Tulisan dari ‘Pembantu Rumah Tangga’ Kategori

BERBICARA RINGAN TENTANG PERBUDAKAN DI MASA LAMPAU.

salah satu contoh memperlakukan budak dengan tak manusiawi yang di tentang islam.

salah satu contoh memperlakukan budak dengan tak manusiawi yang amat di tentang islam.

Perbudakan bukan produk islam.sewaktu rasulullah belum dan sudah dilahirkan,fenomena perbudakan telah meluas diarabia,romawi,persia sasanid dll.sebelum rasulullah lahir,budak2 didapat dalam peperangan.ketika suatu bangsa kalah,maka bangsa yang menang mengangkut banyak budak perempuan dan laki2.nasib budak2 sebelum islam mengenaskan.contoh kedokteran persia pra islam melakukan percobaan penemuan melalui tubuh budak2.dst.lalu datanglah islam menghapus perbudakan,namun dengan berangsur angsur agar tak ada pemberontakan dan protes dari pemilik2 budak,karena budak dibeli dengan harga tinggi.bagaimana perasaan anda jika disuruh menyerahkan segera barang mahal secara cuma2 yang dibeli dari keringat anda?.karena dijaman kegelapan,budak dianggap sebagai asset perekonomian.karena lembaga perbudakan telah demikian mengakar saat itu.,karena pemilik merasa telah membelinya dengan uang banyak dipasar budak.rasulullah memberi jalan bebasnya budak2 dengan cara yang halus,pelan2 dan bijaksana agar tak saling merugikan. sbb.1)jika tuannya menggaulinya,lahir anak.otomatis budak menjadi merdeka.2)jika tuannya memukulnya,otomatis ia merdeka.3)budak boleh menebus dengan uang untuk merdeka.4)tak jarang orang2 saleh muslim masa awal sengaja membeli budak2 dengan harga tinggi,lalu setelah jadi miliknya,ia dimerdekakan.dst.demikianlah cara2 rasulullah membersihkan warisan2 kotor jahiliah berupa perbudakan.

MENGAPA MUNCUL PERBUDAKAN PRA ISLAM?

Perbudakan bukanlah produk islam.waktu islam datang,jazirah arab dan dunia telah menerapkan perbudakan selama ribuan tahun lalu.dalam taurat musa telah menggambarkan perbudakan..pasukan kerajaan yg menang menawan wanita,anak2,laki2 dst.lalu mereka diangkut menjadi budak.lalu umumnya budak2 iu mendapat perlakuan buruk.diberi kerja diluar batas kesanggupan,dipukuli,tak diberi makan cukup,yg wanita boleh jadi di umpan ke pesta2 sex dan dipaksa menjadi pelacur.DI PERSIA PRA ISLAM,BUDAK2 DIJADIKAN BAHAN PERCOBAAN PEMBEDAHAN KEDOKTERAN.

LALU DATANGLAH SYARIAT ISLAM YG BERCAHAYA.

kalau mau jujur,peradaban dunia mana yg saat itu memberikan wacana serius dan kontinu dengan asas agama pembebasan perbudakan dimasa nabi muhammad hidup??cuma islam 1500 tahun lalu membicarakan tema pembebasan perbudakan,1200 tahun sebelum abraham lincoln mengangkat tema pembebasan perbudakan di amerika dan dunia.

Waktu islam datang,perbudakan sudah menjadi sistem sosial dan ekonomi yg mengakar.orang2 yg masuk islam masih memiliki budak2 baik laki2 dan perempuan.maka mau tak mau beberapa ayat quran dan hadist harus menerangkan masalah2 perbudakan dan hukum2nya.DAN TERNYATA,DI BAWAH NAUNGAN SYARIAT ISLAM,NASIB BUDAK2 MENJADI LEBIH BAIK.dimana hukum2 islam tentang budak amat manusiawi.antara lain:

1)larangan memukuli budak
2)larangan mempekerjakan budak diluar batas kemampuannya.
3)dilarang meng eksploitasi budak2 perempuan.seperti dijadikan pelacur.budak2 perempuan itu harus dijaga kehormatan nya dirumah tuannya.diberi makan,pakaian,tempat tinggal layak,bahkan pendidikan.
4)siapa yg memukul budaknya,maka menurut Rasul harus otomatis wajib bebas merdeka saat itu.
5)jika budak masak,wajib tuannya menyuruh budak itu mencicipi hasil masakannya.
6)jika dipukul,ditumbuk batu,ditinju,dibunuh dll oleh majikannya,si majikan wajib di qisas.dst

begitu manusiawinya hukum2 perbudakan islam,hingga kita tak menjamin budak2 lainnya saat itu diluar negri2 islam(cina,persia,romawi,dst),mendapat perlakuan manusiawi seperti di negri2 islam saat itu.

Waktu islam datang,percobaan pembedahan kedokteran persia dgn perantaraan tubuh para budak dihapuskan..masa romawi,para budak dipaksa bertarung di arena.pada masa ke khalifahan islam,hal itu tidak ada sama sekali..malah dalam sejarah islam,para budak bisa menjadi orang2 sukses seperti gubernur,ilmuan,ulama,bahkan memilli kerajaan..contoh,dinasty mameluk di mesir di dirikan oleh para budak dinegri muslim..masa ottoman,budak2 dari eropa timur masuk islam,dididik di akademi militer,mendapat pangkat panglima/perwira di imperium ottoman turki.
Itulah keadilan islam yg tiada banding dalam masalah budak.

WAJIB ATAU SUNNAH ATAU APA HUKUM MEMBEBASKAN BUDAK?

Perlu diketahui,salah satu ajaran islam ialah membebaskan budak.namun apa hukum membebaskan budak dalam islam?

1)WAJIB=budak wajib dibebaskan tuannya ketika budak itu dipukuli tuan nya.sebab dalam hadist sahih,seorang budak yg dipukul otomatis merdeka.juga bisa di qiyaskan jika budak di eksploitasi buat pelacuran,di siksa,dst,hakim mesti memaksa agar budak itu dibebaskan.sebab keadaan budak sudah tersiksa dibawah majikannya,maka harus segera dibebaskan sebelum budak itu mengalami cacat atau mati.juga wajib menuruti pemimpin pemerintahan islam,mufti,dll jika dunia sudah sepakat menghapus perbudakan.

2)SUNNAH=majikan boleh menahan budaknya karena masih membutuhkannya.selam budak itu di perlakukan dgn baik.jika budak itu dipukul,di siksa,dst,maka otomatis hak atas budaknya hilang.jika majikannya bertakwa dan berakhlak baik,maka majikan boleh menahannya dan berpahala jika membebaskannya.sebab hidup budak ditangan majikan yg bertakwa dan berakhlak baik tentu bahagia,ketimbang ia memilih merdeka lalu terkatung katung diluar rumah mantan majikannya yg baik dalam keadaan miskin dan melarat.

Namun,majikan sebaik apapun jika suatu saat budak ingin merdeka dan mengadakan cicilan pembebasan,majikan wajib meloloskan nya dgn membayar cicilan nya(qs 24:33)..begitu adil dan manusiawi hukum2 perbudakan islam itu.

BUDAK2 PEREMPUAN DI NEGERI2 ISLAM MASA DULU.

Mereka diatur dgn keadilan islam sbb:

1)islam tak memandang rendah budak2 wanita,mereka boleh dikawini tuannya.(4:3,4:24,4:252)budak perempuan yg dikawini berhak mendapat maskawin yg pantas sebab mereka sama terhormat dgn wanita merdeka jika menjaga diri(4:25)
3)boleh menyetubuhi budak2 perempuan(23:5-7,70:30).dengan syarat budak2 itu memang miliknya..jika menyetubuhi budak orang lain,maka itu zina.
4)jika budak2 wanita itu tak menikah dgn tuan nya,ingin menikah dgn pemuda lain,maka tuan si budak mesti membantu biaya pernikahan nya(24:32).
5)tak boleh meng eksploitasi budak2 perempuan seperti
memaksanya jadi pelacur,di umpan dipesta2 sex,dst.kehormatan budak wanita cuma untuk tuan nya dirumah,tak boleh di umpan ke dunia luar yg kejam,keras dan maksiat dgn menjadi pelacur.(24:33).

KEBOLEHAN MENYETUBUHI BUDAK2 WANITA.

Hal ini tertera disurat 23:5-7 dan 70:30.yaitu tuan pemilik budak boleh menyetubuhi budak2 wanitanya dan tak disebut zina.

1)budak2 wanita di negri2 kafir tempo dulu tak ada aturan sejelas islam mengatur budak2 wanita hingga ke rumah tangga.bisa saja dinegara2 kafir tempo dulu nasib budak2 wanita selain dipakai tuan nya,dibuat untuk pesta2 sex,dijual jadi pelacur,dst.lalu tak mau dinikahi karena dianggap rendah.jadi bisa jadi nasib budak2 wanita dinegri2 kafir bisa jadi umbaran sana sini.

2)budak2 wanita dinegri2 muslim diatur oleh kesopanan quran dan sunnah.mereka ditempatkan dirumah2 tuan2 mereka dgn makan,minum,pakaian dan keamanan terjamin.dan cuma di setubuhi tuan2 mereka.kehormatan mereka tak boleh dijual dan di eksploitasi buat pelacuran.mereka dilarang dipukul,jika dipukul maka dia bebas otomatis.ia tak boleh disetubuhi laki2 lain lewat zina dan pelacuran.

Hikmah lainnya boleh menyetubuhi budak2 wanita ialah,wanita2 budak itu tentu butuh pelampiasan biologis pula.dan majikan laki2 selalu bersama dengan budak2 wanitanya dalam melayani urusan rumah tangga.jika tak boleh disetubuhi,akan terjadi kesulitan yg sangat.dan akan banyak zina jika ia dianggap zina.

Lebih baik boleh menyetubuhi isteri2 dan beberapa budak wanita,lalu dilarang berzina.ketimbang meniduri ribuan wanita2 dgn ikatan2 tidak jelas.contohnya,julio iglesias memacari dan meniduri 5000 wanita.juga kelakuan2 pezina yg meniduri puluhan ribu wanita selama hidupnya.seperti contoh pria fasik ke pelacuran sebulan meniduri 20 pelacur.setahun sudah 240 pelacur.maka mana yg lebih baik?misal tidur dgn 1 isteri dan 2 budak dgn jaminan makan,minum,nafkah,perlindungan,lalu bebas dari penyakit2 menular sex,ketimbang meniduri 240 pelacur yg beresiko penyakit seksual,kehancuran rumah tangga,dst?

MENGAPA SEWAFAT RASULULLAH,PERBUDAKAN DI NEGRI2 MUSLIM TETAP BERLAKU?

semasa hidup rasulullah,sahabat,dst,telah banyak budak2 terbebaskan.sampai mati mereka menjadi orang2 merdeka..namun negri2 kafir seperti romawi,cina,india,dst masih berlakukan perbudakan.jika tentara2 mereka menang,mereka mendapat budak.maka negri2 muslim pun terpaksa berlakukan perbudakan terhadap musuh jika mereka kalah,sebagai timbal balik.

Maka ketika tentara muslim berperang melawan byzantium misalnya,tentara muslim mengambil budak dari bangsa romawi ketika menang(namun ada opsi membebaskan dengan cuma-cuma atau dengan tebusan).maka budak2 itu tinggal dirumah tangga muslim..budak2 itu diatur oleh syariat islam seperti tak boleh dipukuli,tak boleh bekerja melampaui batas,harus diberi makan+minum dan pakaian layak,dst..bagi yg wanita tak boleh dijadikan pelacur,tak boleh di gadai dan tak boleh di umpan ke pesta2 sex.lalu para budak itu pun akhirnya akan terbebas setelah beberapa waktu karena beberapa sebab..

APA KE ISTIMEWAAN HUKUM PERBUDAKAN DALAM ISLAM?

keistimewaan2 hukum perbudakan islam ialah:

1)aturan memanusiakan budak tercantum jelas dalam quran dan sunah..dan negara2 kafir tempo dulu tak jelas aturan memanusiakan budak.
Sehingga budak2 dinegara2 kafir pasti menderita hebat.
2)budak punya opsi bebas,tak jadi budak seumur hidup..beda dgn agama2 dan negara2 kafir tempo dulu,tunjukan bukti jika mereka mempunyai hukum yg ber opsi pembebasan perbudakan?
3)budak wanita dinegri2 islam tak dipandang rendah menurut quran dan hadist.buktinya budak wanita dinikahi majikannya.beda dgn negara2 kafir,pastinya mereka memandang rendah budak2 wanita.
4)budak2 punya opsi membebaskan diri dgn perjanjian mencicil pembayarannya jika si budak mau merdeka.atau jika ada dermawan ia dibebaskan dgn tunai..beda dgn negri2 kafir,tunjukkan bukti2 negri2 kafir terdahulu sibudak punya hak membebaskan diri?..masih banyak lagi ke istimewaan hukum2 perbudakan dalam islam.

KECERDIKAN SYARIAT ISLAM DALAM MEMBEBASKAN PERBUDAKAN DI MASA LAMPAU

perlu diketahui,semangat pembebasan perbudakan dalam islam dibagi dengan 3 cara:

1)si majikan membebaskan dengan niat sendiri ikhlas karena Allah.
2)ada dermawan yg mau membayar tunai pembebasan budak
3)dengan cara yg sangat cerdas dan cerdik..sebab cara 1 dan 2 kadang2 susah,si majikan kadang tak mau bebaskan budaknya,dan tak ada dermawan yg membiayai.

Cara ketiga ini amat cerdas dan cerdik.berbagai cara budak bisa bebas dgn cara ini:

@negara dan masyarakat memberi zakat pada budak itu untuk membebaskan dirinya.(qs 9:60)
@jika budak wanita disetubuhi tuannya dan punya anak,otomatis si wanita merdeka
@budak boleh meminta perjanjian kebebasan(24:33)
@jika majikan melakukan zihar,salah satu opsi kafarat ialah membebaskan budak(58:3)
@jika sang majikan suatu saat membunuh orang tampa sengaja,salah satu opsi kafarat ialah pembebasan budak.(4:92)
@jika majikan melanggar sumpah,salah satu opsi kafarat ialah membebaskan budak(5:89)
@jika membatalkan puasa ramadan dgn bersetubuh disiang hari,maka salah satu opsinya adalah membebaskan budak..dst
jadi ada seribu pintu pembebasan budak dalam islam.

APAKAH PEMBANTU2 WANITA JAMAN SEKARANG ADALAH BUDAK YG BOLEH DI SETUBUHI?

pembantu2 jaman kini bukanlah budak..sebab syarat2 terjadinya perbudakan ialah:
1)di saat perjanjian peniadaan budak belum tercapai antara negri2 muslim dan kafir.
2)didapat dari peperangan.

Maka pembantu jaman kini bukanlah budak dan beda dgn budak.sebab perbudakan telah hapus total.dan tak ada perang2 yg membolehkan perbudakan lagi.

MENGAPA BUDAK HARUS MENCICIL UANG PEMBEBASAN DIRINYA AGAR BISA BEBAS?

