AKAR PENYEBAB KONFLIK PANJANG ARAB-ISRAEL

Imigran/Aliyah Yahudi ke palestina

Postingan kali ini saya hendak melacak akar persoalan konflik yahudi dan palestina hingga zaman kita kini.ternyata biang kerok konflik bermula dari Deklarasi balfour inggris yang menjanjikan negara dan tanah air bagi Yahudi Di palestina.berhubung banyak PEMBODOHAN di forum kaskus yang selalu menyudut kan palestina sebagai pihak bersalah maka saya menyusun postingan ini.banyak link yang tak saya matikan untuk anda bisa belajar lebih dalam.

JUMLAH PALESTINA DI BANDING YAHUDI

Tahun 1916 menandai empat abad sejak Palestina menjadi bagian dari Kekaisaran Utsmaniyah, yang juga dikenal sebagai Kekaisaran Turki.[36] Untuk sebagian besar periode ini, populasi Yahudi mewakili minoritas kecil, sekitar 3% dari seluruh penduduk, dengan kaum Muslim mewakili segmen terbesar dari populasi, dan Kristen yang kedua.[37]

Bangsa Turki mulai menerapkan pembatasan terhadap imigrasi Yahudi ke Palestina pada akhir 1882, dalam menanggapi dimulainya Aliyah Pertama pada tahun sebelumnya.[38] Meskipun imigrasi ini menciptakan sejumlah ketegangan tertentu dengan penduduk lokal, terutama kelas pedagang dan bangsawan, pada tahun 1901, Sublime Porte (pemerintahan pusat Utsmaniyah) memberikan Yahudi hak yang sama dengan orang Arab untuk membeli tanah di Palestina dan persentase Yahudi dalam populasi berkembang menjadi 7% pada 1914.[39]

Hanya 24,000 Yahudi yang bermukim di Palestina menjelang pembentukan Zionisme pada komunitas Yahudi di dunia pada dua dekade terakhir abad ke-19.[10]

“Non-Yahudi” terdiri dari 90% populasi Palestina;[200] dalam kata-kata Ronald Storrs, Gubernur Militer Yerusalem Britania antara 1917 dan 1920, komunitas mengamati bahwa mereka “tak disebutkan, entah itu Arab, Muslim atau Kristen

Komunitas Kristen dan Muslim lokal Palestina, yang terdiri dari hampir 90% populasi, sangat menentang deklarasi Balfour.[200]

PENAMAAN PALESTINA

Nama “Palestina” digunakan oleh penulis-penulis Yunani Kuno, dan kemudian digunakan untuk provinsi Romawi Syria Palaestina, provinsi Romawi Timur Palaestina Prima dan provinsi Umayyah dan Abbasiyah Jund Filastin. Wilayah ini juga dikenal sebagai Tanah Israel (bahasa Ibrani: ארץ־ישראל Eretz-Yisra’el),[1]Tanah Suci, Levant Selatan[2]Cisjordan, dan secara historis dikenal dengan nama-nama lainnya seperti Kanaan, Suriah Selatan dan Kerajaan Yerusalem.

Istilah Peleset (Transliterasi dari Hieroglif Mesir sebagai P-r-s-t) ditemukan di berbagai dokumen Mesir yang merujuk kepada sebuah bangsa atau tanah yang berdekatan, bermula dari sekitar tahun 1150 SM selama Dinasti kedua puluh Mesir. Penyebutan pertama diperkirakan ada di dalam teks-teks dari Kuil Medinet Habu, yang merekam sebuah bangsa yang disebut Peleset ada di antara Bangsa Laut, yang menyerbu Mesir pada masa berkuasanya Ramses III,[4]kemudian diikuti oleh sebuah ukiran pada Patung Padiiset. Orang Assyria menyebut wilayah ini sebagai Palashtu atau Pilistu, dimulai Adad-nirari III pada Lempeng Nimrod sekitar tahun 800 SM, sampai kaisar Sargon II, dalam hikayatnya sekitar 1 abad setelah Lempeng Nimrod.[5][6][7]

SIKAP LANCANG INGGRIS MENJANJIKAN TANAH BAGI YAHUDI YANG BUKAN MILIK MOYANG NYA

Deklarasi Balfour adalah sebuah pernyataan publik yang dikeluarkan oleh pemerintah Inggris saat Perang Dunia I yang mengumumkan dukungan untuk “tanah air untuk orang Yahudi” di Palestina, yang saat itu merupakan sebuah kawasan Utsmaniyah dengan populasi minoritas Yahudi. Deklarasi tersebut menyatakan:

Pemerintahan Sri Baginda memandang positif pendirian di Palestina tanah air untuk orang Yahudi, dan akan menggunakan usaha keras terbaik mereka untuk memudahkan tercapainya tujuan ini, karena jelas dipahami bahwa tidak ada suatupun yang boleh dilakukan yang dapat merugikan hak-hak penduduk dan keagamaan dari komunitas-komunitas non-Yahudi yang ada di Palestina, ataupun hak-hak dan status politis yang dimiliki orang Yahudi di negara-negara lainnya.

Deklarasi tersebut tercantum dalam sebuah surat tertanggal 2 November 1917 dari Menteri Luar Negeri Britania Raya Arthur Balfour kepada Lord Walter Rothschild, seorang pemimpin komunitas Yahudi Britania, untuk transmisi ke Federasi Zionis Britania Raya dan Irlandia. Teks deklarasi tersebut diterbitkan dalam pers pada 9 November 1917.

Waktu ada janji itu berapa prosentase penduduk yahudi dengan palestina?apakah tanah itu punya bapak moyang nya inggris hingga seenak nya di berikan?sementara tanah Yahudi adalah tanah beli yang tidak luas dan terpencar-pencar…bagai mana membuat negara nya?

INGGRIS BERUSAHA KERAS MEMBANTU BERDIRI NYA NEGARA ISRAEL

Kabinet Perang Britania mulai mengkondisikan masa depan Palestina yang menyusul deklarasi perang mereka terhadap Kekaisaran Utsmaniyah pada November 1914. Saat deklarasi tersebut dimajukan, perang yang lebih besar mencapai puncaknya,

Negosiasi tingkat tinggi pertama antara Inggris dan Zionis dapat diadakan dalam sebuah konferensi pada 7 Februari 1917 yang meliputi Sir Mark Sykes dan para pemimpin Zionis. Diskusi-diskusi berikutnya berujung pada permintaan Balfour, pada 19 Juni, dimana Rothschild dan Chaim Weizmann mengajukan sebuah kerangka dari deklarasi publik. Kerangka-kerangka lanjutan didiskusikan oleh Kabinet Inggris pada bulan September dan Oktober, dengan keterlibatan dari Yahudi Zionis dan anti-Zionis namun dengan tanpa perwakilan dari penduduk lokal di Palestina.

Pada tahun 1939, pemerintah Inggris menyadari bahwa pandangan penduduk lokal haruslah dicantumkan dalam catatan.

DEKLARASI BALFOUR BIANG KONFLIK ISRAEL PALESTINA HINGGA KINI

Deklarasi tersebut memiliki beberapa konsekuensi jangka panjang. Ini sangat meningkatkan dukungan populer untuk Zionisme, dan berujung pada pembentukan Mandat Palestina, yang kemudian menjadi Israel dan teritorial Palestina. Akibatnya, deklarasi tersebut dianggap menyebabkan konflik Israel-Palestina berkelanjutan, yang seringkali dianggap sebagai konflik paling berintrik di dunia. Kontroversi masih melingkupi sejumlah ranah, seperti apakah deklarasi tersebut berseberangan dengan janji-janji sebelumnya yang Inggris buat kepada Syarif Mekkah dalam korespondensi McMahon–Hussein.

Pada Oktober 1919, hampir setahun setelah akhir perang, Lord Curzon menggantikan Balfour pada jabatan Menteri Luar Negeri. Curzon telah menjadi anggota Kabinet tahun 1917 yang telah menyepakati deklarasi tersebut, dan menurut sejarawan Inggris Sir David Gilmour, Curzon telah menjadi “satu-satunya figur senior dalam pemerintahan Inggris pada masa itu yang memandang bahwa kebijakan tersebut akan berujung pada dekade-dekade pertikaian Arab-Yahudi”.[283]

Setelah Bonar Law dilantik menjadi Perdana Menteri pada akhir 1922, Curzon menulis kepada Law bahwa ia menganggap deklarasi tersebut sebagai komitmen Timur Tengah Inggris “terburuk” dan “sebuah kontradiksi keras dari prinsip-prinsip yang kita deklarasikan secara terbuka”.[285]

Pada Agustus 1920, laporan Komisi Palin, mula-mula dalam sebuah kalimat panjang dari Komisi Penyidikan Inggris tentang pertanyaan Palestina saat masa Mandat,[286] menyatakan bahwa “Deklarasi Balfour… tanpa diragukan adalah titik permulaan dari seluruh ketegangan”.

