Dalam menyelami polemik Evolusi dengan agama kita harus mengetahui apa itu Kreationisme dan ajaran perancangan cerdas nya.mengapa kreationisme terjepit di negara Hedonisme Materialistik dan mengapa ilmuan barat putus asa untuk kepada Bible?.sar-sari dari Wikipedia saya sajikan di bawah ini.banyak link tak saya matikan agar anda semua belajar lebih lanjut….catatan kaki bisa langsung merujuk pada catatan kaki wikipedia.

KREASIONISME DI ANGGAP PSEUDOSAINS

Kreasionisme sebagai ‘ilmu pengetahuan’ dianggap sebagai ilmu semu (pseudoscience) oleh kalangan ilmuwan. Sebabnya adalah argumen-argumen kreasionisme hanya melihat fenomena dari satu sudut, yaitu keyakinan hidup, dan tidak menggunakan metode ilmu pengetahuan yang sudah diterima. Di lain pihak, evolusi teori mendukung kesimpulan dari hasil temuan para ilmuwan.

UNITED STATES NATIONAL ACADEMY OF SCINCES MENGELUAR KAN DEKLARASI ANTI KREASIONISME

Di Amerika Serikat, ada perdebatan sengit antara pendukung dan penentang kreasionisme yang telah menghasilkan banyak kasus-kasus pengadilan. Perdebatan ini juga memotivasikan Badan Ilmu Pengetahuan Amerika Serikat (United States National Academy of Sciences) untuk mengeluarkan deklarasi sebagai berikut:

  • evolusi teori telah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan lagi dari ilmu biologi dan ilmu-ilmu lainnya yang terkait …sementara itu, pernyataan dari kreasionisme tidak disokong secara empiris. Dari hasil pengamatan ini, ada dua kesimpulan yang sangat mendasar, yaitu ajaran tentang evolusi harus menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam pengajaran ilmu pengetahuan dan kreasionisme itu bukan ilmu pengetahuan, jadi tidak boleh diajarkan kepada murid-murid seolah-solah sebagai ilmu pengetahuan, dan
  • Kreasionisme dan intelligent design dan hal-hal lain yang bersifat super natural bukanlah ilmu pengetahuan karena tidak bisa difalsifikasikan menurut metode ilmu pengetahuan.

Konsensus tegas dari komunitas ilmiah mengenai perancangan cerdas adalah bahwa perancangan cerdas bukanlah sains.[13][14][15][16] Akademi Sains Nasional Amerika Serikat telah menyatakan bahwa “ciptaanisme, perancangan cerdas, dan klaim-klaim intervensi supranatural lainnya mengenai asal usul kehidupan ataupun spesies bukanlah sains karena klaim-klaim tersebut tidak dapat diuji oleh metode ilmiah.”[17] Beberapa organisasi-organisasi pun menganggapnya sebagai ilmu semu.[18] Yang lainnya dalam komunitas ilmiah setuju dengan pengalamatan tersebut dan beberapa bahkan menyebutnya sebagai ilmu sampah.[19][20]

Satu strategi kunci yang digunakan oleh gerakan perancangan cerdas untuk menyebarkan konsep mereka adalah berusaha meyakinkan warga publik bahwa terdapat perdebatan di kalangan ilmuwan sendiri mengenai keabsahan evolusi. Gerakan perancangan cerdas menciptakan kontroversi ini untuk meyakinkan masyarakat awam, para politikus, dan tokoh-tokoh masyarakat bahwa sekolah haruslah “mengajarkan kontroversi” ini.[104] Pada kenyataannya, tiada satupun kontroversi dalam komunitas ilmiah mengenai keabsahan evolusi; konsensus komunitas ilmiah dalam hal ini adalah kehidupan berevolusi.[105][106] Pada tanggal 21 Juni 2006 pula, melalui Interacademy Panel on International Issues, akademi-akademi sains nasional dari 67 negara, termasuk pula Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, Royal Society Britania, dan Akademi Sains Iran, mengeluarkan suatu pernyataan bersama mengenai pengajaran evolusi yang menegaskan keabsahan dan keilmiahan evolusi.[107] Perancangan cerdas dipandang luas sebagai suatu batu loncatan bagi para pendukungnya untuk meruntuhkan dasar-dasar fondasi filosofi sains yang oleh mereka katakan sebagai materialis, sehingga hal ini tidak memberikan ruang terhadap kemungkinan adanya Tuhan.[108][109]

KREASIONISME AMERIKA BERJUANG AGAR KREASIONISME DI AJAR KAN SEBAGAI BAGIAN SCIENCE

Banyak pendukung kreasionisme di Amerika Serikat selama bertahun-tahun memperjuangkan agar kreasionisme diajarkan sebagai bagian dari ilmu pengetahuan.