Pada masa dulu budak dianggap sebagai asset yg berharga seperti rumah,mobil,sawah,dll.budak harus mencicil uang pembebasan nya agar sama2 adil.sebab tuannya dulu membeli dia dgn harga yg tinggi.dan tuan nya telah memberi ia makan,minum,pakaian,tempat tinggal,dst..dan si budak pun dilarang bekerja terlalu berat dalam aturan syariat islam.

MENDAPAT BUDAK2 DENGAN CARA MENCULIK,ATAU MENDATANGI KOTA2 DAN DESA2 YANG DAMAI/TIDAK BERPERANG.

Cara2 orang2 eropa mendapatkan budak dgn mengirim tentara2 ke hutan2 rimba afrika lalu mengangkut pria,wanita dan anak2 jadi budak hal itu di HARAMKAN islam..perbudakan dalam islam cuma didapat dari peperangan..bukan penculikan..misalnya kota nirobi tak berperang dgn tentara muslim.maka diharamkan mendatangi penduduk nairobi tampa sebab perang lalu mengangkut penduduknya jadi budak..berbeda dgn eropa,tampa perang apapun,mereka menculik dan menangkapi penduduk afrika untuk menjadi budak.
BAGAIMANA ISLAM MEMPERLAKUKAN BUDAK?

 

Tidak ada sistem diantara sistem-sistem sosial didunia yang memperlakukan budak secara manusiawi dan terhormat sebagaimana Islam telah lakukan. Perlakukan Islam terhadap budak secara garis besar terbagi dalam tiga rumusan:


1. Menganggap Budak sebagai wujud manusia yang memiliki hak kehormatan dan kehidupan.

Sesungguhnya Islam datang untuk mengembalikan hakekat manusia, tanpa membedakan warna kulit, jenis dan tingkatannya. Islam datang untuk menyatakan :

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Qur’an mulia 49:13)

Islam datang untuk menjelaskan, melalui lisan Muhammad saw, bahwa tidak ada kelebihan bagi seorang tuan atas budaknya, tidak ada kelebihan bagi orang kulit putih atas orang berkulit hitam tidak ada kelebihan orang Arab dengan bukan orang Arab kecuali dengan Taqwanya kepada Allah swt.

2. Menyamakan Budak dengan Manusia yang lain menyangkut hak dan kewajiban.

Sesuai dengan prinsip persamaan ini maka Islam menetapkan pula prinsip persamaan dalam ‘uqubat (sanksi) dan hudud (hukum).

Rasulullah saw bersabda :“Barangsiapa membunuh budaknya maka kami akan membalas membunuhnya, barangsiapa memotong salah satu anggota badan budaknya maka kami akan memotong salah satu anggota badannya, dan barang siapa mengebiri budaknya maka kami akan membalas mengebirinya”. (HR Bukhari, Muslim dan Abu Dawud).

Budak dan tuannya adalah saudara yang saling mencintai dan menolong.

 

Rasulullah saw bersabda: “Mereka adalah saudara kamu yang telah menjadi milik kamu karena Allah telah menjadikannya sebagai milikmu; karena itu barangsiapa yang saudaranya tersebut berada dibawah tangannya maka hendaklah ia memberi makan kepadanya dari apa yang ia makan, mempberi pakian dari pakian yang ia pakai, dan hendaknya jangan membebani mereka dengan pekerjaan-pekerjaan yang tidak mereka sanggupi; jika kamu membebani tugas kepada mereka hendaklah kamu menolongnya”. (HR Bukhari).


3. Memperlakukan budak dengan cara manusiawi dan Mulia.

 

Mereka adalah saudara kamu yang telah menjadi milik kamu karena Allah telah menjadikannya sebagai milikmu; karena itu barangsiapa yang saudaranya tersebut berada dibawah tangannya maka hendaklah ia memberi makan kepadanya dari apa yang ia makan, memberi pakian dari pakian yang ia pakai, dan hendaknya jangan membebani mereka dengan pekerjaan-pekerjaan yang tidak mereka sanggupi; jika kamu membebani tugas kepada mereka hendaklah kamu menolongnya”. (HR Bukhari).

 

Dari Abu Hurairah, Nabi saw bersabda: “Ketika salah seorang budakmu datang dengan makanan untukmu, maka jika ia tidak kau ajak duduk makan bersamamu maka berilah ia sesuap atau dua suap makanan tersebut, supaya ia merasakan hasil masakannya”. (HR Bukhari Muslim)

 

Islam melarang keras memfitnah manusia termasuk budak. Karena fitnah lebih kejam dari pembunuhan.

 

Rasulullah saw bersabda;
“Apabila seseorang memfitnah budaknya (dengan menuduh berzina ) dan budak itu tidak melakukan yang dituduh kepadanya, ia akan dicambuk pada hari kiamat kecuali yang dituduhkannya adalah benar.” (HR Bukhari, kitab tentang orang yang memerangi Allah dan RasulNya dari kalangan orang kafir dan murtad).

“Janganlah kamu mengatakan: Ini budak lelakiku dan ini adalah budak perempuanku; tetapi hendaklah kamu mengatakan: Ini adalah putra-putri ku”.

Perintah berbuat baik pada budak itu telah terekam dalam kitab suci Al Qur’an sbb:

 

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri”. (QS. An-Nisa’:36)

 

Rasulullah saw menunjuk mantan budaknya, Zaid, menjadi komandan perang dalam pertempuran melawan orang-orang Romawi di Mu’tah. Padahal dalam pasukan yang dipimpin Zaid ini terdapat para tokoh anshor dan Muhajirin. Kemudian pada kesempatan yang lain Rasulullah saw mengangkat anaknya, Usamah bin Zaid, untuk memimpin pasukan perang yang didalamnya ada Abu Bakar dan Umar, Khalifah Rasulullah saw. Dengan demikian Rasulullah saw tidak saja memberi persamaan derajad manusiawi kepada mantan budak tersebut, tetapi bahkan ia memberi kepadanya hak kepemimpinan atas orang-orang merdeka.

Sabda Rasulullah saw:“Dengar dan taatlah, sekalipun kamu dipimpin oleh seorang budak Habsyi yang rambutnya seperti kismis, selama dia menegakkan Kitab Allah swt ditengah kalian”. (HR Bukhari).

 

Demikianlah Rasulullah saw menyerahkan kedudukan yang tertinggi dalam urusan kaum Muslimin kepada seorang budak atau mantan budak, selama ia mampu dan pantas untuk jabatan tersebut. Al Bukhari membuat satu bab dalam kitab shahihnya yang ia beri nama Kitab tentang memerdekakan budak dan keutamaannya.

4. Menikahi Budak

 ”Dan barang siapa di antara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup perbelanjaannya untuk mengawini wanita merdeka lagi beriman, ia boleh mengawini wanita yang beriman, dari budak-budak yang kamu miliki. Allah mengetahui keimananmu; sebahagian kamu adalah dari sebahagian yang lain, karena itu kawinilah mereka dengan seizin tuan mereka dan berilah maskawin mereka menurut yang patut, sedang mereka pun wanita-wanita yang memelihara diri, bukan pezina dan bukan (pula) wanita yang mengambil laki-laki lain sebagai piaraannya; dan apabila mereka telah menjaga diri dengan kawin, kemudian mereka mengerjakan perbuatan yang keji (zina), maka atas mereka separo hukuman dari hukuman wanita-wanita merdeka yang bersuami. (Kebolehan mengawini budak) itu, adalah bagi orang-orang yang takut kepada kesulitan menjaga diri (dari perbuatan zina) di antaramu, dan kesabaran itu lebih baik bagimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.An-Nisa’:25) 

 “Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian [1036] diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan (imaa ikum). Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”  (QS.An-Nur:32) 

Maksudnya hendaklah laki-laki yang belum kawin atau wanita-wanita yang tidak bersuami, dibantu agar mereka dapat kawin.

5. Derajat budak mukmin lebih tinggi daripada wanita kaya yang musyrik

  “Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak (amat) yang mu’min lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (QS.Al-Baqarah:221) 


BAGAIMANA ISLAM MEMERDEKAKAN BUDAK?
1.Memerdekakan budak karena mengharap Ridha Allah swt.

Maksudnya memerdekakan budak dari keinginan dan kehendak tuannya karena mengharap pahala dari sisi Allah semata. Islam menggalakan dan menggemarkan (taghib) para tuan atau pemilik budak agar memerdekakan budaknya;

“Maka tidakkah sebaiknya (dengan harta itu) ia menempuh jalan menanjak lagi sukar. Tahukah apakah itu? Itulah memerdekakan budak”. (QS.Al Balad:11-13).

 

Rasulullah saw bersabda :Dari Abu Dzar, Ya Rasul amal apakah yang paling utama? Jawabnya: “Beriman kepada Allah dengan sepenuh hatinya, dan jihad fi sabilillah”. Kemudian memerdekakan budak yang bagaimanakah yang paling utama? Jawabnya:”Yang paling disayang tuannya, dan paling besar harganya”.(HR Bukhari dan Muslim di Riyadush Shalihin Imamul An Nawawi).

 

Sebagai hasil dari pengarahan Nabi ini maka kaum muslimin dengan penuh semangat dan niat ikhlas, bergegas memerdekakan budak karena ikhlas mengharap Ridha Allah dan sorgaNya dihari dimana anak dan harta tidak berguna lagi.

Ali bin al Hasan bertanya setelah mendengar hadist diatas kepada Sa’id bin Mirjanah: “Kamu sendiri yang mendengar hadis ini dari Abu Hurairah?. Sa’id menjawab: “Ya”. Lalu Ali berkata kepada anaknya: “Panggilah Si Muthrif (salah seorang budaknya)“. Ketika Muthrif datang kepadanya, Ali bin Mirjanah berkata: “Pergilah kamu, karena kamu sekarang sudah merdeka”.

Abu Bakar menginfakkan sejumlah hartanya untuk memerdekakan para budak dari tangan bangsawan Quraisy di Makkah.

Sungguh peristiwa pembebasan budak dalam jumlah besar ini tidak pernah terjadi dalam sejarah kemanusiaan sebelum atau sesudah Islam.

2. Memerdekakan budak sebagai kafarat (penghapus dosa / denda).

 

a. orang yang membunuh karena keliru (tidak sengaja) kafaratnya adalah memerdekakan budak atau membayar diyat kepada keluarganya.

“Dan tidaklah layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja) dan barangsiapa membunuh seorang mumin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar dia yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu, padahal ia mu’min, maka (hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba-sahaya yang mu’min.” (QS. An-Nisa’:92).

 

b. orang yang membunuh orang kafir, padahal ada perjanjian perdamaian antara fihak kafir dan muslim, maka kafaratnya adalah memerdekakan budak atau membayar diyat kepada keluarganya.

“Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai cara taubat kepada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS 4:92).

 

c. orang yang melanggar sumpah, kafaratnya diantaranya adalah memerdekakan budak.

“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang disengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barangsiapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikian Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur(kepada-Nya).” (QS.Al-Maidah:89).

 

d. orang yang menzhihar istrinya kemudian bertaubat maka kafaratnya adalah memerdekakan budak :

“Orang-orang yang menzhihar istri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka wajib atasnya memerdekakan budak sebelum kedua suami istri itu berkumpul” (QS. Al-Mujadilah : 3).

 

e. orang yang membatalkan puasa di bulan Ramadhan dengan sengaja tanpa uzur syar’i misalnya karena berjima’ dg istrinya di siang hari maka karafatnya adalah membebaskan budak berdasarkan hadist shahih.

Datang seseorang kepada Nabi n dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah binasa!” Rasulullah bertanya, “Apa yang membinasakanmu?” Orang itu menjawab, “Aku telah menggauli (berjima’, pen.) istriku di siang Ramadhan.” Rasulullah n kemudian mengatakan, “Mampukah engkau untuk memerdekakan budak?” Ia menjawab, “Tidak.” Kemudian kata beliau, “Mampukah engkau berpuasa selama dua bulan berturut-turut?” Ia menjawab, “Tidak.” Kemudian kata beliau, “Mampukah engkau memberi makan 60 orang miskin?” Ia menjawab, “Tidak.” Kemudian ia pun duduk dan Rasulullah n memberi satu wadah kurma (sebanyak 60 mud, pen.) dan beliau berkata, “Shadaqahkan ini.” Orang itu bertanya, “Kepada yang lebih fakir dari kami? Sungguh di Kota Madinah ini tiada yang lebih membutuhkan kurma ini daripada kami.” Mendengar itu Rasulullah n tertawa hingga terlihat gigi taringnya, kemudian beliau n berkata, “Pulanglah dan berikan ini kepada keluargamu.”
Hadits di atas diriwayatkan oleh Abu Hurairah  dalam Kutubus Sittah selain an-Nasa’i (al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah), dari jalan az-Zuhri Muhammad bin Muslim, dari Humaid bin Abdurrahman, dari Abu Hurairah

3. Memerdekakan budak dengan Muktabah.

 

Muktabah ialah memerdekakan budak bila si budak menuntut sendiri dengan imbalan sejumlah uang yang telah disepakati oleh kedua belah pihak. Bila ia telah melunasinya maka ia merdeka. dan si tuan haruslah membantu uang kepada si budak.

“Dan budak-budak yang kamu miliki yang menginginkan perjanjian, hendaklah kamu membuat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan kepada kamu”. (QS.An-Nur:33).

 

4. Memerdekakan budak menjadi tanggung jawab negara.

 

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanya untuk, orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mualaf yang dibujuk hatinya, untuk memerdekakan budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang jalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. At-Taubah:60).

 

Sejarah Islam memberikan data kepada kita, bahwa penanggung jawab Baitul mal dimasa pemerintahan Islam biasa membeli sejumlah budak lalu dibebaskan dengan mengambil uang dari hasi Zakat. Yahya bin Sa’id berkata; “Umar bin Abdul Aziz pernah mengutusku untuk mengurusi Zakat-zakat di Afrika, lalu zakat itu aku belikan sejumlah budak untuk dimerdekakan.

5.  Memerdekakan budak karena telah memukulnya.

Rasulullah saw bersabda :“Barangsiapa memukul budaknya bukan karena kesalahan yang dilakukannya atau menamparnya, maka kafaratnya adalah memerdekakannya”. (HR Muslim).

