAL

Belakangan, Voice of Amerika juga membuat liputan investigatif tentang isu perkosaan massal itu. Mereka keluar masuk berbagai lokasi yang dicurigai sebagai TKP perkosaan massal, dan mencoba mewawancarai berbagai pihak. Tapi hasilnya nihil. Perkosaan memang ada, tapi dengan mengikuti petuah Goebels, fakta telah didramatisasi sedemikian rupa dan dimanipulasi dengan dahsyat.

PERKOSAAN DI GERAK KAN SECARA SESTEMATIS

Ciri-ciri pelaku pemerkosaan massal:
(1) Terlebih dahulu melakukan pembakaran ban,
(2) Para pelaku sudah terlatih,
(3) Sebagian pelaku berpakaian seragam SMU,
(4) Perkosaan dilakukan secara terencana dan sistematis,
(5) Dilakukan secara bersamaan di berbagai tempat (kasus terbanyak di Jakarta Barat dan Utara),
(6) Setelah memperkosa kemudian membakar dan menjarah korban,
(7) Satu pemerkosaan dilakukan 3 hingga 10 orang,
(8) Usai memperkosa pelaku meneriakkan yel-yel anti Cina.
(9) Pemerkosa tidak kenal dengan korban.

Kasus perkosaan warga keturunan saat kerusuhan, pertengahan Mei lalu, di Jakarta dan Solo, bukan tindak kriminal biasa. Perkosaan ini sangat terencana, sistematis dan sarat dengan muatan politik. Setidaknya inilah kesimpulan sementara beberapa organisasi perempuan, diantaranya: Masyarakat Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, Kalyana Mitra, Mitra Perempuan, Koalisi Perempuan, dan Dharma Wanita.

168 kasus perkosaan terhadap warga keturunan Tionghoa terjadi saat kerusuhan Mei lalu – dua puluh diantara korban itu tewas karena terperangkap api dan dibunuh – dilakukan oleh kelompok (yang tidak menginginkan perubahan) tertentu yang terlatih. Mereka sengaja melakukan itu agar muncul tuduhan bahwa aksi massa yang menuntut reformasi telah cacat oleh kasus perkosaan. Bahkan tidak menutup kemungkinan masih satu paket dengan peristiwa penculikan dan penembakan di Universitas Trisakti.

Tim relawan membuktikan, perkosaan itu tidak dilakukan oleh orang awam karena kebencian terhadap warga keturunan. Apalagi karena kesenjangan sosial. Perkosaan itu semata-mata dilakukan untuk merusak citra gerakan yang menginginkan perubahan.

SALAH SATU GEREJA KRISTEN PUN MENYANGKAL ADA PERKOSAAN MASSAL DI SOLO

Sementara itu anggota Tim Relawan yang juga Pimpinan Gereja Utusan Pantekosta
Jemaat Pasar Legi di Solo Drs. Ch MD Estefanus, Msi, membantah kebenaran laporan bahwa 24 Wanita WNI keturunan Cina menjadi korban kasus perkosaan massal di Solo. Bahkan beliau menulis surat khusus kepada Kapolwil Surakarta dan menyatakan bahwa laporan itu bohong belaka.

Hal serupa juga dialami oleh berbagai Tim Relawan yang dibentuk di Jakarta,
termasuk Tim Gabungan Pencari Fakta yang dibentuk Pemerintah beberapa waktu lalu masih belum mampu memberikan data konkrit kepada masyarakat Aktivis Perwakilan Ummat Budha Indonesia (Walubi) Ny,Hartati Murdaya hingga kamis 20 agustus 1998 mengaku belum menemukan satupun Korban dugaan kasus perkosaan massal.

KESIMPULAN

Perkosaan saat kerusuhan mei 98 memang ada…..tetapi ada usaha melakukan cerita2 bohong dengan photo2 palsu agar dunia melihat perkosaan itu sangat dahsyat.bahkan dengan tega mengarang cerita yang pencerita nya sendiri kabur dari tanggung jawab klarifikasi bahwa 5 pemerkosa meneriak kan Allahuakbar ketika memperkosa.entah apa tujuan nya para pembohong itu telah memberi gambaran bahwa perkosaan mei 98 sangat luar biasa sadis.ada upaya agar dunia memandang perkosaan mei sangat sadis luar biasa….Alhamdulillah makar bohong mereka terbongkar sudah.

ANSWERING-FF.ORG

Timbangan Agama-agama lewat pemikiran,analisa dan tulisan

KRISTOLOG.COM

Kajian Ilmiah Kristologi

Lampu Islam

Timbangan Agama-agama lewat pemikiran,analisa dan tulisan

SERANGAN BALIK UNTUK INDONESIA.FAITHFREEDOM.ORG (serbuiff)

Siap membombardir habis gembong IFF dan spesies lainnya yang sejenis

Answering Misionaris

Menjawab Fitnah terhadap Islam

Kerajaan Agama

http://kerajaanagama.wordpress.com/ 2009 - 2011

MUSLIM MENJAWAB TANTANGAN

[3:190] Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,

---PENGINJIL---

KRISTEN ADALAH PENERUS AGAMA PAGAN

Edyprayitno's sang Mualaf

FORUM DIALOG LESEHAN DAN KAJIAN KRISTOLOGI

Kristenisasi - Pemurtadan - Kristologi

A. AHMAD HIZBULLAH MAG's Blog