Dari hasil suatu angket Gallup Poll, kira kira 40% penduduk Amerika Serikat mendukung pengajaran kreasionisme di sekolah-sekolah, 40% mendukung evolusi teori yang diarahkan oleh Tuhan, dan hanya 20% mendukung teori evolusi tanpa campur tangan Tuhan. Dikalangan ilmuwan Amerika, 5% dari ilmuwan (termasuk ilmuwan di luar ilmu biologi) mendukung cipataanisme.

Kontroversi yang diciptakan oleh para pendukung perancangan cerdas ini mendapatkan sorotan media massa yang luas di Amerika Serikat, utamanya semasa peradilan Kitzmiller v. Dover pada akhir tahun 2005 dan setelah mantan Presiden George W. Bush mengekspresikan dukungannya terhadap gagasan pengajaran perancangan cerdas bersamaan dengan evolusi pada bulan Agustus tahun 2005. Sebagai respon terhadap pernyataan Bush dan peradilan federal yang ditunda ini, majalah Time menerbitkan artikel setebal delapan halaman yang membahas Perang Evolusi.[110][111] Sampul majalah tersebut menampilan satu gambar yang memarodikan gambar “Penciptaan Adam” yang terdapat pada Kapel Sistina. Dalam gambar parodi tersebut, jari tangan Tuhan menunjuk pada seekor simpanse beserta kata renungan: “The push to teach “intelligent design” raises a question: Does God have a place in science class?” (Dorongan untuk mengajarkan “perancangan cerdas” mencuatkan pertanyaan: “Apakah Tuhan mempunyai tempat dalam kelas-kelas sains?”).[112] Dalam kasus Kitzmiller v. Dover, pengadilan memutuskan bahwa perancangan cerdas memiliki posisi religius dan kreasionis, setelah menemukan bahwa baik perancangan cerdas maupun Tuhan merupakan bahan ajaran yang tidak seharusnya ada dalam kelas-kelas sains.[5]

ILMU KREASIONISME DI TOLAK MAHKAMAH AGUNG USA KARENA BERTENTANGAN DENGAN UU DASAR USA YANG NETRAL AGAMA

pada tahun 1987 dalam kasus Edwards v. Aguillard, mahkamah agung Amerika Serikat memutuskan bahwa pengajaran kreasionisme sebagai ilmu pengetahuan di sekolah negri melanggar Undang-undag dasar Amerika Serikat mengenai kenetralan negara terhadap agama.

Konsep perancangan cerdas ini berawal sebagai respon terhadap putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat tahun 1987 dalam kasus Edwards v. Aguillard yang melibatkan pemisahan gereja (agama) dari negara.[4] Publikasi pertama mengenai perancangan cerdas yang signifikan adalah sebuah buku tahun 1989 yang berjudul Of Pandas and People. Buku ini ditujukan sebagai buku teks pelajaran dalam kelas-kelas biologi sekolah menengah atas.[21] Beberapa buku tambahan mengenainya juga telah dipublikasikan pada tahun 1990-an. Pada pertengahan 1990-an, para pendukung perancangan cerdas mulai berkumpul di Discovery Institute dan secara publik mengadvokasi pemasukan perancangan cerdas dalam kurikulum sekolah.[22]

Dengan Discovery Institute dan badan Center for Science and Culture milik institut tersebut memainkan peran pusat dalam perencanaan dan pendanaan, “gerakan perancangan cerdas” semakin muncul ke permukaan publik pada akhir tahun 1990-an dan awal 2000-an. Hal ini mencapai puncaknya pada kasus pengadilan Dover yang menantang pengajaran perancangan cerdas dalam kelas-kelas sains sekolah.