Opini masyarakat dan pemerintah Inggris menjadi makin tak senang dengan dukungan negara terhadap Zionisme; bahkan Sykes mulai mengubah pandangannya pada akhir 1918.[an]

Deklarasi tersebut memiliki dua akibat tak langsung, pendirian negara Yahudi dan keadaan kronis dari konflik antara Arab dan Yahudi di seluruh Timur Tengah.[320][321][322][323][324][325] Ini telah disebut sebagai “dosa asal” dari kegagalan Inggris di Palestina[326]

LORD PALMERSTON PENDUKUNG PENDIRIAN NEGARA ISRAEL DI INGGRIS

Dukungan politik Inggris awal untuk peningkatan keberadaan Yahudi di wilayah Palestina berdasarkan pada perhitungan geopolitik.[1][i] Dukungan ini dimulai pada awal 1840an[3] dan dipimpin oleh Lord Palmerston, setelah pendudukan Suriah dan Palestina oleh gubernur Utsmaniyah separatis Muhammad Ali dari Mesir.[4][5]

DUKUNGAN INGGRIS KARENA ROMANTISME TANAH PERJANJIAN

Konsiderasi politik tersebut didukung oleh sentimen Kristen injili simpatetik terhadap “restorasi Yahudi/ZIONISME KRISTEN ” ke Palestina di kalangan elit politik Inggris pertengahan abad ke-19 – terutama Lord Shaftesbury.[ii]

Paus mengekspresikan simpati dan dukungan besar terhadap proyek Zionis.[112][xiii]

Di Swiss, sejumlah sejarawan terkenal yang meliputi profesor Tobler, Forel-Yvorne, dan Rogaz, mendukung gagasan pendirian negara Yahudi, dengan salah satunya menyebutnya sebagai “hak keramat Yahudi.”[160]

Herbert Samuel, anggota parlemen Zionis yang memorandum tahun 1915 buatannya telah mulai didiskusikan dalam Kabinet Inggris, dibujuk oleh Lloyd George pada 24 April 1920 untuk bertindak sebagai gubernur sipil Palestina Britania pertama, menggantikan pemerintahan militer sebelumnya yang telah memerintah kawasan tersebut sejak perang.[239] Tak lama setelah memulai jabatannya pada Juli 1920, ia diundang untuk membacakan haftarah dari Yesaya 40 di Sinagoga Hurva di Yerusalem,[240] yang, menurut memoirnya, memimpin kongregasi para pemukim lama untuk merasakan “pemenuhan nubuat kuno yang telah berada di tangan”.[al][242]

Pada 1922, Kongres resmi memajukan dukungan Amerika untuk Deklarasi Balfour melalui pengesahan Resolusi Lodge-Fish,[132][267][268] meskipun mendapatkan penentangan dari Departemen Negara.[269] Profesor Lawrence Davidson, dari West Chester University, yang risetnya berfokus pada hubungan Amerika dengan Timur Tengah, berpendapat bahwa Presiden Wilson dan Kongres menghiraukan nilai-nilai demokratis daalam menyanjung “romantisisme biblikal” saat mereka mendukung deklarasi tersebut.[270]

INGGRIS MENDORONG EMIGRASI YAHUDI KE PALESTINA

Kantor Luar Negeri Inggris aktif mendorong emigrasi Yahudi ke Palestina, contohnya pernyataan Charles Henry Churchill pada tahun 1841–1842 kepada Moses Montefiore, pemimpin komunitas Yahudi Britania.[8][a]

ALIYAH PERTAMA YAHUDI DAN PEMBATASAN IMIGRASI YAHUDI OLEH OTTOMAN

Aliyah Pertama (juga Aliyah Agribudaya) adalah sebuah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan arus besar imigrasi Zionis ke kawasan yang sekarang menjadi wilayah Israel (aliyah) antara 1882 dan 1903.[1][2]Yahudi yang berimigrasi ke Palestina Utsmaniyah dalam arus ini sebagian besar datang dari Eropa Timur dan dari Yaman. Sekitar 25,000[3]–35,000[4] Yahudi berimigrasi ke Palestina Utsmasniyah pada Aliyah Pertama. Diperkirakan antara 40% sampai 90% imigran tersebut meninggalkan Palestina kembali, sebagian besar beberapa tahun setelah kedatangan mereka. Karena terdapat juga imigrasi ke Palestina pada tahun-tahun sebelumnya, istilah Aliyah Pertama sanagt dikritik oleh beberapa sarjana.

Bangsa Turki mulai menerapkan pembatasan terhadap imigrasi Yahudi ke Palestina pada akhir 1882, dalam menanggapi dimulainya Aliyah Pertama pada tahun sebelumnya.[38]

Setelah Aliyah pertama mengalir banyak Aliyah Yahudi lain nya menuju palestina.

Aliyah pertama

Antara 1882 dan 1903, kira-kira 35.000 orang Yahudi berimigrasi ke Palestina.

Mayoritas dari mereka tergolong dalam gerakan Zion Hovevei dan Bilu, yang berasal dari Eropa Timur sementara dalam jumlah yang lebih kecil datang dari Yemen. Banyak yang membangun komunitas-komunitas pertanian (lihat kibbutz dan moshav). Koperasi-koperasi petani menghadapi kesulitan-kesulitan yang serius sebagian karena kurangnya pengalaman pertanian. Di antara kota-kota yang didirikan oleh orang-orang ini adalah Rishon LeZionRosh Pina, dan Zikhron Ya’aqov. Pada 1882, orang Yahudi Yemen membangun sebuah suburban baru Yerusalem yang dinamai Perkampungan Yemen di Silwan yang terletak di timur tembok Kota Lama di kaki Bukit Zaitun.

Kira-kira setengah dari 35.000 orang yang tinggal pada akhir periode ini.

Aliyah kedua

Antara 1904 dan 1914, 40.000 orang Yahudi berimigrasi terutama dari Rusia ke Palestina setelah pogrom dan meletusnya gerakan anti-Semitisme di negara itu. Kelompok ini, banyak di antaranya dipenuhi dengan gagasan-gagasan sosialis, mendirikan kibbutz yang pertama, Degania, pada 1909 dan membentuk organisasi-organisasi pertahanan diri, seperti Hashomer, untuk menghadapi sikap permusuhan yang kian meningkat dari orang-orang Arab dan pencurian harta benda. Suburban Jaffa, Ahuzat Bayit, didirikan pada waktu ini, yang kemudian berkembang menjadi kota Tel Aviv.

Aliyah ketiga

Antara 1919 dan 1923, 40.000 orang Yahudi, terutama dari Eropa Timur tiba pada masa menjelang Perang Dunia I; penaklukan Palestina oleh Britania; pembentukan Mandat; dan Deklarasi Balfour. Banyak dari orang-orang ini adalah para pionir, yang dikenal sebagai halutzim. Mereka terlatih dalam pertanian dan sanggup membentuk ekonomi yang swadaya. Meskipun terdapat kuota imigrasi yang ditetapkan oleh pemerintah Britania, jumlah orang Yahudi mencapai 90.000 orang pada akhir periode ini. Rawa-rawa lembah Yizrel dan dataran Hefer dikeringkan dan diubah untuk dimanfaatkan sebagai tanah pertanian. Lembaga-lembaga nasional lainnya bermunculan: Histadrut (Federasi Buruh Umum); sebuah parlemen terpilih; dan Haganah.

Sedikit saja dari orang-orang ini yang meninggalkan Israel.

Aliyah ke empat

Antara 1924 dan 1929, 82.000 orang Yahudi tiba, banyak di antaranya sebagai akibat dari anti-Semitisme di Polandia dan Hongaria. Kuota imigrasi Amerika Serikat mencegah datangnya orang Yahudi. Kelompok ini terdiri atas banyak keluarga kelas menengah yang pindah ke kota-kota yang bertumbuh, membangun usaha-usaha kecil dan industri ringan.

Dari orang-orang ini sekitar 23.000 meninggalkan Israel.

Aliyah kelima

Antara 1929 dan 1939, dengan bangkitnya Naziisme di Jerman, sebuah gelombang baru yang terdiri dari 250.000 orang imigran tiba, mayoritas daripadanya, 174.000 orang, tiba antara 1933-1936, setelah itu pembatasan imigrasi yang kian meningkat oleh pemerintah Britania membuat imigrasi gelap dan ilegal, yang disebut Aliyah Bet. Aliyah Pertama kembali didorong terutama dari Eropa Timur serta kaum professional, dokter, pengacara dan profesor, dari Jerman. Para seniman pengungsi memperkenalkan Bauhaus (Tel Aviv mempunyai konsentrasi arsitektur Bauhaus tertinggi di dunia) dan mendirikan Orkestra Filharmonik Palestina. Dengan diselesaikannya pelabuhan di Haifa dan pengilangan minyaknya, industri penting ditambahkan ke ekonomi yang terutama bersifat pertanian. Penduduk Yahudi mencapai 450.000 orang pada 1940.