6. Cara Memerdekakan Budak dan Keutamaannya

“Bila seseorang memiliki budak yang masih mahram, maka dia merdeka”.(Ahmad dan Empat, dari Samurah bin Jundub)

 

Hadis riwayat Ibnu Umar ra., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda:
“Barang siapa memerdekakan bagiannya dalam diri seorang budak, kemudian ia masih mempunyai kekayaan yang mencapai harga budak itu, maka budak itu ditaksir menurut harga sepatutnya, lalu ia membayarkan kepada masing-masing kawan berserikatnya yang lain bagian mereka sehingga merdekalah budak itu. Jika tidak, maka ia hanya memerdekakan bagiannya saja.” (Sahih Muslim, hadits no : 2758)

 

Hadis riwayat Abu Hurairah ra, dari Nabi saw. beliau bersabda:

“Mengenai seorang budak yang dimiliki dua orang tuan, lalu salah seorang dari keduanya memerdekakan budak tersebut. Beliau bersabda: Dia menanggung (pembayaran hak kawan serikatnya bila ia seorang yang kaya)”. (Sahih Muslim, hadits no : 2759)

Hadis riwayat Aisyah ra, dari Ibnu Umar, dari Aisyah, bahwa ia ingin membeli seorang budak perempuan untuk dimerdekakan. Pemilik budak itu berkata: Kami akan menjualnya kepadamu, dengan syarat hak loyalitasnya untuk kami. Lalu Aisyah ra. menceritakan hal itu kepada Rasulullah saw. dan beliau bersabda:
“Syarat itu tidak dapat menghalangimu, karena hak loyalitas itu hanya untuk yang memerdekakan” . (Sahih Muslim, hadits no : 2761)

Hadis riwayat Abu Hurairah ra, dari Nabi saw. beliau bersabda:
“Barang siapa memerdekakan seorang budak mukmin, maka Allah akan membebaskan setiap anggota tubuhnya dari neraka dengan setiap anggota tubuh budak itu.” (Sahih Muslim, hadits no : 2775)

Silahkan cek keabsahan hadist-nya di link : http://hadith.al-islam.com/

Demikianlah gambaran perbudakan dalam Islam. Islam secara berangsur-angsur telah berusaha untuk menghapuskan perbudakan dari muka bumi. Karena Allah tidak memandang pangkat atau derajad manusia tetapi yang di lihat hatinya dan kadar ketaqwaannya.

Nah, jika perbudakan sudah dihapuskan oleh syariat Islam, bagaimana mungkin ayat tentang menyetubuhi budak masih diterapkan oleh umat Islam?! Tentu saja itu tuduhan konyol. Segala bentuk fitnahan terhadap agama Islam memang sering kali dilancarkan, salah satunya adalah masalah Perbudakkan. Negara-negara yang berlandaskan hukum Islam atau syariat seperti Arab Saudi, Irak, Iran, Yaman dll sudah terbebas dari Perbudakkan. Permasalahan yang terjadi terhadap TKW Indonesia adalah ulah oknum perorangan. Status TKW bukan budak, mereka adalah manusia merdeka yg bekerja dengan kemampuannya dan dibayar. Tentu dengan kehadiran Rasulullah SAW di tengah umat yang Jahiliyah dan Bodoh itu, tengah membawa hukum baru dan solusi berbagai masyarakat pra Islam di Tanah Arab. Rasulullah SAW dengan sekuat tenaga menghilangkan perbudakkan secara berangsur-angsur hingga saat ini mengakui dan mendukung manusia yang merdeka.

TENTANG MARIA AL-QIBTIYAH

Seorang wanita asal Mesir yang dihadiahkan oleh Muqauqis, penguasa Mesir kepada Rasulullah tahun 7 H. Setelah dimerdekakan lalu dinikahi oleh Rasulullah dan mendapat seorang putra bernama Ibrahim. Dia adalah istri Rasulullah satu-satunya yang melahirkan seorang putra, Ibrahirn, setelah Khadijah

Seperti halnya Sayyidah Raihanah binti Zaid, Maria al-Qibtiyah adalah budak Rasulullah yang kemudian beliau bebaskan dan beliau nikahi. Rasulullah memperlakukan Maria sebagaimana beliau memperlakukan istri-istri beliau yang lainnya. Abu Bakar dan Umar pun memperlakukan Maria layaknya seorang Ummul-Mukminin. Sepeninggal Rasulullah dia dibiayai oleh Abu Bakar kemudian Umar dan meninggal pada masa kekhalifahan Umar.

Tidak benar kalau Rasulullah SAW berzina dengan budak tersebut. Dan tidak juga benar Maria adalah budak istri Rasulullah Hafsah, Putri Umar Al Khattab. Maria adalah budak Rasulullah SAW sendiri sekaligus istri beliau dari golongan hamba sahaya dalam bahasa kita adalah selir, bukan budak Hafsah istri Rasulullah Putri Umar Al Khattab Al Faruq.

Cerita selengkapnya bisa dibaca di link ini:

http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/10/01/mariyah-al-qibtiyah-wafat-16h637-m/

Perkara Rasulullah SAW mau mendatangi beliau (Maria) di rumah Hafsah yang juga rumah Rasulullah ketika pulang dari Syria itu bukan sedangkan Hafsa sedang tidak di rumah saya rasa bukanlah hal aneh. Perkara Rasululah bersumpah untuk tidak mendatangi Maria karena kecemburuan istrinya yg lain juga bukan hal yg perlu dipermasalahkan. Yang saya tanyakan kapan dan dimana Rasulullah berzinah dengan Maria? Sementara Maria sendiri adalah istri beliau (Rasulullah SAW) yang dari buah perkawinannya lahirlah Ibrahim yang meninggal pada umur 2 tahun.

Adapun mengenai perbandingannya, mari kita lihat dari sudut pandang ajaran Alkitab Kristen tentang perbudakan.

APAKAH ALKITAB MEMERINTAHKAN UNTUK MEMBEBASKAN BUDAK?

 

DALAM PERJANJIAN LAMA

Jawabnya tentu saja tidak. Tidak ada satu ayatpun dalam Alkitab yang memerintahkan untuk membebaskan budak. Bahkan ada ayat dalam Alkitab yang berbunyi begini;

Imamat_25:

(44) Tetapi budakmu laki-laki atau perempuan yang boleh kaumiliki adalah dari antara bangsa-bangsa yang di sekelilingmu; hanya dari antara merekalah kamu boleh membeli budak laki-laki dan perempuan.

(45) Juga dari antara anak-anak pendatang yang tinggal di antaramu boleh kamu membelinya dan dari antara kaum mereka yang tinggal di antaramu, yang dilahirkan di negerimu. Orang-orang itu boleh menjadi milikmu.
(46) Kamu harus membagikan mereka sebagai milik pusaka kepada anak-anakmu yang kemudian, supaya diwarisi sebagai milik; kamu harus memperbudakkan mereka untuk selama-lamanya…dstnya.

Nilai kemanusiaan apa yang dapat diambil dari ayat perbudakan diatas? Apakah Alkitab mengajarkan tentang pembebasan budak? Budak yang diwariskan turun-temurun tidak akan pernah merasakan kemerdekaannya. Apakah Alkitab mengajarkan kebebasan? Jawaban atas semuanya adalah TIDAK.

Perbudakan mengalami masa paling tragis pada jaman kolonialisme dan imperialisme kristen. Sejarah mencatat perbudakan yang dilakukan oleh orang-orang kristen terhadap Amerika latin, Afrika bahkan di Asia. Jaman penjajahan Belanda di Indonesia, orang-orang pribumi dijadikan budak rodi yang tak berharga. Mereka terinspirasi oleh ayat ;

Eksodus (Keluaran) 21:20 Apabila seseorang MEMUKUL BUDAKNYA laki-laki atau perempuan dengan tongkat, sehingga mati karena pukulan itu, pastilah BUDAK ITU DIBALASKAN.

21:21 Hanya jika budak itu masih hidup sehari dua, maka janganlah dituntut belanya, sebab BUDAK ITU ADALAH MILIKNYA SENDIRI.

Keluaran_21:
(7) Apabila ada seorang menjual anaknya yang perempuan sebagai budak, maka perempuan itu tidak boleh keluar seperti cara budak-budak lelaki keluar.

Jadi umat kristen syah-syah saja menjual anak perempuannya sebagai budak. Tidak ada larangan, bahkan ada anjurannya dalam Alkitab.

Ulangan_20:

(10) Apabila engkau mendekati suatu kota untuk berperang melawannya, maka haruslah engkau menawarkan perdamaian kepadanya.
(11) Apabila kota itu menerima tawaran perdamaian itu dan dibukanya pintu gerbang bagimu, maka haruslah semua orang yang terdapat di situ melakukan pekerjaan rodi bagimu dan menjadi hamba kepadamu.
(12) Tetapi apabila kota itu tidak mau berdamai dengan engkau, melainkan mengadakan pertempuran melawan engkau, maka haruslah engkau mengepungnya;
(13) dan setelah TUHAN, Allahmu, menyerahkannya ke dalam tanganmu, maka haruslah engkau membunuh seluruh penduduknya yang laki-laki dengan mata pedang.
(14) Hanya perempuan, anak-anak, hewan dan segala yang ada di kota itu, yakni seluruh jarahan itu, boleh kaurampas bagimu sendiri, dan jarahan yang dari musuhmu ini, yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, boleh kaupergunakan.

Di dalam ayat tsb dijelaskan, jika berdamai harus harus jadi budak dan kerja rodi. Tapi jika tidak, maka dalam kondisi apapun baik peprangan ataupun setelah kalah perang, pihak laki-laki akan dibunuh. Dan perempuan, anak-anak, dan seluruh harta benda boleh di ‘pergunakan’.

Ulangan_21:

(20) Apabila seseorang memukul budaknya laki-laki atau perempuan dengan tongkat, sehingga mati karena pukulan itu, pastilah budak itu dibalaskan.
(21) Hanya jika budak itu masih hidup sehari dua, maka janganlah dituntut belanya, sebab budak itu adalah miliknya sendiri.

Memukul budak tapi tidak sampai mati, syah-syah saja menurut Alkitab.

Keluaran_21:

(28) Apabila seekor lembu menanduk seorang laki-laki atau perempuan, sehingga mati, maka pastilah lembu itu dilempari mati dengan batu dan dagingnya tidak boleh dimakan, tetapi pemilik lembu itu bebas dari hukuman.

(29) Tetapi jika lembu itu sejak dahulu telah sering menanduk dan pemiliknya telah diperingatkan, tetapi tidak mau menjaganya, kemudian lembu itu menanduk mati seorang laki-laki atau perempuan, maka lembu itu harus dilempari mati dengan batu, tetapi pemiliknyapun harus dihukum mati.
(30) Jika dibebankan kepadanya uang pendamaian, maka haruslah dibayarnya segala yang dibebankan kepadanya itu sebagai tebusan nyawanya.
(31) Kalau ditanduknya seorang anak laki-laki atau perempuan, maka pemiliknya harus diperlakukan menurut peraturan itu juga.
(32) Tetapi jika lembu itu menanduk seorang budak laki-laki atau perempuan, maka pemiliknya harus membayar tiga puluh syikal perak kepada tuan budak itu, dan lembu itu harus dilempari mati dengan batu.

Apabila lembu menanduk orang merdeka maka lembu itu harus dilempari MATI dengan batu, sedangkan kalau menanduk seorang budak maka lembu itu di lempari batu tapi tidak sampai mati. Lebih berharga mana lembu dengan manusia budak? Bahkan dengan tegas Yesus menyatakan bahwa jika hamba atau budak tidak melaksanakan kehendak tuannya maka Pukul.

DALAM PERJANJIAN BARU
Ephesians (Efesus)
6:5 Hai HAMBA-HAMBA, taatilah TUANMU yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus,

1- Timotius
6:1 Semua orang yang menanggung beban PERBUDAKKAN hendaknya menganggap TUAN mereka layak mendapat segala penghormatan, agar nama Allah dan ajaran kita jangan dihujat orang.

6:2 Jika TUAN mereka seorang percaya, janganlah ia kurang disegani karena bersaudara dalam Kristus, melainkan hendaklah ia dilayani mereka dengan lebih baik lagi, karena TUAN yang menerima berkat pelayanan mereka ialah saudara yang percaya dan yang kekasih.


APAKAH DIDALAM ALKITAB TIDAK ADA YANG MENYEBUTKAN TENTANG MENGGAULI BUDAK, SEPERTI YANG DISEBUTKAN DALAM AL-QUR’AN?

Mari kita bahas:

Lukas_12:

(47) Adapun hamba yang tahu akan KEHENDAK TUANNYA, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan.

Kita bisa lihat dalam konteks ayat tadi budak yg tidak melakukan kehendak tuannya, akan menerima pukulan. Apa ya kehendak tuannya?

baca lagi…

Keluaran_21:

(4) Jika tuannya memberikan kepadanya seorang isteri dan perempuan itu MELAHIRKAN ANAK-ANAK lelaki atau perempuan, maka perempuan itu dengan anak-anaknya tetap menjadi kepunyaan tuannya, dan budak laki-laki itu harus keluar seorang diri.

Baca lagi. …perempuan itu MELAHIRKAN ANAK-ANAK lelaki atau perempuan… Apa itu bukan MENGGAULI? Gimana rumusnya jika seorang budak sampe MELAHIRKAN, tapi gak digauli?

Dan juga anak-anak yg di lahirkan TETAP MILIK TUANNYA, ternyata seorang budakpun tak ubahnya seperti binatang ternak.

SEJARAH HITAM PERBUDAKAN KRISTEN TERHADAP PENDUDUK AFRIKA bisa anda baca di http://africanhistory.about.com

wallahu’alam bishshowab…

SEKELUMIT HADIST-HADIST TENTANG PERLAKUAN BAIK ISLAM TERHADAP PARA BUDAK

 Slave pemakaman di perkebunan, Suriname. Colored litostratigrafi Th. Bray.

Slave pemakaman di perkebunan, Suriname. Colored litostratigrafi Th. Bray.

Dalam aturan islam,budak amat di lindungi keberadaan mereka.dan tidak mengalami kezaliman dalam hidup mereka.berikut sekelumit beberapa hadist2 sahih mengenai perlakuan manusiawi islam terhadap para budak-budak yang tinggal di dalam negri2 islam,terutama pada masa Rasulullah:

1)BUDAK SEKALIPUN HARUS DI TAATI JIKA LAYAK JADI PEMIMPIN

Adzan (10) : 85

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو التَّيَّاحِ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَإِنْ اسْتُعْمِلَ حَبَشِيٌّ كَأَنَّ رَأْسَهُ زَبِيبَةٌ

10.85/652. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami Yahya telah menceritakan kepada kami Syu’bah berkata, telah menceritakan kepadaku Abu At Tayyah dari Anas bin Malik dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Dengar dan taatlah kalian, sekalipun yang memimpin kalian adalah seorang budak Habasyi yang berambut keriting seperti buah kismis.

2)MEMBEBASKAN BUDAK PADA JAMAN SEBELUM DATANG ISLAM TETAP BERPAHALA

Zakat (13) : 39

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا هِشَامٌ حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ أَشْيَاءَ كُنْتُ أَتَحَنَّثُ بِهَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ مِنْ صَدَقَةٍ أَوْ عَتَاقَةٍ وَصِلَةِ رَحِمٍ فَهَلْ فِيهَا مِنْ أَجْرٍ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْلَمْتَ عَلَى مَا سَلَفَ مِنْ خَيْرٍ

13.39/1346. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Hisyam telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhriy dari ‘Urwah dari Hakim bin Hiram radliallahu ‘anhu berkata; Aku berkata,: Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu, saat masih di zaman Jahiliyah aku sering ber’ibadah mendekatkan diri dengan cara bershadaqah, membebaskan budak dan juga menyambung silaturrahim, apakah dari itu semuanya aku akan mendapatkan pahala?. Maka Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: Kamu akan menerima dari kebaikan yang dahulu kamu lakukan.

