PENGHANCURAN UNIVERSITAS NALANDA OLEH MUSLIM

Penghancuran Universitas Nalanda menjadi bahan kritik tajam kepada islam.karena peristiwa mengerikan ini islam menjadi bahan bulan-bulanan bagi islam dengan beragam penghinaan seperti DI SINI . 

Tentu penghancuran universitas ini seharus nya menjadi pembelajaran bagi umat islam masa kini.banyak hal yang bisa kita pelajari dari peristiwa mengerikan ini.

MENGENAL UNIVERSITAS NALANDA

Nālānda adalah nama sebuah universitas kuno dan kota tua di India.

Nama Nālānda berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya pemberi pengetahuan, (kemungkinan dari nalambunga teratai, sebuah simbol pengetahuan . Seoarang Bhikkhu Tionghoa, Xuanzang,yang pernah berjiarah ke tempat tersebut memberikan beberapa versi penjelasan tentang pemberian nama Nālandā.

Nalanda berlokasi sekitar 55 mil tenggara dari Kota Patna, dan merupakan pusat pendidikan agama Buddha dari tahun 427 sampai 1197 sesudah masehi di bawah pemerintahan Kerajaan Pala. Nālanda diidentifikasikan oleh Alexander Cunningham bersama dengan Desa Baragaon.

Menurut data historis, Universitas Nalanda didirikan tahun 450 sesudah masehi di bawah perintah beberapa raja Gupta,

terutama Kumaragupta.Nalanda adalah salah satu universitas pertama di dunia yang berasrama. Pada masa kejayaannya, universitas ini pernah mengakomodasi lebih dari 10.000 murid dan 2.000 guru. Universitas ini dianggap sebagai mahakarya arsitektur. Nalanda mempunyai delapan taman berpagar terpisah dan sepuluh kuil, bersamaan dengan beberapa aula meditasi dan kelas. Perpustakaannya terletak di gedung bertingkat sembilan di mana banyak buku ditulis di sini. Pelajaran yang diajarkan di Universitas Nalanda mencakup semua bidang pembelajaran, dan telah menarik berbagai murid dan orang-orang terpelajar dari Korea, Jepang, Tiongkok, Tibet, Indonesia, Persia, dan Turki.

Oleh karena hilangnya pengaruh agama Buddha di India pada abad ke-12, universitas ini mengalami kemunduran.

PERISTIWA PENGHANCURAN

Oleh karena hilangnya pengaruh agama Buddha di India pada abad ke-12, universitas ini mengalami kemunduran. Tahun 1193, Universitas Nalanda akhirnya hancur setelah dihancurkan oleh pasukan muslim  di bawah perintah Bakhtiyar Khalji; kejadian ini dianggap sebagai akhir ketuntasan kehancuran agama Buddha di India. Disebutkan pula Khalji menanyakan keberadaan Al-Qur’an di Universitas Nalanda sebelum menghancurkan universitas tersebut. Ketika penerjemah Tibet Chag Lotsawa mengunjungi universitas tersebut tahun 1235, tempat tersebut sudah dalam keadaan rusak parah, namun masih menyisakan sekumpulan kecil Bhikkhu.

Universitas Nalanda atau yang pada zamannya dinamai Nalanda Mahavihara (Great Nalanda Monestary) mengalami kejayaan hampir 800 tahun lamanya yakni dari 427 M-1197 M. Universitas ini berakhir dengan tragis, ketika Mohammad Bakhtiar Khilji melakukan penyerangan dan perusakan pada  pusat perguruan tinggi Budha ini.  Peristiwa ini tercatat dalam buku Tabaquat I Nasiri yang ditulis oleh Mirjah I Siraj seorang ahli sejarah Islam berkebangsaan Persia.  Buku tersebut menceritakan tentang pembakaran 9 juta buku dan manuskrip yang ada di dalam perpustakaan  Universitas Nalanda yang berlangsung selama 6 bulan. Asap pembakaran tersebut sanggup menghitamkan langit di sekitar bukit tempat universitas Nalanda berada.  Ribuan  pendeta Buddha  dan pelajar di universitas tersebut dibakar hidup-hidup dan dipenggal kepalanya. Tidak seperti universitas tertua lainnya di Eropa yang masih tetap berjalan sampai sekarang. Universitas Nalanda hanya tinggal kenangan. Penghancuran universitas ini menjadi salah satu penanda menurunnya pengaruh Budhisme dan masuknya pengaruh Islam ke India.

Selama kurun waktu 8 abad lamanya, Universitas Nalanda menjadi pusat intelektual dan spiritual masyarakat Buddhis di seluruh penjuru dunia. Abad 11 merupakan titik awal kemunduran persebaran agama Buddha di India, dan keruntuhan Universitas Nalanda di abad 12 disepakati para sejarahwan sebagai titik klimaks memudarnya agama Buddha di tanah kelahiran Sang Buddha sendiri. Menurut laporan Juzjani (Minhaj-i-Siraj), pada tahun 1193, pasukan Mamluk (Turki) di Delhi di bawah pimpinan Jenderal Bakhtiyar Khilji dan Sultan Qutubuddin Aybak menghancurkan dan membakar Universitas Nalanda. Peristiwa ini merupakan salah satu bagian dari penaklukan Mamluk ke Bihar dalam ekspedisinya ke Benggala dan juga mewarnai konflik pengaruh politik antara budaya Hindu-Buddha dengan budaya Islam. Di tahun 1203, Bihar secara utuh jatuh ke tangan Mamluk.

Berdasarkan laporan Juzjani, Khilji ditugaskan mengawasi 2 desa di Bihar yang berdekatan dengan Universitas Nalanda. Selama pasukannya bermukim di sana, hampir seluruh areal persawahan dan peternakan berhasil diambil-alih. Dia juga memerintahkan penangkapan dan pemenggalan kepada orang-orang berkepala gundul (yang diasosiasikan sebagai sangha dan bhikkhu) dimanapun ditemui sehingga berpuncak pada serangan ke Universitas Nalanda. Dalam serangan ini, seluruh bangunan dihancurkan, termasuk arca-arca yang diasosiasikannya sebagai penyembahan berhala. Banyak di antara guru dan pelajar yang dipenggal, sisanya dibiarkan melarikan diri. Buku-buku koleksi di Perpustakaan Nalanda juga dibakar, namun dikabarkan bahwa Khilji memerintahkan untuk menyelamatkan dulu kitab Al-Qur’an yang dikoleksi di Perpustakaan Nalanda sebelum membakar kitab-kitab lainnya. Mahavihara Vikramshila dan Jagaddala juga tidak luput dari sasaran penghancuran.