Pada saat yang sama, ketegangan antara orang-orang Arab dan orang Yahudi berkembang pada masa ini, menyebabkan timbulnya serangkaian kerusuhan Arab terhadap orang Yahudi pada 1929 yang menyebabkan banyak orang yang meninggal dan menurunnya populasi komunitas Yahudi di Hebron. Hal ini diikuti oleh lebih banyak kekerasan pada “Kebangkitan Besar” pada 1936-1939. Sebagai jawaban terhadap tekanan Arab, Britania menerbitkan Buku Putih 1939, yang dengan ketat membatasi imigrasi Yahudi hingga 75.000 orang selama lima tahun, tepat ketika Perang Dunia II akan dimulai.

Aliyah Bet

Pemerintah Britania membatasi imigrasi Yahudi ke Palestina dengan kuota, dan setelah berkuasanya Naziisme di Jerman, imigrasi ilegal ke Palestina berlanjut. Imigrasi ilegal ini dikenal sebagai Aliyah Bet (“imigrasi sekunder”), atau Ha’apalah, dan diorganisasikan sebuah lembaga Zionis yang belakangan menjadi Mossad, serta oleh Irgun. Imigrasi dilakukan terutama lewat laut, dan pada tingkat yang lebih sedikit lewat jalan darat melalui Irak dan Suriah. Mulai pada 1939 imigrasi Yahudi dibatasi lebih sedikit lagi, dengan memberikan izin hanya kepada 75.000 individu untuk masa lima tahun dan sesudah itu imigrasi harus sama sekali dihentikan. Britania menjadikan penjualan tanah kepada orang Yahudi ilegal di 95% dari wilayah Mandatnya. Pada Perang Dunia II dan tahun-tahun setelah itu hingga kemerdekaan, Aliyah Bet menjadi bentuk utama dari imigrasi Yahudi ke Palestina. Setelah perang, Berihah (“pelarian”), sebuah organisasi dari bekas partisan dan para pejuang Ghetto Warsawa terutama bertanggung jawab dalam menyelundupkan orang-orang Yahudi dari Polandia dan Eropa Timur ke pelabuhan-pelabuhan Italia dan dari sana mereka pergi ke Palestina.

Meskipun Britania berusaha mencegah imigrasi ilegal, pada masa 14 tahun berooperasinya, 110.000 orang Yahudi berimigrasi ke Palestina.

Imigrasi 1948-1950

Setelah Aliyah Bet, proses penghitungan atau penamaan masing-masing Aliyah berhenti, namun imigrasi tetap berlangsung. Sebuah gelombang besar imigrasi yang terdiri dari setengah juta orang Yahudi datang ke Israel antara 1948 dan 1950, banyak di antaranya melarikan diri dari penganiayaan yang baru terjadi lagi di Eropa Timur, dan negara-negara Arab yang semakin bermusuhan.

Imigrasi Yahudi Timur tengah

Dalam perjalanan Operasi Karpet Ajaib (1949-1950), seluruh komunitas orang Yahudi Yemen (sekitar 49.000 orang) beremigrasi ke Israel. Kebanyakan dari mereka belum pernah melihat pesawat terbang sebelumnya, tetapi mereka percaya akan nubuat al bahwa menurut Kitab Yesaya (40:31), Allah berjanji untuk mengembalikan anak-anak Israel ke Sion dengan “sayap”.

Pengungsi Yahudi dalam jumlah besar untuk sementara waktu dimukimkan di “kota-kota tenda” yang dinamai Ma’abarot. Populasi mereka perlahan-lahan diserap ke dalam masyarakat Israel. Ma’abarot bertahan hingga 1958.

Banyak imigran Israel adalah orang-orang Sephardi dan orang Yahudi Mizrahi yang meninggalkan negara-negara Arab untuk pindah ke Israel. Dalam banyak kasus, mereka telah mengalami penganiayaan dan kadang-kadang dipaksa untuk meninggalkan rumah-rumah mereka. Sejumlah 114.000 orang Yahudi dating dari Irak pada 1951 dalam Operasi Ezra dan Nehemiah.

Lebih dari 30.000 orang Yahudi Iran berimigrasi ke Israel setelah terjadinya Revolusi Islam. Namun, kebanyakan orang Yahudi Iran menetap di Amerika Serikat (khususnya di Los Angeles, California).

Aliyah Etopia

Pengangkutan besar-besaran lewat udara yang dikenal sebagai Operasi Moses mulai mengangkut orang Yahudi Ethiopia keluar ke Israel pada 18 November 1985 dan berakhir pada 5 Januaryi. Selama enam minggu itu, sekitar 6.500-8.000 orang Yahudi Ethiopia diterbangkan dari Sudan ke Israel. Diperkirakan 2.000-4.000 orang Yahudi meninggal dalam perjalanan ke Sudan atau di kamp-kamp pengungsi Sudan.

Pada 1991, Operasi Salomo dilaksanakan untuk membebaskan orang Yahudi Beta Israel dari Ethiopia. Dalam satu hari, 24 Mei, 34 pesawat mendarat di Addis Ababa dan membawa 14.325 orang Yahudi dari Ethiopia ke Israel.

Sejak waktu itu, orang Yahudi Ethiopia terus berimigrasi ke Israel dan mengakibatkan jumlah orang Israel- Ethiopia sekarang hampir 100.000 orang.

Aliyah Russia

Setelah peristiwa pembajakan Dymshits-Kuznetsov dan tindakan-tindakan tegas yang mengikutinya, kutukan internasional yang keras, menyebabkan pemerintah Soviet meningkatkan kuota emigrasi. Pada tahun 1960-1970, Uni Soviet hanya mengizinkan 4.000 orang yang pergi; pada dasawarsa berikutnya, jumlah itu meningkat hingga 250.000 orang [1]. Banyak dari mereka yang diizinkan pergi ke Israel memilih tujuan-tujuan lain, terutama Amerika Serikat. Pada 1989 sejumlah 71.000 orang Yahudi Soviet diberikan izin keluar dari Uni Soviet – jumlah tertinggi yang pernah ada hingga waktu itu. Namun hanya 12.117 yang berimigrasi ke Israel. Sejak pembubaran Uni Soviet, lebih dari satu juta orang Yahudi Soviet telah beremigrasi ke Israel. Lihat Runtuhnya Uni Soviet dan emigrasi Yahudi ke Israel dan amendemen Jackson-Vanik.

Aliyah India

Sejak pertengahan tahun 1990-an, telah terjadi arus yang tetap dari orang-orang Yahudi, Afria Selatan orang Yahudi Amerika, dan orang Yahudi Prancis yang melakukan aliyah, atau membeli properti di Israel untuk kemungkinan imigrasi pada masa depan. Khususnya banyak orang Yahudi Prancis yang telah membeli rumah-rumah di Israel sebagai jaminan karena meningkatnya anti-Semitisme di Prancis dalam tahun-tahun belakangan.

Orang Yahudi Bnei Menashe dari India, yang baru belakangan ini ditemukan dan diakui oleh Yudaisme arus utama sebagai keturunan dari Sepuluh Suku yang Hilang, pelan-pelan mulai melakukan Aliyah mereka pada awal tahun 1990-an dan terus berdatangan dalam jumlah kecil.

Organisasi-organisasi seperti Nefesh b’Nefesh dan Shavei Israel menolong dengan aliyah dengan cara memberikan bantuan keuangan dan bimbingan dalam berbagai topik, seperti misalnya mencari pekerjaan, belajar bahasa Ibrani, dan asimilasi ke dalam budaya Israel.

Aliyah Argentina

Dalam krisis politik dan ekonomi Argentina 1999-2002 yang menyebabkan bank-bank diserbu, sehingga menghabiskan milyaran dolar deposit dan melumpuhkan kelas menengah negara itu, kebanyakan dari orang Yahudi Argentina yang diperkirakan mencapai 200.000 orang, terkena pengaruhnya secara langsung. Banyak dari mereka yang memilih untuk memulai hidup baru dan pindah ke Israel, di mana mereka melihat ada kesempatan..