3)BIJAKSANA TERHADAP BUDAK YANG MENYELEWENG

Jual beli (18) : 103

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ قَالَ حَدَّثَنِي سَعِيدٌ الْمَقْبُرِيُّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ سَمِعَهُ يَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا زَنَتْ الْأَمَةُ فَتَبَيَّنَ زِنَاهَا فَلْيَجْلِدْهَا وَلَا يُثَرِّبْ ثُمَّ إِنْ زَنَتْ فَلْيَجْلِدْهَا وَلَا يُثَرِّبْ ثُمَّ إِنْ زَنَتْ الثَّالِثَةَ فَلْيَبِعْهَا وَلَوْ بِحَبْلٍ مِنْ شَعَرٍ

18.103/2008. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami Al Laits berkata, telah menceritakan kepada saya Sa’id Al Maqbariy dari Bapaknya dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa dia mendengarnya berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Jika seorang budak wanita berzina dan terbukti perzinahannya maka dia dihukum cambuk tanpa dicela dan dihinakan. Jika berzina lagi maka dihukum cambuk tanpa dicela dan dihinakan dan jika berzina lagi untuk ketiga kalinya maka juallah sekalipun dengan harga senilai sehelai rambut.

4)BERLAKU BAIK TERHADAP BUDAK2 WANITA

Membebaskan budak (32) : 26

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ سَمِعَ مُحَمَّدَ بْنَ فُضَيْلٍ عَنْ مُطَرِّفٍ عَنْ الشَّعْبِيِّ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَتْ لَهُ جَارِيَةٌ فَعَالَهَا فَأَحْسَنَ إِلَيْهَا ثُمَّ أَعْتَقَهَا وَتَزَوَّجَهَا كَانَ لَهُ أَجْرَانِ

32.26/2358. Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim dia mendengar Muhammad bin Fudhail dari Mutharrif dari Asy-Sya’biy dari Abu Burdah dari Abu Musa radliallahu ‘anhu berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Siapa yang memiliki budak wanita lalu memberikan hak-haknya dan bersikap baik kepadanya kemudian dia bebaskan lalu dinikahinya maka baginya mendapat dua pahala.

5)MEMBERI MAKAN,MINUM,PAKAIAN DAN TEMPAT TINGGAL BAGI BUDAK SAMA DENGAN TUANNYA.TAK BOLEH DI SURUH KERJA MELAMPAUI BATAS.

Membebaskan budak (32) : 27

حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا وَاصِلٌ الْأَحْدَبُ قَالَ سَمِعْتُ الْمَعْرُورَ بْنَ سُويْدٍ قَالَ رَأَيْتُ أَبَا ذَرٍّ الْغِفَارِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَعَلَيْهِ حُلَّةٌ وَعَلَى غُلَامِهِ حُلَّةٌ فَسَأَلْنَاهُ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ إِنِّي سَابَبْتُ رَجُلًا فَشَكَانِي إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعَيَّرْتَهُ بِأُمِّهِ ثُمَّ قَالَ إِنَّ إِخْوَانَكُمْ خَوَلُكُمْ جَعَلَهُمْ اللَّهُ تَحْتَ أَيْدِيكُمْ فَمَنْ كَانَ أَخُوهُ تَحْتَ يَدِهِ فَلْيُطْعِمْهُ مِمَّا يَأْكُلُ وَلْيُلْبِسْهُ مِمَّا يَلْبَسُ وَلَا تُكَلِّفُوهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ فَإِنْ كَلَّفْتُمُوهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ فَأَعِينُوهُمْ

32.27/2359. Telah menceritakan kepada kami Adam bin Abi Iyas telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah menceritakan kepada kami Washil AL Ahdab berkata, aku mendengar Al Ma’rur bin Suwaid berkata; Aku pernah melihat Abu Dzar Al Ghifari radliallahu ‘anhu yang ketika itu dia memakai pakaian yang sama (seragam) dengan budak kecilnya, kami pun bertanya kepadanya tentang masalahnya itu. Maka dia berkata: Aku pernah menawan seorang laki-laki lalu hal ini aku adukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku: Apakah kamu menjelek-jelekkkannya karena ibunya? Beliau bersabda: Sesungguhnya saudara-saudara kalian adalah tanggungan kalian, Allah menjadikan mereka dibawah tangan kalian, maka siapa yang saudaranya berada di tangannya hendaklah dia memberi makan dari apa yang dia makan dan memberi pakaian dari pakaian yang ia pakai dan janganlah kalian membebani mereka dengan apa yang mereka tidak sanggup. Jika kalian membebani mereka denagn apa yang mereka tidak sanggup maka bantulah mereka.

6)BUDAK YANG PATUH PADA TUANNYA YANG BAIK/SALEH

Membebaskan budak (32) : 28

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْعَبْدُ إِذَا نَصَحَ سَيِّدَهُ وَأَحْسَنَ عِبَادَةَ رَبِّهِ كَانَ لَهُ أَجْرُهُ مَرَّتَيْنِ

32.28/2360. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Seorang hamba jika setia kepada tuannya dan beribadah dengan baik kepada Tuhannya maka baginya mendapat dua pahala.

7)BERLAKU LEMAH LEMBUT/SOPAN PADA BUDAK

Membebaskan budak (32) : 34

حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يُحَدِّثُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لَا يَقُلْ أَحَدُكُمْ أَطْعِمْ رَبَّكَ وَضِّئْ رَبَّكَ اسْقِ رَبَّكَ وَلْيَقُلْ سَيِّدِي مَوْلَايَ وَلَا يَقُلْ أَحَدُكُمْ عَبْدِي أَمَتِي وَلْيَقُلْ فَتَايَ وَفَتَاتِي وَغُلَامِي

32.34/2366. Telah menceritakan kepada kami Muhammad telah menceritakan kepada kami ‘Abdur RAzzaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Hammam bin Munabbih bahwa dia mendengar Abu Hurairah radliallahu ‘anhu menceritakan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Beliau bersabda: Janganlah seorang dari kalian memerintahkan (budaknya) dengan kalimat; Hidangkanlah makanan untuk rabb kamu, wudhukanlah rabbmu, sajikanlah minuman untuk rabbmu tapi hendaklah dia berkata dengan kalimat sayyidku, maulaku (pemeliharaku). Dan janganlah seorang dari kalian mengatakan ‘abdiy (budak laki-laki) ku, atau amatiy (budak perempuan) ku tapi katakanlah: pemudaku, pemudiku dan ghulamku.

8)BUDAK BERTANGGUNG JAWAB MENGELOLA HARTA TUANNYA

Membebaskan budak (32) : 36

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي نَافِعٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

32.36/2368. Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Yahya dari ‘Ubaidulloh berkata, telah menceritakan kepadaku Nafi’ dari ‘Abdullah radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Setiap kalian adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. Amir (kepala Negara), dia adalah pemimpin manusia secara umum, maka dia akan diminta pertanggung jawaban atas mereka. Seorang suami dalam keluarganya adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban atas mereka. Seorang isteri adalah pemimpin di dalam rumah tangga suaminya dan terhadap anak-anaknya dan dia akan diminta pertanggung jawaban atas mereka. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya dia akan diminta pertanggung jawaban atasnya. Ketahuilah bahwa setiap kalian adalah pemimipin dan setiap kalian akan diminta pertanggung jawaban atas siapa yang dipimpinnya .

9)JIKA PEMBANTU MEMASAK,BERI JUGA MASAKAN ITU PADANYA

Membebaskan budak (32) : 38

حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مِنْهَالٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ زِيَادٍ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَى أَحَدَكُمْ خَادِمُهُ بِطَعَامِهِ فَإِنْ لَمْ يُجْلِسْهُ مَعَهُ فَليُنَاوِلْهُ لُقْمَةً أَوْ لُقْمَتَيْنِ أَوْ أُكْلَةً أَوْ أُكْلَتَيْنِ فَإِنَّهُ وَلِيَ عِلَاجَهُ

32.38/2370. Telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Minhal telah menceritakan kepada kami Syu’bah berkata, telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ziyad aku mendengar Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: Jika seorang dari kalian didatangi pembantunya dengan membawa makanan, lantas dia tidak mengajaknya duduk makan bersamanya, hendaklah dia berikan kepadanya satu suap atau dua suap atau satu makanan atau dua makanan, karena dia yang mendapatkan panasnya (ketika memasak) dan disebabkan dia pula makanan bisa dihidangkan.

10)BUDAK BEBAS BERMAIN DALAM NEGRI2 ISLAM

Jihad dan penjelajahan (38) : 113

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى أَخْبَرَنَا هِشَامٌ عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ ابْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ بَيْنَا الْحَبَشَةُ يَلْعَبُونَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحِرَابِهِمْ دَخَلَ عُمَرُ فَأَهْوَى إِلَى الْحَصَى فَحَصَبَهُمْ بِهَا فَقَالَ دَعْهُمْ يَا عُمَرُ وَزَادَ عَلِيٌّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ فِي الْمَسْجِدِ

38.113/2686. Telah bercerita kepada kami Ibrahim bin Musa telah mengabarkan kepada kami Hisyam dari Ma’mar dari Az Zuhriy dari Ibnu Musayyab dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Ketika para budak Habasyah sedang bermain menunjukkan kebolehannya menggunakan alat perang mereka di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tiba-tiba ‘Umar masuk lalu mengambil kerikil kemudian melemparkannya kepada mereka. Maka Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Biarkanlah mereka wahai ‘Umar. ‘Ali menambahkan, telah bercerita kepada kami ‘Abdur Rozzaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar: (Mereka bermain) di dalam masjid

11)BUDAK YANG BAIK LEBIH BAIK DARI ORANG2 MERDEKA YANG JAHAT DAN SOMBONG

Hadits hadits yang meriwayatkan tentang para Nabi (42) : 103

حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا جَرِيرُ بْنُ حَازِمٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَمْ يَتَكَلَّمْ فِي الْمَهْدِ إِلَّا ثَلَاثَةٌ عِيسَى وَكَانَ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ جُرَيْجٌ كَانَ يُصَلِّي جَاءَتْهُ أُمُّهُ فَدَعَتْهُ فَقَالَ أُجِيبُهَا أَوْ أُصَلِّي فَقَالَتْ اللَّهُمَّ لَا تُمِتْهُ حَتَّى تُرِيَهُ وُجُوهَ الْمُومِسَاتِ وَكَانَ جُرَيْجٌ فِي صَوْمَعَتِهِ فَتَعَرَّضَتْ لَهُ امْرَأَةٌ وَكَلَّمَتْهُ فَأَبَى فَأَتَتْ رَاعِيًا فَأَمْكَنَتْهُ مِنْ نَفْسِهَا فَوَلَدَتْ غُلَامًا فَقَالَتْ مِنْ جُرَيْجٍ فَأَتَوْهُ فَكَسَرُوا صَوْمَعَتَهُ وَأَنْزَلُوهُ وَسَبُّوهُ فَتَوَضَّأَ وَصَلَّى ثُمَّ أَتَى الْغُلَامَ فَقَالَ مَنْ أَبُوكَ يَا غُلَامُ قَالَ الرَّاعِي قَالُوا نَبْنِي صَوْمَعَتَكَ مِنْ ذَهَبٍ قَالَ لَا إِلَّا مِنْ طِينٍ وَكَانَتْ امْرَأَةٌ تُرْضِعُ ابْنًا لَهَا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ فَمَرَّ بِهَا رَجُلٌ رَاكِبٌ ذُو شَارَةٍ فَقَالَتْ اللَّهُمَّ اجْعَلْ ابْنِي مِثْلَهُ فَتَرَكَ ثَدْيَهَا وَأَقْبَلَ عَلَى الرَّاكِبِ فَقَالَ اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنِي مِثْلَهُ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى ثَدْيِهَا يَمَصُّهُ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمَصُّ إِصْبَعَهُ ثُمَّ مُرَّ بِأَمَةٍ فَقَالَتْ اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ ابْنِي مِثْلَ هَذِهِ فَتَرَكَ ثَدْيَهَا فَقَالَ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِثْلَهَا فَقَالَتْ لِمَ ذَاكَ فَقَالَ الرَّاكِبُ جَبَّارٌ مِنْ الْجَبَابِرَةِ وَهَذِهِ الْأَمَةُ يَقُولُونَ سَرَقْتِ زَنَيْتِ وَلَمْ تَفْعَلْ

42.103/3181. Telah bercerita kepada kami Muslim bin Ibrahim telah bercerita kepada kami Jarir bin Hazim dari Muhammad bin Sirin dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Tidak ada bayi yang bisa berbicara saat masih dalam buaian kecuali tiga orang. (Yang pertama) Nabi ‘Isa ‘alaihis salam. (Yang kedua), dahulu ada seorang laki-laki Bani Isra’il, yang dipanggil dengan nama Juraij, ketika dia sedang melaksanakan shalat ibunya datang memanggilnya, namun laki-laki itu enggan menjawabnya. Dia berkata dalam hati: Apakah aku penuhi panggilannya atau aku teruskan shalat?. Akhirnya ibunya berkata: Ya Allah, janganlah Engkau matikan dia kecuali Engkau perlihatkan kepadanya wanita pezina. Suatu hari Juraij sedang berada di biaranya lalu datang seorang wanita menawarkan dirinya dan mengajaknya berbicara namun Juraij menolaknya. Kemudian wanita itu mendatangi seorang pengembala lalu wanita ini dapat merayu pengembala itu hingga melahirkan seorang anak. Si wanita lantas berkata; Ini anaknya Juraij. Maka orang-orang mendatangi Juraij dan menghancurkan biaranya dan memaksanya keluar lalu memaki-makinya. Kemudian Juraij berwudlu’ lalu shalat. Setelah itu dia mendatangi bayi itu lalu bertanya: Siapakah bapakmu wahai anak?. Bayi itu menjawab: Seorang penggembala. Orang-orang berkata: Kami akan bangun biaramu terbuat dari emas. Juraij berkata: Tidak, dari tanah saja. Dan (yang ketiga), ada seorang wanita dari kalangan Bani Isra’il yang ketika sedang menyusui bayinya ada seorang laki-laki tampan dan gagah sambil menunggang tunggangannya lewat di hadapan wanita itu. Wanita itu berkata; Ya Allah, jadikanlah anakku ini seperti pemuda itu. Maka spontan saja bayinya melepaskan puting susu ibunya dan memandang laki-laki tampan itu lalu berkata; Ya Allah, janganlah Engkau jadikan aku seperti dia. Lalu dia kembali mengisap puting susu ibunya. Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Seakan aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengisap jari beliau.Lalu lewat seorang budak wanita, maka ibunya berkata; Ya Allah, janganlah Engkau jadikan anakku seperti dia. Maka sang bayi kembali melepaskan putting susu ibunya lalu berkata; Ya Allah, jadikanlah aku seperti dia (budak wanita itu). Ibunya bertanya: Mengapa kamu berkata begitu?. Bayi itu menjawab: Sesungguhnya pemuda penunggang itu sebenarnya salah seorang dari orang-orang kejam (diktator) sedangkan budak wanita ini, orang-orang menuduhnya dengan mengatakan; kamu mencuri, kamu berzina, padahal dia tidak pernah melakukannya.