PANDANGAN ISLAM TENTANG PENGHANCURAN BANGUNAN UNIVERSITAS NALANDA

Sangat di sayang kan pada masa lalu Bakhtiyar khalji tidak menjalan kan etika dalam perang islam.Membunuh pendeta, biarawan, menghancurkan bangunan, membakar tanaman juga dilarang dalam jihad fi sabilillah.  Ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq mengutus Yazid bin Abu Sufyan ke Syam sebagai panglima perang, ia berpesan pada Yazid sesuai pesan yang diberikan Rasulullah: “Jangan membunuh anak kecil, wanita, orang tua, orang sakit, pendeta, jangan menebang pohon berbuah, jangan merusak bangunan, jangan menyembelih unta atau sapi kecuali untuk dimakan, jangan menenggelamkan sarang tawon dan membakarnya.” Termasuk juga dilarang merobohkan atau merusak tempat ibadah seperti gereja, kuil, vihara, kelenteng, dan sebagainya. Bahkan, para ulama dengan tegas menyatakan bahwa pelaku pelanggaran harus dihukum mati.( SOURCES )

Banyak ayat-ayat dan hadist yang mendukung larangan menghancurkan tempat ibadat atau apapun bangunan dalam perang.salah satu nya ayat jika berperang jangan melampaui batas.

Al-Baqarah (2) No. Ayat : : 190

وَقَاتِلُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلاَ تَعْتَدُواْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبِّ الْمُعْتَدِينَ

2.190. Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

yakni,jangan mencincang lawan,jangan membunuh wanita dan anak2 serta manula,jangan mengganggu gereja,jangan menggunakan bom curah,jangan menggunakan senjata kimia,jangan merusak bangunan,jangan merusak pohon2,dst.

Maka tindakan Bakhtiyar khalji menghancur kan bangunan universitas Nalanda adalah tidak sesuai dengan etika perang islam.seharus nya Bakhtiyar memberi perlindungan pada Universitas Nalanda beserta isi nya.

Secara akal sehat pun universitas itu tak perlu di hancur kan karena tidak memberi mudarat apapun bagi islam dan umat islam.biar lah mereka dengan agama mereka dan kegiatan mereka sendiri.apa yang ada di pikiran Bakhtiyar kala itu?….mungkin ia berfikir dalam islam Nabi pun menghancur kan 360 berhala di sekeliling kakbah

Tentu tindakan Rasul itu tidak bisa di benar kan untuk tindakan Bakhtiyar.pembersihan 360 berhala dan berhala-berhala lain di jazirah arab adalah KHUSUS BAGI JAZIRAH ARAB SAJA.sebab jazirah arab Allah rencanakan di jadikan pusat dan kiblat islam,maka harus bersih dari segala unsur kemusyrikan.bahkan Pengusiran Yahudi dan Nasrani dari Jazirah Arab dan perintah penghancuran gereja dan bangunan ibadat lain di jazirah arab adalah untuk men steril kan PUSAT ISLAM dari segala kemusyrikan.dan itu masih masuk akal,sebab apa jadi nya pusat suci islam kelak ada gereja,kuil,orang kristen yang kampanye hedonisme dan kebebasan sex dll di jazirah arab.

Dalam pembersihan itu tak ada pembantaian seperti yang di lakukan Bakhtiyar.ketika Rasul menghancurkan paganisme di jazirah Arab maka Abu bakar Shiddiq melarang penghancuran tempat ibadat di luar jazirah Arab seperti dalil di atas.sebab penghancuran berhala hanya berlaku untuk sterilisasi pusat islam.dan untuk di luar jazirah Arab di boleh kan berdiri dan di larang di hancurkan.

Ketika Umar bin Khattab datang ke Yerusalem,umar melindungi gereja Nasrani.kalau di fikir dengan akal sehat tindakan Bakhtiyar itu sangat aneh dan bodoh.apa ia dan yang sepaham dengan dia mau seluruh gereja,kuil,sinangog dll seluruh dunia di ratakan dengan tanah?kira-kira islam jadi agama model apa dengan cara otak konsleting Bakhtiyar ini dan yang sepaham dengan nya?

Dan dalam sejarah islam sejak zaman Khalifah 4 hingga khalifah-khalifah lain nya kita mendengar mereka tetap bisa beribadat tenang di gereja dan kuil-kuil mereka.sebab mereka tahu tak ada bukti zaman Khalifah 4 tempat ibadat kafir di hancurkan.dan justru Abu bakar Shiddiq orang dekat Nabi melarang menghancur kan tempat ibadat agama lain.

Justru kristen yang rajin menghina muslim atas kejadian mengerikan nalanda ini isi kitab nya banyak ajaran penghancuran bangunan dan arca-arca pagan

Sebaliknya, mezbahmezbah mereka haruslah kamu rubuhkan, tugu-tugu berhala mereka kamu remukkan, dan tiang-tiang berhala mereka kamu tebang.( Keluaran 34:13 )

Tetapi beginilah kamu lakukan terhadap mereka: mezbahmezbah mereka haruslah kamu robohkan, tugu-tugu berhala mereka kamu remukkan, tiang-tiang berhala mereka kamu hancurkan dan patung-patung mereka kamu bakar habis.( Ulangan 7:5 )

Mezbah mereka kamu harus robohkan, tugu-tugu berhala mereka kamu remukkan, tiang-tiang berhala mereka kamu bakar habis, patung-patung allah mereka kamu hancurkan, dan nama mereka kamu hapuskan dari tempat itu.( Ulangan 12:3 )

Juga mezbah yang ada di Betel, bukit pengorbanan yang dibuat oleh Yerobeam bin Nebat yang mengakibatkan orang Israel berdosa, mezbah dan bukit pengorbanan itupun dirobohkannya dan batu-batunya dipecahkannya, lalu ditumbuknya halus-halus menjadi abu, dan dibakarnyalah tiang berhala.( 2 Raja Raja 23:15 )

Setelah semuanya ini diakhiri, seluruh orang Israel yang hadir pergi ke kota-kota di Yehuda, lalu meremukkan segala tugu berhala, menghancurkan segala tiang berhala, dan merobohkan segala bukit pengorbanan dan mezbah di seluruh Yehuda dan Benyamin, juga di Efraim dan Manasye, sampai musnah semuanya. Kemudian pulanglah seluruh orang Israel ke kota-kotanya, ke miliknya masing-masing.( 2 Tawarikh 31:1 )

Mezbah-mezbah para Baal dirobohkan di hadapannya; ia menghancurkan pedupaan-pedupaan yang ada di atasnya; ia meremukkan dan menghancurluluhkan tiang-tiang berhala, patung-patung pahatan dan patung-patung tuangan, dan menghamburkannya ke atas kuburan orang-orang yang mempersembahkan korban kepada berhalaberhala itu.(2 Tawarikh 34:4 )

Aku akan mencampakkan mayat-mayat orang Israel di hadapan berhalaberhalamereka dan menghamburkan tulang-tulangmu keliling mezbahmezbahmu.( Yehezkiel 6:5 )

PANDANGAN ISLAM TERHADAP PENGHANCURAN ARCA-ARCA UNIVERSITAS NALANDA

Tentu tindakan bodoh menghancur kan arca-arca itu…sebab arca-arca itu hanya buat peribadatan kaum Budha,mengapa Bakhtiyar mesti menghancur kan nya?…..soal penghancuran berhala sudah saya tulis di atas,tak bisa menjadi pembenaran tindakan Bakhtiyar.penghancuran berhala harus di sikapi dengan bijak,yaitu:

1)Penghancuran seluruh berhala di jazirah Arab,hal itu wajib sebab pusat islam harus steril dari segala kemusyrikan

2)Penghancuran berhala di tempat-tempat ibadat kaum pagan,maka hal ini TIDAK BOLEH sebab berhala itu milik mereka dan jadi tempat ibadat mereka.muslim tidak berhak mengganggu tempat ibadat dan berhala-berhala mereka.mereka di biar kan di dalam nya seperti tindakan Abu Bakar dan Umar secara umum.kecuali berhala itu ada di jazirah arab maka harus di hancur kan semua.Nalanda termasuk kategori nomor dua ini.