Mahkamah Agung Amerika Serikat memutuskan pada tahun 1987 pada kasus Edwards v. Aquillard bahwa mempersyaratkan pengajaran “sains kreasi” bersamaan dengan evolusi merupakan suatu pelanggaran terhadap “Klausa Pendirian” (Establishment Clause) Amendemen Pertama Konstitusi Amerika Serikat yang melarang adanya dukungan negara terhadap agama tertentu. Dalam kasus Edwards, Mahkamah Agung juga memutuskan bahwa “mengajarkan berbagai jenis teori ilmiah mengenai asal usul umat manusia kepada anak-anak sekolah dapat dilakukan dengan tujuan sekuler untuk meningkatkan efektivitas instruksi sains”.[25]

Putusan Mahkamah Agung yang sama mengenai kampanye ini membuat ahli hukum Phillip E. Johnson, dalam buku tahun 1991-nya, Darwin on Trial, mengadvokasikan pendefinisian ulang sains agar dapat mengizinkan klaim-klaim kreasi supranatural.[27]

Sains empiris menggunakan metode ilmiah untuk menciptakan pengetahuan a posteriori yang didasarkan pada pengamatan dan pengujian hipotesis dan teori secara berulang-ulang. Para pendukung perancangan cerdas berusaha mengubah dasar fondasi ilmiah ini[113]

EROPA PENDUKUNG KREASIONISME LEBIH SEDIKIT

Di Eropa, pendukung kreasionisme lebih sedikit dibandingkan di Amerika Serikat. Hampir di semua sekolah diajaran evolusi teori. Negara Eropa dengan mayoritas beragama Katolik menerima evolusi setelah paus mengakui bahwa ilmu evolusi layak diajarkan kepada murid-murid. Sekolah Kristen Emmanuel di Inggris mengajarkan bahwa baik evolusi maupun kreasionisme adalah keyakinan yang valid. Di Italia, bekas perdana mentri Silvio Berlusconi berencana untuk menghapus ajaran teori evolusi di tingkat sekolah menengah. Tetapi akibat banyak protes, rencana ini tidak diteruskan.

NEGARA PENDUKUNG TEORI EVOLUSI TERBANYAK

Menurut angket majalah Science di Amerika Serikat, Jepang, Eropa, dan Turki, negara yang paling banyak pendukung evolusi adalah Islandia, Denmark, dan Swedia yang mempunyai pendukung sebanyak 80% dari populasi.

Dalam kasus Kitzmiller v. Dover Area School District, sekelompok orang tua menggugat sebuah distrik sekolah yang mempersyaratkan para guru untuk menawarkan perancangan cerdas dalam kelas-kelas biologi sekolah sebagai “penjelasan alternatif mengenai asal usul kehidupan”. Hakim Distrik Amerika Serikat John E. Jones III memutuskan bahwa perancangan cerdas bukanlah sains, dan ia “tidak dapat memisahkan dirinya sendiri dari para pendahulu kreasionisnya, sehingga ianya bersifat religius”, dan bahwa penggalakan pengajaran perancangan cerdas yang dilakukan oleh distrik sekolah oleh karenanya melanggar “Klausa Pendirian” (Establishment Clause) Amendemen Pertama Konstitusi Amerika Serikat.[23]

KREASIONISME MENDUKUNG RANCANGAN CERDAS

Perancangan cerdas (bahasa Inggris: Intelligent design) adalah suatu pernyataan yang menyatakan bahwa “ciri-ciri tertentu pada alam semesta dan makhluk hidup merupakan hasil dari suatu sebab yang intelijen, bukan oleh proses tak termbimbing seperti seleksi alam.”[1][2] Perancangan cerdas merupakan bentuk modern dari argumen teleologis akan keberadaan Tuhan, namun menghindari pendeskripsian sifat-sifat maupun identitas sang perancang itu.[3] Gagasan ini dikembangkan oleh sekelompok kreasionis Amerika yang memformulasikan ulang argumen mereka untuk menyiasati putusan pengadilan Amerika Serikat yang melarang pengajaran ciptaanisme sebagai sains.[4][5][6] Para pendukung perancangan cerdas pada Discovery Institute[7][8] mempercayai bahwa perancang tersebut adalah Tuhan dalam agama Kristen.[9][10]