12)WAKTU RASUL PERTAMA BERDAKWAH DI IMANI PARA BUDAK

Perilaku budi pekerti yang terpuji (43) : 158

حَدَّثَنِي أَحْمَدُ بْنُ أَبِي الطَّيِّبِ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ مُجَالِدٍ حَدَّثَنَا بَيَانُ بْنُ بِشْرٍ عَنْ وَبَرَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ هَمَّامٍ قَالَ سَمِعْتُ عَمَّارًا يَقُولُ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا مَعَهُ إِلَّا خَمْسَةُ أَعْبُدٍ وَامْرَأَتَانِ وَأَبُو بَكْرٍ

43.158/3387. Telah bercerita kepadaku Ahmad bin Abu ath-Thayyib telah bercerita kepada kami Isma’il bin Mujalid telah bercerita kepada kami Bayan bin Bisyir dari Wabarah bin ‘Abdur Rahman dari Hammam berkata, aku mendengar ‘Ammar berkata; Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak ada orang yang bersama beliau (pertama kali memeluk Islam) kecuali lima orang budak, dua orang wanita dan Abu Bakr.

13)MEMATAHKAN GIGI BUDAK/PENGANIAYAAN BERAT,DST,HARUS DI BALAS SETIMPAL

Tafsir Al Qur`an (45) : 27

حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُنِيرٍ سَمِعَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ بَكْرٍ السَّهْمِيَّ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ الرُّبَيِّعَ عَمَّتَهُ كَسَرَتْ ثَنِيَّةَ جَارِيَةٍ فَطَلَبُوا إِلَيْهَا الْعَفْوَ فَأَبَوْا فَعَرَضُوا الْأَرْشَ فَأَبَوْا فَأَتَوْا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَوْا إِلَّا الْقِصَاصَ فَأَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْقِصَاصِ فَقَالَ أَنَسُ بْنُ النَّضْرِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتُكْسَرُ ثَنِيَّةُ الرُّبَيِّعِ لَا وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَا تُكْسَرُ ثَنِيَّتُهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَنَسُ كِتَابُ اللَّهِ الْقِصَاصُ فَرَضِيَ الْقَوْمُ فَعَفَوْا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ مَنْ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ

45.27/4140. Telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Munir dia mendengar Abdullah bin Bakr As Sahmi Telah menceritakan kepada kami Humaid dari Anas bahwa Rabayyi’ -pamannya- pernah mematahkan gigi seri seorang budak wanita, kemudian mereka meminta kepadanya untuk memaafkan, namun mereka (keluarganya) menolak. Kemudian ditawarkan kepada mereka denda, namun mereka tetap menolak, lalu mereka mendatangi Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, maka beliau memerintahkan untuk diqishash. Anas bin An Nadhr berkata; wahai Rasulullah, apakah gigi seri Ar Rubayyi’ akan dipatahkan? Tidak, demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, gigi serinya jangan dipatahkan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Ya Anas, Kitabullah adalah Al Qishas. Maka orang-orang tersebut rela memberikan maaf. kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya diantara hamba-hamba Allah terdapat orang yang apabila ia bersumpah atas nama Allah maka Allah akan mengabulkannya.

14)KESAKSIAN BEKAS BUDAK AISYAH

Nikah (47) : 68

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ الرَّبِيعِ بْنِ طَارِقٍ قَالَ أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ عَنْ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنْ أَبِي عَمْرٍو مَوْلَى عَائِشَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ الْبِكْرَ تَسْتَحِي قَالَ رِضَاهَا صَمْتُهَا

47.68/4742. Telah menceritakan kepada kami Amru bin Ar Rabi’ bin Thariq ia berkata; Telah mengabarkan kepada kami Al Laits dari Ibnu Abu Mulaikah dari Abu Amru bekas budak Aisyah, dari Aisyah bahwa ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya seorang gadis itu pemalu.” Beliau pun bersabda: “Keridla`annya adalah diamnya.”

15)BUDAK MELAKUKAN PEKERJAAN RUMAH TANGGA

Makanan (50) : 61

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ كَانَ مِنْ الْأَنْصَارِ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ أَبُو شُعَيْبٍ وَكَانَ لَهُ غُلَامٌ لَحَّامٌ فَقَالَ اصْنَعْ لِي طَعَامًا أَدْعُو رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَامِسَ خَمْسَةٍ فَدَعَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَامِسَ خَمْسَةٍ فَتَبِعَهُمْ رَجُلٌ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّكَ دَعَوْتَنَا خَامِسَ خَمْسَةٍ وَهَذَا رَجُلٌ قَدْ تَبِعَنَا فَإِنْ شِئْتَ أَذِنْتَ لَهُ وَإِنْ شِئْتَ تَرَكْتَهُ قَالَ بَلْ أَذِنْتُ لَهُ قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ إِسْمَاعِيْلَ يَقُولُ إِذَا كَانَ الْقَوْمُ عَلَى الْمَائِدَةِ لَيْسَ لَهُمْ أَنْ يُنَاوِلُوا مِنْ مَائِدَةٍ إِلَى مَائِدَةٍ أُخْرَى وَلَكِنْ يُنَاوِلُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا فِي تِلْكَ الْمَائِدَةِ أَوْ يَدَعُ

50.61/5014. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Al A’masy dari Abu Wail dari Abu Mas’ud Al Anshari ia berkata; “Ada seorang laki-laki yang bernama Abu Syu’aib dari kalangan Anshar, ia mempunyai seorang budak yang pandai memasak daging, ia lalu berkata kepada budaknya; ‘Buatlah makanan dengan lima porsi, aku ingin mengundang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.’ Ia lalu mengundang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sejumlah lima porsi tersebut. Lalu ada seorang laki-laki yang mengikuti beliau, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: ‘Engkau mengundang kami dengan lima porsi, padahal ini ada seorang laki-laki (lain) yang ingin ikut. Sekarang terserah kamu, memberi izin atau tidak.’ Abu Syu’aib menjawab; ‘Aku memberinya izin.’ Muhammad bin Yusuf berkata; Aku mendengar Muhammad bin Ismail berkata; ‘Jika suatu kaum berada dalam suatu meja makan, maka mereka tidak memindahkannya ke meja makan yang lainnya. Namun, sebagian mereka mengambilkan untuk sebagian yang lain dalam satu meja tersebut, atau mereka tidak mengambilnya.’

16)RASULULLAH TETAP SILATURAHMI DENGAN MANTAN BUDAKNYA

Makanan (50) : 62

حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُنِيرٍ سَمِعَ النَّضْرَ أَخْبَرَنَا ابْنُ عَوْنٍ قَالَ أَخْبَرَنِي ثُمَامَةُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنْتُ غُلَامًا أَمْشِي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَدَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى غُلَامٍ لَهُ خَيَّاطٍ فَأَتَاهُ بِقَصْعَةٍ فِيهَا طَعَامٌ وَعَلَيْهِ دُبَّاءٌ فَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَتَبَّعُ الدُّبَّاءَ قَالَ فَلَمَّا رَأَيْتُ ذَلِكَ جَعَلْتُ أَجْمَعُهُ بَيْنَ يَدَيْهِ قَالَ فَأَقْبَلَ الْغُلَامُ عَلَى عَمَلِهِ قَالَ أَنَسٌ لَا أَزَالُ أُحِبُّ الدُّبَّاءَ بَعْدَ مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَنَعَ مَا صَنَعَ

50.62/5015. Telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Munir; ia mendengar An Nadlr; telah mengabarkan kepada kami Ibnu Aun ia berkata; telah mengabarkan kepadaku Tsumamah bin Abdullah bin Anas dari Anas radliallahu ‘anhu, ia berkata; Aku berjalan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, padahal aku masih seorang bocah. Beliau lalu menemui budaknya yang tukang jahit, budak itu kemudian menghidangkan kepada beliau makanan dalam sebuah bejana yang di antaranya adalah buah labu. Beliau lalu memilih-milih buah tersebut (untuk dimakan). Anas berkata, Ketika aku melihat beliau seperti itu, maka aku pun mengambil dan meletakkannya di hadapannya. Sementara budak tersebut kembali mengerjakan pekerjaannya. Anas berkata, Maka aku sangat menyukai buah labu semenjak aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan hal tersebut.

17)BUDAK PUN HARUS BERAKHLAK BAIK,TAK BOLEH MENIPU

Pakaian (57) : 142

حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ قَالَ سَمِعْتُ الْحَسَنَ بْنَ مُسْلِمِ بْنِ يَنَّاقٍ يُحَدِّثُ عَنْ صَفِيَّةَ بِنْتِ شَيْبَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ جَارِيَةً مِنْ الْأَنْصَارِ تَزَوَّجَتْ وَأَنَّهَا مَرِضَتْ فَتَمَعَّطَ شَعَرُهَا فَأَرَادُوا أَنْ يَصِلُوهَا فَسَأَلُوا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَعَنَ اللَّهُ الْوَاصِلَةَ وَالْمُسْتَوْصِلَةَ تَابَعَهُ ابْنُ إِسْحَاقَ عَنْ أَبَانَ بْنِ صَالِحٍ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ صَفِيَّةَ عَنْ عَائِشَةَ

57.142/5478. Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Amru bin Murrah dia berkata; saya mendengar Al Hasan bin Muslim bin Yannaq menceritakan dari Shafiyah binti Syaibah dari Aisyah radliallahu ‘anha bahwa seorang budak perempuan milik orang Anshar hendak menikah, sementara dirinya tengah sakit hingga rambutnya rontok, maka orang-orang pun hendak menyambungnya, lalu mereka bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau pun bersabda: Allah melaknat orang yang menyambung rambutnya dan yang minta disambung rambutnya. Hadits ini diperkuat oleh riwayat Ibnu Ishaq dari Aban bin Shalih dari Al Hasan dari Shafiyyah dari Aisyah.

18)KELEMBUTAN PRILAKU RASUL TERHADAP BUDAK

Adab (58) : 98

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ حَدَّثَنَا مَعْبَدُ بْنُ خَالِدٍ الْقَيْسِيُّ عَنْ حَارِثَةَ بْنِ وَهْبٍ الْخُزَاعِيِّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ الْجَنَّةِ كُلُّ ضَعِيفٍ مُتَضَاعِفٍ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ وَقَالَ مُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ أَخْبَرَنَا حُمَيْدٌ الطَّوِيلُ حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ إِنْ كَانَتْ الْأَمَةُ مِنْ إِمَاءِ أَهْلِ الْمَدِينَةِ لَتَأْخُذُ بِيَدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَنْطَلِقُ بِهِ حَيْثُ شَاءَتْ

58.98/5610. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir telah mengabarkan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepada kami Ma’bad bin Khalid Al Qaisi dari Haritsah bin Wahb Al Khuza’i dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: Maukah kalian aku beritahu penduduk surga? Yaitu setiap orang yang lemah dan diperlemah. Sekiranya ia bersumpah atas nama Allah pasti Allah akan mengabulkannya, Maukah kalian aku beritahu penghuni neraka? Yaitu Setiap orang yang keras (hati), congkak dan sombong. Muhammad bin Isa berkata; telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengabarkan kepada kami Humaid At Thawil telah menceritakan kepada kami Anas bin Malik dia berkata; Sekiranya ada seorang budak dari budak penduduk Madinah menggandeng tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sungguh beliau akan beranjak bersamanya kemana budak itu pergi.

19MENUMBUK KEPALA BUDAK DENGAN BATU WAJIB QISAS

Diyat (67) : 15

حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مِنْهَالٍ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ يَهُودِيًّا رَضَّ رَأْسَ جَارِيَةٍ بَيْنَ حَجَرَيْنِ فَقِيلَ لَهَا مَنْ فَعَلَ بِكِ هَذَا أَفُلَانٌ أَوْ فُلَانٌ حَتَّى سُمِّيَ الْيَهُودِيُّ فَأُتِيَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَزَلْ بِهِ حَتَّى أَقَرَّ بِهِ فَرُضَّ رَأْسُهُ بِالْحِجَارَةِ

67.15/6368. Telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Minhal telah menceritakan kepada kami Hammam dari Qatadah dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu, ada seorang yahudi menumbuk kepala seorang budak perempuan dengan dua batu. Maka budak perempuan tersebut ditanya; ‘sebutkan siapa yang mencederaimu, apakah yang melakukannya fulan, fulan? ‘ hingga disebut nama seorang yahudi.’ Maka orang yahudi itu lantas dihadapkan ke Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi tiada henti menginterogasinya hingga ia mengakui, kemudian Nabi mengqisasnya dengan meretakkan kepalanya dengan batu.

BANDINGKAN PERBUDAKAN DALAM ALKITAB,DARIMANA SEORANG BUDAK WANITA MUDA DI DAPAT?

Keluaran 21:1-11
21:1 “Inilah peraturan-peraturan yang harus kaubawa ke depan mereka.
21:2 Apabila engkau membeli seorang budak Ibrani, maka haruslah ia bekerja padamu enam tahun lamanya, tetapi pada tahun yang ketujuh ia diizinkan keluar sebagai orang merdeka, dengan tidak membayar tebusan apa-apa.
21:3 Jika ia datang seorang diri saja, maka keluarpun ia seorang diri; jika ia mempunyai isteri, maka isterinya itu diizinkan keluar bersama-sama dengan dia.
21:4 Jika tuannya memberikan kepadanya seorang isteri dan perempuan itu melahirkan anak-anak lelaki atau perempuan, maka perempuan itu dengan anak-anaknya tetap menjadi kepunyaan tuannya, dan budak laki-laki itu harus keluar seorang diri.
21:5 Tetapi jika budak itu dengan sungguh-sungguh berkata: Aku cinta kepada tuanku, kepada isteriku dan kepada anak-anakku, aku tidak mau keluar sebagai orang merdeka,
21:6 maka haruslah tuannya itu membawanya menghadap Allah, lalu membawanya ke pintu atau ke tiang pintu, dan tuannya itu menusuk telinganya dengan penusuk, dan budak itu bekerja pada tuannya untuk seumur hidup.