3)Penghancuran berhala-berhala ketika terbengkalai dan tidak ada umat pagan yang memakai nya lagi.sebab misal nya semua daerah pagan telah masuk islam.maka semua berhala itu harus di hancur kan agar daerah muslim tak bersisa lagi budaya paganisme.jika di pakai tentu terlarang di hancur kan.atau jika berhala dan kuil nya tak ada umat nya lagi karena suatu wilayah sudah muslim maka lebih maslahat di jadikan gedung pemerintahan dst.

4)Penghancuran berhala yang menjadi situs budaya masa modern ini….seperti situs Bamiyan seharus nya tidak di hancur kan sebab banyak pertimbangan yang harus di pikir kan.dan sudah berabad-abad terbukti situs Bamiyan ini tak lantas menjadikan bangsa Afgan balik lagi massal ke Budha.maka tak perlu di hancur kan.Dan sang Idol Breaker Mahmud Al-Ghazwani tak menghancur kan nya….mungkin terlalu besar atau mungkin ada pertimbangan lain waktu itu.

Maka penghancuran berhala dalam islam harus di sikapi secara bijak.sesuai dengan kondisi nya.

Dan dalam dunia kristen sendiri harus bercermin diri.masa Theodosius Kaisra kristen yang fanatik banyak melakukan penghancuran kuil-kuil dan berhala-berhala pagan.bahkan RAKSASA SARAPEUM di hancur kan hingga situs yang kalau ada hingga kini pasti menjadi warisan berharga dunia versi PBB.

PANDANGAN ISLAM TENTANG PEMBAKARAN BUKU-BUKU DI UNIVERSITAS NALANDA

Bakhtiyar sebelum membakar buku-buku di Universitas Nalanda dia bertanya apa ada quran di dalam nya.lalu ia membakar semua buku-buku itu hingga kata nya mencapai 9 juta buku(percaya gak percaya pen).di sini tampak Bakhtiyar memakai fatwa ulama tentang pembakaran buku-buku sesat.tetapi sekali lagi karena kebodohan dan kurang berfikir membuat ia salah menerap kan fatwa itu dengan bijak.

Berikut tentang pembakaran buku-buku sesat:

HUKUM MENGHANCURKAN BUKU-BUKU AHLI BID’AH DAN SESAT

Oleh
Syaikh Masyhur bin Hasan Ali Salman

Didalam As-Shawarimul Haddad hal. 68 Imam Syaukani menukil ucapan sekelompok ulama seperti Al-Bulqainy, Ibnu Hajar, Muhammad bin Arafah, dan Ibnu Khaldun, berkaitan dengan buku-buku yang ditahdzhir:

Hukum mengenai buku-buku yang berisi aqidah yang menyesatkan dan buku-buku yang banyak beredar di tengah-tengah masyarakat seperti al-Fushulul Hikam dan Futhuhatul Makkiyah karya Ibnu Arabi, Al-Bad karya Ibnu Sab’in, Khal’un Na’lain karya Ibnu Qasi, ‘Alal Yakin karya Ibnu Barkhan dan disamakan dengan buku-buku ini kebanyakan syair-syair Ibnu faridh dan Al-‘Afif At-Tilmisani. Demikian juga buku syarh Ibnul Farghani terhadap qasidah at-Taiyah karya Ibnul Faridh.

Hukum dari buku-buku ini dan semisalnya adalah “Harus Dilenyapkan Kapan Saja Ditermukan” dengan cara dibakar atau dilunturkan tintanya dengan air.

Imam Ibnul Qayyim mempunyai perkataan yang sangat bagus tentang keharusan membakar dan menghancurkan buku-buku ahli bid’ah dan sesat, dan behwa orang yang melakukan hal itu tidak menanggung ganti rugi, beliau rahimahullahu berkata :” Demikian juga tidak ada ganti rugi didalam membakar dan menghancurkan buku-buku yang menyesatkan.”

Al Marudzi berkata kepada Imam Ahmad :”Aku meminjam buku yang banyak berisi hal-hal yang jelek, menurut pendapatmu apakah (lebih baik) aku rusakkan atau aku bakar ?

Imam Ahmad menjawab :”Ya, Nabi Shalallahu alaihi wa sallam pernah melihat buku ditangan Umar yang ia salin dari Taurat dan ia terkagum-kagum dengan kecocokan Taurat dengan Al-Qur’an, maka berubahlah raut muka Nabi Shalallahu alaihi wa sallam sehingga pergilah Umar ketungku lalu melemparkannya ke dalam tungku.”

Maka bagaimanakah seandainya Nabi Shalallahu alaihi wa sallam melihat buku-buku yang ditulis untuk menentang al-Qur’an dan Sunnah, Allah-lah tempat memohon pertolongan. Sedangkan Nabi Shalallahu alaihi wa sallam pernah memerintahkan orang yang menulis dari beliau selain Al Qur’an hendaklah ia hapus, kemudian beliau Shalallahu alaihi wa sallam membolehkan menulis As-Sunnah dan tidak ada ijin untuk selain itu.

Dan setiap buku yang berisi hal-hal yang menyelisihi Sunnah tidaklah diijinkan, bahkan diijinkan untuk membakar dan menghancurkannya. Tidak ada yang lebih berbahaya bagi umat ini daripada buku-buku sesat itu.

Bahkan para shahabat membakar semua mushaf yang berbeda dengan mushaf Utsman karena ditakutkan terjadinya perselisihan ditengah umat, maka bagaimanakah jika para shahabat melihat buku-buku yang telah menimbulkan perselisihan dan perpecahan ditengah-tengah umat??

Al-Khalal berkata bahwa Muhammad bin Harun mengabarkan padanya, bahwa Abul Harits telah bercerita kepada mereka bahwa Abu Abdillah (Imam Ahmad) berkata :”Mengarang buku telah membinasakan mereka, mereka meninggalkan hadits-hadits Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam dan menerima ilmu kalam.”

Al-Khalal berkata bahwa Muhammad bin ahmad bin Washi Al Muqry mengatakan bahwa ia mendengar Abu Abdillah (Imam Ahmad) ditanyai tentang ro’yu (akal, pendapat) maka ia mengangkat suaranya seraya berkata :”Sesuatu yang berasal dari ro’yu tidak akan tetap, wajib atas kalian menetapi Al-Qur’an, Al-Hadits, dan Atsar (riwayat).”