Para pendukung perancangan cerdas berargumen bahwa perancangan cerdas adalah teori ilmiah,[11] dan berusaha untuk secara mendasar mendefinisikan ulang sains agar sains dapat menerima penjelasan supranatural.[12]

RANCANGAN CERDAS DI DUKUNG NEGARA-NEGARA MUSLIM

Selain di Amerika Serikat, gerakan ini juga memiliki pengaruh politik yang sangat kuat di banyak negara-negara Islam. Pandangan anti-evolusi sangat meluas dan mendapatkan dukungan resmi dari pemerintah dan para elit-elit teolog.[24] Secara umum, kreasionis Muslim telah bekerja sama dengan Institute for Creation Research, dan mengadaptasikan gagasan dan bahan-bahan ajaran mereka ke dalam argumen teologis mereka sendiri. Gagasan yang mirip dengan perancangan cerdas juga dianggap sebagai pilihan intelektual alternatif di kalangan umat Muslim. Di Turki, misalnya, banyak buku-buku perancangan cerdas yang diterjemahkan. Di Indonesia pula, buku-buku karya Harun Yahya yang menentang evolusi juga cukup populer.

Muzaffar Iqbal, Muslim Pakistan-Kanada terkenal, menandatangani potisi A Scientific Dissent From Darwinism dari Discovery Institute.[119]

Di Istanbul pada tahun 2007 diselenggarakan sebuah pertemuan publik guna mempromosikan perancangan cerdas yang disponsori oleh pemerintah lokal,[24] di mana David Berlinski dari Discovery Institute merupakan pembicara kunci di pertemuan tersebut pada Mei 2007.[120]

PARA TOKOH KREASIONISME

Sekelompok advokat seperti Michael Behe, Stephen C. Meyer dan William Dembski bergabung dengan Johnson dengan tujuan menggulingkan naturalisme metodologis yang digunakan dalam metode ilmiah (yang ia sebut sebagai “materialisme“) dan menggantikannya dengan “realisme teistik” melalui apa yang mereka kemudian sebut sebagai wedge strategy.[28] Pada revisi buku Of Pandas and People tahun 1993, Behe mendeskripsikan apa yang kemudian ia namakan “kerumitan tak tersederhanakan” (irreducible complexity).[29] Pada tahun 1994, Meyer melakukan kontak dengan Discovery Institute dan setahun kemudian mendapatkan dana untuk mendirikan lembaga Center for Renewal of Science and Culture untuk mempromosikan gerakan perancangan cerdas dan mencari dukungan politik dan publik akan pengajaran “perancangan cerdas” sebagai alternatif dari teori evolusi, utamanya di Amerika Serikat.[22]

ARGUMENT PERANCANGAN CERDAS VS ANTI NYA

Para pendukung perancangan cerdas mencari-cari bukti yang mereka istilahkan sebagai “tanda-tanda kecerdasan” dari suatu objek yang menunjuk pada seorang perancang. Sebagai contohnya, mereka berargumen bahwa arkeolog yang menemukan suatu patung batu dalam suatu lapangan boleh dibenarkan untuk menyimpulkan bahwa patung tersebut dirancang, sehingga cukuplah beralasan untuk mencari identitas sang perancang patung tersebut. Arkeolog tersebut tidaklah boleh dibenarkan untuk membuat klaim yang sama berdasarkan ketidakteraturan tebing-tebing yang berukuran sama. Para pendukung perancangan cerdas ini berargumen bahwa sistem kehidupan menunjukkan kompleksitas yang tinggi, yang darinya mereka menduga bahwa beberapa aspek kehidupan dirancang.