21:7 Apabila ada seorang menjual anaknya yang perempuan sebagai budak, maka perempuan itu tidak boleh keluar seperti cara budak-budak lelaki keluar.
21:8 Jika perempuan itu tidak disukai tuannya, yang telah menyediakannya bagi dirinya sendiri, maka haruslah tuannya itu mengizinkan ia ditebus; tuannya itu tidak berhak untuk menjualnya kepada bangsa asing, karena ia memungkiri janjinya kepada perempuan itu.
21:9 Jika tuannya itu menyediakannya bagi anaknya laki-laki, maka haruslah tuannya itu memperlakukannya seperti anak-anak perempuan berhak diperlakukan.
21:10 Jika tuannya itu mengambil perempuan lain, ia tidak boleh mengurangi makanan perempuan itu, pakaiannya dan persetubuhan dengan dia.
21:11 Jika tuannya itu tidak melakukan ketiga hal itu kepadanya, maka perempuan itu harus diizinkan keluar, dengan tidak membayar uang tebusan apa-apa.”

tulisan terkait:

WAJIB MEMERDEKA KAN BUDAK JIKA MAJIKAN MENAMPAR DAN MEMUKUL NYA

MENGAPA RASULULLAH MEMUTUSKAN HUKUMAN MATI BAGI ABDULLAH BIN AL-KHATHAL?

judge bao

Rasulullah selalu di jadikan sasaran fitnah,bahwa beliau sebagai pembunuh berdarah dingin.padahal HARUS DI BEDAKAN PEMBUNUH DENGAN HAKIM YANG MEMUTUS KAN HUKUMAN MATI BAGI KRIMINALITAS.yang kategori kedua bukan lah pembunuh,tetapi hakim yang menindak tindak pidana kriminalitas.seperti kasus-kasus kejahatan berat di indonesia,apakah hakim yang memvonis hukuman mati bagi pelaku adalah pembunuh berdarah dingin?nalar saja sendiri.

Salah satu penjahat yang di halal kan darah nya oleh Rasulullah(boleh di hukum mati)adalah ABDULLAH BIN AL-KHATHAL.ia salah satu yang di hala kan darah nya oleh Rasulullah pada peristiwa FATHUL MAKKAH.apa penyebab nya?simak penjabaran Ibnu Ishaq di bawah ini:

“Abdullah bin Al-khathal adalah keturunan bani taim bin ghalib.adapun mengapa ia di perintahkan untuk di bunuh(hukum mati),karena ia pernah menjadi seorang muslim,kemudian Rasulullah mengutus nya untuk suatu keperluan dengan penuh kepercayaan di sertai oleh seorang laki-laki dari Anshar yang membawa serta pula pembantunya yang setia melayani nya.pembantu itupun adalah seorang muslim.Abdullah bin Al-khathal keluar dari rumah dan memerintah kan pembantunya untuk menyembelih seekor kambing jantan dan memasak makanan untuk nya,kemudia ia tidur.ketika ia bangun,ternyata sang pembantu belum melakukan sesutu(tidak menyembelih kambing dan memasak makana).maka ia(al-khathal)menganiaya pembantunya sampai mati.kemudian ia pun murtad dan kembali menjadi seorang musyrik’(Sirah nabawiyah Juz 4 hal 58)

Thaha jabir Ulwani mengomentari kasus di atas sbb:

“Dengan demikian ia(Al-khathal)adalah pembunuh,sedangkan kasus murtad nya adalah dosa lain yang menyusul kemudian.dia pun menjadi musuh yang selalu memerangi Rasulullah dan selalu menjadi provokator dan motifator gerakan untuk selalu memerangi dan membunuh Rasulullah(Ansab Al-asyraf,juz 1 hal 359-360,la iqraha fid din,Thaha jabir Al-ulwani)

Jelas bahwa Rasulullah tidak lah menghukum mati kecuali para penjahat dan pembunuh yang mengacau kan ketentraman masyarakat.tak seperti tuduhan Ali sina misalnya,sifat membunuh Rasulullah bawaan traumatik masa kecil,seperti yang telah saya sanggah kebodohan klaim Ali sina di sini.sudah banyak nyawa penjahat melayang di tangan keputusan hakim-hakim yang adil.lalu apakah hakim-hakim itu dan para Algojonya di sebut pembunuh berdarah dingin?tidak,justru mereka menegak kan keadilan dan ketentraman di masyarakat.sepert kasus Al-khathal,Al-khathal adalah seorang pembunuh,padahal perkaranya adalah hanya karena jengkel melihat kemalasan pembantunya.dalam hal ini Rasul terlihat amat membela pembantu yang nota bene orang kecil.dan yang menarik,Al-kahthal di hukum mati bukan karena ke murtadan nya,tetapi masalah ia membunuh pembantunya yang di persiapkan untuk perjalanan nya.maka dengan ulasan ini,bisakah anda membedakan mana pembunuh mana hakim yang adil dalam masalah daragh manusia?silahkian nalar sendiri.

fiqih memerdekakan budak(3)

                                                                                                                                                                                                                                                                                
بسم الله الرحمن الرحيم
Fiqh Memerdekakan Budak (bag. 3)
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:
Berikut ini pembahasan lanjutan tentang memerdekakan budak, semoga Allah menjadikannya ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamiin.
Bermuamalah dengan baik kepada budak
Sebelum kedatangan Islam, budak-budak banyak dihinakan dan direndahkan, bahkan disiksa. Budak-budak itu dijadikan alat untuk mencapai tujuan mereka, dan sebagian dari budak-budak itu ada yang disiksa, baik dengan dibuat kelaparan, dipukul, dibebani dengan beban yang tidak sanggup dipikulnya, ada pula yang diseterika, dan ada pula yang dipotong anggota badannya.
Islam memuliakan budak dan memerintahkan untuk berbuat baik kepada mereka serta menyayangi mereka, dan tidak menjadikan mereka berada dalam kerendahan dan kehinaan, berikut di antara dalilnya:
Pertama, Allah Subhaanahu wa Ta’aala mewasiatkan berbuat baik kepada budak, firman-Nya:
وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالاً فَخُورًا
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu. Berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,” (An NIsaa’: 36)
Kedua, dalam hadits Ali radhiyallahu ‘anhu disebutkan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اتَّقُوا اللهَ فِيْمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ
“Bertakwalah kepada Allah dalam masalah budak yang kalian miliki.” (HR. Bukhari dalam Al Adab, dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 106)
Ketiga, Islam melarang memanggil budak dengan panggilan yang menunjukkan penghinaan dan penghambaannya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَا يَقُلْ أَحَدُكُمُ اسْقِ رَبَّكَ، أَطْعِمْ رَبَّكَ، وَضِّئْ رَبَّكَ، وَلَا يَقُلْ أَحَدُكُمْ رَبِّي، وَلْيَقُلْ سَيِّدِي مَوْلَايَ، وَلَا يَقُلْ أَحَدُكُمْ عَبْدِي أَمَتِي، وَلْيَقُلْ فَتَايَ فَتَاتِي غُلَامِي
“Janganlah salah seorang di antara kamu berkata, “Berilah minum gustimu, berilah makan gustimu, atau wudhukanlah gustimu.” Dan janganlah salah seorang di antara kamu berkata, “Gustiku,” tetapi katakanlah, “Tuanku atau maulaku.” Dan janganlah salah seorang di antara kamu berkata, “hambaku yang putera” atau “hambaku yang puteri,” tetapi katakanlah, “Pemudaku, Pemudiku,” serta “Anakku.” (HR. Muslim)
Keempat, Islam memerintahkan seorang budak ikut makan seperti yang dimakan tuannya serta memakai pakaian seperti yang dipakai tuannya. Disebutkan dalam hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِخْوَانُكُمْ خَوَلُكُمْ، جَعَلَهُمُ اللَّهُ تَحْتَ أَيْدِيكُمْ، فَمَنْ كَانَ أَخُوهُ تَحْتَ يَدِهِ، فَلْيُطْعِمْهُ مِمَّا يَأْكُلُ، وَلْيُلْبِسْهُ مِمَّا يَلْبَسُ، وَلاَ تُكَلِّفُوهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ، فَإِنْ كَلَّفْتُمُوهُمْ فَأَعِينُوهُمْ»
“Para pelayanmu adalah saudara kamu, Allah menjadikan mereka di bawahmu. Maka barang siapa yang saudaranya berada di bawahnya, maka hendaknya ia memberinya makan seperti yang dimakannya, memberikan pakaian seperti yang dipakainya serta tidak membebani mereka dengan beban yang tidak sanggup mereka pikul, dan jika kalian membebani, maka bantulah.” (HR. Bukhari)
Kelima, Islam melarang menzalimi mereka serta menyakiti mereka. Dalam hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma disebutkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ لَطَمَ مَمْلُوكَهُ، أَوْ ضَرَبَهُ، فَكَفَّارَتُهُ أَنْ يُعْتِقَهُ
“Barang siapa yang menampar budaknya atau memukulnya, maka kaffaratnya adalah dengan memerdekakannya.” (HR. Muslim)
Abu Mas’ud Al Anshariy berkata:
كُنْتُ أَضْرِبُ غُلَامًا لِي، فَسَمِعْتُ مِنْ خَلْفِي صَوْتًا: «اعْلَمْ، أَبَا مَسْعُودٍ، لَلَّهُ أَقْدَرُ عَلَيْكَ مِنْكَ عَلَيْهِ» ، فَالْتَفَتُّ فَإِذَا هُوَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، هُوَ حُرٌّ لِوَجْهِ اللهِ، فَقَالَ: «أَمَا لَوْ لَمْ تَفْعَلْ لَلَفَحَتْكَ النَّارُ» ، أَوْ «لَمَسَّتْكَ النَّارُ»
“Saya pernah memukul budak saya, tiba-tiba saya mendengar suara dari belakang, “Ketahuilah wahai Abu Mas’ud, bahwa Allah lebih berkuasa terhadap dirimu daripada kekuasaan kamu terhadap budak ini.” Maka aku menoleh, ternyata orang itu adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka aku berkata, “Wahai Rasulullah, dia menjadi merdeka karena (saya) mengharap wajah Allah.” Maka Beliau bersabda, “Sesungguhnya, jika kamu tidak melakukan hal itu, niscaya dirimu dihanguskan api neraka,” atau bersabda, “disentuh api neraka.” (HR. Muslim)
Keenam, hakim diberikan hak untuk menetapkan ketetapan “memerdekakan” apabila telah jelas berita bahwa si budak diperlakukan secara kasar.
Ketujuh, Islam mengajak tuannya untuk mengajarkan agama dan mengajarkan adab kepada mereka.
Upaya Islam Untuk Memerdekakan Budak
Islam telah membuka pintu pembebasan serta menerangkan jalan-jalan untuk membebaskannya dari perbudakan serta menggunakan berbagai sarana untuk membebaskan mereka dari perbudakan.
Pertama, membebaskan budak merupakan jalan menuju rahmat Allah dan surga-Nya, Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:
فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ (11) وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ (12) فَكُّ رَقَبَةٍ (13)
“Tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki lagi sukar.— Tahukah kamu apa jalan yang mendaki lagi sukar itu?— (Yaitu) melepaskan budak dari perbudakan,” (Terj. QS. Al Balad: 11-13)
Kedua, dalam hadits Al Barra’ yang diriwayatkan oleh Ath Thayalsiy disebutkan:
جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ قَالَ: «لَئِنْ قَصَّرْتَ فِي الْخُطْبَةِ لَقَدْ عرَّضْتَ الْمَسْأَلَةَ، أَعْتِقِ النَّسَمَةَ وَفُكَّ الرَّقَبَةَ» قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَوَمَا هُمَا سَوَاءٌ؟ قَالَ: «لَا، عِتْقُ النَّسَمَةِ أَنْ تُفْرِدَ بِهَا وَفَكُّ الرَّقَبَةِ أَنْ تُعِينَ فِي ثَمَنِهَا، وَالْمِنْحَةُ الْوَكُوفُ وَالْفَيْءُ عَلَى ذِي الرَّحِمِ الظَّالِمِ» قَالَ: فَمَنْ لَمْ يُطِقْ ذَلِكَ؟ قَالَ: «فَأَطْعِمِ الْجَائِعَ وَاسْقِ الظَّمْآنَ» قَالَ: فَإِنْ لَمْ أَسْتَطِعْ؟ قَالَ: «مُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ» قَالَ، فَمَنْ لَمْ يُطِقْ ذَاكَ؟ قَالَ: «فَكُفَّ لِسَانَكَ إِلَّا مِنْ خَيْرٍ»
“Pernah datang seorang Arab baduwi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku amalan yang memasukkanku ke surga?” Beliau menjawab, “Jika engkau memendekkan khutbah, maka engkau telah menghadapkan kepada permasalahan. Merdekakanlah jiwa dan lepaskan budak.” Ia bertanya, “Wahai Rasulullah, bukankah keduanya sama saja.” Beliau menjawab, “TIdak, memerdekakan jiwa adalah kamu sendiri yang memerdekakannya, sedangkan melepaskan budak adalah kamu membantu (dengan harta) harganya. Berikanlah susu dari hewan yang banyak susunya, dan berbuat baiklah kepada kerabat yang zalim.” Ia bertanya lagi, “Bagaimana jika tidak mampu?” Beliau menjawab, “Berilah makan orang yang lapar dan berilah minum orang yang haus.” Ia bertanya lagi, “Jika saya tidak mampu?” Beliau menjawab, “Suruhlah orang lain mengerjakan yang ma’ruf dan cegahlah kemungkaran.” Ia bertanya lagi, “Jika ia tidak mampu?” Beliau menjawab, “Jagalah lisanmu kecuali untuk yang baik.” (Dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 3976)
Ketiga, Memerdekakan budak termasuk kaffarat dalam pembunuhan khatha’ (tidak sengaja), Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, “Dan barang siapa membunuh seorang mukmin karena tersalah, (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman.” (Terj. QS. An NIsaa’: 92)
Keempat, memerdekakan budak juga sebagai kaffarat dalam sumpah yang dilanggar. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, “Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak.” (Terj. QS. Al Maa’idah: 89)
Kelima, memerdekakan budak termasuk kaffarat Zhihar. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, “Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur.” (Terj. QS. Al Mujaadilah: 3)
Keenam, Islam menjadikan termasuk tempat penyaluran zakat adalah untuk membelikan budak dan untuk memerdekakan mereka, lihat surat At Taubah: 60.
Ketujuh, Islam memerintahkan diberlakukan mukaatabah, yakni mengadakan perjanjian antara tuan dengan budaknya agar budaknya merdeka dengan membayar sejumlah harta. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman,
“Dan budak-budak yang kamu miliki yang memginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka[i], jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu. “ (Terj. QS. An Nuur: 33)
Kedelapan, ketika seseorang bernadzar untuk memerdekakan budak, maka ia wajib memenuhi nadzarnya ketika keinginannya tercapai.
Dari penjelasan di atas tampak jelas bagi kita, bahwa Islam mempersempit perbudakan, memperlakukan mereka dengan perlakuan yang baik, membuka lebar-lebar pintu memerdekakan, serta membuka ruang yang lebar agar mereka dapat lepas dari perbudakan, bahkan Islam mengulurkan tangannya untuk para budak agar mereka dapat lepas dari perbudakan.
Wallahu a’lam, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalhihi wa shahbihi wa sallam.
Marwan bin Musa

Maraji’: Al Fiqhul Muyassar Fii Dhau’il Kitab was Sunnah (beberapa ulama), Fiqhus Sunnah (Sayyid Sabiq), Minhajul Muslim (Abu Bakr Al Jaza’iriy), Al Maktabatusy Syamilah, dll.


