memilih-pemimpin-kafir

Para pembela pemimpin kafir terhadap muslim menafsir kan Auliya bukan pemimpin,tetapi teman.kebanyakan dari mereka datang dari kalangan JIL.mereka memboleh kan orang kafir memimpin muslim karena alasan kata Auliya berarti teman,bukan pemimpin.padahal Auliya bermakna teman,pelindung,penolong,pemimpin,semua benar sesuai konteks ayat nya.

Makna lain dari awliya’ atau wali adalah pemimpin atau yang diberi tanggung jawab dalam urusan penting seperti dalam kisah Umar berikut.seharus nya umat islam dalam menafsir kan quran berpulang kepada penafsiran ORANG TERDEKAT RASUL,yakni salah satu contoh nya Umar bin Khattab.bukan dari penafsiran orang-orang yang ngawur dari kaum JIl.

Ibnu Katsir menukil sebuah riwayat dari Umar bin Khathab. Umar bin Khathab pernah memerintahkan Abu Musa Al Asy’ari bahwa pencatatan pengeluaran dan pemasukan pemerintahan dilakukan oleh satu orang. Abu Musa memiliki seorang juru tulis yang beragama Nasrani. Abu Musa pun mengangkatnya untuk mengerjakan tugas tersebut. Umar bin Khathab pun kagum dengan hasil pekerjaannya.

Umar berkata, “Hasil kerja orang ini bagus.”

Umar melanjutkan, “Bisakah orang ini didatangkan dari Syam untuk membacakan laporan-laporan di depan kami di masjid?”

Abu Musa menjawab, “Ia tidak bisa masuk masjid.”

Umar bertanya, “Kenapa? Apa karena ia junub?”

Abu Musa menjawab, “Bukan. Ia tidak bisa karena ia seorang Nashrani.”

Umar pun menegurku dengan keras dan memukul pahaku dan berkata, “Pecat dia.”

Umar lalu membacakan ayat (yang artinya),Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.  Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim dengan sanad dan matan darinya. Abu Ishaq Al-Huwaini menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 3: 417-418)( kisah yang sama KLIK )

Jelas sekali bahwa ayat ini larangan menjadikan orang kafir sebagai pemimpin atau orang yang memegang posisi-posisi strategis yang bersangkutan dengan kepentingan kaum muslimin.( SOURCES )

Dari kisah di atas bisa kita ambil Hikmah:

PERTAMA:JABATAN AKUNTAN NEGARA SAJA UMAR MELARANG MENYERAH KAN NYA PADA ORANG-ORANG KAFIR,APALAGI JABATAN YANG LEBIH BESAR

Umar melarang, jangan sampai orang kafir menjadi pejabat yang memiliki posisi di pemerintahan. Sekalipun dia hanya seorang akuntan negara.apalagi jabatan yang lebih besar dalam negara seumpama gubernur,walikota,apalagi sebagai kepala negara(presiden).maka Tafsiran Umar terhadap kata Auliya dalam surat Al-Maidah ayat 51 adalah sebagai salah satu nya orang yang di serah kan jabatan dalam suatu negara.maka hal itu di larang.

KEDUA:APAKAH UMAR BIN KHATTAB BERBEDA PENDAPAT DENGAN ABU MUSA AL-ASY’ARY?

Para pendukung Ahok dari kalangan muslim mengatakan boleh atau tidak nya non muslim menduduki jabatan negara adalah ikhtilaf antara Umar bin Khattab dengan Abu Musa Al-Asy’ary.mustahil Abu Musa tak mengetahui quran terutama surat Al-Maidah ayat 51.tetapi Abu Musa tetap menduduk kan non muslim dalam pemerintahan sebagai akunting.berarti Abu Musa menganggap boleh non muslim masuk ke dalam jabatan negara.namun karena Umar pimpinan saat itu,maka pendapat Umar yang di taati.