Lebih dari 10.000 orang Yahudi dari Argentina berimigrasi ke Israel sejak 2000, bergabung dengan ribuan olim yang sudah ada di sana sebelumnya. Meskipun ekonomi Argentina telah membaik, orang Yahudi terus berimigrasi ke Israel dalam jumlah yang lebih kecil daripada yang sebelumnya.

Aliyah Prancis

Dengan dimulainya intifada di Israel, orang Yahudi di Prancis juga mulai merasakan gerahnya. Dengan insiden-insiden seperti pembakaran sinagoga, pemukulan terhadap siapapun yang kelihatan Yahudi, dan dalam beberapa kasus bahkan pembunuhan, kejadian-kejadian antiSemit kian meningkat hingga jumlah yang tidak pernah terjadi sebelumnya di Prancis sejak Perang Dunia II. Meskipun komunitas Muslim di Prancis sendiri pada umumnya dipersalahkan atas anti-Semitisme, orang Yahudi sering mengeluh bahwa penduduk Prancis pada umumnya bersikap pro-Palestina dan anti-Israel, dan bahwa polisi bersikap lunak terhadap para pelaku anti-Semitisme. Dengan bertambahnya populasi Muslim dan Arab di Prancis, orang Yahudi merasa terancam dan gelisah. Aliyah menjadi prioritas bagi banyak orang Prancis, khususnya orang-orang muda yang umumnya sangat Zionis.

Pada periode 2000–2005, 11.148 orang Yahudi melakukan Aliyah dari Prancis. Termasuk aliyah dalam jumlah tertinggi dalam masa 35 tahun pada 2005, dengan 3.300 orang imigran.

Aliyah Amerika Utara

Ada kira-kira 110.000 imigran Amerika Utara di Israel. Sejak terbentuknya Israel pada 1948, telah terjadi arus yang tetap dari para olim dari Amerika Utara. Jumlah mereka yang tiba mencapai rekornya pada akhir tahun 1960-an setelah Perang Enam Hari, dan pada 1970-an. Banyak imigran mulai tiba di Israel setelah intifada, dengan jumlah keseluruhan 3.052 yang tiba pada tahun 2005 – jumlah tertinggi sejak 1983.

Berbeda dengan olim yang lain, orang-orang Amerika Utara cenderung berimigrasi ke Israel lebih untuk maksud-maksud keagamaan dan politik, dan bukan karena alasan finansial, karena banyak dari mereka sudah cukup mapan.

THEODOR  HERZL IDE NEGARA YAHUDI UNTUK MENYELESAI KAN PERSOALAN YAHUDI

Pada 1896, Theodor Herzl, seorang jurnalis Yahudi yang tinggal di Austria-Hongaria, menerbitkan teks fundasional dari Zionisme politik, Der Judenstaat (“Negara Yahudi”), dimana ia menyatakan bahwa satu-satunya solusi untuk “Pertanyaan Yahudi” di Eropa, termasukl berkembangnya anti-Semitisme, adalah pendirian sebuah negara bagi Yahudi.[16][17] Setahun kemudian, Herzl mendirikan Organisasi Zionis, yang kongres pertamanya menyerukan pendirian “sebuah tanah air bagi orang Yahudi di Palestina seturut di bawah hukum publik”. Ukuran-ukuran yang diproporsalkan untuk meraih tujuan tersebut meliputi promosi pemukiman Yahudi disana, organisasi Yahudi di diaspora, memperkuat rasa dan hati nurani Yahudi, dan langkah persiapan untuk meraih pemberian pemerintah yang dibutuhkan.[17] Herzl meninggal pada tahun 1904 tanpa meraih pendirian politik yang diminta pada agenda nya

Pemimpin Zionis Chaim Weizmann, saat itu Presiden Organisasi Zionis Sedunia, berpindah dari Swiss ke Inggris pada tahun 1904 dan bertemu Arthur Balfour – yang meluncurkan kampanye pemilihan tahun 1905–1906 setelah mengundurkan diri dari jabatan Perdana Menteri[18] – dalam sebuah sesi yang diadakan oleh Charles Dreyfus, perwakilan konstituensi Yahudi-nya.[vi] Pada tahun sebelumnya, Balfour berhasil memajukan Aliens Act melalui Parlemen dengan pidato-pidato bersemangat terkait kebutuhan untuk membatasi arus imigrasi ke Britania terhadap Yahudi yang lari dari Kekaisaran Rusia.[20][21]

UGANDA TANAH AIR YAHUDI

Weizmann MENGUSUL KAN  Skema Uganda  tahun 1903 yang Herzl dukung untuk menyediakan sebuah wilayah Afrika Timur Britania kepada orang Yahudi sebagai tanah air. Skema tersebut, yang diusulkan kepada Herzl oleh Joseph Chamberlain, Menteri Kolonial dalam Kabinet Balfour, menyusul kunjungannya ke Afrika Timur sebelum tahun tersebut,[vii] kemudian diurungkan setelah Herzl wafat oleh Kongres Zionis Ketujuh pada tahun 1905[viii] setelah dua tahun perdepatan panas di Organisasi Zionis.[24]Weizmann menganggapi bahwa ia meyakini bahwa Inggris adalah untuk London seperti halnya Yahudi adalah untuk Yerusalem.[b]

BARON EDMOND DE ROTHSCHILD MEMBIAYAI ALIYAH PERTAMA YAHUDI

Pada Januari 1914, Weizmann pertama kali bertemu Baron Edmond de Rothschild, seorang anggota cabang Perancis dari keluarga Rothschild dan bagian utama dari gerakan Zionis,[26] dalam hubungannya dengan sebuah proyek untuk membangun sebuah universitas Ibrani di Yerusalem.[26] Baron tersebut bukanlah bagian dari Organisasi Zionis Sedunia, namun telah mendanai koloni-koloni pertanian Yahudi dari Aliyah Pertama dan mentransfer mereka ke Asosiasi Kolonisasi Yahudi pada tahun 1899.[27]

IMIGRASI YAHUDI MEMICU KETEGANGAN DENGAN PENDUDUK LOKAL DAN OTTOMAN MEMBOLEH KAN YAHUDI MEMBELI TANAH PALESTINA

Bangsa Turki mulai menerapkan pembatasan terhadap imigrasi Yahudi ke Palestina pada akhir 1882, dalam menanggapi dimulainya Aliyah Pertama pada tahun sebelumnya.[38] Meskipun imigrasi ini menciptakan sejumlah ketegangan tertentu dengan penduduk lokal, terutama kelas pedagang dan bangsawan, pada tahun 1901, Sublime Porte (pemerintahan pusat Utsmaniyah) memberikan Yahudi hak yang sama dengan orang Arab untuk membeli tanah di Palestina dan persentase Yahudi dalam populasi berkembang menjadi 7% pada 1914.[39]

INGGRIS MENGHASUT HUSAIN BIN ALI,SYARIF MEKKAH MEMBERONTAK PADA OTTOMAN

Pada akhir 1915, Komisioner Tinggi Inggris untuk MesirHenry McMahonberbalas sepuluh surat dengan Hussein bin Ali, Syarif Makkah, dimana ia berjanji kepada Hussein untuk mengakui kemerdekaan Arab “dalam batas dan perbatasan yang dicanangkan oleh Syarif Makkah” sebagai balasan atas peluncuran pemberontakan oleh Hussein melawan Kekaisaran Utsmaniyah. Kesepakatan tersebut mengekecualikan “bagian-bagian Suriah” yng terbentang di barat “distrik-distrik Damaskus, Homs, Hamat dan Aleppo”.[62][h] Dalam berdekade-dekade setelah perang, keberadaan eksklusi pesisirnya sangat dipersengketakan[64] karena Palestina terbentang di barat daya Damaskus dan tak secara khusus disinggung.[62]

Pemberontakan Arab diluncurkan pada 5 Juni 1916,[67] atas dasar perjanjian quid pro quo dalam korespondensi tersebut.[68] Namun, kurang dari tiga pekan sebelum pemerintah Britania Raya, Perancis dan Rusia diam-diam mengadakan Perjanjian Sykes–Picot, yang Balfour kemudian sebut sebagai “seluruh metode baru” untuk membagi kawasan tersebut, setelah perjanjian tahun 1915 tersebut “nampak terlupakan”.[j]

EKSPANSI INGGRIS KE PALESTINA

Dua tahun setelah menjabat, Lloyd George berkata kepada Jenderal RobertsonKepala Staf Umum Kekaisaran, bahwa ia ingin kemenangan besar, terutama untuk merebut Yerusalem, untuk menekan opini publik Inggris,[84] dan berkonsultasi dengan Kabinet Perang-nya tentang “kampanye lanjutan ke Palestina saat El Arish telah diamankan.”[85]Penekanan selanjutanya dari Lloyd George, atas penyajian Robertson, dihasilkan dalam perebutan kembali Sinai untuk Mesir yang dikuasai Inggris, dan, dengan perebutan El Arish pada Desember 1916 dan Rafah pada Januari 1917, kedatangan pasukan Inggris di perbatasan selatan Kekaisaran Utsmaniyah.[85] Setelah dua upaya untuk merebut Gaza gagal antara 26 Maret dan 19 April, enam bulan remis di Palestina Selatan dimulai;[86] Kampanye Sinai dan Palestina tak membuat proses apapun terhadap Palestina sampai 31 Oktober 1917.[87]