Di dalam riwayat Ibnu Masyisy ,ada seorang bertanya kepada Imam Ahmad :”Bolehkah aku menulis ro’yu (pendapat), maka beliau menjawab :”Apa yang kalian perbuat dengan ro’yu? Wajib atas kalian belajar Sunnah dan menetapi hadits-hadits yang telah dikenal (keshahihannya)”

Kemudian Al-Khalal berkata :”Permasalahan menyusun buku perlu ada perincian yang tempatnya bukan disini (lihat rincian pada Al Muwafaqat karya Asy-Syathibi 1/97-99) dan sesungguhnya Imam Ahmad membenci dan melarang hal itu karena bisa menyibukkan dan memalingkan dari Al-Qur’an dan Sunnah, serta pembelaan Al-Qur’an dan Assunnah. Adapun buku-buku untuk membantah pendapat-pendapat dan madzhab-madzhab yang menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah maka tidaklah mengapa, bahkan menjadi wajib atau mustahab (disukai) atau mubah tergantung keadaan.Wallahu a’lam.

Kesimpulannya, sesungguhnya buku-buku yang berisi kebohongan, dan bid’ah wajib dihancurkan dan dimusnahkan. Hal ini lebih wajib daripada menghancurkan alat-alat permainan musik, serta menghancurkan bejana khamr, karena bahaya buku yang menyesatkan lebih berbahaya dari bahaya alat-alat ini. Dan tidak ada ganti rugi dalam masalah ini, sebagaimana tidak ada ganti rugi dalam hal memecahkan bejana khamr.” [1]

Didalam kisah taubat Ibnu Ka’ab bin Malik Radhiallahu anhu dia mengatakan :”Maka aku (Ka’ab) menuju perapian kemudian membakar surat itu (surat Raja Ghosan)”. [HR. Bukhari 8/86,93, Muslim no.2769]

Ibnul Qayyim berkomentar :”Didalam kisah ini ada anjuran untuk bersegera menghancurkan hal-hal yang menimbulkan kerusakan dan bahaya bagi agama. Orang yang teguh hati tidaklah menunggu-nunggu dan mengulur-ulur hal itu. Seperti ini juga sikap yang harus diberikan kepada khamr dan buku-buku yang ditakutkan menimbulkan bahaya dan kejelekan, yaitu dengan penuh kemantapan hati segera menghancurkan dan memusnahkannya.” [2]

Syaikhul Islam juga memberikan fatwa untuk membakar beberapa kitab, lihat akhir no. 59 kitab Al-Akhbar didalam al-jami’, yang terdapat dibagian akhir Mushannaf Abdir razzaq 11/424 dan Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 6/211-212 cetakan darul Fikr bab :..dan membakar kitab

Abu Abdillah Al-Hakim berkata :”Ishaq, Ibnul Mubarak, dan Muhammad Yahya, mereka semua memendam buku-buku yang mereka tulis, demikian diceritakan oleh Imam Adz-Dzahabi didalam Siyar 2/337 dan berkomentar:

“Inilah perbuatan beberapa Imam yang menunjukkan bahwa mereka menganggap tidak bolehnya mengambil ilmu secara wijadah (membaca sendiri) karena tulisan kadang berubah ditangan penukil dan mungkin bertambah satu huruf sehingga merubah makna. Adapun sekarang, kebohongan telah tersebar, sedikit orang yang mau belajar dien lewat mulut para guru dan juga dari buku-buku yang tidak ada kesalahannya, bahkan sebagian penukil Kitab terkadang tidak bisa mengeja dengan baik.”

Pada biografi Abu Kuraib Muhammad bin Al ‘Ala Al Hamdani (w.248) ,Muthayan berkata :”Abu Kuraib berwasiat agar buku-buku karyanya dipendam, maka dilaksanakan wasiat beliau.”

Kemudian Adz-Dzahabi didalam Siyar 11/397 memberikan komentar : “Beberapa ahli hadits telah mewasiatkan agar buku-bukunya dipendam, dibakar, atau dicuci (dilunturkan tintanya), karena takut buku tersebut dipegang oleh muhaddits yang kurang agamanya, kemudian ia akan merubah-rubah dan menambahinya, kemudian hal itu dinisbatkan kepada Al-Hafidz (ahli hadits pemilik kitab). Atau didalam kitab itu terdapat riwayat yang putus atau lemah yang tidak pernah ia ceritakan, sedangkan yang telah ia riwayatkan adalah hal-hal yang telah dipilih. Maka ia pada akhirnya membenci hasil tulisannya, dan tidak ada jalan lain kecuali harus dimusnahkan.Karena hal ini dan lainnya ia memendam buku-bukunya.”

Saya (Syaikh Masyhur) berkata : “Buku-buku yang penuh dengan racun kalajengking dan ular (yang berisi kejelakan dan kemungkaran) lebih layak untuk dipendam, dimusnahkan dan dibakar.

Mungkin teori modern terhadap kebebasan berfikir yang ada di zaman ini menganggap sikap seperti ini adalah ta’ashub (ekstrim), akan tetapi itulah sikap yang benar dengan memandang kemaslahatan umat Islam karena umat Islam adalah sebuah jama’ah yang satu fikrahnya. Dan kewajibannya yang dibebankan Islam ke punggung umatnya tidak mungkin dilaksanakan tanpa kesatuan ini. Maka Islam tidak rela musnahnya kesatuan fikrah ini untuk membawa umat kepada pemurtadan pemikiran dan kekacauan pemikiran. Karena umat tidak akan mampu melawan kekuatan penentangan didalam bidang ilmu dan teknologi selama keimanan mereka terhadap falsafah hidupnya masih lemah dan asas (landasan) berfikirnya belum kokoh. Sejarah menyaksikan bahwa setiap dasar (asas) berfikir umat roboh, menyebabkan filsafat asing (kafir) melelehkan umat dari dalam. Umat yang dahulunya melahirkan da’i-da’i yang menyeru kepada agama Allah dan pembawa bendera kebenaran berubah melahirkan orang-orang kafir, durhaka dan menentang.

Sikap tegas terhadap buku-buku yang menyelishi Al Qur’an dan Sunnah ini bukan berarti tidak mengobati khilaf (perselisihan) yang tumbuh ditengah umat dengan lembut,saling memahami, dan diskusi atau berarti menghilangkan perselisihan dengan kekerasan. Bahkan sikap ini sebenarnya bermakna kerja keras agar umat tetap berada diatas jalan yang haq, berpegang teguh terhadap iman dan diennya, tanpa melarang diskusi pemikiran yang terarah dan bantahan terhadap pembahasan ilmiyah dan pemikiran dengan pembahasan yang serupa dalam bentuk ilmiyah yang kokoh.

Imam Ibnul Qayyim -sebagaimana kami telah sebutkan sikap beliau terhadap buku-buku yang menyelesihi alKitab dan Sunnah – berpendapat bahwa bantahan ilmiyah terhadap buku-buku tersebut tidak hanya mubah bahkan terkadang wajib atau mandud (disukai) tergantung keadaan (lihat redaksi yang telah lewat).