Tidak ada satu pun pula artikel-artikel yang mendukung perancangan cerdas pernah diterbitkan dalam jurnal-jurnal ilmiah, maupun perancangan cerdas dijadikan sebagai subjek pengujian dan penelitian ilmiah.[37] Filsuf Oxford A. C. Grayling mengesampingkan perancangan cerdas sebagai “kebodohan kekanak-kanakan yang sangat kecil; sebuah bekas masa kecil umat manusia”.[38]

Di luar permasalahan apakah perancangan cerdas ini ilmiah, sejumlah kritikus berargumen bahwa bukti-bukti yang ada membuat hipotesis perancangan tidak memungkinkan. Sebagai contoh, Jerry Coyne bertanya mengapa seorang perancang akan “memberikan kita suatu lintasan metabolisme untuk menghasilkan vitamin C, tetapi kemudian merusaknya dengan menghilangkan salah satu enzim lintasan tersebut”. Ia juga bertanya mengapa perancang tersebut tidak “memenuhi pulau-pulau samudera yang terpencil dengan reptil, mamalia, amfibi, dan ikan air tawar walaupun pulau terpencil tersebut dapat mendukung spesies-spesies tersebut.[98] Sebelumnya, dalam karyanya Darwin’s Black Box, Behe telah berargumen bahwa kita tidaklah dapat memahami motif sang perancang tersebut, sehingga pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak dapat dijawab secara pasti. Perancangan yang aneh, sebagai contohnya, “telah dirancang oleh sang perancang … untuk alasan artistik, untuk memamerkan perancangan, untuk tujuan-tujuan yang belum diketahui, ataupun untuk alasan-alasan lain yang tidak terduga”.

Penekanan bahwa diperlukannya seorang perancang kerumitan juga telah memicu pertanyaan “apakah yang telah merancang sang perancang?”[99] Pendukung perancangan cerdas mengatakan bahwa pertanyaan ini irelevan karena ia berada di luar ruang lingkup perancangan cerdas.[100] Richard Wein menolak jawaban seperti itu dan berargumen bahwa pertanyaan-pertanyaan tak terjawab yang dihasilkan oleh suatu penjelasan “haruslah diseimbangkan untuk memajukan pemahaman kita akan apa yang diberikan oleh penjelasan tersebut. Mencetuskan makhluk yang tak terjelaskan untuk menjelaskan asal usul makhluk lain (kita sendiri) tidaklah lebih dari kesesatan logika petitio principii. Pertanyaan baru yang dihasilkan oleh penjelasan awal sama problematiknya dengan pertanyaan awal yang coba dijelaskan oleh penjelasan awal tersebut”.[81] Richard Dawkins memandang penekanan bahwa sang perancang tidaklah perlu dijelaskan tidaklah memberikan kontribusi apa-apa terhadap pengetahuan kita, tetapi hanya merupakan kata-kata klise.[101][102] Tanpa adanya bukti-bukti yang terukur dan terpantau, pertanyaan “Apakah yang merancang sang perancang?” akan menyebabkan regresi tak terhingga, yang hanya dapat di atasi apabila para pendukung perancang cerdas menggunakan argumen kreasionisme religius ataupun kontradiksi logika.[101][103]

SEJARAH PERANCANGAN CERDAS

Apakah kompleksitas alam mengindikasikan adanya rancangan yang disengajakan merupakan wacana filosofis yang dapat ditilik kembali pada filsafat Yunani kuno. Pada abad ke-4 SM dalam Timaeus, Plato berdasarkan argumentasinya menyatakan bahwa “demiurge” yang baik dan bijak adalah pencipta dan sebab pertama kosmos.[39][40] Dalam karyanya, Metafisika, Aristoteles mengembangkan gagasan “Penggerak tak bergerak” (κινούμενον κινεῖ).[41] Dalam De Natura Deorum (Mengenai Sifat-Sifat Tuhan/Dewa, 45 SM) Cicero menyatakan bahwa “kuasa Tuhan ditemukan dalam prinsip-prinsip penalaran yang meliputi keseluruhan alam.”[42][43] Penalaran ini dikenal sebagai argumen teleologis akan keberadaan Tuhan. Bentuk paling terkenal dari argumen ini diekspresikan pada abad ke-13 oleh Thomas Aquinas dan pada abad ke-19 oleh William Paley. Aquinas, dalam Summa Theologiae karyanya, menggunakan konsep perancangan dalam “pembuktian ke-lima”-nya akan keberadaan Tuhan.[44] Paley, dalam Natural Theology (1802), menggunakan analogi tukang jam.[45]