Pada Mei dan Juni 1917, Perancis dan Italia mengirim detasemen untuk mendukung Inggris saat mereka menghimpun pasukan mereka dalam persiapan untuk serangan pembaruan di Palestina.[100][101]

Gaza dan Jaffa jatuh dalam beberapa hari, dan Yerusalem menyerah kepada Inggris pada 9 Desember.[87]

RENCANA MENDIRIKAN NEGARA TERPISAH DI PALESTINA

Pakar traktat David Hunter Miller, yang berada di konferensi tersebut dan kemudian mengkompilasikan komnedium dokumen 22 volume, menyediakan sebuah laporan dari Seksi Intelijensi Delegasi Amerika kepada Konferensi Perdamaian Paris 1919 yang merekomendasikan agar “mendirikan sebuah negara terpisah di Palestina”, dan bahwa “ini akan menjadi kebijakan Liga Bangsa-Bangsa untuk mengakui Palestina sebagai negara Yahudi, sehingga ini menjadi negara Yahudi pada kenyataannya.”[160][161] Laporan tersebut kemudian menasehati agar sebuah negara Palestina independen di bawah mandat Liga Bangsa-Bangsa Britania dibentuk. Pemukiman Yahudi akan diijinkan dan didorong di negara ini dan tempat-tempat suci di negara ini akan berada di bawah kontrol Liga Bangsa-Bangsa.[161]Selain itu, penyidikan menyatakan secara positif tentang kemungkinan negara Yahudi yang kemudian dibuat di Palestina jika demografi yang dibutuhkan untuk hal ini ada.[161]

TANAH YUDEA UNTUK YAHUDI

Pada 2 Desember 1917, Lord Robert Cecil membujuk audien agar pemerintah secara penuh menyatakan bahwa “Yudea [adalah] untuk Yahudi,”[160]. Yair Auron berpendapat bahwa Cecil, saat itu deputi Kementerian Luar Negeri mewakili Pemerintah Inggris di sebuah pertemuan selebratori dari Federasi Zionis Inggris, “mungkin datang melampaui pernyataan resminya” dalam perkataan (ia mengutip Stein) “Harapan kami adalah agar negara-negara Arab harus untuk orang Arab, Armenia untuk orang Armenia dan Yudea untuk orang Yahudi”·[163]

CHAMBERLAIN DAN CHURCHIL MENDUKUNG PENDIRIAN NEGARA YAHUDI

Pada Oktober berikutnya, Neville Chamberlain, saat mengetuai pertemuan Zionis, mendiskusikan sebuah “Negara Yahudi baru.”[160] Pada masa itu, Chamberlain menjadi Anggota Parlemen untuk Ladywood, Birmingham; menyerukan kembali acara tersebut pada tahun 1939, terpat setelah Chamberlain meraih kesepakatan Makalah Putih tahun 1939, Agensi Telegraf Yahudi menyatakan bahwa Perdana Menteri telah “mengalami perubahan pikiran yang diumumkan dalam 21 tahun keikutsertaan”[164] Setahun kemudian, pada peringatan kedua Deklarasi tersebut, Jenderal Jan Smuts   berkata bahwa Inggris “akan menebut janjinya … dan sebuah negara Yahudi besar akan mutlak bangkit.”[160] Dalam pernyataan serupa, Churchill beberapa bulan kemudian menyatakan:

Jika, seperti yang telah terjadi, itu harus dibuat dalam masa hidup kami sendiri lewat tepi-tepi Yordan sebuah Negara Yahudi di bawah perlindungan Takhta Inggris yang akan terdiri dari tiga atau empat juta Yahudi, sebuah peristiwa yang akan terjadi dalam sejarah dunia yang akan dari setiap sudut pandang bermanfaat.[165]

Merujuk kepada Makalah Putih tahun 1922 buatannya, Churchill kemudian menulis bahwa “tak ada yang melarang pendirian mutlak Negara Yahudi.”[183] Dan secara pribadi, beberapa pejabat Inggris bersepakat dengan penafsiran Zionis bahwa sebuah negara akan didirikan saat mayoritas Yahudi diraih.[184]

YUNANI MENDUKUNG PENDIRIAN NEGARA YAHUDI

Menteri Luar Negeri Yunani berkata kepada penyunting badan Yahudi Salonica Pro-Israel bahwa “pendirian Negara Yahudi datang ke Yunani dengan simpati yang penuh dan mendalam … Palestina Yahudi akan menjadi sekutu Yunani.”[160]

CHURCHIL TAK BERMAKSUD MENJADIKAN SEMUA PALESTINA YAHUDI?

Pemerintah Inggris, termasuk Churchill, jelas menyatakan bahwa Deklarasi tersebut tak ditujukan agar seluruh Palestina berubah menjadi Tanah Air Yahudi, “namun Tanah Air harus didirikan di Palestina.”[xix] [xxi]

PERJANJIAN EMIR FAISAL DAN WEIZMANN DAN PERSOALAN KE OTENTIKAN

Emir Faisal, Raja Suriah dan Irak, membuat perjanjian formal tertulis dengan pemimpin Zionis Chaim Weizmann, yang dirancang oleh T.E. Lawrence, dimana mereka berupaya untuk menjalin hubungan damai antara orang Arab dan orang Yahudi di Palestina.[174] Perjanjian Faisal–Weizmann 3 Januari 1919 merupakan perjanjian jangka pendek untuk kerjasama Arab-Yahudi pada pembangunan tanah air Yahudi di Palestina.[w] Faisal memperlakukan Palestina secara berbeda dalam presentasinya di Konferensi Perdamaian pada 6 Februari 1919 dengan berkata “Palestina, untuk karakter universalnya, [harus] ditinggalkan di satu sisi untuk konsiderasi menguntungkan dari seluruh pihak yang menyorotinya”.[176][177] Perjanjian tersebut tak pernah diterapkan.[x] Dalam surat lanjutan yang ditulis dalam bahasa Inggris oleh Lawrence untuk penandatanganan Faisal, ia menjelaskan:

Kami merasa bahwa orang Arab dan Yahudi adalah sepupu dalam hal ras, menghadapi tekanan yang sama di tangan kekuatan yang lebih kuat ketimbang diri mereka sendiri, dan dengan keadaan bahagia dapat mengambil langkah pertama menuju keadaan ideal nasional mereka bersama. Kami orang Arab, secara khusus orang terdidik diantara kami, memandang dengan simpati mendalam terhadap gerakan Zionis …Kami akan melakukan hal terbaik kami, sejauh kami mampu, untuk membantu mereka; kami akan mengharapkan Yahudi sebuah rumah penyambutan yang sangat berhati.[174]

Saat surat tersebut dimasukkan ke Komisi Shaw pada 1929, Rustam Haidar berbincang dengan Faisal di Baghdad dan menyatakan bahwa Faisal “tak merekoleksi apapun yang ia tulis dari pernyataan tersebut”.[180] Pada Januari 1930, Haidar menulis kepada sebuah surat kabar di Baghdad bahwa Faisal: “menemukannya nampak aneh bahwa materi semacam itu diatributkan kepadanya karena ia tak ada waktu yang dapat mengkondisikan perijinan bangsa asing apapun untuk berbagi dalam sebuah negara Arab“.[180] Awni Abd al-Hadi, sekretaris Faisal, menulis dalam memoirnya bahwa ia tak menyadari bahwa pertemuan antara Frankfurter dan Faisal terjadi dan bahwa: “Aku meyakini bahwa surat ini, anggaplah otentik, ditulis oleh Lawrence, dan bahwa Lawrence menandatanganinya dalam bahasa Inggris atas perantaraan Faisal. Aku meyakini surat ini adalah bagian dari klaim palsu buatan Chaim Weizmann dan Lawrence untuk memelencengkan opini publik.[180] Menurut Allawi, penjelasan paling nampak untuk surat Frankfurter adalah sebuah pertemuan terjadi, sebuah surat dirancang dalam bahasa Inggris oleh Lawrence, namun bahwa “isinya tak secara keseluruhan dibuat jelas kepada Faisal. Ia kemudian mungkin atau mungkin tidak diinduksikan untuk menandatanganinya”, sejak itu dijalankan untuk melawan pernyatana pribadi dan publik lain dari Faisal pada masa itu.[181] Sebuah wawancara 1 Maret oleh Le Matin mengutip Faisal berkata:

Rasa hormat ini untuk agama lain mengarahkan opiniku tentang Palestina, tetangga kami. Bahwa Yahudi tak bahagia datang untuk bermukim disana dan berlagak sebagai warga yang baik dari negara ini, kemanusiaan kami sontak memberikan mereka tempat di bawah pemerintahan Muslim atau Nasrani yang dimandatkan oleh Liga Bangsa-Bangsa. Jika mereka ingin menghimpun sebuah negara dan mengklaim hak kedaulatan di wilayah tersebut, aku menganggapnya bahaya yang sangat serius. Ini dikhawatirkan akan menjadi konflik antara mereka dan ras lainnya.[182][y]

CAKUPAN TANAH AIR YAHUDI DI PALESTINA

Pernyataan bahwa tanah air semacam itu akan ditemukan “di Palestina” ketimbang “dari Palestina” juga dipersengketakan.[xxiii] Rancangan yang diproposalkan dari deklarasi tersebut berisi surat 12 Juli Rothschild kepada Balfour merujuk kepada prinsip “bahwa Palestina harus direkonstitusikan sebagai Tanah Air Orang Yahudi.”[191] Dalam teks akhir, mengikuti amandemen Lord Milner, kata “rekonstitusi” dihilangkan dan kata “itu” digantikan dengan “di”.[192][193]

Sehingga, teks ini menghindari komitmen seluruh Palestina sebagai Tanah Air Orang Yahudi, menimbulkan kontroversi pada tahun-tahun mendatang atas cangkupan yang dituju.[139][192] Ini diklarifikasi oleh Makalah Putih Churchill 1922, yang menyatakan bahwa “istilah-istilah dari deklarasi tersebut merujuk kepada perlakuan tak kontemplasi bahwa Palestina secara keseluruhan harus berubah menjadi Tanah Air Yahudi, namun bahwa Tanah Air semacam itu harus didirikan ‘di Palestina.'”[194]

Deklarasi tersebut tak meliputi perbatasan geografi apapun untuk Palestina.[195] Setelah akhir perang, tiga dokumen – deklarasi tersebut, Korespondensi Hussein-McMahon dan Perjanjian Sykes-Picot – menjadi dasar untuk negosiasi untuk merancang perbatasan Palestina.[196]

YAHUDI ANTI ZIONISME

pada akhir Agustus oleh Edwin Samuel Montagu, seorang Yahudi anti-Zionis berpengaruh dan Sekretaris Negara untuk India. dan satu-satunya anggota Yahudi dari Kabinet Inggris, yang menulis sebuah memorandum Kabinet bahwa: “Kebijakan Pemerintah Sri Baginda mengakibatkan anti-Semitik dan akan menimbulkan dasar bagi anti-Semitik di setiap negara di dunia.”[223]

RASA SYUKUR YAHUDI PADA DEKLARASI BALFOUR

Dari 1918 sampai Perang Dunia II, Yahudi di Mandat Palestina merayakan Hari Balfour sebagai hari libur nasional tahunan pada 2 November.[235] Selebrasi-selebrasi tersebut meliputi upacara-upacara di sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga masyarakat lainnya dan artikel-artikel yang menyanjungnya dalam pers Ibrani.[235] Pada Agustus 1919, Balfour menyepakati permintaan Weizmann untuk menamai sebuah pemukiman pasca-perang pertama di Mandat Palestina, “Balfouria“, dalam menghormatinya.[236][237]

PENENTANGAN PENDUDUK PALESTINA NON YAHUDI PADA DEKLARASI BALFOUR

Komunitas Kristen dan Muslim lokal Palestina, yang terdiri dari hampir 90% populasi, sangat menentang deklarasi tersebut.[200]

Menurut Komisi King-Crane 1919, “Tak ada pejabat Inggris, yang dikonsultasikan oleh para Komisioner, yang meyakini bahwa program Zionis dapat dibawakan oleh sepasukan bersenjata.”[244] Seorang delegasi dari Asosiasi Muslim-Kristen, yang dikepalai oleh Musa al-Husayni, mengekspresikan ketidaksetujuan publik pada 3 November 1918, sehari setelah pawai Komisi Zionis menandai peringatan pertama Deklarasi Balfour.[245] Mereka menyerahkan sebuah petisi yang ditandatangani oleh lebih dari 100 orang terkenal kepada Ronald Storrs, gubernur militer Inggris:

Kami kemarin melihat sekerumunan besar Yahudi membawa spanduk dan berjalan ke sepanjang jalan meneriakkan kata-kata yang menyakitkan perasaan dan melukai jiwa. Kami menyatakan dengan suara terbuka bahwa Palestina, yang merupakan Tanah Suci dari bapak-bapak kami dan tempat makam dari para leluhur kami, yang telah didiami oleh orang Arab pada masa yang panjang, yang mencintainya dan mati dalam mempertahankannya, sekarang menjadi tanah air bagi mereka… Kami orang Arab, Muslim dan Nasrani, selalu sangat bersimpati dengan Yahudi yang ditindas dan ketidakberuntungan mereka di negara-negara lain… namun terdapat perbedaan besar antara simpati semacam itu dan penerimaan dari negara semacam itu… pemerintahan atas kami dan penyingkiran dari urusan-urusan kami.[246]

Pada bulan berikutnya, pada peringatan pertama pendudukan Jaffa oleh Inggris, Asosiasi Muslim-Kristen mengirim sebuah memorandum panjang dan petisi kepada gubernur militer menentang pembentukan apapun dari sebuah negara Yahudi.[248]

DEKLARASI BALFOUR MENURUT ARAB ADALAH PENGHIANATAN

Di dunia Arab secara luas, deklarasi tersebut dipandang sebagai sebuah pengkhianatan dari pemahaman masa perang Inggris dengan orang Arab.[232] Syarif Makkah dan pemimpin Arab lain menganggap deklarasi tersebut sebagai sebuah pelanggaran dari sebuah komitmen sebelumnya yang dibuat dalam korespondensi McMahon–Hussein dalam pembalasan untuk peluncuran Pemberontakan Arab.[80]

RAJA HUSSEIN DI BUJUK DAN DI SUAP AGAR MENGAKUI DEKLARASI BALFOUR

Pada 1919, Raja Hussein menolak meratifikasi Traktat Versailles. Setelah Februari 1920, Inggris berhenti membayar subsidi kepadanya.[251] Pada Agustus 1920, lima hari setelah penandatanganan Traktat Sevres, yang resmi mengakui Kerajaan Hejaz, Curzon membujuk Kairo untuk meminta tanda tangan Hussein pada kedua traktat tersebut dan menyepakati pembayaran £30,000 pada tanda tangan tersebut.[252] Hussein menolak dan pada 1921, menyatakan bahwa ia enggan “mencantumkan namanya pada sebuah dokumen yang menyerahkan Palestina kepada kaum Zionis dan Suriah kepada bangsa-bangsa asing.”[253] Setelah Konferensi Kairo tahun 1921, Lawrence dikirim untuk mengusahakan dan mendorong agar Raja tersebut menandatangani sebuah traktat, sebuah subsidi tahunan £100,000 dipersiapkan; upaya tersebut juga gagal. Pada 1923, Inggris membuat upaya lanjutan untuk memajukan masalah-masalah yang berdiri dengan Hussein dan saat upaya tersebut dilakukan lagi, Hussein masih menolak untuk mengakui Deklarasi Balfour atau Mandar apapun yang ia raih sebagai domainnya. Pada Maret 1924, secara singkat mengkondisikan kemungkinan penghapusan artikel penawaran dari traktat tersebut, pemerintah menunda negosiasi lanjutan apapun.[254]

KOMENTAR

Sungguh Luar biasa kelancangan inggris menjanjikan pendirian negara Yahudi di Palestina lewat Deklarasi Balfour 1917…..padahal tahun 1917 penduduk yahudi cuma mencapai 3% di banding bangsa Arab palestina(baik muslim dan kristen)….bagai mana mungkin mendirikan negara di populasi 3 persen? dalam versi Ronald Storrs “Non-Yahudi” terdiri dari 90% populasi Palestina;[200] dalam kata-kata Ronald Storrs, Gubernur Militer Yerusalem Britania antara 1917 dan 1920.

Jika demikian bagai mana mungkin mendirikan negara Yahudi dengan populasi minim seperti itu?dan lagi….PASTI NYA PEMUKIM YAHUDI ITU TERPENCAR-PENCAR tak pada satu titik,bagaimana mungkin menjadi satu negara utuh?….seperti kita lihat janggal pada zaman sekarang yang di namakan negara palestina terpencar kecil-kecil dalam dua pencaran antara Jalur Gaza dan West Bank.