Ada sebuah kisah menarik tentang kematian Imam ash-Shan’ani (w 1182H), yaitu beliau tertimpa sakit perut (mencret) yang menguras isi perut beliau .Keluarga beliau mencarikan obat tetapi tidak berguna sedikitpun.

Kemudian dibawakan dua buah buku kepada beliau, yaitu Al-Insan Al Kamil karya Al Jili, dan al-Madhnun Bihi ‘Ala Ahlihi karya Al-Ghazali, yang beliau pernah berkomentar : “Aku tidak menganggapnya sebagai karya beliau. Buku ini hanyalah dinisbatkan secara dusta.” Kemudian imam Ash-Shan’ani berkata : “Kemudian aku menelaah buku tersebut, maka aku temukan buku tersebut berisi kekufuran yang nyata, maka aku perintahkan supaya kedua buku itu dibakar dengan api dan apinya digunakan untuk membuat roti untukku.” Kemudian beliau makan roti dengan niat sebagai obat, setelah itu beliau tidaklah merasa sakit.( SOURCES )

Dalam artikel di atas berlaku hanya bagi buku-buku yang lahir dari tulisan dalam tubuh umat islam,atau buku-buku yang menyerang islam.seperti ada muslim murtad menulis buku yang menjelek kan islam,buku-buku orang-orang Ateist di tengah negri muslim,buku-buku ilmu sihir,buku-buku yang menghujat islam,buku-buku syiah,bidat dll maka semua harus di bakar.

Beda dengan buku-buku tentang agama Nasrani,yahudi,Budha,hindu dll yang tersimpan dalam perpustakaan mereka maka semua itu tak boleh di bakar.sebab semua itu hanya berputar dalam lingkup mereka tak di ajar kan pada luar mereka.melindungi perpustakaan mereka adalah satu paket menjamin kebebasan beribadat mereka.dalil nya adalah Rasulullah tidak pernah memerintah kan pembakaran buku-buku para non muslim.sedang kan perihal Umar bin khattab membakar perpustakaan Alexandria adalah mitos .

Taruk lah misal nya Umar pernah melakukan itu(dan terbukti tidak melakukan),maka segala perbuatan di Luar Allah dan Rasulullah bisa benar bisa salah.semua mesti di kembalikan kepada Kitabullah dan hadis2 Sahih dari Rasulullah

Imam Malik pernah berkata:

“Tidak ada seorang pun setelah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, kecuali dari perkataannya itu ada yang diambil dan yang ditinggalkan, kecuali Nabi Shallallahu alaihi wa sallam.” (Ibnu Abdil Hadi di dalam Irsyadus Salik, 1/227)

Bahasan lengkap nya bahwa pendapat selain Kitabullah dan Rasulullah bisa di ambil dan di tinggal kan:

Imam Abu Hanifah (Imam Mazhab Hanafi)
Beliau adalah Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit yang dilahirkan pada tahun 80 Hijriyah. Beliau berkata,

1. “Apabila hadits itu shahih, maka hadits itu adalah madzhabku.” (Ibnu Abidin di dalam Al- Hasyiyah 1/63)

2. “Tidak dihalalkan bagi seseorang untuk berpegang pada perkataan kami, selagi ia tidak mengetahui dari mana kami mengambilnya.” (Ibnu Abdil Barr dalam Al-Intiqa’u fi Fadha ‘ilits Tsalatsatil A’immatil Fuqaha’i, hal. 145) Dalam riwayat yang lain dikatakan, “Adalah haram bagi orang yang tidak mengetahui alasanku untuk memberikan fatwa dengan perkataanku.” Di dalam sebuah riwayat ditambahkan, “Sesungguhnya kami adalah manusia yang mengatakan perkataan pada hari ini dan meralatnya di esok hari.”

3. “Jika aku mengatakan suatu perkataan yang bertentangan dengan kitab Allah ta’ala dan kabar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tinggalkanlah perkataanku.” (Al-Fulani di dalam Al- lqazh, hal. 50)

Imam Malik (Imam Mazhab Maliki)
Beliau adalah Malik bin Anas, dilahirkan di Kota Madinah pada tahun 93 Hijriyah. Beliau berkata,

1. “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia yang kadang salah dan kadang benar. Maka perhatikanlah pendapatku. Setiap pendapat yang sesuai dengan Kitab dan Sunnah, maka ambillah. Dan setiap yang tidak sesuai dengan Al Kitab dan Sunnah, maka tinggalkanlah.” (Ibnu Abdil Barr di dalam Al-Jami’, 2/32)

2. “Tidak ada seorang pun setelah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, kecuali dari perkataannya itu ada yang diambil dan yang ditinggalkan, kecuali Nabi Shallallahu alaihi wa sallam.” (Ibnu Abdil Hadi di dalam Irsyadus Salik, 1/227)

3.Ibnu Wahab berkata, “Aku mendengar bahwa Malik ditanya tentang hukum menyela-nyelan jari di dalam berwudhu, lalu dia berkata, ‘Tidak ada hal itu pada manusia’. Maka aku meninggalkannya hingga manusia berkurang, kemudian aku berkata kepadanya, ‘Kami mempunyai sebuah sunnah di dalam hal itu’. Maka Imam Malik berkata, ‘Apakah itu?’ Aku berkata, ‘Al Laits bin Saad dan Ibnu Lahi’ah dan Amr bin Al-Harits dari Yazid bin Amr Al ¬Ma’afiri dari Abi Abdirrahman Al-Habli dari Al Mustaurid bin Syidad Al-Qirasyi telah memberikan hadist kepada kami, ia berkata, ”Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menggosok antara jari-jemari beliau dengan kelingkingnya.” Maka Imam Malik berkata, ‘Sesungguhnya hadist ini adalah hasan, aku mendengarnya baru kali ini.’ Kemudian aku mendengar beliau ditanya lagi tentang hal ini, lalu beliau (Imam Malik) pun memerintahkan untuk menyela-nyela jari-jari.” (Mukaddimah Al-Jarhu wat Ta’dil, karya Ibnu Abi Hatim, hal. 32-33)

Imam Asy-Syafi’i (Imam Mazhab Syafi’i)
Beliau adalah Muhammad bin idris Asy-Syafi’i, dilahirkan di Ghazzah pada tahun 150 H. Beliau rahimahullah berkata,

1. “Tidak ada seorang pun, kecuali akan luput darinya satu Sunnah Rasulullah. Seringkali aku ucapkan satu ucapan dan merumuskan sebuah kaidah namun mungkin bertentangan dengan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itulah pendapatku” (Tarikhu Damsyiq karya Ibnu Asakir,15/1/3)

2. “Kaum muslimin telah sepakat bahwa barang siapa yang telah terang baginya Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya, hanya karena mengikuti perkataan seseorang.”
(Ibnul Qayyim, 2/361, dan Al-Fulani, hal.68)

3. ”Jika kalian mendapatkan di dalam kitabku apa yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka berkatalah dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tinggalkanlah apa yang aku katakan.” (Al-Harawi di dalam Dzammul Kalam,3/47/1)