konstanta fisika, gaya nuklir, elektromagnetisme, dan gravitasi. Menurut Guillermo Gonzalez, seorang astronom yang mendukung perancangan cerdas, berargumen bahwa apabila nilai-nilai konstanta ini sedikit saja berbeda, maka alam semesta akan menjadi sangat berbeda, membuat banyak unsur kimia beserta materi-materi alam semesta tidak mungkin terbentuk.[88] Oleh karenanya, para pendukung berargumen bahwa seorang perancang kehidupan diperlukan untuk memastikan bahwa alam semesta tertala dengan baik.

Para ilmuwan hampir semuanya merespon bahwa argumen ini tidak dapat diuji dan tidak produktif secara ilmiah. Beberapa ilmuwan pun berargumen bahwa bahkan apabila argumen ini hanyalah spekulasi, ia tidak didukung oleh bukti-bukti yang ada.[89]

Pada abad ke-17, seorang dokter Inggris Sir Thomas Browne menulis sebuah wacana yang berargumen tentang perancangan cerdas. Karya tahun 1658-nya, The Garden of Cyrus, merupakan salah satu contoh “pembuktian” paling awal akan kebijakan Tuhan dan memberikan contoh-contoh perancangan cerdas dalam ilmu botani. Pada awal abad ke-19, argumen seperti ini mendorong perkembangan ilmu yang disebut sebagai teologi alam, yaitu kajian alam sebagai suatu cara untuk memahami “pikiran Tuhan”. Gerakan ini membangkitkan semangat untuk mengumpulkan fosil-fosil dan spesimen-spesimen biologi lainnya. Pada akhirnya, hal ini mendorong terbitnya karya Charles Darwin, On the Origin of Species. Zaman sekarang, penalaran yang mirip yang mempostulatkan keberadaan perancang dipeluk oleh para pemeluk evolusi teistik, yang menganggap sains modern dan teori evolusi secara penuh sesuai dengan konsep perancang supranatural.

Perancangan cerdas pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21 merupakan hasil perkembangan teologi alam yang berusaha untuk mengubah dasar-dasar sains dan mengecilkan teori evolusi.[46][47][48] Oleh karena teori evolusi telah berkembang pesat dan mampu menjelaskan banyak fenomena, contoh-contoh yang disebutkan sebagai bukti perancangan pun telah berubah, walaupun argumen dasarnya tetaplah sama, yaitu sistem yang kompleks menyiratkan adanya perancang. Contoh-contoh yang disebutkan pada masa lalu misalnya mata dan sayap burung; contoh zaman sekarang umumnya lebih bertumpu pada biokimia, meliputi fungsi protein, pembekuan darah, dan flagela bakteri.

Barbara Forrest mendeskripsikan gerakan perancangan cerdas dimulai pada tahun 1984 ketika organisasi keagamaan Jon A. Buell Foundation for Thought and Ethics (FTE) menerbitkan The Mystery of Life’s Origin yang ditulis oleh kreasionis dan kimiawan Charles B. Thaxton.[49] Pada bulan Maret 1986, tinjauan Stephen C. Meyer mengenai buku ini mendeskripsikan bahwa Thaxton menggunakan teori informasi untuk mensugestikan bahwa pesan-pesan yang ditransmisikan oleh DNA dalam sel menunjukkan “kompleksitas spesifik” yang memerlukan kecerdasan, dan itu haruslah berasal dari seorang perancang cerdas.[50] Pada bulan November tahun itu pula, Thaxton menjelaskan penalarannya sebagai bentuk yang lebih canggih dari argumen perancangan Paley.[51] Pada konferensi Sources of Information Content in DNA tahun 1988, ia mengatakan bahwa pandangan penyebab intelijennya sesuai dengan naturalisme metafisik dan supranaturalisme,[52] istilah intelligent design (“perancangan cerdas”) pun muncul.[53]

Banyak pengikut perancangan cerdas percaya bahwa “Saintisme” itu sendiri juga adalah agama yang mempromosikan sekularisme dan materialisme dalam suatu upaya untuk menghapus peranan teisme dari kehidupan publik. Mereka memandang bahwa usaha mereka dalam mempromosikan perancangan cerdas merupakan salah satu cara untuk mengembalikan agama dalam bidang pendidikan sebagai pemain utamanya.