[i] Salah satu cara dalam agama Islam untuk menghilangkan perbudakan, yaitu seorang budak boleh meminta pada tuannya untuk dimerdekakan, dengan perjanjian bahwa budak itu akan membayar jumlah uang yang ditentukan. Pemilik budak itu hendaklah menerima perjanjian itu kalau budak itu menurutnya sanggup melunasi perjanjian itu dengan harta yang halal.

FIQIH MEMERDEKAKAN BUDAK(2)

                                                                                                                                                                                                                                                                          
بسم الله الرحمن الرحيم
Fiqh Memerdekakan Budak (bag. 2)
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:
Berikut ini pembahasan lanjutan tentang memerdekakan budak, semoga Allah menjadikannya ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamiin.
Di antara hukum-hukum yang terkait dengan ‘itq
1.     Boleh berserikat (bersekutu) terhadap seorang budak laki-laki atau perempuan, yakni dengan dimiliki lebih dari seorang.
2.     Jika seseorang memerdekakan bagiannya pada budak yang dimiliki bersama, maka telah merdeka bagiannya itu dari budak tersebut.
Adapun  bagian sekutunya, jika orang yang memerdekakan itu kaya, maka ia hendaknya memerdekakan bagian milik sekutunya terhadap budak itu, dan dinilaikan bagian milik sekutunya, kemudian dibayarkan kepadanya. Tetapi jika orang yang memerdekakan itu kurang mampu, maka ia tidak memerdekakan bagian sekutunya, dan seorang budak yang bekerja sendiri untuk memperoleh harta senilai bagian sekutu ini, lalu ia memerdekakan dirinya setelah membayarnya, sehingga ia seperti mukatab. Dalil masalah ini adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
مَنْ أَعْتَقَ شِرْكًا لَهُ فِي عَبْدٍ، فَكَانَ لَهُ مَالٌ يَبْلُغُ ثَمَنَ العَبْدِ قُوِّمَ العَبْدُ عَلَيْهِ قِيمَةَ عَدْلٍ، فَأَعْطَى شُرَكَاءَهُ حِصَصَهُمْ، وَعَتَقَ عَلَيْهِ العَبْدُ، وَإِلَّا فَقَدْ عَتَقَ مِنْهُ مَا عَتَقَ
“Barang siapa yang memerdekakan bagiannya pada seorang budak, sedangkan ia memiliki harta yang cukup untuk membayarkan harga budak (sisanya), maka budak itu dijumlahkan nilainya yang adil (tidak kurang dan tidak lebih), lalu ia berikan para sekutunya bagian mereka, dan menjadi merdekalah budak itu. Jika tidak memiliki, maka budak itu merdeka sesuai yang telah dimerdekakan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
«مَنْ أَعْتَقَ نَصِيبًا – أَوْ شَقِيصًا – فِي مَمْلُوكٍ، فَخَلاَصُهُ عَلَيْهِ فِي مَالِهِ، إِنْ كَانَ لَهُ مَالٌ، وَإِلَّا قُوِّمَ عَلَيْهِ، فَاسْتُسْعِيَ بِهِ غَيْرَ مَشْقُوقٍ عَلَيْهِ»
“Barang siapa yang memerdekakan bagiannya pada seorang budak, maka pemerdekaannya dibebankan pada hartanya jika ia memiliki harta. Jika tidak, maka dijumlahkan nilainya, lalu budak itu diminta bekerja untuk memerdakan dirinya tanpa menyusahkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Zhahir hadits tersebut, bahwa hal itu dikembalikan kepada pilihan budak.
3.     Orang yang memerdekakan mewarisi semua harta orang yang ia merdekakan, tidak sebaliknya. Hal itu, karena orang yang dimerdekakan, wala’(kewarisan)nya untuk orang yang memerdekakan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْوَلاَءُ لِمَنْ أَعْتَقَ
“Wala’ itu untuk orang yang memerdekakan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bahkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan wala’ seperti nasab, Beliau bersabda,
الْوَلاَءُ لُحْمَةٌ كَلُحْمَةِ النَّسَبِ
“Wala’ adalah sepotong daging seperti sepotong daging nasab.” (HR. Syafi’i dalam Al Umm (1232), Hakim (4/241), dan ia menshahihkannya, Baihaqi (10/292), dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 7157)
4.     Barang siapa yang memukul budaknya secara zalim, atau memukulnya dengan pukulan yang sangat keras[i], atau mencincangnya, atau memotong anggota badannya, dan sebagainya, maka hendaknya ia memerdekakannya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ ضَرَبَ غُلَامًا لَهُ حَدًّا لَمْ يَأْتِهِ، أَوْ لَطَمَهُ، فَإِنَّ كَفَّارَتَهُ أَنْ يُعْتِقَهُ
“Barang siapa yang memukul budaknya terhadap perbuatan yang tidak dilakukannya atau menamparnya, maka kaffaratnya adalah dengan memerdekakannya.” (HR. Muslim)
Adapun jika pukulannya ringan dan hanya sebagai pelajaran (ta’dib) saja, maka tidak mengapa.
5.     Seorang budak menjadi merdeka ketika dimiliki oleh kerabatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
«مَنْ مَلَكَ ذَا رَحِمٍ مَحْرَمٍ فَهُوَ حُرٌّ»
“Barang siapa yang memiliki budak yang merupakan kerabatnya, maka budak itu menjadi merdeka.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Al Albani)
*****
Tadbir
Tadbir artinya menggantungkan merdekanya budak dengan kematian tuannya. Dikatakan,
دَبَّرَ الرَّجُلُ عَبْدَهُ تَدْبِيْرًا
Artinya: Seseorang membebaskan budaknya setelah matinya.
Mudabbar adalah budak yang mendapat tadbir. Disebut demikian, karena budak tersebut menjadi merdeka ketika tuannya telah meninggal.
Tadbir hukumnya boleh dan sah berdasarkan kesepakatan ulama. Dasarnya adalah hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada salah seorang dari kaum Anshar yang memerdekakan budaknya setelah wafatnya, padahal ia tidak mempunyai harta selainnya, maka sampailah berita itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Beliau bersabda, “Siapakah yang mau membelinya dariku?” Lalu Nu’aim bin Abdullah membelinya dengan harga 800 dirham, kemudian Beliau menyerahkan uang itu kepadanya. (HR. Bukhari dan Muslim)
Di antara hukum tentang tadbir:
1.     Boleh menjual budak mudabbar secara mutlak karena suatu keperluan, dan para Ahli Ilmu membolehkan menjualnya secara mutlak karena suatu keperluan atau lainnya berdasarkan hadits Jabir di atas.
2.     Budak mudabbar merdeka dari bagian harta yang berjumlah 1/3, bukan seluruhnya, karena hukumnya seperti wasiat, dan keduanya tidak diberlakukan kecuali setelah mati.
3.     Bagi tuannya boleh menghibahkannya, karena hibah seperti jaul-beli.
4.     Dibolehkan bagi tuan menjima’i budak mudabbarnya yang wanita, karena itu adalah budak miliknya. Allah Ta’ala berfirman,
“Kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak terceIa.” (Terj. QS. Al Mu’minun: 6)
*****
Mukatabah
Mukatabah secara syara’ artinya pemerdekaan yang dilakukan seorang budak terhadap dirinya dari tuannya dengan membayarkan harta yang dibayar secara cicilan. Mukatabah disebut juga kitabah, karena tuannya menulis antara dirinya dengan budaknya sebuah tulisan yang disepakati bersama.
Budak yang hendak memerdekakan dirinya dengan menyerahkan harta kepada tuannya disebut mukatab.
Hukum mukatabah
Mukatabah hukumnya boleh dan dianjurkan apabila seorang budak ingin memerdekakan dirinya, dimana ia adalah seorang yang jujur dalam tindakannya itu, siap bekerja, dan sanggup membayarkan cicilan yang disyaratkan tuannya. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,
وَالَّذِينَ يَبْتَغُونَ الْكِتَابَ مِمَّا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ فَكَاتِبُوهُمْ إِنْ عَلِمْتُمْ فِيهِمْ خَيْرًا وَآتُوهُم مِّن مَّالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكُمْ
“Dan budak-budak yang kamu miliki yang menginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu[ii].” (Terj. QS. An Nuur: 33)
Di antara hukum-hukum mukatabah
1.     Seorang budak baik laki-laki maupun perempuan menjadi merdeka ketika telah membayarkan cicilan yang telah disepakati dengan tuannya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
«الْمُكَاتَبُ عَبْدٌ مَا بَقِيَ عَلَيْهِ مِنْ مُكَاتَبَتِهِ دِرْهَمٌ»
“Seorang budak mukatab adalah tetap sebagai budak ketika masih berhutang satu dirham.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dan dihasankan oleh Al Albani)
Mafhum hadits ini adalah bahwa ketika seorang budak telah menunaikan pembayarannya, maka ia tidak lagi sebagai budak, bahkan menjadi merdeka.
2.     Seorang budak belum merdeka sampai ia melunasi semua kitabah(cicilan)nya.
3.     Wala’ mukatab diberikan kepada tuannya apabila ia (budak) telah membayarkan cicilannya, berdasarkan hadits “Al Walaa liman a’taqa,” (artinya: wala’ itu diberikan untuk orang yang memerdekakan).
4.     Hendaknya tuannya mengurangi sedikit cicilan yang dibebankan kepada budaknya, hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu.” (Terj. QS. An Nuur: 33). Ibnu Abbas berkata tentang ayat ini, “Kurangilan cicilan mereka.” (Diriwayatkan oleh Baihaqi 10/330, dan lihat Al Mughni 10/342)
Dan bagi tuannya diberikan pilihan dalam hal cara mengurangi, bisa dengan mengurangi langsung, atau mengambil cicilannya lalu menyerahkan kembali cicilan itu kepadanya.
5.     Bayaran yang dibebankan kepada budak dilakukan secara cicilan, baik dua kali atau lebih. Dengan syarat waktu pembayarannya jelas dan jelas pula jumlah bayarannya.
6.     Bagi budak mukatab tidak boleh menikah sampai diizinkan tuannya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
«أَيُّمَا عَبْدٍ تَزَوَّجَ بِغَيْرِ إِذْنِ مَوَالِيهِ، فَهُوَ عَاهِرٌ»
“Siapa saja budak yang menikah tanpa izin tuannya, mka ia pezina.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dihasankan oleh Al Albani)
Demikian pula tidak boleh menjadi menjadi gundik kecuali dengan izinnya.
7.     Diperbolehkan menjual mukatab, dan kitabah itu masih tersisa di tangan pembelinya. Jika budak itu telah membayarkan cicilannya, maka menjadi merdekalah budak itu, dan wala’nya menjadi milik pembelinya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Aisyah dalam kisah Barirah,
اِشْتَرِيْهَا وَأَعْتِقِيْهَا … فَإِنَّ الْوَلاَءَ لِمَنْ أَعْتَقَ
 “Belilah ia (Barirah) dan merdekakanlah…dst. Sesungguhnya wala’ itu untuk yang memerdekakan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bersambung…
Wallahu a’lam, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalhihi wa shahbihi wa sallam.
Marwan bin Musa

Maraji’: Al Fiqhul Muyassar Fii Dhau’il Kitab was Sunnah (beberapa ulama), Fiqhus Sunnah (Sayyid Sabiq), Minhajul Muslim (Abu Bakr Al Jaza’iriy), Al Maktabatusy Syamilah, dll.


[i] Seperti membuat tulang patah, membuat darah mengalir, atau meninggalkan bekas.

[ii] Untuk mempercepat lunasnya Perjanjian itu hendaklah budak- budak itu ditolong dengan harta yang diambilkan dari zakat atau harta lainnya, atau tuannya mengurangi beban cicilan

FIQIH MEMERDEKAKAN BUDAK(1)