4. ”Apabila telah shahih sebuah hadist, maka dia adalah madzhabku. ” (An-Nawawi di dalam AI-Majmu’, Asy-Sya’rani,10/57)

5. “Kamu (Imam Ahmad) lebih tahu daripadaku tentang hadist dan para periwayatnya. Apabila hadist itu shahih, maka ajarkanlah ia kepadaku apapun ia adanya, baik ia dari Kufah, Bashrah maupun dari Syam, sehingga apabila ia shahih, aku akan bermadzhab dengannya.” (Al-Khathib di dalam Al-Ihtijaj bisy-Syafi’I, 8/1)

6. “Setiap masalah yang jika di dalamnya terdapat hadits shahih dari Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam menurut para pakar hadits, namun bertentangan dengan apa yang aku katakan, maka aku rujuk di dalam hidupku dan setelah aku mati.” (Al-Hilyah 9/107, Al-Harawi, 47/1)

7. ”Apabila kamu melihat aku mengatakan suatu perkataan, sedangkan hadist Nabi yang bertentangan dengannya adalah hadits yang shahih, maka ketahuilah, bahwa pendapatku tidaklah berguna.” (Al-Mutaqa, 234/1 karya Abu Hafash Al-Mu’addab)

8. “Setiap apa yang aku katakan, sedangkan dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam terdapat hadist shahih yang bertentangan dengan perkataanku, maka hadits nabi adalah lebih utama. Olah karena itu, janganlah kamu taklid mengikutiku.” (Ibnu Asakir, 15/9/2)

9. “Setiap hadits yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka hal itu adalah pendapatku walaupun kalian belum mendengarnya dariku” (Ibnu Abi Hatim, 93-94)

Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Mazhab Hambali)
Beliau Adalah Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal yang dilahirkan pada tahun 164 Hijriyah di Baghdad, Irak. Beliau berkata,

1. “Janganlah engkau taqlid kepadaku dan jangan pula engkau mengikuti Malik, Syafi’i, Auza’i dan Tsauri, Tapi ambillah dari mana mereka mengambil.” (Al-Fulani, 113 dan Ibnul Qayyim di dalam Al-I’lam, 2/302)

2. “Pendapat Auza’i, pendapat Malik, dan pendapat Abu Hanifah semuanya adalah pendapat, dan ia bagiku adalah sama, sedangkan hujjah itu hanyalah terdapat di dalam atsar-atsar (hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam-wr1)” (Ibnul Abdil Barr di dalam Al-Jami`, 2/149)

3. “Barang siapa yang menolak hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sesungguhnya ia telah berada di tepi jurang kehancuran. ” (Ibnul Jauzi, 182).( SOURCES )

perihal fatwa pembakaran buku-buku sesat memang berguna bagi pemikiran umat,tetapi harus bijak menempat kan fatwa itu.misal nya kita membeli rumah orang Budha,mereka meninggal kan kardus besar.ketika di tanya apa itu?jawab orang Budha:”itu buku-buku agama Budha,saya tak menganut agama ini lagi,saya repot membawa nya,jadi tolong lah terserah anda mau di apakan buku-buku itu”.

Tentu kita tak membutuh kan buku-buku itu maka kita bisa menyingkir kan nya dengan ragam cara.seperti menjual nya,jika merasa takut haram dan syubhat lebih baik di bakar.pembakaran itu tentu tak menyinggung SARA sebab kita lakukan di belakang rumah misal nya hingga tak ada umat Budha yang tahu.atau sekarang ada mesin pemotong/penghancur kertas bisa di gunakan.

Contoh lain nya seperti yang di lakukan Ibnu Mas’ud memusnahkan buku sesat hanya di lakukan di lingkungan muslim.bukan mendatangi gereja dan pusat pendidikan mereka lalu membakar buku-buku di perpustakaan mereka.

Dalam sebuah atsar disebutkan,

أَنَّ أَباَ قُرَّةٍ الْكِنْدِي أَتَى ابْنَ مَسْعُودٍ بِكِتَابٍ، فَقَالَ: إِنِّي قَرَأْتُ هَذَا بِالشَّامِ فَأَعْجَبَنِي، فَإِذَا هُوَ كِتَابٌ مِنْ كُتُبِ أَهْلِ الْكِتَابِ، فَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ: إِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِاتِّبَاعِهِمْ الْكُتُبَ وَتَرْكِهِمْ كِتَابَ اللهِ. فَدَعاَ بِطَسْتٍ وَمَاءٍ فَوَضَعَهُ فِيهِ وَأَمَاثَهُ بِيَدِهِ حَتَّى رَأَيْتُ سَوَادَ الْمِدَادِ

Abu Qurrah al-Kindi menjumpai Ibnu Mas’ud dengan membawa sebuah kitab. Abu Qurrah berkata, “Aku membaca kitab ini di Syam, aku pun terkagum, ternyata ini salah satu kitab dari kitabkitab Yahudi dan Nasrani!”

Ibnu Mas’ud berkata, “Sungguh umat-umat sebelum kalian binasa karena sibuk dengan kitab-kitab (yang telah bercampur dengan kebatilan, -pen.) dan meninggalkan Kitab Allah!”

Kemudian Ibnu Mas’ud minta didatangkan baskom berisi air dan beliau rendam kitab itu di dalamnya, beliau remas-remas hingga aku lihat air menghitam karena tinta.( SOURCES )

Tentu hal itu tak menyinggung SARA sebab di lakukan di dalam rumah orang islam sendiri.yang terlarang adalah jika penghancuran itu di lakukan demonstratif di muka umum.tindakan itu berbahaya dapat memicu pertengkaran agama.perihal penghancuran ini saya yakin umat non muslim lain pun akan menyingkir kan berjilid-jilid quran dan buku islam dari rumah mereka dengan ragam cara.itu hal biasa.dan menjadi tidak benar jika bila di lakukan di muka umum dan mendatangi perpustakaan yang bersangkutan untuk di bakar.

itu contoh membakar buku-buku sesat ,bidat dan kufur sesuai fatwa ulama dengan penerapan yang tepat.adapun tindakan Bakhtiyar itu sama sekali keliru dan kurang bijak dalam mengikuti fatwa ulama.

Dan pembakaran buku-buku bukan saja ada dalam sejarah islam.tetapi ada di sejarah umat lain…..silahkan baca dua link ini:

Book Burning

List of book burning incident

Dan tak seharus nya buku-buku kimia,fisika,matematika,astronomi dll semisal di bakar.sebab islam pun menghargai ilmu dan sepanjang sejarah keemasan islam ilmu-ilmu itu amat berkembang.

Apakah muslim takut?bukan takut…..muslim awam hendak nya di jauh kan dari buku-buku sesat sebab di khawatir kan dengan ilmu yang minim di padu dengan jiwa yang lemah mereka bisa terpengaruh.sedang kan peneliti di boleh kan membaca Taurat,injil,buku-buku sesat dll untuk penyanggahan dll,seperti hal nya saya mempunyai Alkitab di rumah dan saya sudah biasa membaca dan mempelajari nya untuk bahan blog ini.