Dorongan inggris pada imigrasi yahudi dan banyak nya Aliyah membawa PENDUDUK YAHUDI MEMBLUDAK di wilayah palestina hingga membutuh kan tanah yang lebih luas…..pada peristiwa nakhba Yahudi melihat peluang merampas tanah palestina lebih luas lagi setelah banyak penduduk palestina ketakutan Ekodus dan juga di Usir paksa israel….dan Israel tak mau mengembalikan tanah dan Rumah itu hingga kini.

Jadi Inggris(dan barat yang mendukung yahudi)dan yahudi jelas adalah penjajah dan perampok tanah palestina dengan 4 Bukti:

1)Janji mendukung dan memberi negara dan tanah palestina pada yahudi

Dengan tindakan ini saja adalah kelancangan.tanah yang bukan milik nenek moyang inggris dan bukan milik inggris dengan seenak nya hendak di beri pada Israel.ini adalah bentuk sifat penjajah yang memberi tanah dan menguasai tanah yang bukan milik nya dan bukan milik nenek moyang nya.

Waktu janji itu tahun 1917 penduduk Non yahudi mencakup 90 persen penghuni palestina.jika Yahudi hanya menempati tanah yang mereka beli dan tak ada niat mendirikan negara tentu tak akan terjadi konflik berdarah hingga kini.sudah 14 Abad lebih bangsa Arab baik Islam dan kristen nya Welcome pada orang-orang Yahudi yang tinggal DI PROPERTI RUMAH DAN TANAH yang mereka miliki dengan jerih payah kerja mereka.…dan konflik terjadi ketika Yahudi mau mendirikan negara Israel dan merampas lebih luas tanah Arab tahun 1948.

2)Pendorongan Inggris pada Imigrasi Yahudi

Hal ini membuat penumpukan penduduk yahudi di palestina.di samping juga sakit hati Arab pada Deklarasi balfaour membawa banyak pertikaian antara Yahudi dan Arab.IMIGRASI YAHUDI membawa bangsa Arab palestina melihat di depan hidung mereka orang-orang pirang yahudi ribuan hingga ratusan ribu orang datang,membuat sakit hati Arab.belum lagi ambisi Pendirian negara Yahudi makin melipat ganda kan konflik berdarah antara pendatang yahudi dan penduduk Arab.

3)Pembagian wilayah yang tak Adil

Solusi konflik yang makin panas antara pendatang yahudi dan Arab maka di adakan pembagian wilayah.

Pada tahun 1947, Perserikatan Bangsa-Bangsa memutuskan untuk membagi wilayah Mandat Britania atas Palestina. Tetapi hal ini ditentang keras oleh negara-negara Timur Tengah lainnya dan juga banyak negeri-negeri Muslim. Kaum Yahudi mendapat 55% dari seluruh wilayah tanah meskipun hanya merupakan 30% dari seluruh penduduk di daerah ini. Sedangkan kota Yerusalem yang dianggap suci, tidak hanya oleh orang Yahudi tetapi juga orang Muslim dan Kristen, akan dijadikan kota internasional.

Israel diproklamasikan pada tanggal 14 Mei 1948 dan sehari kemudian langsung diserbu oleh tentara dari Lebanon, Suriah, Yordania, Mesir, Irak dan negara Arab lainnya. Tetapi Israel bisa memenangkan peperangan ini dan malah merebut kurang lebih 70% dari luas total wilayah daerah mandat PBB Britania Raya, Palestina. Perang ini menyebabkan banyak kaum Palestina mengungsi dari daerah Israel. Tetapi di sisi lain tidak kurang pula kaum Yahudi yang diusir dari negara-negara Arab lainnya.

Jelas Barat dan PBB yang masih di isi para pemimpin Kolonialis mau merampas tanah palestina…..30% penduduk Yahudi mau di beri 55% tanah jelas bentuk perampokan yang tak adil.tentu negara Arab tak terima

4)Perampasan tanah oleh Israel tahun 1948

Dalam perang 1948 ratusan ribu penduduk palestina melakunan ekodus karena ketakutan atau di usir paksa israel.lalu Israel.hingga Israel merampas tanah Arab lebih luas lagi….dan rumah-rumah dan tanah yang di tinggal kan Arab palestina di rampok israel dan tidak di kembalikan hingga sekarang.

IMIGRASI YAHUDI DAN PENDIRIAN NEGARA YAHUDI SERTA PERAMPOKAN PAKSA TANAH ARAB DI BENAR KAN DENGAN ALASAN TANAH PERJANJIAN YAHUDI DAN TANAH ITU MILIK NENEK MOYANG YAHUDI?

Tentu tidak di benar kan….bagaimana mungkin ratusan ribu Yahudi seluruh dunia utama nya Eropa yang tinggal berabad-abad di Eropa misal nya turun menurun,mengklaim tanah dan rumah milik orang lain dengan alasan tanah itu milik nenek moyang nya ribuan tahun lalu?

Bangsa Arab palestina sudah berabad-abad tinggal di palestina punya rumah dan tanah milik kerja keras sendiri dan warisan nenek moyang yang juga di beli dengan kerja keras….tiba-tiba di klaim yahudi pirang milik nenek moyang mereka?klaim nya yang menggelikan milik nenek moyang ribuan tahun lalu.tentu para yahudi itu tak bisa main klaim tanah dan rumah orang lain dengan dasar perjanjian ribuan tahun lalu.

Apa jadi nya jika ada orang asing misal nya berkata pada anda….serah kan tanah dan rumah mu sebab tanah ini milik nenek moyang kami ribuan tahun lalu dan tanah yang di beri tuhan kepada kami.

Apa reaksi anda dan orang-orang di sekitar anda mendengar orang asing itu?tentu orang asing itu akan di di tertawa kan dan di anggap gila hingga di usir dengan kekerasan.

Jika isu tanah perjanjian di pakai pada abad ini maka Taurat Yahudi jelas mengajar kan merampok tanah orang.sebab bagai mana mungkin menjanjikan 90 persen tanah yang di tempati Arab palestina?kecuali dengan merampok mereka?dan itu terjadi pada peristiwa Nakhba.

Berikut Pemetaan penduduk palestina.( http://www.jewishvirtuallibrary.org/population-of-israel-palestine-1553-present )

Romantika tanah perjanjian tak bisa di terap kan abad ke 19 dan 20 ini kecuali dengan Perampokan.berarti kitab suci yahudi dan kristen mengajar kan perampokan.setiap yahudi dan kristen bangga dengan PEMENUHAN NUBUAT TANAH PERJANJIAN berarti bangga dengan perampokan yang di lakukan Israel.aneh nya kristen yang gembar gembor ajaran kasih girang dengan hal ini,mereka girang itu bukti kebenaran Alkitab.tetapi mereka tidak sadar berarti juga MEMBENAR KAN PERAMPOKAN BERDASAR KITAB SUCI.

APA REAKSI ANDA JIKA ADA ORANG ASING MAU MENDIRIKAN NEGARA DI TANAH ANDA YANG SUDAH DI DIAMI BERABAD-ABAD?

Tentu rasa sakit hati dan gusar bukan?reaksi itu yang di alami Arab baik muslim dan kristen ketika mereka tahu ada nya Deklarasi balfour…..mereka menolak deklarasi itu.

Seorang delegasi dari Asosiasi Muslim-Kristen, yang dikepalai oleh Musa al-Husayni, mengekspresikan ketidaksetujuan publik pada 3 November 1918, sehari setelah pawai Komisi Zionis menandai peringatan pertama Deklarasi Balfour.[245] Mereka menyerahkan sebuah petisi yang ditandatangani oleh lebih dari 100 orang terkenal kepada Ronald Storrs, gubernur militer Inggris:

Kami kemarin melihat sekerumunan besar Yahudi membawa spanduk dan berjalan ke sepanjang jalan meneriakkan kata-kata yang menyakitkan perasaan dan melukai jiwa. Kami menyatakan dengan suara terbuka bahwa Palestina, yang merupakan Tanah Suci dari bapak-bapak kami dan tempat makam dari para leluhur kami, yang telah didiami oleh orang Arab pada masa yang panjang, yang mencintainya dan mati dalam mempertahankannya, sekarang menjadi tanah air bagi mereka… Kami orang Arab, Muslim dan Nasrani, selalu sangat bersimpati dengan Yahudi yang ditindas dan ketidakberuntungan mereka di negara-negara lain... namun terdapat perbedaan besar antara simpati semacam itu dan penerimaan dari negara semacam itu… pemerintahan atas kami dan penyingkiran dari urusan-urusan kami.[246]

Pada bulan berikutnya, pada peringatan pertama pendudukan Jaffa oleh Inggris, Asosiasi Muslim-Kristen mengirim sebuah memorandum panjang dan petisi kepada gubernur militer menentang pembentukan apapun dari sebuah negara Yahudi.[248]

Ketidak maluan inggris dan yahudi mau mendirikan negara Haram(siluman)di tanah orang lain MEMICU KONFLIK PANAS BERDARAH PADA PEMUKIM YAHUDI MELAWAN ARAB PALESTINA….konflik ini tentu mula nya rencana Balfour inggris dan ambisi yahudi pada tanah perjanjian.hingga konflik makin panas PBB melakukan pembagian tanah yang tak adil hingga negara-negara Arab marah mencetus kan serangan Arab ke Israel hingga meletus perang Arab israel.