                                                                                                                                                                                                                                                                                  
بسم الله الرحمن الرحيم
Fiqh Memerdekakan Budak (bag. 1)
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:
Berikut ini pembahasan tentang memerdekakan budak, semoga Allah menjadikannya ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamiin.
Ta’rif (definisi) ‘itq (memerdekakan budak)
‘Itq secara bahasa artinya merdeka dan bebas. Secara syara’, itq artinya membebaskan budak dari perbudakan dan menyingkirkan kepemilikan terhadapnya serta menetapkan kebebasan baginya.
Sejarah munculnya perbudakan
Perbudakan sudah dikenal di tengah-tengah manusia sejak ribuan tahun yang silam, bahkan telah ada pada bangsa-bangsa kuno di dunia, seperti Mesir, Cina, India, Yunani, dan Romawi, dan telah disebut-sebut dalam kitab-kitab samawi, seperti Taurat dan Injil. Hajar misalnya, ibu dari Isma’il bin Ibrahim, ia adalah budak yang dihadiahkan Raja Mesir kepada Sarah istri Ibrahim, kemudian Sarah menghadiahkannya kepada Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.
Perbudakan terjadi karena beberapa sebab, di antaranya adalah:
1.     Peperangan
Yakni ketika sebuah kaum memerangi kaum yang lain, lalu kaum itu kalah, maka istri dan anak-anak mereka menjadi budak.
2.     Kemiskinan
Dahulu banyak orang yang menjual anak-anaknya menjadi budak karena keadaannya yang fakir. Bahkan di zaman sekarang pun ada yang melakukan hal seperti ini.
3.     Penculikan dan pembajakan
Pernah terjadi ketika orang-orang Eropa singgah di Afrika, lalu orang-orang Eropa menculik orang-orang Afrika dan menjualnya ke pasar perdagangan budak di Eropa, lalu mereka memakan hasilnya.
Agama Islam sebagai agama yang benar, tidak membolehkan semua sebab ini kecuali satu sebab saja, yaitu yang terjadi karena peperangan. Yang demikian sebagai bentuk kasih sayang kepada manusia, karena kebanyakan mereka yang menang dalam peperangan biasanya karena sifat balas dendamnya yang tinggi, membuat mereka tega membunuh wanita dan anak-anak, maka agama Islam mengizinkan para pemeluknya untuk menjadikan wanita dan anak-anak itu sebagai budak untuk menjaga kehidupan mereka sekaligus untuk menyiapkan kemerdekaan bagi mereka nantinya dengan menetapkan berbagai jalan untuk memerdekakannya.
Dengan demikian, budak hanya berlaku dalam perang yang disyari’atkan yang terjadi antara kaum muslim dengan musuh mereka; orang-orang kafir, dan dibatalkan perbudakan selain itu.
Jika seorang bertanya, “Mengapa agama Islam tidak membuat ketetapan bahwa budak itu harus dimerdekan?”
Jawab, “Sesungguhnya Islam datang ketika budak-budak sudah di tangan manusia, maka tidak pantas bagi syariat Allah yang adil ini yang tujuannya untuk menjaga jiwa, kehormatan, dan harta manusia langsung menetapkan agar mereka melepaskan hartanya dari mereka. Di samping itu, karena budak-budak itu, terutama yang wanita dan anak-anak, atau bahkan dari kalangan laki-laki dewasa ada yang tidak sanggup menanggung dirinya karena kesulitannya dari bekerja dan ketidaktahuannya terhadap bentuk-bentuk pekerjaan. Oleh karena itu, dengan tetapnya ia sebagai budak, dimana dirinya ditanggung oleh tuannya, diberi makan dan pakaian lebih baik daripada dimerdekakan dalam keadaan dirinya kesusahan.”
(Lihat pula Minhajul Muslim karya Abu Bakar Al Jaza’iriy hal. 432-434)
Dalil disyariatkan memerdekakan budak
Dalil disyariatkan memerdekakan budak ada dalam Al Qur’an, As Sunnah, dan ijma’.
Dalam Al Qur’an, Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ
“(Hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya.” (Terj. QS. An Nisaa’: 92)
Dalam As Sunnah disebutkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
«مَنْ أَعْتَقَ رَقَبَةً مُسْلِمَةً، أَعْتَقَ اللَّهُ بِكُلِّ عُضْوٍ مِنْهُ عُضْوًا مِنَ النَّارِ، حَتَّى فَرْجَهُ بِفَرْجِهِ»
“Barang siapa yang memerdekakan budak yang muslim, maka Allah akan membebaskan setiap anggota badannya satu persatu dari neraka, sampai kemaluannya (dihindarkan dari neraka) karena membebaskan farjinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Allah Subhaanahu wa Ta’ala juga menjadikan memerdekakan budak sebagai kaffarat terhadap pembunuhan, kaffarat terhadap jima’ di bulan Ramadhan, dan kaffarat terhadap sumpah.
Umat Islam juga telah sepakat tentang keabsahan memerdekakan budak dan bahwa hal tersebut termasuk ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Keutamaan memerdekakan budak
Memerdekakan budak termasuk ibadah yang utama. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala,
فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ-وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ- فَكُّ رَقَبَةٍ
“Tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki lagi sukar.–Tahukah kamu apa jalan yang mendaki lagi sukar itu?–(Yaitu) melepaskan budak dari perbudakan,” (Terj. QS. Al Balad: 11-13)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَيُّمَا امْرِئٍ مُسْلِمٍ، أَعْتَقَ امْرَأً مُسْلِمًا، كَانَ فَكَاكَهُ مِنَ النَّارِ، يُجْزِي كُلُّ عُضْوٍ مِنْهُ عُضْوًا مِنْه
“Siapa saja seorang muslim yang memerdekan seorang muslim, maka hal itu akan membebaskan dirinya dari neraka, dimana masing-masing anggota badan (yang dimerdekakannya) memerdekakan anggota badannya (si pembebasnya).” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani)
Nash-nash yang menerangkan keutamaan membebaskan budak sangat banyak sekali. Dan akan disebutkan sebagiannya pada pembahasan “Upaya Islam Untuk Memerdekakan Budak,” insya Allah.
Dan perlu diketahui, bahwa memerdekakan budak laki-laki lebih utama daripada budak wanita, dan budak yang paling mahal dan berharga di sisi pemiliknya lebih utama dimerdekakan daripada yang di bawahnya.
Hikmah disyariatkan memerdekakan budak
Disyariatkan memerdekakan budak karena tujuan yang mulia dan hikmah yang dalam, di antaranya: membebaskan seorang manusia dari penderitaan sebagai budak, membuatnya memiliki dirinya sendiri, serta memberikan kebebasan bertindak padanya untuk manfaat dirinya.
Rukun memerdekakan budak
Rukun memerdekakan budak ada tiga:
a)     mu’tiq (orang yang memerdekakan)
b)    mu’taq (orang yang dimerdekakan)
c)     shighat (lafaz yang digunakan untuk memerdekakan)
Syarat memerdekakan budak
Untuk sahnya memerdekakan budak disyaratkan beberapa syarat berikut:
a.     Orang yang memerdekakan harus orang yang boleh tindakannya, yaitu orang yang baligh, berakal, cerdas, dan memilih sendiri.
Oleh karena itu, tidak sah memerdekakan dilakukan oleh anak kecil, orang gila, orang dungu, dan orang yang dipaksa. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ، عَنِ الْمَجْنُونِ الْمَغْلُوبِ عَلَى عَقْلِهِ حَتَّى يَفِيقَ، وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِم
“Diangkat pena dari tiga orang; orang gila yang hilang akalnya sampai sadar, orang yang tidur sampai ia bangun, dan anak kecil hingga baligh.” (HR. Para Pemilik kitab sunan)
Demikian juga tidak sah pemerdekaan dari orang yang dipaksa sebagaimana tindakannya yang lain juga tidak sah.
b.     Ia memiliki orang yang hendak dimerdekakan itu. Oleh karena itu, tidak sah pemerdekaan dari orang yang tidak memilikinya.
c.     Orang yang dimerdekakan tidak terikat dengan hak yang lazim (mesti) yang menghalanginya dimerdekakan, seperti berhutang atau melakukan jinayat (tindak kejahatan), sehingga tidak sah dimerdekakan sampai ia melunasi hutangnya atau membayarkan diyat jinayatnya.
d.     Pemerdekaan harus menggunakan lafaz yang tegas atau lafaz sindiran yang menduduki posisinya (tegas), dan tidak cukup hanya sekedar diniatkan.
Shigat atau lafaz untuk memerdekakan
Shighat atau lafaz untuk memerdekakan ada dua macam:
a.     Sharih (tegas), yaitu yang menggunakan lafaz ‘tq (memerdekakan) atau tahrir (membebaskan), atau tasrif (yang terbentuk) dari keduanya. Contoh: “Engkau merdeka, engkau bebas, engkau dimerdekakan, engkau dimerdekakan, atau aku bebaskan engkau.”
b.     Kinayah (sindiran), yaitu seperti mengatakan, “Pergilah ke mana saja yang engkau kehendaki,” atau, “tidak ada jalan lagi bagiku terhadap dirimu,” atau, “tidak ada lagi kekuasaan bagiku terhadap dirimu,” atau, “asingkanlah dirimu,” atau, “menjauhlah kamu dariku,” atau, “aku akan membiarkanmu,” dsb. Kalimat sindiran ini tidak menjadi ‘itq (memerdekakan) kecuali jika orang yang mengucapkan berniat memerdekakan budak.
Bersambung…
Wallahu a’lam, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalhihi wa shahbihi wa sallam.
Marwan bin Musa

Maraji’: Al Fiqhul Muyassar Fii Dhau’il Kitab was Sunnah (beberapa ulama), Fiqhus Sunnah (Sayyid Sabiq), Minhajul Muslim (Abu Bakr Al Jaza’iriy), Al Maktabatusy Syamilah, dll.

MENGAPA RUYATI DI HUKUM MATI?

Tak ada asap jika tak ada api.ternyata Ruyati di hukum mati karena membunuh majikan nya,simak sumbernya DISINI.

REPUBLIKA.CO.ID, MAKKAH – Arab News menuliskan berita tentang reaksi di Indonesia atas eksekusi mati Ruyati. Pada hari yang sama, mereka juga menurunkan tulisan tentang penyebab Ruyati dihukum mati.

Mereka mengutip sumber dari Kementerian Dalam Negeri Arab saudi yang mengatakan hukuman Royati – demikian mereka menulis nama Ruyati – tak mungkin diampuni.

Royati Beth Sabotti Sarona dinyatakan bersalah membunuh Khairiya Hamid binti Mejlid dengan memukul berkali-kali di kepala dengan sebuah palu daging dan menikam di lehernya, kata kementerian itu menjelaskan.

Kementerian itu tidak merinci motif kejahatan, juga tidak mengungkapkan hubungan antara dua wanita itu. “Polisi menangkap pelayan segera setelah kejahatan dan setelah penyelidikan kasus itu diteruskan ke Pengadilan Syariah, yang menjatuhkan hukuman mati. Putusan itu kemudian disahkan oleh Pengadilan Banding,” kata kementerian itu.

Kejahatan berlangsung sekitar satu setengah tahun lalu dan direncanakan, kata mereka. Dia menunggu sampai keberangkatan putra majikannya yang berusia 70 tahun itu untuk bekerja. Sementara, saat sang majikan melakukan shalat Dhuha, ia memukul kepalanya dengan palu beberapa kali. Ketika wanita Saudi berusaha untuk lari ke ruangan lain, dia mengikutinya dan ditusuk di leher.

Pelayan itu, setelah mencuci noda-noda darah dari tangannya, mencoba melarikan diri. Dia meninggalkan TKP dengan taksi, tetapi sopir taksi merasa ada sesuatu yang salah dengan wanita itu dan menyerahkan ke  kantor polisi Al-Mansour. Polisi kemudian melakukan investigasi dan dia mengakui kejahatannya.

Media ini menutup tulisannya dengan menyatakan sekitar 70 persen dari 1,2 juta warga Indonesia di Arab Saudi adalah bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

============================================

TANGGAPAN SAYA:Walau misal nya TKI yang membunuh di siksa majikan sebelumnya sebagai misal,apakah sah orang yang di siksa melakukan pembunuhan?.hukum di manapun tetap akan menghukum para pembunuh walau dengan alasan ia pernah di siksa oleh orang yang ia bunuh.korban penyiksaan bisa saja lari ke kantor polisi atau kedutaan,KBRI,dst,bukan menyelesai kan dengan masalah baru lagi.

WAJIB MEMERDEKA KAN BUDAK JIKA MAJIKAN MENAMPAR DAN MEMUKUL NYA

Para penghujat Islam kerap mengatakan bahwa tindakan sewenang-wenang kepada Budak dan pembantu adalah bagian ajaran islam yang kejam.padahal Rasulullah memberi hukuman wajib majikan memerdeka kan budak nya jika menampar dan memukulnya nya.berikut beberapa hadist tentang larangan menganiaya budak,apalagi pembantu rumah tangga yang nota bene bukan budak.

hadits Ibnu ‘Umar r.a, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Barangsiapa menampar budaknya atau memukulnya, maka kaffaratnya adalah memerdekakannya’.” (HR Muslim [1657]).

hadist2 lain nya adalah:

Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Dua jenis manusia penghuni Neraka yang belum aku lihat. Pertama, sekelompok orang yang membawa cemeti seperti ekor-ekor sapi lalu mencambuki manusia dengannya. Kedua, wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, berjalan berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring, mereka tidak akan masuk Surga dan tidak akan mencium aromanya padahal aroma Surga sudah tercium dari perjalanan sekian dan sekian

Masih Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, Barangsiapa memukul (orang lain) secara zhalim, maka dia akan diqishash (dibalas) pada hari Kiamat,” (Shahih ligharihi, HR Bukhari dalam al-Adabul Mufrad [185], ath-Thabrani dalam al-Aushath [1468]).

Dari Abu Umamah r.a, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Akan muncul nanti di akhir zaman petugas-petugas keamanan yang berangkat dengan membawa kemarahan Allah dan pergi juga membawa kemurkaan Allah. Janganlah kalian menjadi teman dekat (teman kepercayaan) mereka.”

Dalam riwayat lain disebutkan dengan lafazh, Akan muncul di tengah ummat ini nanti di akhir zaman sekelompok laki-laki yang membawa cemeti seperti ekor-ekor sapi, mereka berangkat pagi-pagi dengan membawa kemurkaan Allah dan pulang sore hari juga membawa kemarahan Allah,” (Shahih, HR Ahmad [V/250], al-Hakim [IV/436], ath-Thabrani dalam al-Kabiir [7616 dan 8000]).

 

Dan hadits Mu’awiyah bin Suwaid, ia berkata, “Aku telah menampar budak milik kami kemudian aku lari. Kemudian aku kembali selepas Zhuhur lalu aku shalat bermakmum di belakang ayahku. Ia memanggilku dan memanggil budak itu. Ayahku berkata, ‘Balaslah tamparannya!’ Namun, ia memaafkanku. Kemudian ayahku bercerita, ‘Kami adalah Bani Muqarrin pada masa Nabi kami hanya memiliki seorang budak wanita. Lalu salah seorang anggota keluarga kami menamparnya. Sampailah berita tersebut kepada Rasulullah saw. sehingga beliau bersabda, ‘Bebaskanlah dia! Mereka berkata, ‘Sesungguhnya pembantu yang kami miliki hanyalah dia seorang!’ Rasul lantas berkata, ‘Hendaklah kalian pakai tenaganya, hingga apabila kalian tidak membutuhkan tenaganya lagi, maka bebaskanlah dia’,” (HR Muslim [1658]).

Dan hadits Abu Mas’ud al-Anshari r.a, ia berkata, “Aku pernah memukul seorang budak laki-laki milikku. Lalu aku mendengar suara dari belakangku, ‘Ketahuilah hai Abu Mas’ud, sesungguhnya Allah lebih kuasa memperlakukanmu seperti yang engkau lakukan terhadapnya’.”

Aku menoleh ternyata ia adalah Rasulullah saw. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, dia bebas lillahi Ta’ala.’ Rasulullah saw. bersabda, ‘Andaikata tidak engkau lakukan niscaya tubuhmu akan dililit api Neraka atau kamu akan dimakan oleh api Neraka’, (HR Muslim [1659]).

Maka jelas lah,islam amat memulia kan para budak,apalagi pembantu masa kini yang nota bene bukan budak.jika mereka di pukul,di tampar,di siksa,dst,maka mereka WAJIB BEBAS,jika tak di bebas kan,dosa dan kesalahan akan mengejar nya seumur hidup nya,jika mati,ia berhak memasuki Neraka.maka penyiksaan TKI-TKI di Arab Saudi sebagai contoh,pelaku nya bukan lah muslim yang baik.tapi muslim yang bodoh,hingga tak mengetahui HARAM nya menganiaya pembantu nya.

Lampu Islam

Timbangan Agama-agama lewat pemikiran,analisa dan tulisan

Menjawab Kristen

Muslim Menjawab Fitnah

SERANGAN BALIK UNTUK INDONESIA.FAITHFREEDOM.ORG (serbuiff)

Siap membombardir habis gembong IFF dan spesies lainnya yang sejenis

Timbangan Agama-agama lewat pemikiran,analisa dan tulisan

Answering Misionaris

Menjawab Fitnah terhadap Islam

Gen Syi'ah

Timbangan Agama-agama lewat pemikiran,analisa dan tulisan

Timbangan Agama-agama lewat pemikiran,analisa dan tulisan

Muslim.Or.Id - Memurnikan Aqidah Menebarkan Sunnah

Pesantren online agama Islam berdasarkan Qur'an dan Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih

True Islam In The Air

When You See Islam Is Wrong

Kerajaan Agama

http://kerajaanagama.wordpress.com/ 2009 - 2011

MUSLIM MENJAWAB TANTANGAN

[3:190] Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,

---PENGINJIL---

KRISTEN ADALAH PENERUS AGAMA PAGAN

Edyprayitno's sang Mualaf

FORUM DIALOG LESEHAN DAN KAJIAN KRISTOLOGI

Kristenisasi - Pemurtadan - Kristologi

A. AHMAD HIZBULLAH MAG's Blog

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.