FATWA PENGHANCURAN BUKU-BUKU SESAT MASIH RELEVAN KAH DI ZAMAN MODERN INI?

Sekarang walau buku-buku sesat di hancur kan dengan cara di bakar apakah masih relevan di zaman modern ini?di mana sekarang percetakan buku makin mudah dan lebih mudah lagi dengan ada nya internet?

Jawaban nya adalah:tentu masih relevan.pembakaran buku-buku sesat adalah salah satu upaya meminimalisir penyebaran paham-paham sesat.bukan hanya pembakaran,bisa berupa melarang izin terbit,menyita,menghukum penyebaran nya dll.dan internet dengan cara memblokir.di indonesia pun jika ada buku-buku PKI telah terbit hingga 1000 buku,apakah yang akan di lakukan pemerintah?tentu menangkap penulis,menyita,melarang penerbitan hingga membakar nya agar tidak meracuni generasi muda.

PANDANGAN ISLAM TENTANG PEMBUNUHAN PARA BIKSU DI UNIVERSITAS NALANDA

Tentu tindakan Bakhtiyar ini lebih mungkar lagi…..tak di dukung quran,hadist dan fatwa ulama manapun dari Ahlu sunnah wal jamaah.entah apa yang ada di pikiran Bakhtiyar hingga melakukan kekejaman di luar batas ini.biksu dan pelajar Nalanda bukan kombatan jadi tidak boleh di bunuh.

Madzhab Hanbali menjelaskan bahwa petani yang tidak ikut perang hendaknya tidak dibunuh berdasarkan riwayat dari Umar ia berkata: ‘Takutlah pada Allah (jangan membunuh) petani yang tidak memerangimu.’ Auzai berkata: ‘Petani hendaknya tidak dibunuh apabila diketahui bahwa ia bukan kombatan (pasukan tempur).

Para perang Dzatus salasil Khalid bin walid hanya memerangi militer persia,para petani tak di ganggu.secara analogi jelas Biku dan pelajar Nalanda bukan kombatan seperti hal nya petani hingga Haram untuk di bunuh.

Allah Ta’ala berfirman,

مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا

“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS. Al Maidah: 32).

Dalil ini tegas bahwa para Biku dan pelajar Nalanda tentu bukan pembunuh dan bukan perusak di muka bumi(dalam arti mengacau keamanan dll) maka haram di bunuh.membunuh satu manusia saja sudah dosa nya seperti membunuh seluruh manusia,berapa dosa yang di tanggung Bakhtiyar?

SUMBER CERITA KISAH BAKHTIYAR

Sumber cerita Bakhtiyar ini dari sebuah buku sejarah berjudul Tabaquat I Nasiri  yang di tulis oleh  Minhaj-i-Siraj Juzjani.lahir 1193 lahir di Ghurid di provensi Ghor.Ia juga menulis Tabaqat-i Nasiri (1260 CE) untuk Sultan Nasir UD din MahmudDelhi.

Saya tak menemukan rincian lain tentang peristiwa Nalanda kecuali di atas.semua telah saya bantah.semua yang di lakukan Bakhtiyar karena kesalahan memahami dalil dan Fatwa dan kebodohan nya tidak mengetahui adab kesopanan perang islam yang telah jelas tak boleh membunuh non kombatan.namun kitab ini ada versi ebook nya.

 

 

 

 

Iklan

KRISTEN RADIKAL HENDAK NYA MALU MENG-KLAIM PALING BERJASA PEMBEBASAN BUDAK SELURUH DUNIA

Pembebasan perbudakan sedunia adalah prestasi besar luar biasa yang harus kita hargai.tetapi beberapa kristen radikal kerap membully muslim terlambat dalam pembebasan perbudakan.dan ternyata dunia kafir dan kristen yang justru lebih dulu menghapus perbudakan total seluruh dunia mereka,bukan islam

Terlebih dulu simak ini:

Dalam kajian historis, para peneliti non-muslim juga telah mengakui perlakuan umat Islam yang lembut dan penuh kasih sayang terhadap budak;

 

Gustavo Lebon mengatakan:

 

“Yang pasti bahwa budak di tengah umat Islam tidak seperti di tengah kaum Kristen, kondisi budak di belahan timur bumi jauh lebih baik daripada kondisi mereka di Eropa. Di Timur, mereka seperti anggota keluarga sendiri, bahkan tidak jarang dari mereka yang kemudian menikah dengan anak perempuan tuan mereka dan menjadi menantunya, mereka pun berhak menjabat posisi yang tinggi. Status budak bukan suatu yang hina di Timur, kalau di Barat jarak mereka jauh sekali dengan para tuan tapi di Timur mereka dekat sekali dengan para tuan dan hubungan mereka sangat erat.”

 

Di saat orang-orang Eropa pada umumnya menuduh umat Islam dengan perlakuan yang tidak senonoh dan keras terhadap kaum budak, Dr. Gustavo Lebon mengatakan:

“Semua petualang dunia yang melakukan penelitian tentang perbudakan di Timur tahu dan mengaku bahwa ini adalah bola-bola propaganda miring yang digelontorkan oleh orang-orang eropa dan sama sekali tidak beralasan. Salah satu bukti yang paling kongkrit dalam hal ini adalah kenyataan bahwa para budak di Mesir jika ingin merdeka cukup dia datang ke hakim dan mengungkapkan keinginannya tersebut. Tapi, pada kenyataannya mereka malah tidak ingin untuk melakukan hal itu.” Mr. Ibre mengatakan, ‘Harus diakui bahwa budak-budak negara Islam termasuk orang yang paling beruntung dalam kehidupan, banyak sekali bukti untuk itu.’ Mr. Gabriel Charmes mengatakan, ‘Masalah perbudakan di Mesir adalah alami, biasa dan menguntungkan, bahkan pembatalan atas sistem perbudakan adalah sebuah malapetakan tersendiri.’ Mr. Dojany, dekan jurusan bahasa asing di Universitas Kairo mengatakan, ‘Nyatanya jarang sekali budak yang menggunakan hak kemerdekaan mereka, padahal kemerdekaan itu bisa mereka peroleh dengan berbagai cara tanpa ada sedikit pun kesulitan yang dapat menghalangi mereka.’

Gustavo Lebon juga menegaskan bahwa bukan Mesir saja yang menunjukkan perlakuan baik dan penuh kasih sayang terhadap budak, di negeri-negeri Islam lainnya juga demikian. Kemudian dia membawakan pernyataan seorang wanita petualang inggris yang bernama Belnett, dia menceritakan percakapannya dengan seorang arab di kota Najd:
“Salah satu persoalan yang sulit untuk dicerna oleh orang arab ini adalah kenapa dan apa untungnya Inggris melarang jual beli budak? Aku jelaskan kepadanya mereka melakukan hal itu karena ingin membela harkat manusia. Tapi dia malah berkata, ‘memangnya kezaliman tidak berprikemanusiaan apa yang terjadi dalam jual beli budak? Memangnya siapa yang menyiksa para budak? Sungguh, kita tidak pernah menemukan seorang budak pun di negeri Islam yang disiksa dan dianiaya, apa yang populer di kalangan Arab adalah budak lebih mirip dengan anak tuannya sendiri daripada pelayan atau pembantu bayaran, dia juga disayang dan dihormati.” 