 

Iklan

BIBLICAL ARCHEOLOGY?

Kapal sekecil ini dapat memuat binatang seluruh bumi?

Bagaimana jika Alkitab di sanding kan dengan Arkeologi?tentu dengan boros nya penjabaran Alkitab tentang sejarah,tahun,angka dll membuat Alkitab banyak menemui kesalahan di hadapan

Arkeologi.Arkeolog William G. Dever berkontribusi pada artikel tentang “Arkeologi” dalamThe Anchor Bible Dictionary berpandangan:

Menurut Dever “gagasan paling naif tentang arkeologi Syro-Palestina] adalah bahwa alasan dan tujuan” arkeologi biblika “(dan, dengan ekstrapolasi, arkeologi Syro-Palestina) hanyalah untuk menjelaskan fakta-fakta mengenai Alkitab dan Tanah Suci “. [24]

Dever juga menulis bahwa:

“Arkeologi tentu saja tidak membuktikan pembacaan Alkitab secara literal … Ini membuat mereka mempertanyakan, dan itulah yang membuat beberapa orang terganggu. Kebanyakan orang benar-benar berpikir bahwa arkeologi ada di sana untuk membuktikan Alkitab. Tidak ada arkeolog yang berpikir begitu.” [25]

Dari permulaan dari apa yang kita sebut arkeologi biblika, mungkin 150 tahun yang lalu, para ilmuwan, kebanyakan ilmuwan barat, telah mencoba menggunakan data arkeologi untuk membuktikan Alkitab.William Albright , ayah dari disiplin kita, sering berbicara tentang “revolusi arkeologi”. Nah, revolusi telah datang tapi tidak dengan cara yang Albright pikirkan. Kebenaran dari masalah ini hari ini adalah bahwa arkeologi menimbulkan lebih banyak pertanyaan tentang historisitas Alkitab Ibrani dan bahkan Perjanjian Baru daripada yang memberi jawaban, dan itu sangat mengganggu beberapa orang. [26]

Dever juga menulis:

Arkeologi seperti yang dipraktekkan saat ini harus bisa menantang, begitu pula konfirmasikan, kisah-kisah Alkitab. Beberapa hal yang dijelaskan memang benar terjadi, tapi yang lainnya tidak. Narasi alkitabiah tentang Abraham , Musa , Yosua dan Sulaiman mungkin mencerminkan beberapa kenangan sejarah orang dan tempat, namun potret Alkitab yang ‘lebih besar dari kehidupan’ tidak realistis dan bertentangan dengan bukti arkeologis …. [27] Saya bukan membaca Alkitab sebagai Kitab Suci … Sebenarnya saya bukan seorang teis. Pandangan saya selama ini – dan khususnya di buku-buku baru-baru ini – pertama-tama narasi bibliografi memang ‘cerita’, seringkali fiktif dan hampir selalu propaganda, Tapi di sana-sini mereka mengandung beberapa informasi historis yang valid.

Arkeolog Universitas Tel Aviv Ze’ev Herzog menulis di surat kabar Haaretz :

Inilah yang telah dipelajari para ahli arkeologi dari penggalian mereka di Tanah Israel: orang Israel tidak pernah berada di Mesir, tidak berkeliaran di padang pasir, tidak menaklukkan tanah itu dalam sebuah kampanye militer dan tidak menyerahkannya kepada 12 suku Israel . Mungkin lebih sulit lagi untuk menelan adalah bahwa kerajaan monumental Daud dan Salomo, yang digambarkan oleh Alkitab sebagai kekuatan regional, paling banyak merupakan kerajaan kesukuan kecil.Dan itu akan menjadi kejutan yang tidak menyenangkan bagi banyak orang bahwa Allah Israel, YHWH,punya wanita permaisuri.dan bahwa agama Israel awal mengadopsi tauhid hanya pada masa mekar kerajaan dan tidak di Gunung Sinai.

Profesor Finkelstein mengatakan kepada Jerusalem Post bahwa para arkeolog Yahudi tidak menemukan bukti sejarah dan arkeologi untuk mendukung narasi alkitabiah tentang Keluaran , orang-orang Yahudi yang berkelana di Sinai atau penaklukan Yosua terhadap Kanaan . Tentang dugaan Temple of Solomon, Finkelstein mengatakan bahwa tidak ada bukti arkeologis yang membuktikan bahwa hal itu benar-benar ada. [31] Profesor Yoni Mizrahi, seorang arkeolog independen, setuju dengan Israel Finkelstein. [31]

Mengenai Keluaran orang Israel dari Mesir, arkeolog Mesir Zahi Hawass mengatakan:

Sungguh, ini mitos, … Inilah karir saya sebagai arkeolog. Aku harus mengatakan yang sebenarnya. Jika orang-orang marah, itu bukan masalah saya. [32]

KOMENTAR

Sebenar nya yang membuat keraguan dan ketidak percayaan para Arkeolog bersumber dari cerita Alkitab sendiri yang boros dengan penjabaran sejarah(yang ternyata beberapa tidak valid),tahun,angka dll.seperti contoh cerita exodus

Keluaran 12

37. Kemudian berangkatlah orang Israel dari Raamses ke Sukot, kira-kira enam ratus ribu orang laki-laki berjalan kaki, tidak termasuk anak-anak.

Jika di total exodus bersama tiap seorang lelaki membawa satu isteri dan dua anak maka kl jumlah exsodus mencapai hampir 2 juta jiwa.tetapi tak di temukan temuan-temuan Arkeologi orang sebanyak itu di Mesir hingga sepanjang Jalur Exodus.

Tentu menurut Islam ekodus adalah peristiwa sejarah.tetapi quran tak pernah merinci berapa jumlah ekodus.pasti nya ekodus ini hanya melibat kan kelompok yang kecil tidak sampai jutaan jiwa.maka wajar tak di temukan temuan Arkeologi yang ber arti.boros nya Alkitab mengenai perhitungan tahun dan angka membawa kesalahan kronologis  James Ussher akan Usia bumi menurut perhitungan Alkitab.

Dia berkata menurut perhitungan Alkitab penciptaan terjadi dimulai pada haru Minggu, 23 Oktober 4004 SM. Ia memperkirakan tanggal tersebut berdasarkan kitab suci.hal itu di muat dalam buku nya berjudul Annales veteris testamenti, a prima mundi origine deducti.

Tentu kronologi itu ngawur…ngawur jika mengatakan penciptaan sekitar 4004 SM….berarti Ushher mengatakan usia bumi hanya 4004 SM+2017=6021 tahun…..padahal usia bumi menurut science kl 4 milyar tahun

Ini menunjuk kan Quran benar tentang klaim bahwa Alkitab telah di robah-robah lewat tangan manusia hingga memuat cerita yang di lebih-lebih kan,beberapa memuat berita benar sesuai arkeology dan beberapa memuat berita yang ternyata bertentangan dengan arkeologi.

ANSWERING-FF.ORG

Timbangan Agama-agama lewat pemikiran,analisa dan tulisan

KRISTOLOG.COM

Kajian Ilmiah Kristologi

Lampu Islam

Timbangan Agama-agama lewat pemikiran,analisa dan tulisan

SERANGAN BALIK UNTUK INDONESIA.FAITHFREEDOM.ORG (serbuiff)

Siap membombardir habis gembong IFF dan spesies lainnya yang sejenis

Answering Misionaris

Menjawab Fitnah terhadap Islam

Kerajaan Agama

http://kerajaanagama.wordpress.com/ 2009 - 2011

MUSLIM MENJAWAB TANTANGAN

[3:190] Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,

---PENGINJIL---

KRISTEN ADALAH PENERUS AGAMA PAGAN

Edyprayitno's sang Mualaf

FORUM DIALOG LESEHAN DAN KAJIAN KRISTOLOGI

Kristenisasi - Pemurtadan - Kristologi

A. AHMAD HIZBULLAH MAG's Blog