JAWAB:
Abu Musa menduduk kan non muslim pada jabatan negara karena ke alpaan nya.maka ia di ingat kan Umar tentang Haram nya hal itu dan mengingat kan nya dengan surat Maidah ayat 51.wajar jika orang yang tahu quran lupa atau tak memahami atau kurang memperhatikan hal itu karena kelemahan sifat manusia.maka Umar bin Khataab mengingat kan Abu Musa.keputusan Umar di taati bukan karena ia pimpinan saat itu,tetapi memang tafsiran itu DI SETUJUI para sahabat.bukti nya setelah Umar wafat,tak ada satu pun sahabat menyanggah pendapat Umar itu.malah para ulama mufassirin dan lain nya bersepakat akan tidak bolehnya non muslim menduduki jabatan-jabatan negara:

Al-Qadhi Iyadh mengatakan,

أجمع العلماءُ على أنَّ الإمامة لا تنعقد لكافر، وعلى أنَّه لو طرأ عليه الكفر انعزل

Para ulama sepakat bahwa kepemimpinan tidak boleh diserahkan kepada oranng kafir. Termasuk ketika ada pemimpin muslim yang melakukan kekufuran, maka dia harus dilengserkan. (Syarah Sahih Muslim, an-Nawawi, 6/315).

Ibnul Mundzir mengatakan,

إنَّه قد “أجمع كلُّ مَن يُحفَظ عنه مِن أهل العلم أنَّ الكافر لا ولايةَ له على المسلم بِحال

Para ulama yang dikenal telah sepakat bahwa orang kafir tidak ada peluang untuk menjadi pemimpin bagi kaum muslimin apapun keadaannya. (Ahkam Ahlu Dzimmah, 2/787)

KETIGA:BETAPAPUN CAKAP NYA KERJA ORANG-ORANG KAFIR DALAM PEMERINTAHAN,TETAP TAK BOLEH DI JADIKAN PEMIMPIN ATAU MENANGANI URUSAN2 NEGARA

Kerja orang Nasrani itu di puji Umar akan kebagusan kerja nya.namun begitu Umar tahu akuntan itu nasrani,maka Umar menyuruh Abu Musa memecat nya.walau kerja Ahok ketika menjadi Gubernur cakap dan ber prestasi,namun tetap tak boleh menjabat.mengapa?karena ORANG-ORANG KAFIR ITU KETIKA MEMIMPIN MEMBANGUN SEKALIGUS MEROBOH KAN.mereka hanya mengerti membangun zahir dunia tetapi akhirat binasa.seperti Ahok memang bagus menangani kali hingga bersih,dll prestasi,namun permisif terhadap pelacuran,miras,LGBT dst.hingga fisik terbangun sejahtera tetapi moral hancur.lihat hasil kepemimpinan orang-orang kafir di negara-negara kafir,mereka hebat membangun ekonomi,insfrastruktur,kemakmuran dll,namun mereka ingkar pada quran,maka mereka memboleh kan pelacuran jadi bisnis,miras,judi,pantai telanjang,bisnis porno,LGBT,dll….lihat negara yang di pimpin orang-orang kafir baik Nasrani,ateis,dll negara2 itu bisnis pelacuran legal,kota Las vegas pusat judi,industri pornografi marak,miras merajalela,dst……semua terjadi ketika negara di pimpin orang-orang kafir dan munafik.ingat kasus obama melegal kan LGBT?itu lah hasil kepemimpinan orang-orang kafir.