Semua itu tertulis dalam buku Gustav Lebon yang di terjemah kan ke dalam bahasa arab yang berjudul Tamaddun Islam wa Gharb.

Justru wacana pembebasan budak pada Dunia barat dan kristen adalah karena terlalu kejam nya perbudakan yang di alami di depan mata mereka hingga mereka lebih giat dalam kampanye pembebasan budak.belum lagi ada sikap rasialis terhadap budak-budak kulit hitam.bahkan gereja Mormon menolak pembebasan perbudakan kulit hitam karena mereka menanggung kutukan

Joseph Smith, pendiri Mormonisme, mengajarkan bahwa perbudakan orang Afrika hitam dibutuhkan melalui Kutukan Kain dan Kutukan Ham dan memperingatkan mereka yang mencoba membebaskan para budak bertentangan dengan keputusan Tuhan.

Dan pembebasan budak total sedunia  sama sekali tak pernah di singgung dalam alkitab hingga ke zaman 12 rasul

PERBUDAKAN MANUSIA MENURUT TAURAT KONTEMPORER DISTORSIF

PERBUDAKAN DALAM ALKITAB PERJANJIAN LAMA(AKAR KATA HAMBA)

PERBUDAKAN DALAM ALKITAB(DARI KITAB YOSUA HINGGA KITAB 2 TAWARIKH)

PERBUDAKAN DALAM ALKITAB(DARI KITAB EZRA SAMPAI KITAB YEHEZKIEL)

PERBUDAKAN DALAM ALKITAB(PERJANJIAN BARU)

PERBUDAKAN DALAM ALKITAB PERJANJIAN BARU(AKAR KATA HAMBA)

Tak ada satupun dalam ayat perjanjian lama dan baru yang mempunyai pembebasan budak secara total sedunia.bahkan hingga zaman 12 Rasul,Ajaran para Rasul malah menyuruh budak mematuhi tuan nya

1 Timotius 6:1Semua orang yang menanggung beban perbudakan hendaknya menganggap tuan mereka layak mendapat segala penghormatan, agar nama Allah dan ajaran kita jangan dihujat orang.

Rasul petrus pun mengajar kan budak mematuhi tuan nya hingga pada tuan nya yang bengis.kalau dalam islam budak berhak lepas dari tuan nya yang bengis,tetapi ucapan petrus budak itu harus tetap tunduk walau tuan nya bengis.

(18) Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis.(1 petrus 2:18)

Maka bebas nya perbudakan Dunia bukan karena jasa Alkitab…..tetapi hanya bentuk tidak tahan melihat penderitaan budak di barat dan dunia kristen dan juga jajahan nya.semua itu hanya jasa HUMANISME SEKULAR/KEMANUSIAAN…..alkitab tidak ada ayat tegas menyuruh membebas kan budak seperti dunia kita saat ini

BAGAIMANA AYAT-AYAT KASIH?

Kristen berdalih bahwa ayat-ayat kasih adalah dasar pembebasan budak.tetapi alasan itu tidak kuat…..jika pembebasan total budak adalah ajaran yesus dan 12 Rasul tentu mereka akan menyatakan nya dengan tegas.kristen tak akan mampu memberi dalil apapun dalam Alkitab yang tegas menghapus perbudakan secara total.

Jika ajaran kasih termasuk pembebasan budak maka tentu Yesus,paulus dan 12 Rasul menyatakan nya.masa Yesus,Paulus dan 12 Rasul banyak budak-budak sekeliling mereka tetapi tak terfikir satu patah ucapan pun dari mereka untuk membebas kan mereka secara total.ini menunjuk kan Yesus,paulus dan 12 Rasul tak memikir kan sedikit pun tentang pembebasan perbudakan secara total.

Jika Yesus mengajarkan kasih dan memperlakukan diri orang lain seperti diri sendiri di pahami sebagai pembebasan budak,niscaya Paulus dan 12 Rasul akan paham dan mulai menulis membebas kan budak secara total.tetapi justru ajaran paulus dan Petrus menyuruh budak taat pada tuan nya.maka kristen radikal hendak nya tahu malu membanggakan dan mengklaim kami lebih dulu membebas kan budak di banding muslim

Semua itu bukan jasa Alkitab kalian.alkitab kalian tak mengajar kan pembebasan perbudakan kecuali hanya cocologi ayat-ayat yang tak terkait.malah para Rasul dan paulus tak mengajar kan itu kecuali hanya taat hingga pada tuan yang bengis sekalipun.Bahkan GARDA TERDEPAN pembebasan perbudakan dalam kristen di pegang oleh aliran sesat dalam kristen yang bernama gerakan Quarker,yang banyak orang-orang Quarker di eksekusi di eropa dan di tindas karena kesesatan nya oleh kristen arus utama hingga mereka melarikan diri ke Amerika.

Dan jika kita mempelajari sejarah pembebasan budak di hubungkan dengan kristen tampak orang-orang kristen terpecah dua kubu yang mendukung perbudakan karena sesuai Alkitab dan yang tak mendukung perbudakan karena tak sesuai Alkitab.sayang nya pendapat kristen yang mendukung perbudakan karena sesuai Alkitab itu yang benar.sebab dalam Alkitab pun tak ada satupun ayat yang menyuruh membebas kan budak secara total.malah paulus dan para Rasul melanjutkan nya dengan TAAT budak pada tuan nya.seperti biasa pendukung pembebasan total memakai ayat-ayat cocologi kasih dan perlakukan diri orang lain seperti diri mu.

Namun saya meng apresiasi kristen jika mendukung total penghapusan perbudakan seluruh dunia.walau alkitab mereka tak ada dalil untuk itu bahkan dalil yang kuat perbudakan  tetap berlangsung seperti yang saya tulis di atas.dan muslim pun mendukung pembebasan perbudakan total karena hal itu adalah kebaikan juga.

 

 

ANSWERING-FF.ORG

Timbangan Agama-agama lewat pemikiran,analisa dan tulisan

KRISTOLOG.COM

Kajian Ilmiah Kristologi

Lampu Islam

Timbangan Agama-agama lewat pemikiran,analisa dan tulisan

SERANGAN BALIK UNTUK INDONESIA.FAITHFREEDOM.ORG (serbuiff)

Siap membombardir habis gembong IFF dan spesies lainnya yang sejenis

Answering Misionaris

Menjawab Fitnah terhadap Islam

Kerajaan Agama

http://kerajaanagama.wordpress.com/ 2009 - 2011

MUSLIM MENJAWAB TANTANGAN

[3:190] Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,

---PENGINJIL---

KRISTEN ADALAH PENERUS AGAMA PAGAN

Edyprayitno's sang Mualaf

FORUM DIALOG LESEHAN DAN KAJIAN KRISTOLOGI

Kristenisasi - Pemurtadan - Kristologi

A. AHMAD HIZBULLAH MAG's Blog