SEBAGIAN KREASIONIS BERPENDAPAT PERANCANG CERDAS ADALAH ALIENS

Argumen perancangan cerdas dirumuskan dalam istilah-istilah sekuler dan dengan sengaja menghindari identifikasi agen (ataupun agen-agen) cerdas yang bertanggung jawab terhadap perancangannya. Walaupun para pendukung tidak menyatakan bahwa Tuhan adalah sang perancang tersebut, perancang ini sering secara implisit dihipotesiskan mengintervensi sedemikian rupanya hanya ada satu Tuhan yang bertanggung jawab. Dembski, dalam bukunya The Design Inference, berspekulasi bahwa seorang alien dapatlah memenuhi persyaratan ini.

KOMENTAR SAYA

Tulisan wikipedia di atas akan menjadi jawaban mengapa Teori Evolusi sampai sekarang di anggap kokoh secara ilmiyah.penyebab nya Teori anti nya tak mendapat tempat di Amerika Serikat,sebab Kreasionisme cendrung pada Agama tertentu,sedang Amerika di dirikan atas netral Agama.hingga keberadaan kreasionisme terjepit dan mendapat opini yang menyudut kan

Di samping itu keputus asaan para scholar barat pada banyak kesalahan Bible membuat mereka tak punya alasan dan daya untuk mendukung suatu pencipta.maka mereka lebih kepada Teori Evolusi ketimbang Kreationisme.dan tidak mempercayai isi Bible yang penuh kesalahan dan mencari alternatif lain tentang asal usul manusia.bahkan ada kreasionisme menolak Yahweh atau Yesus sebagai perancang cerdas,tetapi Aliens…ini menunjuk kan tak semua kreasionisme itu percaya Bible karena banyak kesalahan di dalam nya.

Di samping itu Sekularisme dan materialisme yang bersumber dari teori Evolusi sebagai salah satu dasar di rasa lebih nyaman ketimang ikatan-ikatan Agama yang kaku warisan zaman purba.sebab tampa agama lebih bebas dalam perzinahan,prostitusi,industri porno,swinger,klub nudist dll tampa ikatan agama apapun.dari segi politik Teori Evolusi harus di pertahan kan untuk mendukung pemisahan negara dengan Gereja yang mana barat mempunyai sejarah yang kelam dan hitam ketika di perintah oleh gereja.

Dalam islam sangat sederhana untuk membuktikan ada nya Tuhan.

QS ALI IMRAN:190

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
QS IBRAHIM:33

Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.
Sejak ribuan tahun lalu malam dan siang berganti-ganti secara teratur membentuk harmoni jam,hari,bulan dan tahun.apa jadi nya jika kita mengalami siang terus menerus maka bumi jadi terbakar dan air laut menjadi mendidih.manusia akan mati semua.tetapi Allah mengganti siang dengan malam dan sebalik nya hingga kita bisa hidup.
Ayat-ayat seperti di atas tak pernah ada dalam teks Bible,yang ada malah serangkaian kesalahan yang membuat putus asa ilmuan untuk kembali kepada agama kristen.
Lalu bagai mana islam memandang Teori Evolusi?….dalam quran di katakan ada nya kehidupan sebelum Adam dan Hawa.mungkin fosil-fosil serupa manusia itu tak ada hubungan dengan Adam dan Hawa,tetapi terjadi ciptaan tersendiri sebelum Adam dan Hawa.seperti protes malaikat ketika hendak menjadikan Adam sebagai Khalifah di muka bumi.
Dalam ke kristenan tidak ada ayat seperti itu.Bible tak berbicara apapun tentang ada nya kehidupan mahluk hidup pra Adam dan Hawa yang serupa manusia.hingga para ilmuan tak bisa memadukan penemuan-penemuan fosil dengan Bible.

SUMBER

https://id.wikipedia.org/wiki/Kreasionisme

https://id.wikipedia.org/wiki/Perancangan_cerdas

 

Iklan