Pemimpin kafir tentu membiar kan lelaki dan wanita melakukan khalwat,ikhtilath,tabarruj,pergaulan bebas,dll atas dasar kasih dan HAM.cuma pemimpin muslim yang bertakwa yang keras melarang zina,peergaulan bebas,miras,LGBT,perjudian dll.dan pemimpin kafir pasti menghalang-halangi penerapan hukum islam.melihat semua dalil ini maka tepat sekali tafsiran umar agar tidak memasuk kan orang-orang kafir dalam jabatan negara.justru pendukung pemimpin kafir adalah PENDAPAT BATIL melihat hasil kepemimpinan kafir senantiasa merugikan umat islam dan merusak moral mereka dan menjauh kan umat islam dari hukum Allah.maka saya katakan:

1)PEMIMPIN BAIK KINERJA NYA TAPI KAFIR=Buruk,sebab mereka hanya baik kinerja memakmurkan secara dunia tetapi merusak moral,menjauhkan muslim dari quran dan hukum2 Allah.

2)PEMIMPIN BURUK KINERJA NYA TAPI MUSLIM=Buruk,harus di ganti dengan pimpinan yang takwa dan ber kinerja baik dari kalangan umat islam.tak lantas memilih kafir walau baik kinerja nya karean alasan nomor 1 di atas.

3)PEMIMPIN BAIK KINERJA NYA DAN MUSLIM=ini yang ideal…..sejarah Islam banyak mencetak pemimpin seperti ini,tak hanya Ahok.masih banyak pegawai2 pemerintahan muslim yang jujur dan takwa.

4)PEMIMPIN BURUK KINERJA NYA DAN KAFIR=Buruk……banyak pemimpin kafir yang buruk kinerja nya,tukang korupsi,dst,namun heran nya Ahok di jadikan model seakan mayoritas orang kafir adalah bersih.

RASULULLAH PUN MELARANG KEPEMIMPINAN DI BAWAH ORANG-ORANG KAFIR

hadis dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu,

بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةً عَلَيْنَا وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنْ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ

“Kami berbaiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk selalu mendengar dan taat kepada pemimpin, baik dalam suka maupun benci, sulitan maupun mudah, dan beliau juga menandaskan kepada kami untuk tidak mencabut suatu urusan dari ahlinya kecuali jika kalian melihat kekufuran secara nyata dan memiliki bukti yang kuat dari Allah.” (Muttafaq ‘alaih)

Dari hadist di atas jelas memilih pemimpin kafir itu di haram kan,bahkan jika orang kufur terlihat memimpin,harus di turun kan jabatan nya karena kekufuran nya.jadi muslim tak boleh di pimpin oleh orang-orang kafir,Nabi pun bersabda demikian.tanda kerusakan yafsir kaum JIL yang membolehkan orang kafir memimpin adalah:

1)Tafsiran itu bertentangan dengan Rasulullah sendiri yang melarang di pimpin kafir,bahkan jika di pimpin kafir,pemimpin itu harus di turun kan dari jabatan nya

2)Bertentangan dengan orang terdekat Rasul,Umar bin Khattab yang melarang orang2 kafir menjadi aparatur negara apalagi memimpin negara

3)Bertentangan dengan kaidah Logika….jika berteman setia saja tak boleh lebih-lebih lagi menjadikan pemimpin umat islam..itu logika nya.

4)Hasil kepemimpinan orang kafir terbukti merusak moral islam,menjauh kan muslim dari quran,menghalangi penerapan hukum Allah,dari  hasil ini saja terbukti menyerah kan kepemimpinan pada orang kafir adalah kebatilan.maka tafsiran JIL adalah buruk dan berbuah keburukan

5)Tafsiran JIL menyalahi Ijmak ulama,maka JIL adalah tafsiran yang menyeleweng.sebab umat Rasul tak akan ber ijmak dalam kebatilan.

6)Tafsiran JIL membolehkan pemimpin Kafir adalah TAFSIRAN SESAT TAK PUNYA DASAR,sebab bertentangan dengan Rasul dan sahabat Umar yang melarang kafir menduduki jabatan-jabatan negara.tafsir JIL walau mengacu asbabbun nuzul tetap ngaco sebab Rasul dan sahabat sendiri melarang,tiba2 JIL seakan menerima wahyu memboleh kan.